For My Family

For My Family
203



Hazel menarik selimut sampai ke dada Aulia. Setelah wanita itu menangis, bercerita, marah-marah, akhirnya lelah dan tertidur.


Satu tangan Hazel mengusap dahi sang mertua. Tersenyum lembut seraya mendaratkan sebuah kecupan di sana.


"Cepat sembuh, Mama. Anak-anak Mama membutuhkan Mama dan juga cucu-cucu Mama." Punggung tangan itu mengusap sudut mata.


Memerhatikan kesekeliling, tampak berantakan dengan beberapa pecahan beling yang berserakan.


Hazel menarik napas, berjalan keluar berniat mencari sapu ingin membersihkan. Baru saja menutup pintu kamar, sepasang tangan mendekapnya dan wajah sang suami terbenam di atas bahu Hazel.


Gadis itu terdiam beberapa detik, lalu satu tangan membelai kepala Ardan.


"Mama sudah tertidur, Mas. Aku bersihkan beling di kamar Mama dulu, ya."


Bukannya merengang dekapan itu malah semakin mengerat. Seperti enggan melepaskan sang istri.


"Mas," panggil Hazel dan wajah itu semakin terbenam.


"Biarkan aku seperti ini, Hazel. Bertahun-tahun aku kehilangan pundak tempat bermanja. Biarkan aku di sini, bermanja denganmu. Walau tak sama, setidaknya ada tempat untukku selain Mama."


Gadis itu terdiam, tangannya yang membelai rambut Ardan tercengkeram. Antara miris dan sedih mendengar ungkapan sang suami.


"Mas."


"Sssttt, ini rumah Erlangga. Kamu tidak harus mengerjakan semuanya sendiri. Banyak asisten yang membantu. Kumohon, Hazel. Aku ... rindu dekapan Mama."


"Gak enak di sini. Ada keponakanmu, ada papamu dan juga banyak yang lainnya. Kita cari ruang berdua, ya."


Ardan mengangguk, berjalan dengan masih mendekap Hazel menuju kamar.


Lelaki itu menjatuhkan kepalanya di atas pangkuan. Membenamkam wajahnya memeluk pinggang sang istri.


Hanya diam, lama, dan perlahan hangat terasa menembus ke kulit paha sang istri. Lelaki itu menangis, namun tetap tidak ingin terlihat lemah.


Sampai Hazel meraih kedua pipi itu dan memandang wajah Ardan lekat. Secepatnya lelaki itu mengusap wajah.


Hazel tersenyum, mengecup kedua kelopak mata Ardan dengan lembut.


"Lelaki juga boleh nangis, kok, Mas."


Ardan tersenyum dan menggeleng. "Kalo aku nangis nanti siapa yang menguatkanmu saat kamu menangis?"


Gadis itu hanya tersenyum, lantas membenamkan wajah sang suami ke dalam dada.


"Mas."


"Hem."


"Aku kepikiran dokter Pedro. Dia juga menguasai ilmu psikologi lanjutan, Mas."


Ardan tertawa kecut, menarik kepala dan menatap wajah sang istri lamat.


"Hazel, bukan hanya satu atau dua orang dokter yang menangani Mama. Tapi Mama sama sekali gak ada perubahan."


"Tak ada salahnya mencobanya, Mas."


Ardan menggeleng. "Dokter mengatakan bahwa memang Mama yang tidak ingin melupakan, Sayang. Mama yag masih mempertahankan kenangan. Jika Mama gak ingin sembuh, sekuat tenaga berusaha, kita juga tidak mampu berbuat apa-apa."


"Seingatku dokter Pedro bisa melumpuhkan ingatan, Mas. Aku pernah mencobanya," kata Hazel lembut.


"Lalu hasilnya?"


"Aku sempat terhipnotis akan matanya, memang masih mengingat kejadian menyeramkan itu, namun aku mampu menguasai pikiranku. Belum sempat terlumpuhkan, Mas datang dan mengira kami ada hubungan."


Ardan mengerutkan dahinya. "Kapan?" tanya Ardan dan Hazel membuang wajahnya.


"Entah! Mas ingat saja sendiri."


Ardan terkekeh, menggeleng seraya menggigit geram paha sang istri. "Aku hanya tak ingin kehilanganmu, Sayang."


"Tapi dia benar mencintaimu, bukan. Dia benar-benar menyukaimu, Hazel."


"Mas, bukan masalah perasaan dia terhadap aku. Yang kuingat, setelah hari itu mimpi buruk yang selama ini, menghilang. Bukan aku tidak pernah memimpikannya lagi, tapi karena mimpi itu masih bisa dikendalikan imajinasi."


"Bukankah kamu tidak bermimpi buruk lagi setelah menikahiku?"


"Mas ayolah! Aku sedang berbicara untuk kesembuhan Mama."


"Aku tau, Hazel. Tapi bagaimana bisa kita bawa dokter Pedro ke sini?"


"Kita bawa Mama ke sana."


"Lalu, bagaimana membawa Mama ke sana? Apa kamu pikir Gerald mengizinkan?"


"Tapi ini untuk kebaikan Mama, Mas."


"Aku tau. Tapi Gerald tidak akan membiarkan siapapun membawa Mama keluar dari rumah ini. Bahkan jika harus bertarung nyawa, Gerald tidak peduli."


Sejenak Ardan terdiam, pandangan itu menunduk. Kadang ada sisi di mana Gerald menjadi suami yang sesungguhnya walaupun dia tak mampu menjadi ayah yang baik.


"Papa ...." Ardan menarik napas. "Dia sangat setia meski Mama menderita Prolonged Grief Disorder selama bertahun-tahun. Dia, tidak akan membiarkan siapapun menyentuh wanitanya, meski itu kami. Anak-anaknya."


Lelaki berparas manis itu menghela napas panjang.


"Memang banyak kabar angin yang mengatakan Gerald banyak mendekati perempuan. Tapi Gerald tidak pernah melakukan itu, dia yang didekati. Karena jika tidak dalam berbisnis, dia akan pulang ke sini walau Mama tidak lagi pernah peduli. Padanya, dan juga pada kami anak-anaknya."


Sejenak pikirannya mengawan, memang benar dia dan Gerald sering bertentangan. Namun, sisi Gerald yang ini tak akan pernah hilang. Entah apa yang membuat lelaki tersohor itu bertahan pada wanita yang hampir gila. Yang pasti, dia tetap sering berinteraksi dengan Aulia walau kadang tak sejalan dengan apa yang dibicarakannya.


Saat menyadari tatapan Ardan yang mulai kosong. Hazel mengambil jemari tangan itu saat lelakinya menoleh bibir mungil itu terkembang.


"Pantas saja putranya bisa seperti ini. Ternyata sedikit banyaknya memiliki keturunan dari sang papa."


Sebelah alis mata Ardan menaik, lalu kepala itu mendekat.


"Seperti apa?" tanya Ardan menggoda.


Hazel memutar bola mata. "Hem, kasih tau, gak?" tanya Hazel dan lelaki itu tertawa.


Menggeletiki pinggang Hazel sampai kekehan suara itu pecah. Saat bersama Hazel, terkadang setiap situasi sulit tidak lagi terasa rumit.


Karena wanita itu sangat pintar, jika tidak bisa memberikan pendapat, maka akan menggoda agar sang lelaki kembali seperti biasa.


Tak henti jari-jari kekar itu menari di atas pinggang sang istri. Beberapa kali suara Hazel berteriak. Pintu kamar yang tidak tertutup rapat, membuat suara itu menggema keluar.


Membuat langkah Arfan yang ingin mengetuk pintu kamar sang kakak terhenti. Enggan merusak kebahagian mereka, walau perasaan iri kerap menguasai.


Pada kebahagian sang kakak yang masih bisa tercipta walau di keadaan yang sangat sulit sekalipun.


"Mengapa? Yang terbaik selalu didapatkan Ardan?"


🌸🌸🌸


Selamat malam gaes ....


Mau ngasih info nih, kemarin sempat ada cerita yang salah server di lapak bang Ardan ya, kan.


Nah terus banyak yang nanya itu up di mana dan judulnya apa?


Up di Nt juga loh, dengan judul Terjerat Cinta Syariah.


Duh ... aduh yang penasaran sama Gaza, yuk cekidot di lapak baru.


bisa cari lewat kolom pencarian dengan judul itu atau klik aja profil Fiza Chelsea


Ditunggu gaes πŸ™πŸ™πŸ™