For My Family

For My Family
193



Seketika tulang gadis itu melemas. Nigar menjatuhkan kepalanya ke atas bentangan kaca. Tidak tahu harus mengatakan apa? Lelaki itu, memang sangat rapih dalam menyusun rencana.


"Maaf, Khadijah. Tapi aku kehabisan cara untuk bisa meyakinkanmu. Kamu sangat takut mengambil keputusan, dan aku mulai lelah menunggu."


Gadis itu terdiam, dengan buliran-buliran yang terus jatuh membasahi wajah. Tatapannya kosong ke arah lantai.


"Aku tidak tahan lagi menunggu, dan aku tidak bisa lagi kehilanganmu," jelas Arfi dan gadis itu masih berdiam.


"Khadijah, maafkan aku. Aku sungguh-sungguh minta maaf  karena telah menipumu. Jika kamu ingin memarahiku, memaki atau apa pun itu. Aku akan terima, tapi tetaplah menjadi istriku, ya."


Gadis itu bergeming, sepasang mata indahnya masih menatap kosong. Pikirannya melayang, bingung dan juga terkejut.


"Khadijah," panggil Arfi pelan. Perlahan lelaki itu mendekat, mencoba meraih kepala yang terbalut hijab tersebut.


Terhenti, saat sepasang binar indah itu menatapnya tajam.


"Kalau begitu? Bagaimana mungkin?" lirih Nigar pelan. Kepala itu menggeleng dengan punggung tangan yang mengusap wajah.


Lelaki berwajah tampan itu mengerutkan dahi. Tidak paham dengan apa yang dilirihkan sang gadis.


"Maksud--" Belum sempat dia bertanya, gadis itu sudah lebih dulu bersimpuh di bawah kakinya.


"Khadijah, kamu kenapa?" tanya Arfi terkejut.


"Maafkan aku Arfi, maafkan aku," terisak, gadis itu menyentuh dua kaki Arfi.


"Khadijah apa yang kamu lakukan? Jangan seperti ini." Arfi mencoba meraih punggung gadis itu. Lalu, ia ikut duduk agar Nigar berhenti bersimpuh di bawahnya.


"Arfi, maafkan aku. Maafkan aku," katanya terisak.


"Bukan kamu yang harusnya minta maaf, tapi aku. Jangan seperti ini, Khadijah. Kumohon angkatlah kepalamu."


"Bagaimana mungkin aku meludahi wajahmu? Bagaimana mungkin? Ribuan malaikat akan mengutukku. Arfi, maafkan aku."


Seulas senyum terbit di wajah lelaki berambut pirang tersebut. Bukan senang karena gadis itu tertunduk. Melainkan sang gadis yang mengakui statusnya saat ini.


Satu tangan Arfi terangkat, membelai kepala Nigar.


"Angkatlah kepalamu, Sayang. Aku ikhlas menerima segala perlakuanmu."


Nigar mendongak, menatap wajah Arfi yang tersenyum lembut ke arahnya. Satu buliran lolos begitu saja saat kelopak mata itu berkedip.


"Bisakah jangan menangis lagi? Aku akan jelaskan pelan-pelan padamu."


Nigar mengangguk, menegakkan badannya seraya mengusap wajah. Badan itu menepi, bersandar di dinding kaca dan Arfi mengikutinya.


Memandangi wajah cantik gadis itu yang terus menatapi dirinya. Menunggu untuk penjelasan yang sudah dilakukan.


"Sebelum aku jelasin, boleh gak aku cium sekali lagi?"


"Arfi," panggil Nigar malu.


Lelaki itu melepaskan senyumnya, mengacak puncak kepala sang gadis.


...***...


*Beberapa hari sebelumnya*


Keluar dari mobil marun milik Dre, Arfi menemui seorang lelaki yang telah menunggunya di sudut kafe. Bibir keriput itu tersenyum saat mengetahui teman janjinya tengah berjalan menghampiri.


"Apa kabar, Pak?" sapa Arfi seraya mengulurkan tangan. Disambut hangat oleh lelaki berumur tersebut.


"Apa yang membuat seorang Erlangga mau menemui pensiunan militer seperti saya?"


Arfi tersenyum kecut, duduk berhadapan dengan sang mantan Jenderal tersebut.


"Jangan seperti itu, Pak. Saya bukanlah apa-apa, hanya pemuda yang beruntung lahir di keluarga kolongmerat."


Regan hanya tersenyum, menarik gelas kopi miliknya. Menyesap dengan tatapan yang mengarah pada wajah Arfi.


"Apa yang membuat kamu datang menemui saya, Arfi? Langsung saja, karena saya pun tidak suka berbelit-belit."


Arfi tersenyum, lalu mengeluarkan sebuah ponsel dan mengulurkannya ke hadapan sang Jenderal.


"Bisa Anda memberitahukan alamat putra Anda di Turki? Saya ingin menikahi putri Anda."


Tatapan mata Regan menajam, satu tangannya menarik ponsel itu dan melihat isi rekaman lamaran yang diambil senja itu.


"Baiklah. Saya akan mengantarmu ke Turki, dan saya ingin Nigar satu pesawat dengan saya."


"Tunggu dulu, Pak. Nigar tidak ikut. Dia sudah menyetujui surat ini."


Arfi menyerahkan selembar kertas perjanjian. Regan menarik napas, melihat tanda tangan putrinya dengan bubuhan meterai.


Lamat sepasang mata tajam itu memerhatikan wajah sang pemuda. Arfi mulai gelisah, untuk ukuran pria, Regan bukanlah lelaki yang mudah ditipunya.


"Jujurlah pada saya. Apa Nigar mengetahui ini semua?"


Seketika kerongkongan itu mengering, tak mampu menjawab. Hanya terdiam dengan pandangan tertunduk ke arah bawah.


"Baiklah, biar saya tanya sendiri pada dia."


"Tunggu, Pak," tahan Arfi cepat.


"Saya ingin memberikan kejutan pada dia. Jangan beri tau dia. Saya berjanji akan menjaganya dengan sekuat tenaga. Apa pun akan saya lakukan untuk melindungi dia. Percayalah pada saya," pinta Arfi melas.


Regan menarik napas, memandangi wajah tampan yang tengah memohon padanya.


"Arfi, bukan saya tidak mau. Tetapi pernikahan atas dua keinginan. Saya tidak akan memaksa Nigar untuk menikahi siapa pun, dia punya hak untuk itu. Bagaimana saya bisa membantumu? Jika putri saya juga tidak mengetahui rencanamu?"


"Saya dan Nigar saling mencintai, Pak. Kami hanya terbelit permainan semesta. Dari dulu yang dia cintai saya, saya memang bodoh pernah mematahkan hatinya. Saat ini saya tidak bisa lagi kehilangannya. Saya mohon, Pak. Izinkan saya menikahi dia."


"Kalau begitu izinkan saya juga memberitahunya."


"Begini saja, Pak. Nikahkan saya dan Nigar terlebih dahulu. Setelah itu, jika saya beritahu alasannya dan dia menolak saya. Saya akan menceraikannya tanpa menyentuhnya."


"Apa kamu pikir pernikahan itu permainan? Bahkan niatmu saja sudah bercerai sebelum menikah."


"Saya tidak berniat menceraikannya. Wallahi. Seumur hidup akan saya jaga dia. Jadi saya harus bagaimana untuk meyakinkan Anda?" tanya Arfi semakin frustrasi.


"Saya mencintai dia, sangat. Tetapi dia bahkan tidak mampu mengambil keputusan. Lelaki yang melamar dia sudah mencintai wanita lain, Pak," jelas Arfi membara.


Regan terdiam, memang tidak perlu dijelaskan dari gelagat dan tingkah putrinya. Jelas dia masih sangat mencintai lelaki ini.


"Baiklah saya akan menyetujui keinginan kamu. Tetapi pegang janjimu, jika Nigar menolakmu."


Lelaki itu mengangguk, menarik napas dengan sangat lega.


"Tetapi setelah menikah, bagaimana jika kamu menyakiti putri saya? Dia memang bukan anak kandung saya. Tapi saya mencintai dia dengan segala yang saya punya. Dunia akhirat saya tidak rida jika ada yang menyakitinya, terlebih merendahkan harga dirinya karena masa lalunya."


"Saya, tidak akan pernah merendahkan harga dirinya. Tetapi saya tidak berjanji bisa membuat dia terus bahagia. Saya hanyalah lelaki biasa, pasti akan banyak melakukan hal yang tanpa saya sadari merobek hatinya. Namun, sekuat tenaga saya akan berusaha menjaganya, menjaga hubungan ini dan menjaga perasaannya. Saya berjanji, Pak."


"Lalu, bagaimana jika papamu tidak menyetujuinya?"


"Saya akan meninggalkan Erlangga demi dia."


...***...


"Jadi Arfi ke Izmir melalui penerbangan Rusia?"


Arfi tersenyum dan mengusap dua pipi putih gadis itu.


"Aku ini Erlangga, Sayang. Jika aku langsung ke Turki, Gerald pasti akan curiga, dan aku tidak ingin Gerald menekanmu lagi. Kamu itu gampang sekali tertekan, Khadijah. Dan bencinya, saat kamu tertekan malah ngambil keputusan tanpa memberitahu yang bersangkutan. Jangan lakukan itu lagi, ya."


"Tapi, Arfi. Arfi gak harus ninggalin Erlangga. Arfi itu terbiasa hidup mewah, gak pernah kesusahan apa pun. Aku gak mau Arfi hidup susah."


"Kehidupan Erlanggaku juga sudah berakhir sebelum ini, Khadijah."


"Maksudnya?"


Arfi kembali tersenyum, meraih kedua tangan putih berhiaskan hena tersebut. Menciumnya lembut.


"Aku telah kehilangan Erlangga sebelumnya. Saat ini yang kumiliki hanya kamu. Bisakah kamu tidak meninggalkanku lagi? Tetaplah di sisiku meski aku tak sekaya dulu."


Sepasang mata indah itu menatap Arfi nanar. Ada perasaan senang mengetahui lelaki yang selalu ada di hatinya itu telah berstatus suami. Namun, bagaimana bisa? Lelaki manja seperti dia hidup susah.


Nigar hanya terdiam, perlahan tatapannya menunduk. Satu tangan Arfi merengkuh bahu itu, menggeser duduknya agar gadis itu nyaman meletakan kepala di atas bahunya.


"Arfi."


"Hmm."


"Kenapa Arfi bodoh sekali? Aku gak mungkin tega ngeliat Arfi kesusahan nantinya? Arfi gak pernah kerja keras, Arfi juga gak pernah serius dalam berbisnis. Kenapa Arfi gak pertahani kehidupan Erlangga? Arfi bisa cari wanita salehah yang lainnya, yang masih suci, bukan aku yang gak sempurna ini."


"Aku gak butuh pendapat kamu untuk kehidupan Erlangga, Khadijah. Aku hanya butuh jawabanmu, maukah kamu terus menjadi istriku?"


"Jika aku mundur, apa kehidupan Erlangga masih bisa Arfi genggam?"


Lelaki berambut pirang itu menarik napas. Ia menoleh, menatap wajah sang gadis dengan lekat dan dalam.


"Berhentilah memikirkan kehidupanku. Jika kamu memang peduli pada kebahagiaanku. Jadilah istriku."


Gadis itu menggulum bibirnya, menelik wajah tampan itu lamat-lamat. Satu tangan kekar menangkup di pipi sang gadis, mengusap pipi putihnya lembut.


Perlahan kepala lelaki itu mendekat, hangat deru napas sang gadis membuat hasratnya mulai bergejolak. Belum sempat bersentuhan, deringan ponsel membuat Arfi menarik kepala.


Sedikit menghela napas setelah melihat nama yang menelponnya. Arfi memberikan ponsel itu ke tangan sang gadis.


"Assalamualaikum, Ayah," sapa Nigar senang.


"Waalaikum salam, bagaimana kabar kamu, Nigar?"


"Aku baik, Ayah."


"Baguslah. Apa Arfi sudah memberitahumu?"


Mata Nigar melirik ke arah Arfi, lelaki itu tampak pasrah. Tak ada gairah, setelah susah payah menghalalkannya, bahkan meyakinkannya lebih susah.


"Emh," jawab Nigar mengangguk.


"Lalu apa keputusanmu?"


Gadis itu berdiam. Kembali melihat Arfi yang tampak lemas, satu tangannya mengusap wajah kasar.


Bibir ranum itu terkulum, "InsyaAllah, aku menerima Arfi, Ayah." Sepasang mata indahnya kembali melirik.


"Untuk menjadi suamiku."


...***...


Malam gaes.


Sedikit meluruskan komenan yang mempertanyakan status pernikahan Arfi, memang rukun nikah itu ada mempelai lelaki dan mempelai wanita.


Namun, jika mempelai wanita sudah setuju menikah, maka pernikahan seperti Arfi itu sah. Karena yang berjabat tangan dengan wali adalah pengantin lelaki.


Nah di sini yang dijebak Arfi itu adalah surat pernyataan Nigar setuju menikah walau tanpa kehadiran dia.


Meragukan ke sah-annya? Bisa googling kok hukumnya bagaimana, bahkan Ustaz Hanan Attaki juga menikah terpisah. Si Ustaz di Mekkah bersama wali wanita yang kebetulan selesai melaksanakan haji dan umrah, dan mempelai wanitanya masih di asrama kampus Khairo, Mesir.


Dan si istri ini tau kalo dia akan dinikahkan sama lelaki itu. Jadi wanitanya memang setuju, yang tidak sah kalau adanya paksaan.


Tidak disandingkan dalam acara ijab, itu hukumnya sunnah. Karena itu, banyak pengantin wanita hadir setelah ijab selesai.