
Ragu-ragu gadis berambut kemerahan itu membuka pintu kamar mandi. Mengintip Arfi yang masih sibuk pada laptop dan gawainya.
Gadis itu menghela napas, berulang kali ia mengusap sudut dahi. Grogi, jantungnya tidak bisa berhenti berdebar, semakin membuat langkahnya gemetar ingin keluar dari kamar mandi.
Lelaki berkaus ketat itu merenggangkan badan, menarik gelas airnya. Terhenti saat menyadari gelas itu sudah kosong.
"Sayang ... kamu baik-baik saja? Apa yang kamu lakukan dari tadi di toilet?" jerit Arfi.
Sementara gadis itu berulang kali mengerjapkan matanya. Ragu, mau keluar atau bagaimana?
"Nigar! Ambilkan aku air, Sayang. Tolong!" jerit lelaki itu lagi. Membuat Nigar gelagapan di dalam kamar mandi.
Gadis itu menarik ikat rambutnya, menyanggul tinggi seraya berjalan ke arah luar.
Sedikit takut, gadis itu mendekati Arfi seraya mengusap pelan lengannya. Berulang kali ia meneguk saliva.
Saat badan itu berdiri di sebelah sang suami. Arfi menyodorkan gelas kosong tanpa melihat ke arah sang istri.
"Eum, Arfi, itu ...."
Praaank
Gelas yang Arfi genggam terlepas begitu saja. Matanya melebar dengan sempurna saat melihat tampilan sang istri.
Berat lelaki itu meneguk saliva, mengapa istrinya menjadi seperti ini?
Sementara gadis itu menundukkan pandangan dengan tangan yang mengelus lengan sendiri. Wajahnya memerah, sesekali matanya terpejam dengan bibir bawah yang digigit kuat.
"Ni-Ni-Nigar," panggil Arfi gelagapan.
Tubuh semampai itu tampak sangat menggoda dengan piyama tanpa lengan yang menampilkan lengan putih bersihnya. Leher piyama yang sedikit rendah mengekspose sebagian dadanya, dengan celana pendek hanya sebatas lutut. Memang terbilang biasa untuk seorang gadis pada umumnya. Namun, ini Nigar.
Gadis yang terbiasa tertidur dengan gamis panjang, bagaimana bisa menjadi seseksi ini? Walau tidak seseksi lingerie, tetapi bagi Arfi itu tetap menggoda sekali.
"Arfi, itu, kalau aku tidur pakai baju seperti ini boleh, gak?" tanya Nigar malu-malu.
Arfi menarik napasnya terengah, ingin tertawa miris mendengar pernyataan Nigar.
"Jadi, kamu memakai ini hanya untuk tidur?" tanya Arfi, getir.
"Iya, soalnya akhir-akhir ini panas sekali."
Arfi terkekeh. Miris mendengar ucapan sang istri yang sangat jauh dari ekspetasinya. Nigar mendongakkan wajahnya, menatap wajah Arfi yang memerah.
"Wajah Arfi, kok, merah?" tanya Nigar polos.
"Menurutmu?" tanya Arfi kesal.
Dia pikir Nigar memakai ini untuk menggodanya. Sedikit kecewa mendengar penuturan gadis itu yang hanya ingin tidur.
"Oh, Arfi haus, ya? Sebentar aku beresi pecahan kacanya." Gadis itu berjongkok, memunguti beling-beling di bawah.
Kerah baju yang rendah mengekspose dada gadis itu lebih terbuka saat kedua lututnya terlipat. Arfi membuang wajahnya, semakin merah saat tanpa sengaja melihat tubuh istrinya.
'Apa-apaan, Nigar ini?' batinnya memaki kesal.
Saat gadis itu sudah selesai membereskan dan akan berjalan keluar.
"Mau ke mana kamu?" tanya Arfi menghentikan langkah sang istri yang akan berjalan menuju pintu.
"Jangan keluar dengan pakaian seperti itu."
Nigar tersadar, baru akan berjalan ke dalam toilet. Arfi kembali berkata.
"Letakan saja di dekat pintu, kamu tidurlah."
Nigar menurut, ia letakan pecahan itu di dekat pintu. Suara derap langkahnya berjalan menuju kasur.
Arfi menangkupkan satu tangannya di depan dahi. Dari layar laptopnya, bayangan Nigar masih terlihat. Lelaki itu menutup laptop dengan kesal.
Pikirannya tentang pekerjaan seketika buyar. Apa-apaan gadis itu? Sudah menggoda, namun tidak berani menyelesaikannya.
Sementara Nigar tidur dengan memunggungi Arfi. Memutar otaknya, bagaimana caranya dia bisa mengajak sang suami?
Berulang kali Arfi mengusap wajahnya kasar. Meredam dan menahan, sekuat tenaga untuk melupakan bayangan Nigar yang terus menantang imajinasinya.
Tidak tahan, lelaki itu bangkit dan berjalan ke arah kamar mandi.
Menyadari gerakan sang suami, Nigar ikut bangkit. Mengikuti langkah Arfi memasuki kamar mandi.
"Arfi," panggilnya dan lelaki itu menoleh.
"Arfi sakit? Wajah Arfi merah banget."
"Dari mana kamu dapat baju itu?" tanya Arfi sengit. Geram setengah mati, gara-gara piyama itu pikirannya mulai tidak karuan.
"Oh." Gadis itu menunduk, melihat baju yang dia kenakan.
"Kalau Arfi gak suka, nanti aku simpan saja."
Arfi menarik napas, mengusap wajah seraya menarik lengan Nigar keluar dari kamar mandi.
Pria berambut pirang itu terduduk di tepi ranjang. Menatapi wajah Nigar yang berdiri di depannya.
"Bukan gak suka. Tapi aku gak tahan liat kamu pakai baju seterbuka ini."
"Oh. Jadi aku gak boleh tidur pake baju terbuka?"
Arfi menarik napas, benar-benar frustrasi melihat istrinya ini. Satu tangannya menarik tangan Nigar, mendudukkan gadis itu di atas pangkuan.
Lembut jari-jari kekarnya membelai tengkuk sang istri. Membuat gadis itu merinding sendiri.
"Nigar, aku sangat senang melihatmu begini. Tetapi aku juga tidak bisa memaksamu, kan? Kamu belum sanggup melakukan itu sekarang."
"Kenapa tidak kita coba lagi saja, Arfi?"
"Bagaimana jika setelahnya kamu jadi takut lagi? Trauma lagi? Gemetaran bahkan tanpa bersentuhan?"
Pandangan mata Nigar tertunduk, sedikit kecewa mendengar ucapan Arfi.
Satu tangan Arfi meraih dagu gadisnya, mendongakkan wajah itu.
"Serius kamu ingin aku menyentuhmu?" tanya Arfi ragu.
Gadis itu menganggukkan kepala. Perlahan lelaki itu mendekatkan wajah, sayup mata Nigar perlahan terpejam. Lelaki itu menghentikan gerakannya sebelum sempat berciuman.
Melihat wajah Nigar yang sedang menunggunya. Lucu, sejak kapan gadisnya bisa berinisiatif seperti itu. Perlahan bibir tipis itu mengembang, memandangi wajah Nigar yang terus terpejam menunggu dirinya.
Setelah sekian lama, gadis itu membuka matanya. Arfi terkekeh, dan seraut wajah cantik itu memerah.
"Ish, Arfi," katanya menyubit punggung Arfi kesal.
Lelaki itu masih terkekeh, bangkit seraya menggendong gadisnya. Meletakan tubuh itu di atas meja kerja yang berada di kamar, lalu kedua tangan itu menumpuh di tepi meja. Mengurung Nigar di dalam dekapan.
"Katakan siapa yang mengajarimu untuk berinisiatif menggodaku seperti ini?"
"Tidak ada."
Seketika mata sayu milik Arfi menajam.
"Tidak mungkin, gadisku tidak akan pernah memiliki inisiatif seliar ini."
Nigar hanya menyeringai, terkekeh seraya mengalungkan tangannya di pundak Arfi.
"Hazel?" tanya Arfi dan wanita itu menggeleng.
"Ardan?"
"Bukan."
"Jadi siapa?"
"Rahasia."
Arfi menganggukkan kepalanya, lantas jari-jari kekarnya bergerak di pinggang sang istri. Menggelitikki pinggang ramping itu sampai suara kekehan Nigar menggema.
Gadis itu menggeliat, tangan Arfi semakin cepat bermain di pinggangnya.
"Katakan, siapa yang menyuruhmu?"
Gadis itu berusaha menghentikan tawanya, sedikit menggeliat dia mencoba mengelak.
"Iya, aku katakan! Berhenti dulu!" teriak gadis itu. Arfi menghentikan gerakan tangannya, membiarkan Nigar menarik napas seraya merapikan anak rambut.
"Mama. Mama yang ngajarin."
"Oh ... pantas saja malam itu kamu meminta aku membuka bajumu, jadi ini maksudnya?"
Gadis itu hanya menggigit bibir bawahnya. Tersipu dan seketika kedua pipinya memerah, padam.
Lamat sepasang mata sayu itu menatapi wajah gadisnya. Lalu, sentuhan lembut terasa merapikan anak rambut Nigar. Membenarkan helaian rambut cokelat kemerahan itu.
"Yakin kamu mau mencobanya?" tanya Arfi lagi.
"Ya, Arfi. Aku juga ingin membahagikanmu."
"Tapi aku juga tidak bahagia jika kamu memaksakan diri. Percayalah Nigar, lebih baik aku menahannya dari pada harus melihatmu yang gemetaran bahkan saat mencium harum tubuhku. Sakitnya lebih perih."
Binar indah itu memandangi wajah suaminya lekat dan dalam. Perlahan dia mendekat, mencium bibir lelaki itu.
Arfi terdiam, sepasang mata mereka bertemu. Perlahan Nigar tersenyum dan memejamkan matanya.
Kedua tangan Arfi merengkuh bahu Nigar, membalas ciuman itu lebih dalam dan intens. Lelaki itu mulai masuk lebih dalam, lalu sentuhan itu berpindah ke area leher dan bahu. Meninggalkan beberapa bekas kissmark di kulit putih mulus tersebut.
Perlahan tengkuknya terasa perih dan panas. Arfi menarik diri, melihat Nigar yang masih terpejam, napasnya tertahan dengan cairan yang membahasi wajah.
"Nigar," panggil Arfi lembut.
"Aku masih sadar, Arfi. Lanjutkan saja," katanya tanpa membuka mata.
"Tapi kamu melukai tengkuk leherku."
Gadis itu terkejut, lantas membuka cengkeramannya di bahu Arfi. Membalikkan badan badan bidang itu dan seketika bibirnya terbuka.
"Astagfirullah, Arfi. Maaf, aku tidak sadar. Aku carikan obat, sebentar." Tubuh itu turun dari atas meja.
Baru akan berlari, kedua lengannya tertahan Arfi. Lelaki itu memeluk erat dari belakang, sentuhan hangat kembali menyentuh tengkuknya. Nigar memejamkan mata, menikmati sensasi menggairahkan, juga menyeramkan yang perlahan masuk ke dalam pikiran.
"Percayalah, Nigar. Hasratku langsung down saat melihatmu menangis," bisik Arfi dan seketika mata indah itu terbuka.
"Bukan hubungan seperti ini yang aku inginkan, Nigar. Mengapa rasanya sangat tidak adil? Dari awal, terus kamu yang tersakiti dan menahan perih?"
Nigar menoleh, "tapi ini adalah hakmu, Arfi. Kewajibanku."
Satu tangan kekar itu menarik kepala Nigar, kembali mencium dan kali ini hanya sekadar.
"Aku menikahimu bukan hanya untuk hubungan ranjang, Nigar. Tapi karena aku yang tidak sanggup lagi jika harus kehilanganmu. Aku menikahimu karena aku ingin kamu. Hanya kamu, bisa atau tidaknya kamu melayaniku, aku tidak peduli. Aku sama sekali tidak peduli, Sayang."
Pandangan mata indah itu tertunduk.
"Berhentilah melakukan hal yang aneh-aneh, Nigar. Karena itu hanya akan membuat pertahananku semakin sulit. Mengertilah."
Nigar melepaskan dekapan tangan Arfi, lantas berjalan ke arah kasur. Hanya ingin mencoba, mengapa hasil akhirnya malah semakin menambah luka?