
Tiga gadis itu tertawa terpingkal, melihat cowok yang tengah merangkul Sasy, jangankan tampan. Bahkan jauh sekali dari kata biasa saja.
Sementara wajah gadis itu memerah, ia menundukkan pandangan seraya meremat kedua jemari tangannya.
Tidak tahu, dan tidak menyangka jika Arfi sangat tega padanya.
"Kamu pacarnya Sasy?" tanya Merisa berusaha menghentikan tawanya.
"H-h-hai," sapa Arfi tergagap, sengaja agar semakin mendukung penampilan kerennya. Ia mengulurkan tangan.
Tiga gadis itu meringis, menyambut sekadar saja. Geli melihat Arfi yang seperti itu.
Sasy sudah tidak berbicara sepatah kata pun. Setelah malam ini, entah bagaimana dia akan menjalani kehidupan baru di kampusnya.
"Sayang, kenapa kamu diam saja? Kamu haus? Mau aku ambilkan minum?" tawar Arfi.
Gadis-gadis kecil itu terkekeh, melihat Sasy yang semakin memadam membuat mereka puas.
"Iya, Mas. Sasy kayaknya haus, deh, wajahnya merah sekali."
Arfi menarik dagu gadis kecil itu, melihat raut wajah manis yang sedang memadam. Menahan air mata dan amarah secara bersamaan.
"Wah, iya. Sebentar, ya. Aku ambilkan jus untukmu." Lelaki dengan tampilan culun itu melangkah. Menjauh dari para-para gadis belia itu.
Gelak tawah riuh terdengar keluar dari bibir ketiga gadis belia itu. Merisa menatap sinis ke arah Sasy.
"Woah, aku pikir kamu memang pacaran dengan lelaki tampan di kelab malam itu. Ternyata, hanya bual," ejek Merisa menang.
Gadis dengan balutan silver itu menatap nyalang. Jelas sekali ia kalah dalam pertarunngan ini. Bukan hanya kalah, tetapi juga telak menghancurkan harga dirinya.
Dua gadis di sisi Merisa menatap geli, mereka memandang punggung Arfi yang sedang berjalan ke arah hidangan. Detik kemudian kembali ke Sasy.
"Huu ... Sasy, entah aku yang terlalu memandang tinggi dirimu. Tapi, seleramu bahkan lebih buruk dari dugaanku."
Satu air lolos begitu saja dari mata bundar gadis itu. Ternyata orang yang memiliki tampang cantik dan ganteng itu semua sama saja.
Selalu tega menghina dan mempermainkan orang. Bahkan, Arfi sama saja seperti teman-teman lainnya.
Gadis itu mengusap wajah, mencoba menahan air matanya agar tidak terlihat lemah.
"Kalian itu, kalian pikir hebat bisa pacaran sama siapa aja, ya?" lirih gadis itu menjawab.
Merisa sengaja menumpahkan jusnya ke gaun yang Sasy kenakan.
"Ups ... maaf, sengaja. Kamu itu tak lebih dari sekedar jus yang tumpah. Tidak berguna, bahkan merusak apa yang awalnya indah."
Nanar binar pekat itu menatap penuh kebencian. Gadis berkepang satu itu memilih menjauh, meninggalkan aula kampus dengan sedikit berlari.
Sesekali punggung tangannya mengusap wajah. Sakit, kenapa dia tidak memiliki tempat untuk berlindung atau pun mengeluh dari semua ini.
Sementara ada genggaman yang mengerat dari ujung sini. Tangannya terkepal kuat saat melihat gadis itu dihina dan diperlakukan buruk oleh teman-temannya.
"Dasar gadis-gadis belia tidak tau aturan. Bagaimana bisa bangsa memiliki generasi bermental seperti mereka?"
Tangan yang tengah mengenggam gelas jus itu semakin mengerat, kuat.
"Bisa-bisanya kalian merusak gaun yang kuberikan pada belia itu. Lihat saja nanti." Senyum sinis terkulum dari bibir itu.
Arfi meletakan gelas jusnya dan mengejar gadis belia itu. Langkah tegapnya ikut berlari, mencari sang gadis ke setiap sudut bangunan.
Napasnya terengah, perlahan ia menarik napasnya lebih beraturan. Lelah, ternyata ia sudah cukup tua untuk berlari mengejar anak belia.
Arfi membungkukkan badannya, ada rasa bersalah yang menghunjam hatinya ketika melihat gadis itu terisak di sudut taman.
Menyembunyikan diri, mendekap lengan dan berjongkok di sebelah bunga-bunga.
Semakin dekat, isakannya semakin jelas terdengar. Melihat air matanya, mengingatkan ia pada almarhumah Arsy, adiknya.
Lelaki itu mendekat, perlahan ia berjongkok di depan Sasy. Gadis itu masih terisak, dengan wajah yang ia benamkan ke dalam dekapan tangan dan lutut.
"Maaf," lirih Arfi bersalah.
Tak ada jawaban, gadis itu masih terisak-isak. Pelan, tubuh mungilnya bergetar.
"Maaf, Sasy," ucap Arfi sekali lagi.
Gadis itu mendongak, bibirnya tersenyum lembut. Lantas, kepalanya menggeleng pelan.
Reaksi yang sama sekali tidak Arfi duga. Menurut perkiraannya, gadis itu akan meledak. Mengingat bagaimana repotnya ia menghadapi Sasy beberapa hari yang lalu.
"Gak apa-apa, Om. Lagian ini gak ada hubungannya sama, Om." Gadis itu menyeka wajahnya, berusaha memperlihatkan senyum yang baik-baik saja.
"Kamu baik-baik saja?" Pertanyaan terbodoh yang selalu terlontar.
Mana mungkin seseorang akan baik-baik saja saat ia sudah meruntuhkan lara bernama air mata.
Gadis itu mengembangkan senyumnya. Semanis mungkin, ia suguhkan untuk lelaki berkacamata tebal itu.
"Ya. Aku baik-baik saja."
Dan wanita, akan selalu mengucapkan baik-baik saja padahal hatinya terluka amat parah.
Arfi mendesah panjang, ia menarik tubuh itu dan merangkulnya. Berjalan pelan menuju parkiran.
Mengapa? Rasanya lebih baik dimarahi saat ia berbuat salah. Dibandingkan mendapatkan senyuman padahal ia telah melukai hati yang lainnya.
Karena senyum yang datang saat rasa kecewa itu hadir. Adalah tanda bahwa rasa yang datang bukan hanya sekadar marah dan kecewa. Namun juga pasrah.
Biasa, segala sesuatu yang telah dipasrahkan pada Tuhannya, maka akan lebih pedih balasannya.
Arfi menekan sedikit pucuk kepala gadis itu, saat Sasy berdiri di depan pintu Mclaren hitamnya.
Lelaki itu kembali menatap wajah Sasy setelah berada di balik kemudi.
Tidak lagi menangis, terkadang sesenggukkan menyentakkan badan mungil itu. Matanya menatap keluar jendela.
Sekuat apa dia berusaha menyembunyikannya, Arfi sadar. Ada luka yang tidak bisa ia ungkapkan saat ini.
***
Sepanjang malam mata lelaki itu tidak mampu terpejam. Entah mengapa? Bayangan gadis itu yang menangis dan menahan segalanya sendiri terus menggelayuti diri.
Lelaki berambut pirang itu mengacak rambut. Ia terduduk, melirik jam di pergelangan tangan.
"Ada apa denganku? Kenapa pias wajah terluka itu sangat menghukum diri?" tanya Arfi bingung sendiri.
Lelaki itu bangkit, membasuh diri agar bisa terlelap setelah sedikit mendapatkan penyegaran. Pikirnya.
Nyatanya, matanya malah terbuka semakin lebar. Lelaki itu berjam-jam berdiri di depan bingkai. Memerhatikan fajar yang berganti siang.
Isakannya masih terngiang, ia hampir gila karena rasa bersalah itu kian bersarang.
"Sial! Kenapa aku terus terbayang?" rutuknya geram sendiri.
Sampai deringan ponsel membuat lamunannya buyar. Secepatnya Arfi menyambar dan mengangkatnya.
"Bagaimana?" tanyanya tergesa.
Entah apa yang lawan bicara di seberang sana sampaikan. Namun bibir tipisnya mampu terkembang dengan seringai yang sangat mengerihkan.
***
Bugh
Buku yang ada di dekapan Sasy berhamburan. Terjatuh ke atas lantai koridor kampus.
Tangan Merisa melambai, kaki dengan heels hitam itu berjalan di atas buku Sasy yang berserak di lantai.
Gadis itu hanya menghela napas, melihat kaki-kaki jenjang itu memijak bukunya. Dan membiarkannya berlalu begitu saja.
Sudah bukan hal yang asing, bahkan weekend kemarin ia sudah sangat menyiapkan hati untuk menerima segala sikap buruk ini.
Ingin menunjukkan kekuatannya, malah semakin membuat dia tidak berdaya.
Ingin menyalahkan siapa? Nyatanya memang dialah yang tidak mampu melakukan semua. Bahkan membela diri saja tidak bisa.
Sasy memunguti satu persatu bukunya, membersihkan bagian cover yang kotor. Lantas kembali mendekapnya di dada.
Berusaha mengacuhkan setiap tatap mata yang ingin mengejeknya. Pasti Merisa telah menyebar berita kejadian Sabtu malam kemarin.
Biarlah, selama ia tidak dilukai fisiknya. Ia masih akan baik-baik saja. Pikirnya, tetapi tetap saja bening-bening kaca itu menghiasi netranya.
Beberapa kali Sasy menghela napas, akan melangkah ke gerbang kampus.
Sebuah Mclaren oranye berhenti di depan tiga gadis yang selalu menjadi rival Sasy.
Seketika pandangan seluruh mahasiswa yang ada di sana teralih. Decak kagum terdengar dari bibir beberapa mahasiswa, melihat mobil kelas atas itu terparkir di depan gerbang mereka.
Dua gadis yang mengapit Merisa menyenggol lengannya. Binar-binar kekaguman terlihat jelas di mata mereka.
"Gila, Mer. Ini jemputan elo?" tanya Erna, sahabat dekat Merisa.
"Dapat beginian dari mana?" Kini gadis berkulit sawo matang itu ikut menimpali.
Sementara Merisa hanya melongo, terperangah. Tak menyangka jika gebetan baru yang akan menjemputnya adalah anak orang yang sangat kaya. Pastinya, melihat bagaimana Mclaren oranye itu sangat mewah.
Pintu mobil sport itu terbuka ke atas, otot lengan yang begitu kekar terlihat jelas saat sang Tuan membuka pintunya.
Lelaki berkaus marun gelap itu tersenyum dengan kacamata hitam menutupi matanya.
Decak kagum terdengar dari seluruh mahasiswi yang melihatnya. Terlebih, pengemudi Mclaren oranye itu lebih menggoda dibandingkan mobil sport itu sendiri.
Lelaki berambut pirang dengan jeans hitam. Sepadan dengan kaus marun berlengan pendek yang membuat tubuh kekar itu terlihat sempurna.
Lelaki itu turun, menumpuhkan bokongnya di mobil seraya tersenyum manis.
Tiga gadis belia yang ada di depannya menghampiri dengan cepat.
Sasy mencebik kesal. "Bagaimana mungkin, orang seperti Merisa itu selalu beruntung?" gumamnya kesal.
Ia menghentakkan kaki, lalu berbalik.
"Hey ... Sayangku Sasy! Kau masih marah padaku?"
Seketika langkah Sasy berhenti, ia mengenali suara itu. Cepat ia berbalik, Arfi tersenyum dengan melepaskan kacamata hitamnya.
Gadis itu menganga, bahkan ia tidak menyadari jika itu Arfi. Sedangkan mahasiswi yang lainnya melongo kebingungan.
Termasuk tiga gadis belia yang mengelilingi Arfi saat ini.