
Ardan menumpuhkan kedua tangannya di atas pagar balkon lantai dua. Mengurung tubuh mungil Hazel yang ada di depannya.
"Seru, ya. Nonton drama cinta?" bisik Ardan di telinga wanita berambut cokelat itu.
Hazel memalingkan wajahnya, sebuah kecupan mendarat di bibir mungil itu.
"Di mana Jenderal itu, Mas?"
"Sedang istirahat di kamar Surya."
"Terus Surya dan Yena?"
"Di kamar kita."
Hazel hanya tersenyum, matanya kembali menatap ke arah bawah. Memerhatikan tiga anak manusia yang tengah terbelit permainan semesta.
Ardan menghela napasnya, menumpuhkan dagu di bahu sempit wanita bermata madu tersebut.
"Jujur aku gak tega lihat Nigar, Mas." Satu tangannya terangkat. Membelai rahang tegas Ardan.
"Terus kita bisa apa? Itu bukan ranah kita, Hazel."
Bibir itu memanyun, detik kemudian kepalanya menggangguk.
"Di dunia ini ada dua hal yang tidak bisa diikut campurkan oleh orang lain," ucap Ardan yang ikut menatap ke arah mereka.
"Pernyataan cinta, dan kata maaf untuk sebuah penyesalan," sambungnya lembut.
Ardan mengangkat kepalanya, lalu tangannya memutar badan Hazel. Berhadapan dengan dirinya.
"Nigar akan memilih sesuai keinginan hatinya. Bahkan Jenderal Regan juga tidak ingin ikut campur ke dalamnya. Bukan karena dia tidak memiliki tanggapan, tapi karena dia tau. Nigar berhak memilih karena sebuah alasan."
"Misalnya?" tanya Hazel manja.
"Mungkin agamanya, hatinya, sikapnya. Apa pun itu, pasti dia akan memilih yang paling nyaman buat hidupnya."
Hazel menghela napas, kepalanya mengangguk dengan jari-jari tangan yang menyentuh helaian rambut Ardan.
"Menurut Mas, Nigar akan memilih siapa?" tanya Hazel lembut.
Ardan mengendikkan bahunya. "Entahlah, wanita itu makhluk rumit. Kadang di mataku yang baik ini, tapi menurut wanita yang baik itu. Kaum kalian itu unik," ucap Ardan seraya menarik pinggang Hazel agar menempel pada perutnya.
Gadis itu tersenyum lebar, sampai lesung di kedua pipinya tercetak jelas.
"Kalau kamu yang jadi Nigar. Kamu pilih Ferdi atau Arfi?"
"Hem." Gadis itu memainkan bibirnya, bola matanya memutar seperti sedang memikirkan sebuah jawaban.
"Aku pilih Mas," jawabnya lembut.
Ardan tertawa. "Kenapa milih aku? Kan aku suami Kakakmu?"
"Karena di antara Ferdi, Arfi dan Ardan. Yang paling banyak uangnya itu kamu, Mas."
"Astaga! Sampai detik ini kamu masih matre, ya, Hazel," ledek Ardan.
"Itu bukan matre, Mas. Itu namanya realistis."
"Oh, ya. Tapi jika kamu Nigar. Artinya aku Kakak ipar, sudah beristri. Bagaimana?" tanya Ardan lagi.
"Halah, Mas itu penggoda. Aku yakin walau pun sudah punya istri Mas tetap akan menggodaku."
"Bagaimana kamu bisa tau? Memang kamu secantik itu? Tidak juga," bela Ardan.
"Memang tidak secantik itu. Tapi ada sesuatu yang buat Mas tidak akan pernah bisa berpaling setelah melihatku."
"Apa itu?"
Hazel melatakan satu tangannya di atas dada Ardan. Mata bundarnya menatap wajah lelaki itu lamat. Bibirnya terkembang, memberikan senyum yang menawan.
"Karena di setiap detakkan jantungmu. Itu hanya akan beriramakan namaku. Di sini, di awal kehidupanmu ini, selalu ada aku di dalamnya."
Satu tangan Ardan menarik ujung hidung gadis itu. Gemas.
"Gombal, belajar dari mana?" tanya Ardan menggoda.
"Tentu saja dari Pak Ardan Erlangga."
Hazel membalikkan badannya, kembali memandang ke arah bawah. Dua lengan kekar itu mendekapnya, mencium leher putih itu dengan lembut.
"Aku rindu kamu, Hazelku. Beberapa waktu ini, kamu terus terfokus pada Yena. Sekarang malah ditambah Nigar. Kapan aku bisa bermanja padamu lagi?" tanya Ardan lembut.
Satu tangan Hazel kembali meraih rahang tegas milik suaminya itu.
"Banyak orang, Mas. Malu ih," jawab Hazel lembut.
Ardan mendesah, mengeratkan dekapan tangannya di perut Hazel.
"Lagian kamar kita lagi dipake Surya."
"Kan, masih ada kamar Arfi. Aku ingin kamu segera hamil lagi. Lahirkan bayi lagi."
"Maass!" panggil Hazel tidak suka.
"Bahkan bekas secarku saja masih belum rapat. Apa kamu mau aku kenapa-napa?"
Ardan menggelengkan kepala dengan cepat.
"Jadi selama bekasnya belum rapat aku gak boleh sama kamu?" tanyanya manja.
"Tentu saja boleh. Tapi lihat keadaannya, sekarang ... apa mungkin?" tanya Hazel lembut.
"Kenapa gak mungkin?"
Kedua tangan kekar itu menangkup di pipi Hazel. Menarik kepala sang istri untuk mencium bingkai pada wajahnya.
"Eheem! Eheeem!" deheman kuat dari arah bawah memalingkan mata Ardan.
"Masih sore, woy! Sore! Di sini banyak jomlo! Astaga!" teriak Arfi dari bawah.
Sementara gadis berhijab di sebelahnya hanya terkekeh.
"Memang kenapa? Sudah halal juga. Emang kalian? Merana terus!"
Mata Ardan menyipit saat sebuah jari menarik kulit perutnya. Ia menatap Hazel, sengit karena sudah pasti tidak bisa melawan.
"Jaga mulutmu, Mas! Masih saja tajam kayak dulu," sungut Hazel.
Ardan mengelus perutnya, sakit tarikan itu sangat membekas. Sedangkan, dua lelaki yang memerhatikan di bawah tertawa terpingkal.
Ardan, sang lelaki yang terkenal garang. Bisa kalah hanya karena tarikan tangan sang istri.
***
Arfi meletakan ranselnya di atas kasur kontrakan Nigar. Mengacak rambutnya dengan kasar.
"Sialan Kak Ardan! Tega sekali dia mengusirku ke kontrakan Nigar. Lihat saja nanti, akan kuculik bayinya itu," celoteh Arfi seraya mengeluarkan bajunya.
Karena harus mengalah oleh ayah angkat Nigar. Arfi diungsikan oleh Ardan ke kontrakan Nigar. Alasannya, tidak cukup kamar.
Padahal masih ada villa Erlangga di kota yang sama. Kesal oleh Arfi yang menganggu dirinya, lelaki berkulit sawo matang itu mengirimnya keluar.
Mata Arfi menyisir kesekeliling kamar. Memerhatikan kamar seluas tiga kali empat tersebut. Masih tercium bekas aroma tubuh sang gadis.
Arfi menarik napasnya panjang, mencoba menghirup aroma itu lebih dalam. Memang gadis itu tidak pernah memakai parfume, tetapi harum dari handbody yang Nigar gunakan sering kali tercium sangat pekat.
"Tidak buruk juga. Setidaknya aku bisa tidur di kasur yang sama dengan Nigar. Mana tau kedepannya bisa sekasur berdua."
Lelaki itu menjatuhkan badannya di atas kasur kecil itu. Memeluk guling yang ada di sebelahnya. Kadang, bayangan gadis itu mampu membuatnya gila.
Getaran dari benda pipih di saku celana menganggu imajinasi indahnya. Malas lelaki itu meraih ponselnya.
[Om, jangan lupa nanti malam Om ada janji denganku. Jam tujuh malam di aula kampus. Awas kalo sampek Om gak datang!]
Pesan itu membuat Arfi mendesah panjang. Ia membanting ponselnya di atas kasur. Kesal.
Ia lupa masih harus berurusan dengan gadis kecil itu. Lelaki berambut pirang itu mengacak rambutnya, detik kemudian terduduk di atas kasur.
Perlahan bibirnya menyungging dengan sinis.
"Baiklah Sasy, kamu yang memulai. Lihatlah bagaimana aku membalasnya."
***
Suara dentuman musik terdengar sangat keras. Menggebukan jantung milik gadis berusia delapan belas tahun itu.
Dengan sepatu high heels berwarna perak. Gadis berkepang satu itu melangkah memasuki aula.
Ramai, beberapa gadis yang membawanya ke dalam kelab malam itu sedang berdiri berkelompok di sudut ruangan.
Dari SMA, mereka selalu bertentangan. Memiliki seorang ayah berpangkat tinggi. Sering kali membuat gadis bermata bulat itu kesulitan.
Diejek, ditekan, tetapi tidak bisa mengadu dan melawan. Jika dia mengadu akan dibilang anak Letkol tukang ngadu. Jika dia melawan akan dikatakan anak Letkol banyak gaya.
Ada saja, intinya mereka semua hanya iri pada gadis kecil berparas manis itu.
"Sasy, sendiri aja? Ternyata kamu memang payah," ejek gadis berkulit sawo matang itu padanya.
"Sasy, kan, memang jomlo seumur hidup." Sinis, gadis yang berdiri di tengah dua gadis lainnya itu mencela.
Senyum sinis terkembang di bibirnya, dengan tatapan megejek ia memainkan gelas di tangan.
"Siapa bilang aku jomlo! Aku punya pacar, kok!" balas Sasy angkuh.
"Oh, ya? Siapa?"
"Tentu saja cowok tampan yang menciumku di kelab malam itu." Gadis itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Dagunya sedikit terangkat, angkuh.
"Oh. Lelaki itu? Apa anak ini sedang sakit?" tanya Merisa, gadis yang paling dominan di antara dua yang lainnya.
"Kalian gak percaya? Lihat saja, nanti!"
Di tengah pertengkaran gadis-gadis itu. Arfi mencari keberadaan gadis yang memaksanya pacaran itu.
Matanya menelisik, memerhatikan setiap gadis yang ada di sana satu persatu. Bahkan dia tidak peduli pada setiap tatap mata yang terus tertuju padanya sejak pertama kali ia menginjakkan kaki di aula.
Bibir lelaki itu terkembang dengan lebar saat melihat Sasy ada di sudut ruangan. Sigap langkahnya menghampiri gadis bergaun silver itu.
"Hai, Sayang," sapa Arfi seraya merangkul bahu Sasy.
Gadis kecil itu melongo, menatap penampilan Arfi yang berubah seratus delapan puluh derajat.
Tidak ada si Bungsu Erlangga yang tampan dan bergaya. Hanya ada lelaki dengan kemeja kotak-kotak dengan penampilan amat rapih. Rambut yang disisir sedemekian klimis dan kacamata kuda yang dia ambil entah di mana. Satu kata yang menggambarkannya. Culun!
Sementara lelaki itu dengan pedenya tersenyum sangat manis. Memainkan kedua alis matanya, mengejek keterkejutan Sasy atas penampilannya.
'Berani mempermainkanku. Rasakan pembalasanku,' soraknya dalam hati.