
Bungsu Erlangga itu masuk ke rumah Ardan dengan sedikit tergesa, menaiki anak tangga dan mengepakkan barang-barangnya yang masih tertinggal di kamar rumah itu.
Saat lelaki itu turun, sudah ada Ardan yang menunggunya di ujung anak tangga.
"Arfi dengarkan aku dulu. Kita gak bisa terburu-buru seperti ini. Kita butuh rencana," tahan Ardan.
"Kakak tenang saja, aku sudah memiliki rencana sendiri."
"Kalo begitu katakan padaku," desak Ardan.
Arfi menarik napasnya, menatap wajah Kakaknya itu nanar.
"Kak, kali ini percaya padaku."
"Kau pun harus percaya padaku."
"Dua hari. Beri aku waktu dua hari, aku akan menyelesaikan masalah ini." Lelaki muda itu akan pergi, satu tangan Ardan menahan bahu Arfi.
"Beri tahu aku apa rencanamu?"
"Bisakah kali ini Kakak cukup diam dan tunggu hasil dariku? Aku pun bisa menyelesaikan masalah, percaya padaku," ucap Arfi sedikit ketus.
"Bukan aku tak percaya padamu, Arfi---"
"Lalu?" tanya Arfi memutuskan kalimat Ardan.
"Aku hanya---"
"Hanya apa? Khawatir kalau aku akan menghancurkan segalanya?" tanya Arfi datar.
"Bukan seperti itu, Arfi."
Melihat pertengakaran kakak beradik itu, Hazel hanya terdiam. Sengit, seperti ada sesuatu yang tengah mereka pertentangkan.
Gadis keturunan Turki itu berjalan ke arah pantry, ingin mengambil air untuk keduanya.
Saat berbalik, Nigar sudah ada di depannya. Wajahnya terlihat kacau, namun bibir itu masih dipaksa untuk tersenyum.
"Kamu sudah pulang? Mandilah, aku akan panaskan makan malam," kata Hazel berjalan melewati Nigar, dengan sebuah nampan berisi air lemon untuk suaminya.
"Hazel aku ingin pamit." Ucapan itu membuat langkah Hazel terhenti. Gadis itu menoleh.
"Aku akan pulang ke ibu kota, malam ini."
"Ada apa? Kenapa terburu-buru? Apa ayahmu baik-baik saja?" tanya Hazel kaget.
Satu buliran lolos begitu saja dari mata indah milik gadis berhijab itu.
"Ayah baik-baik saja. Hanya saja aku akan melanjutkan S-2."
"Benarkah? Bagus kalo begitu." Hazel kembali berbalik, baru mau berjalan.
"Aku akan kembali ke Turki."
Seketika nampan yang Hazel pegang terlepas. Wanita itu berbalik dan menghampiri sang adik.
Suara pecahannya mengalihkan perhatian Ardan dan Arfi, dua lelaki itu berjalan menghampiri dua Kakak beradik yang sama saja masalahnya.
"Apa katamu?" tanya Hazel kaget.
"Aku pamit, aku akan kembali ke ibu kota. Megurus visa dan beberapa perlengkapan lainnya. Secepatnya, aku akan kembali ke Turki."
Ardan terkejut, ia menoleh ke arah Arfi, sementara lelaki itu tampak lemas.
"Kamu tak perlu khawatir, ada Omer yang menjagaku di sana."
Gadis itu menunduk, berjalan melewati tiga orang yang masih terpaku di sana dan berlari menaiki anak tangga. Satu tangannya menutupi mulut, mencoba meredam isakan.
"Nigar ... Nigar! Tunggu dulu, kenapa tiba-tiba sekali?" Hazel mengikuti langkah Nigar yang berjalan memasuki kamarnya.
Gadis itu tak peduli, dia langsung mengeluarkan baju-bajunya. Menyusun di dalam koper miliknya.
"Nigar, ada apa? Kenapa kamu ingin ke Turki? Apa aku ada salah padamu. Maaf Nigar, maaf." Wanita itu memeluk bahu Nigar dari belakang, mencoba membujuk sang adik.
Satu tangan Nigar mengelus lengan Hazel yang meliliti pundaknya.
"Tak ada yang salah, Hazel. Aku hanya berpikir masih sangat muda. Aku baru akan 23 tahun. Mengapa aku tak coba melanjutkan S-2 dan mulai menata hidup baru di sana? Bersama Omer, kelak kamu kalau rindu harus mengunjungiku, ya," kata Nigar lembut, dia berusaha tersenyum walau air dari matanya terus luruh.
Sementara Ardan hanya memerhatikan dua orang itu dari pintu. Arfi tertunduk, dia menarik napas dan menjatuhkan ranselnya. Berjalan memasuki kamar Nigar.
"Kak, bantu aku untuk membawa Hazel keluar, aku butuh ruang berdua dengan Nigar," ucap Arfi berjalan melewati Ardan.
Ardan ikut memasuki kamar itu, menarik tubuh Hazel yang menempel pada Nigar. Wanita itu menggeleng, menatap Ardan dengan genangan kaca yang menghiasi netranya.
"Mas," adunya manja.
"Ikutlah denganku jika kamu ingin Nigar tetap di sini, Sayang," bisik Ardan lembut.
"Tapi, Mas--"
"Berikan Arfi waktu, kumohon," bisik Ardan kembali.
Perlahan dekapan tangan Hazel terlepas, berat langkahnya meninggalkan sang adik yang masih berdiri di tepi ranjang. Memasukan seluruh barang-barangnya.
Saat Hazel dan Ardan keluar, Arfi menutup pintu kamar itu. Karena pikiran yang terus kacau, gadis itu tak menyadari pergerakan Arfi yang berjalan mendekati dirinya.
"Nigar," panggil Arfi lembut.
Gerakan tangan itu sempat terhenti, tak ingin berlama-lama. Nigar hanya acuh, walau hatinya perlahan mulai rapuh.
"Jangan pergi," kata Arfi lemas.
Gadis itu mendengar, harapannya pun menginginkan ia tinggal. Namun, ada yang tetap berjalan, itu bukan hanya tentang perasaannya.
"Nigar, jangan pergi. Kumohon," pinta Arfi lemah.
Gadis itu hanya diam, sesekali punggung tangan menyeka wajah. Sibuk memasukan barang-barangnya.
Arfi tak sabar, ia mengambil kedua jemari gadis itu. Membuat badan itu berhadapan dengannya.
Nigar terpatri, sepasang mata indah itu memandangi wajah Arfi. Terdiam, membiarkan air mata menyampaikan segalanya.
Rasa, cinta, dan ungkapan hati yang tak bisa bersuara. Bulir-bulir itu terus membasuh wajah, perlahan pandangannya menunduk.
"Maaf, Arfi. Aku harus pergi." Gadis itu melepaskan pegangan tangan Arfi, berbalik dan mengancing kopernya.
"Nigar, jangan tinggalkan aku. Bisakah?"
Gadis itu menoleh, bibirnya tersenyum, namun matanya tak bisa berdusta. Lara itu terus menyapa bersama sesak memasuki rongga dada.
"Arfi, hidup ini harus tetap berjalan, bukan?" Gadis itu tertawa, satu tangganya menepuk lengan Arfi lembut.
"Aku akan berdoa dengan sepenuh hati, kelak kamu akan menemukan jodoh yang lebih baik dariku. Lepaskan aku." Berat gadis itu mengatakannya, sedangkan lelaki itu hanya diam.
Tak mendapatkan jawaban apa pun, Nigar kembali tersenyum. Satu tangannya menarik koper. Langkahnya tertahan saat Arfi memegang kedua ujung bahunya dari belakang.
"Apakah ada yang memaksamu untuk pergi?" tanya Arfi dan gadis itu tertunduk.
"Apakah ada yang mengancammu untuk meninggalkanku, Nigar?"
"Tidak ada."
"Jangan bohong!"
"Tidak ada, Arfi," jawab Nigar sekali lagi.
"Nigar, tidak bisakah kamu melihat ketulusanku? Sungguh yang aku cintai itu kamu."
Gadis itu menggigit bibir bawahnya, menahan, meredam mati-matian isakan yang ingin meluap karena sakit dari keretakan.
"Datanglah ke sisiku dan cukup pegang tanganku. Aku akan selalu mencintaimu, meski dunia ini berubah. Nigar, kumohon jangan pergi. Jangan dengarkan apa pun yang membuatmu ragu padaku."
"Arfi, tak ada yang mengatakan apa pun padaku."
Perlahan lelaki itu mendekat, satu tangannya melingkari bahu Nigar. Gadis itu tampak gelisah, kedua tangannya berusaha melepaskan dekapan Arfi, namun lelaki itu semakin memeluknya erat.
"Arfi, apa yang kamu lakukan? Kita hanya berdua di sini."
"Percayalah padaku, meski kita hanya berdua, tak akan terjadi apa pun."
"Dari mana kamu tahu? Kita bukan mahram, Arfi. Kumohon lepaskan aku."
Bukannya melepaskan lelaki itu malah membenamkan ujung hidungnya di bahu sang gadis.
Ada yang semakin patah, remuk, saat sebuah sentuhan dapat menunjukkan ketulusan. Gadis itu memejamkan matanya, membiarkan rasa sakit menghukum hatinya.
"Percayalah, Nigar. Tak akan terjadi apa-apa. Bukan karena aku tak bisa, melainkan aku tidak ingin kamu terluka. Aku hanya ingin mendekapmu. Aku hanya ingin kamu merasakan, cintaku padamu masih sama seperti dulu, sama hangatnya, dan mungkin lebih. Bisakah kamu merasakannya?"
Gadis itu menarik napas, perlahan kelopak itu terbuka. Menghantarkan bulir-bulir lara yang kembali membasuh wajah.
"Arfi lepaskan aku." Sedikit menyentak, Nigar menarik tangan lelaki itu. Semakin erat pula Arfi mendekapnya.
"Arfi jangan seperti ini."
"Kenapa?" tanya Arfi. "Apa setelah seperti ini, kamu pun masih tidak bisa merasakan perasaanku?" tanya Arfi getir.
Lelaki itu membalikkan badan Nigar, menatap wajah cantik sang gadis yang telah basah oleh air mata.
"Katakan, Nigar? Kenapa aku tak boleh mendekapmu? Apa memang hanya karena mahram? Atau ada yang lainnya?"
Gadis itu menunduk, perlahan dia terisak, kuat ia menggigit bibir bawah. Menahan suara, agar lelaki itu tak mendengar tangisannya.
"Masihkah hatimu aku?" tanya Arfi lagi.
Satu tangan Arfi mendonggakkan kepala itu. Melihat wajah Nigar yang tampak kacau, sayangnya dia lebih memilih bungkam dibandingkan jujur pada perasaan.
"Nigar, tunggulah di sini. Setelah selesai masalah Kak Ardan kita akan berbicara. Kumohon tunggulah aku."
"Aku tak bisa."
"Nigar."
"Aku tak bisa, Arfi." Gadis itu kembali berbalik, satu lengan Arfi kembali melingkari pundak gadis itu.
"Arfi berhentilah memelukku!" teriaknya mencoba melepaskan tangan Arfi.
Akan tetapi, satu tangan Arfi yang lain malah mengamit jemari gadis itu. Mengenggamnya erat.
"Arfi ... kumohon jangan seperti ini," lirih Nigar lemah. Kali ini dia tidak sanggup lagi, dadanya terlalu sesak. Bahkan untuk menghirup oksigen saja ia kesulitan.
"Jika kamu seperti ini. Kamu membuat aku semakin sakit. Arfi mengertilah, aku pergi untuk kebaikanmu," ucap Nigar pahit.
"Aku tak akan melepaskanmu."
"Demimu ... walau sakit aku akan berpura-pura untuk tegar." Tangis gadis itu pecah, sesenggukan sampai tubuh semampainya bergetar.
Jemarinya yang menggenggam tangan Arfi mengerat. Dia juga tidak ingin pergi, namun dia tak bisa mempertahankan perasaannya dan mengorbankan Kakaknya.
"Percayalah padaku, Nigar. Kita akan baik-baik saja. Aku tidak akan kenapa-napa, asalkan kamu masih di sisiku."
Gadis itu menggeleng pelan, susah payah ia melepaskan genggaman tangan Arfi.
"Kumohon, Arfi. Masih banyak gadis yang akan mencintaimu. Carilah yang sempurna, aku akan tetap mencintaimu. Meski, kita tidak bersama."
Lelaki itu menggelengkan kepalanya, menempelkan dahinya di kepala Nigar. Dadanya terasa sangat sesak, kali ini jauh lebih sakit.
Karena yang diucapkan gadis itu bukanlah makian atau kebencian. Namun, cinta yang terucap di ujung perpisahan.
"Bertahanlah di sini, Nigar. Aku akan menjemputmu. Aku tak peduli jika harus kehilangan hak waris itu. Haruskah aku juga kehilanganmu?"
"Kamu tidak akan kehilangan apa pun Arfi. Cukup lepaskan aku."
Arfi menggelengkan kepalanya, tangannya yang mendekap bahu Nigar semakin kuat.
"Aku tidak mau melepaskanmu. Tidak akan, bukankah cinta butuh perjuangan? Sekali ini saja, berjuanglah demi aku, Nigar. Berjuanglah untuk cinta kita."
"Aku tengah berjuang, Arfi. Aku tengah berkorban, demimu, demi cinta. Aku akan baik-baik saja. Kamu pun harus berjanji, untuk tetap baik-baik saja. Meski kita harus terpisah."
"Aku tidak mau berpisah. Aku tetap ingin mendekapmu, memilikimu Nigar. Aku mencintaimu, kumohon percaya pada hatiku."
"Aku percaya padamu."
"Kalau seperti itu bertahanlah!"
"Caraku berjuang adalah dengan melepaskan."
"Tak ada yang berjuang seperti itu, Nigar. Tetaplah bertahan, ya. Karena aku akan membuatmu bahagia, percayalah."
Kepala berlapiskan hijab itu menggeleng.
"Aku percaya padamu, pun aku juga masih mencintaimu. Sangat, tapi aku tidak bisa lagi berada di sini, Arfi." Gadis itu menunduk, terisak pelan. Mencium lengan tangan Arfi yang tengah melilit di pundaknya.
Dadanya terasa semakin sesak, saat aroma lelaki itu menembus rongga hidungnya.
"Bagaimana bisa kamu meninggalkanku saat kamu mengatakan bahwa kamu sangat mencintaiku, Nigar?"
"Tentu saja bisa. Bukankah cinta bukan tentang bersama?"
"Kalau cinta harus terus bersama. Harus saling memiliki, bukan saling melepaskan, itu bukan cinta, Nigar. Karena cinta tak akan menyakiti."
"Merelakanmu aku bahagia, Arfi. Meski cintaku tersakiti lebam dan membiru. Sakit, namun aku ikhlas menjalaninya." Nigar menarik napas, tersengal oleh ganjalan luka yang kian mendalam.
"Karena fase tertinggi dalam mencintai." Gadis itu terisak, tergagap untuk mengatakan isi hatinya.
"Kehilangan dirimu."