For My Family

For My Family
199



Arfan menepikan mobilnya, menurunkan kaca mobil agar angin malam bisa melipir ke dalam. Sedikit cemas melihat dada Gerald yang naik-turun dengan sangat cepat.


Seperti kesusahan untuk bernapas, satu tangan menghapus peluh di pelipis sang papa. Lalu, tangan tua itu mencengkeram dengan sedikit gemetar.


"Papa baik-baik saja?" tanya Arfan cemas.


Manik mata tua itu memandang menggunakan ekor. "Tenanglah, aku masih kuat jika hanya menghadapi kakak dan adikmu."


Gerald melepaskan cengkeraman tangannya, lantas kepala itu tertumpuh di atas jok. Menarik napas lebih teratur, dan tanpa disadari, satu bulir mengalir di wajah sang putra.


Arfan memutar badannya, menatap jalanan agar wajah piasnya tak ketahuan oleh Gerald.


***


Ardan memukul pagar pembatas lantai dua dengan geram, detik selanjutnya ia berjalan ke dalam kamar untuk mengambil jaket. Sebelum turun lelaki berbadan tegap itu menarik kepala Hazel, mengecup dahi wanitanya lembut.


"Kunci seluruh pintu, aku akan meminta Ferdi mengawasimu. Aku akan pulang besok pagi," kata Ardan dan badan itu langsung berlari menjejaki anak tangga.


"Arfi, ayo. Jika Gerald memutuskan begitu, maka mama akan tinggal bersama kita."


Lelaki berambut pirang itu melihat ke wajah sang istri. Mata indah itu berhiaskan kaca. Kepalanya menggeleng, tidak menyetujui keinginan sang suami.


"Tidurlah bersama Hazel jika kamu takut sendirian. Aku akan pulang besok pagi," pamitnya, saat badan itu bangkit, Nigar langsung memeluk. Walau terasa tangannya bergetar menahan segalanya.


"Jangan, Arfi. Wallahi aku tidak akan melepaskan kamu walau aku harus menjadi gila saat memelukmu."


"Nigar jangan seperti ini, Sayang. Aku hanya pergi semalam. Tenanglah."


"Wallahi aku tidak rida jika kamu memutuskan hubungan itu. Hubungan anak dan ayah tidak akan pernah putus. Bukan hanya di dunia, bahkan di akhirat kelak hisabmu masih berdasarkan garis keturunan ayah, Arfi."


"Bukan aku yang mau, Nigar. Papa yang mengingingkannya."


"Wallahi, Arfi. Lelaki akan tetap menjadi milik keluarganya walaupun sudah menikah. Jangan lakukan itu, aku tidak rida kamu menjadi durhaka karena pernikahan kita."


Arfi mengusap wajah kasar, menatap sang kakak yang sedang menunggunya. Sementara pelukan tangan Nigar semakin mengerat, walau getarannya semakin hebat.


"Jadi aku harus bagaimana?"


"Perbaiki hubungan itu, jika memang pernikahan kita adalah masalahnya. Maka, aku ikhlas melepaskannya."


Mata Arfi melebar, ia menarik badan Nigar dan menatap wajah cantik itu geram.


"Nigar, apa kamu tidak sadar? Sekuat tenaga aku berusaha untuk bisa menikahimu. Aku tidak peduli risiko apa pun itu, walau harus terusir dari keluarga. Lalu, setelah susah payah inikah balasanmu?"


"Aku hanya menjagamu, Arfi. Tak layak seorang anak melakukan orangtuanya sekejam itu," kata Nigar seraya melepaskan air mata.


"Lalu, menurutmu layakkah seorang ayah melakukan itu pada anaknya?" sahut Ardan.


Kepala berhijab itu menoleh, menatap Ardan dan Arfi bergantian.


"Suatu saat kita akan punya anak, Arfi. Hukum tabur tuai itu nyata, seperti apa kamu perlakukan ayahmu hari ini. Seperti itulah anak-anakmu akan memperlakukanmu nanti."


"Jika ibunya sepertimu, itu tidak akan pernah terjadi, Nigar."


"Tak ada yang tahu masa depan, Arfi. Rida seorang istri adalah suami, rida seorang anak lelaki adalah ibu dan ayahnya. Maka murka Allah, adalah hal yang sama."


Gadis bermata madu itu ikut turun, mengelus lengan Ardan dengan lembut.


"Nigar benar, Mas. Kita sudah memiliki anak. Akankah hubungan seperti ini yang kita perlihatkan pada anak-anak kita nanti?"


Sepasang mata tajam itu menatap sang istri.


"Aku tau ada alasan mengapa hubungan kalian bisa seretak ini. Namun, pasti ada alasan juga yang akan membuat hubungan kalian membaik lagi."


Ardan menggelengkan kepalanya. "Kamu tidak akan mengerti, Hazel. Saat Gerald mengatakan itu, maka yang terjadi akan itu."


Hazel tersenyum, satu tangannya meraih rahang Ardan. Mencoba meruntuhkan ego sang suami. Ardan menoleh, tidak ingin lemah oleh usapan tangan itu.


Badan tegap itu berbalik, mencoba menghindari Hazel. Kali ini ia tak ingin menunda lagi. Bisa lebih cepat hubungan dia dan Gerald berakhir maka akan lebih baik.


Hazel menarik napas, melihat ulah Ardan. Kali ini lelaki itu pasti bersikeras untuk kembali melawan.


Hazel menoleh ke arah Nigar, kepala berhijab itu menggeleng dengan kedua tangan yang masih memeluk badan tegap sang suami.


"Baiklah, Mas. Kita akan ke ibu kota," kata Hazel dan Ardan menatap wajah itu lekat.


"Kita, aku dan anak-anak juga. Nigar dan Arfi."


"Bukan, di sana rumah," sahut Hazel lembut.


Ardan tersenyum kecut, ia mengusap kepala kasar.


"Aku sekuat tenaga memisahkan perusahaan agar keluarga kita tidak akan terusik. Hazel, kamu sadar? Sekeras apa aku berusaha selama ini? Sekarang kamu malah minta aku untuk membawamu ke sana? Kamu waras?" tanya Ardan geram.


"Mau sampai kapan, Mas? Mau sampai kapan kita berusaha untuk terus menghindar? Mau sampai kapan kita terus bertentangan? Mau sampai kapan kamu terus-terusan berperang? Menyakiti diri sendiri? Kamu sadar gak, sih? Semakin lama yang kamu sakiti adalah dirimu sendiri. Berperang seperti ini sama saja seperti menusukan belati menikam di hati. Perlahan, kamu pun akan mati dengan belati itu sendiri."


Ardan terdiam. "Tapi kamu tidak tau sepanas apa kehidupan di sana."


"Panas atau sejuk itu tergantung penghuninya, Mas. Tergantung kamu, dan adik-adikmu yang membangun suasananya. Tidak ada masakan yang hangat tanpa ada kompor yang menyala. Tidak akan ada hidangan istimewa tanpa bahan-bahan untuk membuatnya. Jika kamu mau rumah itu bagaikan surga, maka kamulah yang harus membuka jalannya. Sadar gak, Mas? Putri kita adalah Erlangga, tapi dari lahir bahkan Nenek dan Kekaknya tidak pernah melihat dirinya. Jangankan lagi melihat, bahkan menyadarinya saja tidak!"


Netra berwarna madu itu mengkilap. Menatapi punggung Ardan yang membelakangi dirinya. Dadanya mulai bergemuruh, saat ego menguasi hati sang suami, membukanya hanya bisa dengan cara yang sama. Mengeras.


"Bukan aku ingin Yena diakui di depan dunia, Mas. Pernahkah Mas memikirkan masa depan Yena? Lalu ucapan pertamanya yang menanyakan di mana kakek dan neneknya? Dulu aku memang egois, memikirkan Surya yang bisa saja terluka jika aku mengikutimu bersama keluarga Erlangga. Tapi saat ini aku sadar, ada Yena ... akan ada anak-anak kita yang lainnya. Lalu, keluarga seperti apakah yang akan kita katakan pada mereka?"


Ardan tercekat, seketika kerongkongannya mengering. Benar, keluarga seperti apa yang akan diceritakan suatu saat nanti pada sang penerus Erlangga ini.


"Darah itu memang lebih kental dari pada air. Kadang bisa lebih panas dari apa pun, tapi yang namanya darah tetap akan mengalir selayaknya darah. Apa masalahnya? Apa yang membuat hubungan ini retak? Pikirkanlah Mas, semuanya masih bisa dibicarakan. Kamu dan mereka, butuh komunikasi. Sampai kapan? Kapan kalian akan terus bertentangan seperti ini? Lalu, jika suatu saat nanti putra kita mengetahui hubunganmu yang seperti ini. Apa rasanya jika dia melakukan hal yang sama padamu?"


Ardan meneguk salivanya, sejenak ia mencoba membuka lembaran masa kelam itu. Benar apa masalahnya? Mengapa dia bisa sangat retak oleh keluarga?


Terakhir yang diingat adalah, kejadian Arsy dan itu menjadi dendam yang tak terkendali. Entah marah pada siapa? Bertahun-tahun ia mencari kesalahan dan yang terimbas pada Gerald.


"Gerald bertanggungjawab atas kematian Arsy," lirih Ardan dan Hazel menggeleng pelan.


"Tidak ada yang bertangungjawab atas ajal yang tertulis, Mas. Itu kehendak Sang Pencipta. Kamu salah jika menyalahkan manusia atas takdir-Nya."


"Tapi Gerald yang memaksa Arsy, Hazel. Jika dia tidak memaksa, aku rasa Arsy masih ada!" bentak Ardan menoleh ke arah Hazel.


"Jaminannya apa?" tanya Hazel dan Ardan terdiam.


"Jaminannya apa jika Arsy tidak dijodohkan maka dia tidak akan pergi? Apa jaminannya, Mas? Apa Mas bisa menjaminnya? Maut itu rahasia Allah, pantaskah Mas sebagai hamba terus merutukkinya?"


Ardan kembali terdiam, detik selanjutnya ia menutupi wajah itu dengan kedua telapak tangan. Kesal, entah bagaimana meluapkannya.


"Sadar, Mas! Sadar, jangan seperti manusia yang lupa statusnya! Kita ini tidak berdaya atas maut dan jodoh! Jika Mas terus seperti ini, Mas sama saja seperti orang yang tak punya Tuhan."


Ardan membuka tangkupan tangannya dan menatap Hazel sengit. Gadis bermata madu itu sedikit takut, memundurkan langkahnya saat Ardan berusaha mendekatinya.


"Tuhan punya rahasia atas apa yang Dia rencanakan. Kumohon, Mas. Pikirkan anak kita, tak sayangkah kamu melihat Yena yang tak pernah berjumpa kakek neneknya? Setelah kakek nenek dari aku tidak lagi ada?" tanya Hazel terus meracau. Sementara langkahnya terus memundur karena Ardan yang berjalan mendekatinya dengan tatapan nyalang.


Sampai kaki itu terhalang sofa, Hazel menoleh kebelakang dan sepasang tangan kekar menarik badannya kedalam dekapan.


"Tapi Gerald memang bersalah, Sayang. Gerald yang salah," lirih Ardan menyembunyikan wajahnya di bahu sang istri. Perlahan tangan Hazel memeluk, mengelus pundak Ardan dengan lembut.


"Orangtua bisa saja salah, Mas. Namun, sebagai anak kita tetaplah yang harus menunduk dan meminat maaf lebih dulu. Aku hanya tak ingin melihat Mas terus-terusan seperti. Aku pun tau, Mas gak pernah benar-benar bahagia selama keluarga kalian terpecah."


Lelaki berwajah garang itu semakin menguatkan dekapannya. Menyembunyikan wajahnya semakin dalam. Pikirannya mulai mencerna, tentang anak-anaknya, dan juga sang mama.


Banyak hal yang dia lupakan, bisa saja dia bahagia menjalani kehidupan selama ini. Namun, tetap saja, suatu saat nanti masa akan berubah. Bagaimana jika apa yang dikatakan Nigar terjadi? Sanggupkah dia melihat sang buah hati menjadi seseorang yang melawan seperti dia saat ini?


Sementara pelukan tangan Nigar terlepas, ia menatap wajah Arfi lekat-lekat.


"Arfi," panggilnya dan lelaki itu hanya menoleh.


"Pernahkah kamu mendengar jika Surga istri adalah suami, dan surga sang suami adalah kedua orangtuanya?"


Lelaki itu hanya mengangguk pelan.


"Surgamu masih lengkap, Arfi. Haruskah kamu kehilangan salah satunya terlebih dahulu baru kamu akan sadar rasanya?"


"Maksudmu?"


"Bahwa ada yang lebih indah dari apa pun di dunia ini bagi seorang lelaki, bahkan walau itu dibandingkan dengan kebahagiaan istrinya sekalipun."


Dahi Arfi mengerut. Masih bingung oleh penuturan Nigar


"Seulas senyum di wajah keriput mereka. Arfi, kesempatan itu masih ada. Jangan sampai kamu menyesal saat kamu kehilangannya. Karena saat mereka hilang, kamu akan tahu rasanya."


Nigar tersenyum dan menunduk. Merasakan beban rindu yang kian lama semakin berat pada keluarganya, walau telah memiliki keluarga baru yang tak kalah menyanyangi dia. Tetap saja rasanya tak akan sama.


"Bahwa tanpa mereka, selelah apa pun perjuangan akan terasa sia-sia. Karena Surga di dunia ini adalah ... tawa mereka." Satu air lolos begitu saja.


Bagi dia, bagi adiknya dan juga Hazel yang telah kehilangan surganya. Kehidupan terasa sangat hampa, karena satu-satunya tempat yang tak akan pernah membuang sebanyak apa dosa telah dibuat adalah ... mereka. Pangkuan orangtua.