
Tegap langkah itu beriringan memasuki ruang rapat direksi. Ardan tersenyum, membuka kancing jasnya dan menyelempangkannya di atas sandaran kursi. Tenang, di tengah impitan ancaman akan sebuah pemutusan kontrak kerja sama.
Berbeda dengan sang kakak, Arfan malah terlihat gelisah. Masih was-was dengan langkah yang akan diambil oleh Ardan.
"Bisa kita mulai?" tanya lelaki garang itu dengan tersenyum tipis.
Di depannya Farhan mengangguk, sedikit gemetar saat ia membuka map yang ada di tangan. Walau sudah membahas masalah ini dengan papamya, tetapi hatinya masih sangat tidak tenang.
Terlebih saat melihat senyum Ardan yang sangat santai. Jelas sekali jika lelaki itu benar-benar siap untuk melawan.
"Sesuai perjanjian yang pernah dikatakan oleh Pak Presdir, bahwa saat masanya tiba hubungan kerja sama kita akan dipererat oleh pernikahan aliansi dua keluarga. Seperti yang kita tahu juga, bahwa bungsu dari Erlangga saat ini sudah menikah. Itu artinya keluarga Erlangga membatalkan perjanjian secara sebelah pihak."
Sorot tajam itu menatap ke arah sang adik, pias. Wajah ganteng itu terlihat seperti muak mendengar pengucapan firma hukum mereka.
"Lanjutkan!" perintah Ardan tegas.
"Untuk itu kami meminta penjelasan untuk kerja sama ini." Farhan menunduk, tidak sanggup menatap mata Ardan yang terlihat mengintimidasi dirinya.
"Arfi," panggil Ardan dan lelaki berambut pirang itu menoleh.
"Bagaimana menurutmu tentang masalah ini?" tanya Ardan lagi.
Lelaki bermata sayu itu menghela napas, menegakkan badannya dan ikut menatap ke arah Farhan.
"Aku tidak setuju!" tegasnya. "Masalah bisnis jelas berbeda dengan masalah pribadi. Pernikahan aliansi?" Lelaki itu tertawa sinis.
"Ayolah, saat ini dunia bisnis sudah sangat berkembang. Apakah kerja sama saja tidak cukup untuk bisa setia pada mitra kerja?"
"Tapi papa kalian yang menyetujuinya dahulu. Kami hanya menjalankan perjanjian sesuai yang tertulis."
"Tetapi aku tidak tau. Yang menikah aku, jelas ini harus menyangkut aku." Tegas, lelaki berambut pirang itu menjawab tanpa perasaan.
Sementara, gadis dengan tampilan cantik itu terus menunduk. Bahkan sampai akhir Arfi masih sekeras ini menolak dirinya.
"Benar! Tapi Tuan Gerald sudah mengatakan bahwa dia akan mengatur segalanya dan meyakinkan kami untuk tidak khawatir akan masalah anaknya."
Arfi tersenyum sinis. "Kalau begitu nikahkan saja Ayla dengan Gerald Erlangga."
Seketika gadis bertubuh langsing itu menatap Arfi. Merasa terhina oleh ucapan lelaki itu.
"Jaga kata-katamu, Arfi! Walau di sini hanya ada kita. Tapi kami masih bagian direksi kalian."
Ardan mengetukkan dua jarinya ke atas meja, saat mata sayu adiknya menatap kearah dia. Lelaki itu hanya tersenyum.
"Yakin kah kalian bertiga mampu menangani ini? Aku rasa kalian terlalu mengangap remeh firma hukum kami." Kali ini, lelaki yang lebih tua dari Farhan menyela.
Ardan hanya tersenyum, menatapi jajaran perwakilan firma hukum mereka saat ini. Lalu, tubuh tegap itu menegak dengan kedua tumpuhan tangan di atas meja.
"Langsung saja, jika kami bersikeras membatalkan pernikahan. Apa yang akan kalian lakukan?" tanya Ardan mulai serius.
"Ya, kami tidak akan meneruskan kontrak kerja sama lagi. Dan kami juga menginginkan agar pemecahan saham terjadi."
"Tak bisa kita bernegosiasi lagi?" tanya Ardan serius.
"Tak ada. Kecuali jika Arfi bersedia menikah."
"Kenapa sangat memaksa?" Kini tubuh tegap itu sedikit mencondong ke depan. Kembali mengintimidasi dengan tatapan.
Melihat kegigihan mereka untuk menikahkan Arfi dan Ayla semakin membuat Ardan yakin, bahwa ada maksud lain dari pernikahan ini. Bagaimana mungkin dia membiarkan ini terjadi?
Bagaimana juga, perusahaan ini adalah hidup dan mati Gerald. Bukan hal yang mudah mengembangkan perusahaan itu sampai sebesar ini. Nuraninya tidak setega itu, benar memang, hubungan darah tidak akan serapuh itu.
"Kami hanya menginginkan perjanjian berjalan bagaimana semestinya."
"Menggunakan Ayla sebagai senjata? Agar Erlangga bisa tunduk di bawah kaki kalian begitu?" tanya Ardan tanpa basa-basi.
"Ardan!" Tangan Farhan mengepal, dari awal emosinya sudah sangat tertantang mendapati senyuman lelaki berwajah garang itu.
"Lalu, anak perusahaan mana yang kalian inginkan untuk pemecahan saham kalian?"
Seketika Arfan menatap wajah itu, kali ini pikiran Ardan benar-benar mengacau. Bagaimana jika dia benar serius ingin melepaskan anak perusahaan?
"Sesuai saham yang kami miliki, Ruby Jewelry adalah anak perusahaan yang paling setara."
Ardan memayunkan bibirnya, menganggukkan kepala.
"Perusahaan berlian? Pintar sekali kalian."
Satu tangan Arfan menekan sebelah paha Ardan. Mencoba menghentikan sikap gila kakaknya itu. Entah apa yang dia pikirkan, yang pasti Gerald akan marah besar jika Ardan sampai melepaskannya sesuai keinginan mereka.
"Jika kalian tidak ingin kehilangan anak perusahaan dan beberapa saham lainnya. Maka jalannya adalah menikahkan Ayla dan Arfi. Kami sudah mengalah, tidak meminta Arfi menceraikan istrinya. Demi hubungan baik kita, kami menerima Ayla dimadu."
Ardan menganggukkan kepalanya, lantas bertanya "Arfi, apa kau mau menikah lagi?"
"No. And Never!"
"Tapi kalian tidak memiliki pilihan lagi. Mau Ardan ataupun Gerald yang menangani. Maka pilihannya hanya dua, melakukan pernikahan aliansi atau kita pecah kongsi!" tekan Dio, yang tak lain adalah adik dari ayahnya Farhan dan Ayla.
Ardan terdiam, memandangi wajah-wajah itu secara bergantian. Lantas, lelaki itu kembali mencondongkan badan ke depan.
"Aku memilih ... pecah kongsi."
...***...
Plaaaak
Sebuah tamparan telak menghantam wajah garang itu. Ardan terdiam, membiarkan dengungan di telinganya sedikit memudar.
"Ardan, Papa benar-benar tidak habis pikir. Bagaimana bisa kamu mengatakan itu pada mereka? Jika mereka benar-benar akan memutuskan kerja sama, mau jadi apa perusahaan kita!" bentak Gerald dan seluruh isi rumah hanya terdiam.
Kali ini amarah Gerald berbeda dari sebelumnya, wajahnya memerah dengan kilatan mata yang memancarkan segala emosi yang dia punya.
"Perusahaan akan baik-baik saja," kata Ardan.
"Dengan kamu yang melepaskan mitra? Anak perusahaan? Ardan pernahkah kamu berpikir bagaimana susahnya Papa membangun ini semua? Ha? Apa kamu pernah berpikir apa yang sudah Papa korbankan untuk mempertahankan ini semua? Apa hakmu melakukan ini semua? Kamu memang CEO, tapi sepertinya Papa terlalu tinggi menilaimu."
Ardan terdiam, kepala itu menunduk jauh ke dalam. Suara derap langkah menjauh, kehabisan akal. Kali ini Gerald benar-benar kehilangan kekuatan, bahkan hanya sekadar untuk memarahi Ardan.
Jantungnya bergemuruh tak karuan, entah bagaimana cara melampiaskannya. Dia pikir Ardan akan benar-benar menanganinya dengan baik, siapa duga jika perusahaan ini semakin terdesak karena ulah putra kebanggaannya.
"Lalu, apakah kebahagiaan kami tidak penting buat Papa? Apakah sepadan jika sebuah perusahaan ditukar dengan kedamaian?" pertanyaan itu membuat langkah Gerald terhenti.
Hening. Tak ada yang berani bersuara, karena jika dua orang terkeras itu sudah mulai beradu, maka tak akan ada yang bisa menghentikannya.
"Pa, sadarkah selama ini apa yang Papa korbankan? Sadarkah Papa jika apa yang Papa lakukan membuat Papa kehilangan?" tanya Ardan lagi.
"Mau sampai kapan Papa terus memaksakan kehendak? Mau sampai kapan Papa terus mementingkan perusahaan dari pada kebahagiaan anak-anak Papa? Pa, kami manusia. Darah daging Papa, kenapa? Selama ini kami hanyalah barteran bisnis di mata Papa?"
Ardan memutar badannya, menarik Surya dari pangkuan Hazel dan membawanya ke lantai atas. Saat akan menaiki anak tangga pertama, lelaki itu berhenti dan menoleh.
"Dulu Papa mengorbankan hidup Arsy, kini pernikahan Arfi. Sekali ini saja, Pa. Kumohon."
Ardan menarik napas panjang. "Jangan buat aku menyesali keputusan untuk kembali ke rumah ini."
💦💦💦
Hai hai hai
ada yang kangen othor gak? maaf ya untuk penantiannya, hari ini othor kembali dari hibernasi panjang 😪
satu dulu up nya, crazy up kalo othor udah buat part lanjutannya. maaf karena ngeluarin dua buku solo sekaligus buat othor libur panjang.
lope-lope sekebon buat kelen gaes 😘😘😘