
Bersiap untuk pergi ke party yang Nola katakan, pria berkacamata itu menatap ke arah cermin sekali lagi, mematut penampilannya sebelum pergi.
"Woi, rapi amat! Mau ke mana?" tanya Even seraya menepuk sebelah pundak Ferdi.
Yang ditepuk hanya melirik sekilas, lantas merapikan hoddy yang dia kenakan.
"Mengasuh tuan putri," sahut Ferdi sekenanya.
Evan tertawa, dia perhatikan tampilan pria berkacamata itu dari atas sampai bawah. Sangat simpel, hanya menggunakan kaus oblong dan hoody di luarnya, celana pendek sebatas lutut dan rambut yang tersisir acak.
Namun, itu pula yang membuat pesona Ferdi susah untuk ditolak. Dia sederhana, tapi terlihat sangat istimewa. Entah karena apa? Mungkin kelemah lembutannya.
"Mau ikut?" tanya Ferdi sebelum keluar dari kamar hotel.
Evan memanyunkan bibirnya seraya menggeleng lemah. "Aku tak ingin menggangu kencan kalian."
"Damn!" umpat Ferdi kesal.
Kekehan dari bibir Evan mengiringi langkah pemuda itu keluar dari kamar. Evan menghela napas, terkadang perasan memang berjalan setidak adil itu memang. Kala Cupid hanya menembakkan satu anak panahnya, sementara yang lainnya masih bebas dan tak terkena. Maka yang tertembak akan semakin lemah karena tancapan cintanya membuat sang tuan tak berdaya.
Suara dentuman sound memecahkan keheningan malam, lampu sorot yang berkelap-kelip membuat party di pinggir pantai itu terlihat asyik.
Ferdi menarik napas kala melihat segerombol gadis-gadis dengan pakaian minim tengah berjoget ria. Sementara waiters terlihat sibuk mengantar minum-minuman yang dibuat bantender.
"Hei, Mata Empat!" Nola melambaikan tangannya, meminta Ferdi untuk mendekat.
Berat, langkah pemuda itu mendekati perkumpulan gadis-gadis teman Nola. Entah apa yang sudah Nola katakan pada temannya, saat Ferdi sampai di depan mereka. Pemuda itu seperti dilucuti oleh tatapan.
Lalu, salah satunya berbisik-bisik ke telinga Nola, gadis itu hanya mengangguk. Dia tarik tangan Ferdi setengah menyeret ke arah tengah party.
Meminta pergantian lagu pada Diskjoke yang ada di sudut tempat acara.
Suasana menjadi lebih tenang mengikuti alunan sendu lagu yang diputarkan sang Dj. Nola kalungkan kedua tangannya di pundak kekar Ferdi.
Pemuda berwajah teduh itu hanya diam, terpaku dan tak ingin mengikuti apa pun itu.
Bibir ranum sedikit mengkilap itu berdecak sebal kala Ferdi bagaikan patung, tak bergerak sama sekali kecuali kedipan matanya. Dia raih kedua jemari Ferdi dan meletakannya di pinggang ramping miliknya.
"Aku bosan berada di sini, bisa kita pergi?" tanya Ferdi mulai jenuh.
"Kau, 'kan baru datang, masa segini saja sudah bosan, sih?"
"Aku tak suka sesuatu yang berisik!"
Tak mempedulikan lagi, Ferdi langsung beranjak dari perkumpulan itu. Berjalan menyusuri pesisir, sementara dia abaikan panggilan dari gadis itu.
Nola mempercepat langkahnya, sedikit berlari dia meraih lengan Ferdi dan memutar badan lelaki itu berhadapan dengannya.
"Ferdi nggak asyik tau, nggak?"
"Kalau aku nggak asyik kenapa tak kau bawa lelaki yang lebih asyik saja?"
Nola silangkan tangan di dada, dia membuang wajah kesal.
"Apa yang kau katakan pada teman-temanmu tentang aku?"
"Apa?" Bukannya menjawab, Nola malah balik bertanya.
Ferdi tarik tangan gadis itu dan menggandengnya untuk duduk di salah satu kursi yang ada di pesisir. Dia buka hoody berwarna putih itu dan memakaikan ke bahu Nola yang terbuka.
"Ini malam, kenapa tak kau kenakan pakaian yang sedikit tertutup?" tanya Ferdi seraya menarik sisi hoody agar menutupi seluruh bahu Nola yang terbuka.
"Itu party, bukan pengajian! Kau mau menyuruhku pakai gamis ke party?"
Teduh wajah lelaki itu melarikkan senyum tipis, dia menjatuhkan badan di sebelah Nola. Sementara, sang gadis hanya membuang wajah, kesal.
Hening, mereka hanya membiarkan waktu hampa menyapa keduanya. Rembulan bundar terlihat indah dengan peraduan laut di bawahnya. Sesekali debur ombak menghiasi permukaan laut tersebut.
Jari-jari lentik milik Nola mencengkeram sisi Hoody yang Ferdi berikan. Lekat tatapan matanya menilik wajah teduh yang ada di sebelahnya.
Baru ingin menggeser duduknya agar lebih dekat, Ferdi lebih dulu bangkit saat getaran ponselnya terasa. Selarik senyum terkembang di wajah tenangnya.
Dia bangkit, mengambil jarak sebelum mengangkat panggilan.
"Kak Ferdi ... aku rindu! Rindu! Rindu setengah mati padamu!"
Ferdi sempat menjauhkan ponsel dari telinganya saat suara gadis itu melengking. Menyakiti telinganya.
Bibir lelaki itu terkekeh, lantas dia sugar rambut yang sempat jatuh terempas angin pantai.
"Apa yang kamu lakukan? Kamu menyakiti telingaku, Sasy."
"Habisnya aku rindu. Aku nggak mau menderita sendirian, jadi Kak Ferdi juga harus menangung penderitaannya bersamaku."
Lagi-lagi senyum menghiasi wajah teduh itu saat mendengar celoteh gadis belianya.
Di sini, Nola terus memperhatikan lelaki yang telah mengisi hatinya selama beberapa tahun belakangan ini.
Ekspresi wajah Ferdi tak bisa dibohongi, pasti lelaki itu tengah mendapatkan telepon dari seseorang yang spesial baginya.
Bahkan dari gerakan tubuhnya saja dia terlihat berbeda. Nola menarik napas, dia rentangakan tangan kebelakang dan menumpuhkannya pada kursi untuk menahan tubuhnya.
"Ferdi ... aku tak suka ditinggal sendiri." Lembut suara itu memanggil dengan nada manja.
"Kakak ... sedang bersama seseorang?" tanya belia itu ragu.
"Hem, iya. Dia adalah klien kami."
"Oh." Seketika nada sang belia terdengar datar.
Sasy menggigit kukunya, lalu pertanyaan tentang bagaimana penampilan gadis itu? Cantik atau tidak? Apakah seksi? Semua mulai timbul memenuhi ruang kepalanya.
Detik selanjutnya hatinya berdenyut, memikirkan bagaimana jika Ferdi tergoda. Walaupun tak banyak, bagaimana jika dia mencoba-coba dengan gadis lain sebelum akhirnya menikahi dia?
"Dia adalah desainer perhiasaan, kami sedang mencoba menarik kerjasama dengan keluarganya. Aku tak bisa menjelaskan lebih detil, hanya saja ... aku takkan melakukan apa yang sedang kamu pikirkan saat ini."
Seketika gadis itu tergagap, ia bingung untuk membalas ucapan Ferdi. Bagaimana mungkin lelaki itu mampu membaca isi kepalanya.
"Em, emang aku mikiri apa?"
"Tentu saja memikirkan aku yang akan tergoda oleh wanita lain atau hal buruk lainnya."
Sasy tak bisa menjawab, dia kebingungan ingin membalas apa. Bagaimana bisa Ferdi sangat tepat menebak isi kepalanya?
Gadis itu menggeleng-geleng sendiri. Lalu, semu menghiasi wajahnya, malu.
Ferdi terkekeh pelan. "Apa saat ini wajahmu sedang bersemu?"
"Tentu saja tidak!" ketus Sasy, dan itu malah membuat Ferdi tambah yakin dengan dugaannya.
"Ya sudah, ini sudah malam. Kamu istirahatlah, masih ada beberapa hal yang harus kubahas."
"Hem," jawab Sasy sekenanya, sebenarnya dia masih rindu. Masih ingin mengatakan banyak hal dan berbicara lebih lama dengan kekasihnya.
Ingin menginterogasi, menanyakan apa saja yang akan dia lakukan dengan gadis itu, lalu bagaimana pandangan Ferdi tentang gadis-gadis di sana. Banyak dan masih sangat beragam.
Hanya saja, sekarang dia mengerti, bahwa sebuah hubungan dan kepercayaan tak sesederhana yang dipikirkan, bukan hanya tentang indahnya cinta yang bersemi, namun juga tentang ego dan ambisi yang ingin memonopoli, lalu harus tertahan dan terbenam karena logika dipaksa mengerti dan memahami.
Bahwa hubungan tak berjalan hanya karena membersemai cinta dan rasa, tapi juga tentang banyak hal dan kedewasaan yang setara. Mati-matian Sasy mencoba meredam pertanyaan di dalam pikirannya, dia hanya ingin percaya, bahwa Ferdi takkan pernah tersesat di hati yang lainnya.
Setelah mematikan panggilan, pemuda berkacamata itu kembali mendekati Nola. Dia tarik hoody yang sudah jatuh di atas kursi.
Dia kembali memberikannya ke Nola.
"Pakailah," katanya seraya menyodorkan hoody.
Gadis itu bergeming, dia tatap wajah Ferdi lamat. Bohong jika dia tidak berdebar saat berhadapan sedekat ini.
"Kenapa?" tanya Nola getir.
Ferdi menoleh, temaram cahaya rembulan membuat aura wajah Nola tampak menyedihkan, di dalam bayangan Ferdi.
"Kenapa kau sangat perhatian padahal kau tidak pernah memiliki perasaan?" tanya Nola kembali.
"Aku menganggapmu temanku."
Pandangan mata Nola menyanyup, digenggamnya kedua tangan yang dari tadi berada di atas paha terbukanya.
"Hanya sebatas teman?"
Ferdi kembali menoleh ketika mendapatkan pertanyaan itu.
"Tentu saja."
"Jadi setelah selama ini, setelah semua dan segala sikap yang kutunjukkan padamu. Kau juga masih tidak paham bagaimana aku menganggapmu selama ini?"
"Aku tak pernah beranggapan bahwa rasa sukamu terhadapku adalah keseriusan. Itu hanya rasa terima kasih karena aku pernah menolongmu."
"Ferdi, jangan naif! Kau pun tau aku bukan lagi gadis remaja yang labil, yang tak bisa membedakan mana rasa suka dan yang hanya sekedar rasa terima kasih," kata Nola mengeras.
"Berhentilah membohongi hati, Nola. Aku tau kau pun tak sepolos itu, bisa jatuh cinta hanya karena aku pernah menolongmu saja."
"Apa aku butuh sebuah alasan untuk menyukaimu? Apakah sebuah alasan bisa membuatmu percaya terhadap perasaanku?"
"Entahlah. Tapi menurutku cara kita memandang tentang cinta berbeda, Nola."
"Lalu, kau pandang seperti apa perasaanku selama ini?"
Ferdi menggeleng pelan, dia juga tak ingin terikat perasaan dengan gadis ini. Bukan hanya karena dia adalah klien, namun dari dulu dia hanya menganggap Nola, layaknya dia menganggap Ardan. Sebatas teman, tidak lebih.
"Aku tak berhak menilai tentang perasaanmu. Rasa cintamu adalah milikmu dan cintaku adalah milik dia yang telah kuserahkan hatiku padanya."
Pemuda itu memutar badannya, menatap ke arah Nola dan kali ini terlihat lebih serius dan intens.
"Kita sudah sama-sama dewasa, bukan? Seharusnya kita mengerti kalau masalah hati takkan pernah bisa memilih, mereka akan jatuh pada orang yang tak bisa kita tentukan. Tapi kita, memiliki kendali untuk memutuskannya. Kita memiliki pandangan, pendengaran dan pemikiran. Kita tak bisa memilih untuk jatuh cinta pada siapa, tapi kita bisa memilih saat sudah menilai segalanya, menyerah atau memperjuangkannya."
"Dan aku memilih memperjuangkanmu," tegas Nola tak ingin kalah.
"Dan aku hanya bisa mengatakan maaf, aku tak bisa memilihmu."
"Tapi kenapa?" tanya Nola lagi.
"Karena saat ini, hatiku bukan lagi milikku. Dia telah menjadi milik orang lain sejak aku memutuskan untuk memilih dia menjadi tuannya."