For My Family

For My Family
260



Pedro menarik napasnya berat, matanya menatap Kinara yang masih asyik bermain dengan kandungannya. Kali ini dia pun terjebak, bukannya tak ingin membantu. Namun, di sini dia juga memiliki sesuatu yang sangat ingin dia lindungi lebih dari apapun.


"Kau tau aku masih bekerja di rumah sakit. Aku tidak bisa meminta pindah tugas begitu saja, Ardan. Semua punya prosedurnya."


"Bagaimana jika aku memintamu menjadi dokter pribadi Erlangga. Aku akan membayar gajimu sama seperti rumah sakit memberikannya."


"Ini bukan masalah uangnya, Ardan."


"Aku tau, Pedro. Ini juga tentang menyelematkan banyak nyawa, kan? Aku benar-benar memohon padamu, setidaknya jadilah dokter pribadi kami sampai mama sembuh saja."


Pedro terdiam, dia tatap sekali lagi wajah Kinara. Rasanya dia tidak tahan jika berjauhan dengan istrinya meski sehari saja.


"Begini, aku ada persyaratan."


"Katakan!"


"Aku akan menjadi dokter pribadimu asalkan istriku bisa ikut ke ibu kota."


Mendengar penuturan Pedro, Kinara mengalihkan pandangannya. Awalnya dia tidak terlalu peduli pada percakapan itu, kini dia penasaran dan berjalan mendekati Pedro saat lelaki itu membawa namanya.


"Aku ingin kamu melepaskan kontrak Kinara tanpa biaya penalti apapun."


Di ujung sana Ardan memaki kasar, lantas bibirnya terkekeh pelan.


"Sejak kapan kau pandai berbisnis?"


"Bagaimana?" tanya Pedro melirik Kinara. Sementara yang dilirik hanya tersenyum saja.


Ardan menjauhkan ponselnya, menoleh ke arah Ferdi yang ada di belakangnya.


"Berapa lama kontrak Kinara tersisa?"


"Entahlah. Setauku dia baru saja memperbarui kontraknya bersama dengan masuknya Khadijah."


Ardan menggelengkan kepalanya, kini dia benar-benar terjebak oleh permohonannya.


"Aku yang semakin lemah atau orang di sekitarku yang makin kuat?" lirihnya seraya kembali mendekati ponsel ke telinga.


Bersamaan dengan itu seorang pramugari mendekati mereka. Meminta agar Ardan mematikan ponselnya selama penerbangan.


"Baiklah aku akan memutuskan kontrak Kinara, datanglah ke ibu kota segera. Aku harus mematikan telepon, berikan aku berita baik setelah aku mendarat."


Tanpa menunggu jawaban Ardan langsung mematikan ponselnya. Membuat lelaki berdarah setengah Spanyol itu menggeleng.  Dasar lelaki angkuh yang satu itu, dia meminta tolong, tapi tetap saja seperti memerintah.


Lalu, tatapan tajam iris cokelat itu kembali ke istrinya.


"Kamu dengar, kan? Ardan sudah memutuskan kontraknya. Kamu buatlah surat resign dan aku akan mengurus beberapa dokumen dan perizinan pindah tugas dari rumah sakit."


Senyum dari bibir Kinara semakin merekah, dia mengangguk dan mulai bersiap-siap kembali keperusahaan setelah jam istirahat selesai.


...***...


Sepasang binar itu terus menatapi dua orang yang tengah bercanda di tengah taman. Gerald menarik napasnya, walau terkadang kelihatan perbedaannya, tetapi tetap saja Aulia masih berada pada imajinasinya. Memanggil Hazel dengan nama Arsy.


Entah mau sampai kapan terus begini? Lama kelamaan dia merasa kasihan, tidak tega jika harus membiarkan imajinasi Aulia semakin liar.


Gerald berjalan mendekati dua orang itu, saat menyadari kehadiran Gerald, Hazel beringsut mundur dan memberikan ruang kepada mereka berdua.


Setelah Hazel pergi, keadaan hanya berjalan hening. Tak ada yang membuka percakapan, karena pada dasarnya Aulia sama sekali tidak peduli pada siapapun selain Arsy.


Setelah beberapa lama suasana menghampa begitu saja. Aulia memutuskan untuk bangkit. Tiba-tiba Gerald ikut bangkit dan memeluk bahu Aulia erat dari belakang.


Tak ada percakapan, karena sejatinya sebuah perasaan dapat tersampaikan hanya melalui sentuhan. Bergeming, detik selanjutnya sebuah lara menetes dari mata senja sang wanita.


Aulia menoleh, melihat wajah Gerald yang terbenam di atas pundak kanannya.


"Kamu merasakannya, kan, Aulia? Kamu merasakan bagaimana perasaanku padamu?" tanya Gerald yang masih menyembunyikan wajahnya.


Satu tangan wanita beranak empat itu terangkat, menyentuh lengan Gerald yang masih memeluknya erat.


"Ada apa denganmu?" tanya wanita itu lembut.


"Bukan aku, tapi kamu. Kamu, Sayang. Kapan kamu akan pulang?"


Sebuah bulir tumpah begitu saja dari dua mata indah milik Hazel. Gadis itu masih di sana, di sudut taman menyaksikan sepasang kekasih yang mencoba untuk kembali bersama setelah tercipta jarak yang tak terlihat oleh mata, tapi terasa ada.


"Aku?" tanya Aulia tak mengerti. "Aku di sini."


"Hanya ragamu! Tapi tidak dengan hati dan pikiranmu. Aku mohon Aulia, tolong kembali padaku, jangan tinggali aku. Kita sudah berjanji bahwa akan melewati semuanya bersama, bukan?"


Bulir demi bulir terus menyapa wajah senja Aulia. Dia tidak tau mengapa perasaannya terluka? Entah apa yang membuat air matanya terus tumpah.


"Sekali lagi, satu kali lagi. Berikanlah aku kesempatan itu sekali lagi, Sayang. Akan kuperbaiki apa yang tak mampu kuberikan padamu dulu."


Wanita itu hanya bergeming, dia tidak mengerti apa yang Gerald katakan. Namun, air matanya tak bisa berhenti dan terus mengalir mengikuti perasaan.


"Kesempatan?" Aulia bertanya-tanya.


Tangisan yang selama ini Gerald tahan akhirnya tumpah. Terus terang dia sangat lelah, bukannya tak pernah dia memikirkan bagaimana jika dia memilih wanita lain saja?


Namun, ada bagian dari dirinya yang tak ingin menerima. Hatinya hanya mencintai satu wanita, perasaannya hanya ingin memiliki Aulia saja. Bagaimana dia bisa memberikan perasaan pada orang lain? Saat perasaan itu sudah tidak lagi bersisa, bahkan untuk anak-anaknya.


"Aku akan berusaha untuk menghadirkan surga buatmu, Aulia. Aku akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu. Aku akan berusaha apa pun itu agar kamu tak lagi kecewa dan terluka. Sekali saja, berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semua," pinta Gerald semakin mengeratkan dekapannya.


"Apanya yang ingin diperbaiki, Gerald?"


"Segalanya. Bahkan jika bisa, aku ingin mengembalikan Arsy padamu. Tapi aku tidak bisa, itu adalah kesalahan yang tak kubisa kuperbaiki. Untuk itu, beri aku kesempatan untuk memperbaiki apa yang masih bisa kita ulangi."


"Arsy?" Auli kembali tertawa, imajinasinya kembali liar saat mendengar nama itu.


Wanita itu berontak, lantas dia melepaskan dekapan Gerald dan menatap dahan-dahan bunga persik di atas kepalanya. Bibirnya terus meracau, mencari Arsy di antara kelopak bunga yang berguguran.


Sejejak lara kembali menyapa sang pria, entah bagaimana caranya? Dia akan melakukan segalanya untuk menjemput kekasihnya kembali ke dekapan.


"Aulia." Gerald menangkupkan kedua tangannya di pipi Aulia. Mencoba menautkan dua binar itu.


"Katakan padaku apa yang kau rasakan saat ini?"


Wanita itu terus meracau, manik matanya terus memandang ke segala arah.


"Aulia!" panggil Gerald menekan.


"Kumohon jangan ditahan lagi, jangan! Jangan terus menahannya sendiri."


Sepasang tangan itu menarik Aulia untuk kembali dia dekap. Kali ini tangisannya kembali pecah, terisak-isak lelaki yang paling angkuh di Erlangga itu menangis di pundak kekasihnya.


"Mulai saat ini aku ingin kamu mengeluh padaku, sama seperti aku yang selalu mengeluh padamu, Aulia."


Gerald semakin terisak, mengingat setiap kejadian, selama berjalannya pernikahan Aulia memang sangat tegar dan tak pernah mengeluhkan apapun. Sebaliknya, dia adalah orang yang tidak pernah tahan pada tekanan keadaan.


Itu pula yang membuat Aulia tak pernah mengatakan apapun pada Gerald. Memendamnya sendirian dan akhirnya kesehatan mentalnya mencapai batasan.


"Beritahu aku semua penderitaanmu, ketakutanmu, kekhawatiranmu, kelemahanmu, dan rasa sakitmu, Sayang. Biarkan aku mencemaskanmu dan memikirkanmu."


Gerald melepaskan dekapannya, membelai wajah Aulia yang semakin terlihat mengurus termakan oleh penyakitnya.


"Karena aku ingin terus bersamamu, hidup bersamamu dan merasakan hari tua bersamamu. Hanya kamu. Izinkan aku sekali lagi menjadi suamimu, Istriku."


Tangis Aulia memuncak, dia tarik badan Gerald dan melepaskan segalanya di sana. Antara sadar dan tidak, terkadang ada ucapan yang mampu menembus imajinasi yang terlanjur dalam.


Penyesalan dan ketulusan dari orang yang paling disayang.