
Arfan menahan tangan Ferla yang ingin menarik tuas pintu. Seketika ibu dari tiga anak itu menoleh.
"Jangan sampai keceplosan di depan Ardan. Kamu harus tetap merahasiakan ini, ya."
Wanita berumur 34 tahun itu mengangguk. Mengambil tangan Arfan dan mencium punggung tangannya.
"Hati-hati. Jangan terlalu memaksa, Fan. Wajahmu sudah sangat pucat."
Arfan menarik napas, melirik dua gadisnya yang ada di kursi belakang, sedang memakai ransel mungilnya masing-masing.
"Kalian jangan main terus, ya. Tidur siang, jangan melawan Mommy."
"Siap, Dady!" jawab keduanya serentak.
"Sini cium dan peluk Dady dulu."
Dua gadis mungil itu memeluk ayahnya bersamaan. Sepasang netra tajam itu menatapi wajah istrinya yang tengah tersenyum lembut.
Arfan membenamkan ujung hidungnya di rambut putri kecilnya. Menghirup aroma tubuh sang gadis yang mampu sedikit menenangkan hatinya.
"Doakan Dady, Nak. Doakan aku Ferla, ini semua demi kalian. Aku tidak rela jika harus melihat kalian hidup susah."
Ferla menggulum bibirnya, setelah dua anaknya turun terlebih dulu. Berganti dia yang memeluk Arfan.
"Aku tau sejauh mana kemampuanmu, Fan. Jangan terlalu paksakan diri, seperti apa masa depan nanti. Aku dan anak-anak akan selalu mendampingimu."
Arfan menarik napas, lalu tatapan itu teralih saat melihat Ardan keluar. Ia lerai pelukan Ferla dan mengacak kepala putranya.
"Ingat jangan katakan apa pun pada cinta pertamamu itu."
Ferla terkekeh, ia mengetuk kepala Arfan. Lantas, keluar dari dalam mobil sang suami.
"Kalian sudah datang," sapa Ardan mengambil alih Beyazid dari gendongan Ferla.
"Ya. Demi mama, kan? Aku titip Beyazid sebentar, mau ngurus barang-barang."
Ardan hanya mengangguk, tatapan tajam itu beralih ke mobil kembarannya. Keluar dari halaman dengan klakson pelan menyapa sang kakak.
Mobil biru itu melesat, hilang setelah keluar dari pagar.
"Hei, Boy. Ada apa dengan Dadymu? Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan."
Bocah yang ada di dalam gendongan Ardan mengoceh, seakan menjawab pertanyaannya.
Ardan tertawa, berbalik memasuki rumahnya. Langkah tegap itu terhenti saat melihat dua putri Arfan yang berdiri di sebelah sang istri. Cerewet, dua bocah itu tak henti-hentinya bertanya banyak hal pada gadis keturunan Turki tersebut.
Lalu, suara lembut itu menyapa. Turun dari lantai dua dan langsung mendekati perkumpulan para gadis di ruang tengah.
"Kenapa ramai sekali pagi-pagi begini? Pelin, Percy kenapa udah ada di sini?" tanya Aulia menghampiri mereka.
Bocah yang tertua langsung menghampiri Aulia. Menarik tangan keriput itu untuk dicium.
"Dady ngajakin pindah ke sini, Oma," jawab Pelin.
"Loh, rumah kalian kenapa?"
Gadis berumur enam tahun itu hanya mengendikkan bahunya. Kembali sibuk mencubit-cubit gemas pipi putri Ardan.
"Tante, kalo udah siap makan boleh gak aku gendong?" tanyanya polos.
"Boleh, dong. Emang Pelin bisa gendong bayi?"
"Bisa. Biasa adek Beyazid juga aku yang gendong."
"Ih, pintar," sahut Hazel mengacak puncak kepala Pelin. Sementara gadis yang lebih kecil terus memandangi Surya.
Sepasang mata polosnya tak luput memerhatikan gerakan Surya yang sedang makan. Risi terus dipandangi, bocah berumur lima tahun itu menyodorkan sebuah suapan.
Percy menggeleng, lalu tangan mungil itu menarik pipi Surya. Gemas. Bukannya senang, bocah lelaki itu malah terseduh. Sakit mungkin.
Melihat itu Aulia terkekeh, melepaskan tarikan tangan Percy di pipi Surya.
"Percy kenapa dicubit Kakaknya? Percy gak boleh gitu, harus temenan, ya."
Gadis kecil itu mengangguk, kembali menatapi Surya. Memerhatikan gembil pipinya yang sedang memakan. Tidak tahan, dua jari mungil itu kembali menarik pipi.
Aulia dan Hazel memecahkan tawanya, terlebih oleh seduhan tangis Surya yang tidak nyaman digoda.
"Gak apa-apa, Nak. Percy hanya bercanda, jangan nangis. Anak lelaki gak boleh cengeng, ya." Hibur Hazel dan Surya beralih ke atas pangkuan Bundanya.
"Eh, tunggu dulu. Bunda masih nyuapin Yena, Nak."
Seketika suasana di ruang tengah pecah. Kesunyian yang biasa membekukan kehampaan, perlahan mencair dengan kehadiran orang-orang baru yang mewarnai.
Di sudut sini, ada seulas senyum yang terukir. Ardan menarik napasnya, sedikit lega melihat perubahan sikap Aulia. Tidak lagi mengurung diri atau melamun sepanjang hari.
"Semoga saja Mama bisa kembali saat Mama tidak punya waktu lagi untuk mengenang Arsy," lirih Ardan terharu.
Lamunan Ardan tersadar saat ponselnya berdering. Lelaki itu menurunkan Beyazid dari atas gendongan. Berjalan menjauh dari seisi rumah.
"Katakan!" perintahnya sesaat setelah panggilan tersambung.
"Maaf, Pak Ardan. Saya tidak bisa mengetahui masalah apa yang sedang ada di perusahaan pusat."
"Bagaimana bisa?"
"Pak Presdir dan Pak Arfan sangat tertutup kali ini. Bahkan tidak ada gosip sama sekali yang beredar di para karyawan. Kami semua tidak tahu apa-apa?"
"Bagaimana mungkin? Apa ada yang mengetahui gerakanmu?"
"Tidak ada, Pak Ardan."
"Kau yakin?" tanya Ardan tak percaya.
"Ya, Pak. Memang ada beberapa kali rapat antar dewan direksi yang diadakan. Tetapi sangat tertutup, Pak. Bahkan kaki tangan Pak Arfan saja tidak diizinkan masuk."
Ardan mengusap wajahnya kasar. Bingung, sebenarnya apa yang mereka sembunyikan? Atau memang tidak ada apa pun yang terjadi?
"Baiklah. Beri tahu aku saat kamu mengetahui apa pun."
"Saya mengerti."
Panggilan itu langsung terputus, Ardan menarik napas berat. Mengusap rambut hitamnya kebelakang.
"Sebenarnya aku ini siapa? Kenapa terasa asing sekali akhir-akhir ini?"
"Selesai," kata Hazel seraya membawa sepiring kurma ketan ke hadapan tiga bocah yang duduk manis di depan pantry.
"Setelah makan ini kalian bertiga harus gosok gigi dan tidur, ya. Ini sudah sangat larut dan kalian masih main terus."
Pelin hanya terkikik seraya memasukan camilan itu ke dalam mulutnya. Sementara, dari datang Percy masih sering terpaku memandangi Surya.
Gadis kecil itu membuka mulutnya saat sebuah suapan mengarah padanya. Menyambut suapan itu dengan tatapan polos yang tak lepas dari wajah putra Hazel tersebut.
Hazel tertawa, lucu melihat Percy yang seperti terpesona oleh putranya.
"Percy, kenapa liati Surya terus, Nak?"
Gadis kecil itu hanya menggeleng, kesusahan mengunyah kurma yang langsung ia masukan mulut sesaat setelah Surya memberikan padanya.
Hazel kembali tertawa, mengusap puncak kepala putri Ferla.
"Pelin jaga adik-adiknya ya, Nak. Tante mau antar ini dulu buat Om Ardan."
"Oke, Tante."
Hazel menarik piring lainnya, mengantarkan ke sang suami yang terduduk sendiri di ruang tamu. Sesekali matanya menatap ke arah jendela dan ponsel bergantian.
Gadis itu meletakan piring camilan ke atas meja, tubuh mungil itu langsung jatuh di atas pangkuan dan sebuah kecupan mendarat di pipi sang suami.
"Mas kenapa? Dari tadi masih liati ponsel terus? Nunggu telepon dari selingkuhan, ya?" Jari lentik itu menarik ujung hidung Ardan.
"Iya. Aku khawatir, apa dia tidak lagi ingat padaku?"
Hazel tertawa, memberikan kurma itu ke depan mulut Ardan.
"Apa ini?"
"Kurma ketan, Sayang."
"Aku gak terlalu suka makanan manis."
"Bohong!" tuding Hazel.
"Sejak kapan aku makan makanan manis?"
"Buktinya Mas suka aku yang sangat manis."
Ardan tertawa, menarik pinggang ramping itu merapat.
"Kan, kamu bukan makanan." Ardan kembali membuka tampilan layarnya, menunggu dan menanti. Namun, entah siapa yang dinanti?
Makin hari perasaannya makin tidak enak. Terlebih dengan kepergian adiknya dan juga ponselnya yang dibanting sampai tidak bisa dihubungi sama sekali. Menambah curiga, tetapi tidak bisa menemukan apa-apa.
"Hem." Hazel menolehkan wajah Ardan. Gadis itu kembali menyodorkan kurma, tetapi kali ini diletakan di antara bibir.
Ardan tersenyum, mengambil camilan itu seraya menarik ujung hidung Hazel.
"Nakal," katanya menarik kepala itu, mencium dahi sang istri.
"Makanan manis itu bisa mengurangi stres, Mas."
"Benarkah?"
"Hmm."
"Lalu jika istriku yang manis bisa mengurangi apa?"
Hazel menggulum senyum seraya memutar bola mata. "Hmm, ego mungkin."
Lelaki berkulit sawo matang itu hanya tertawa renyah. Kembali fokusnya tersita oleh ponsel. Ardan berdecak geram saat layar itu tanpa pesan sama sekali.
"Mas sebenarnya nunggu apa, sih?" tanya Hazel akhirnya.
Ardan menarik napas, memindahkan badan Hazel ke sebelahnya. Lantas kepalanya terjatuh ke atas sandaran sofa. Menutupi dahi dengan lengan.
"Gak tau, Hazel. Aku merasa ada yang disembunyikan. Kalau tidak, mana mungkin Arfan dan Papa belum kembali sampai semalam ini."
"Kenapa tidak Mas tanyakan saja langsung?"
"Siapa yang mau menjawabnya? Mereka seakan terus menghindariku, Sayang."
"Hmm?" Dahi mulus itu mengerut, menilik ekspresi Ardan yang tampak semakin stres. Kadang tidak tega, Ardan selalu saja berada dalam sebuah masalah. Entah kenapa, seakan masalah yang dihadapi tanpa jeda.
"Aku bersusah payah mengalahkan ego untuk meminta Arfan kembali. Kini malah Arfi yang pergi. Kenapa susah sekali untuk menyatukan kembali?" Ardan kembali menegakkan badannya, mengusap wajah itu berulang kali. Jenuh.
Tarikan napas itu semakin berat, dengan usapan dirambut lebatnya.
"Menurutmu aku harus gimana, Sayang. Aku lelah, kenapa mereka tidak mau mengerti dan terus mengedepankan ego masing-masing. Aku masih bagian keluarga ini, kenapa mereka mengasingkan aku begini?"
Hazel mengacak kepala Ardan, geram. Lalu kepala itu jatuh di atas bahu.
"Mas itu, kemarin sibuk banget mau misahin diri dari Erlangga. Eh, saat Erlangga mau misahin Mas, Masnya malah uring-uringan."
Ardan tercekat, baru menyadari apa yang Hazel katakan. Selama ini dia berusaha menjauh, tetapi saat dijauhkan mengapa seperti tidak rela dan terus ingin rekat bersama.
"Mas, tidak peduli seego apa pun keluarga. Namun, tetap saja ada perasaan tidak rela saat harus terpisah dan dipisahkan. Selama ini Mas berpikir akan baik-baik saja saat harus menjadi asing, bukan? Nyatanya, tidak ada yang baik-baik saja saat harus menjadi bagian asing di dalam daging sendiri." Hazel menarik wajah Ardan dan mencium pipi sang suami geram.
"Rasakanlah, Mas dicampakkan lebih dulu sebelum sempat menyampakkan." Hazel terkekeh, bangkit dan kembali ke perkumpulan anak-anaknya.
Sedangkan Ardan mulai berpikir, ia singkap kain gorden saat mendengar suara mobil yang datang. Melihat Gerald dan Arfan yang masih berbicara serius di depan rumah. Entah apa, namun terlihat sangat sengit dengan akhir Gerald meninggalkan sang putra.
Saat pintu itu terbuka, Gerald sedikit tersenyum mengetahui ada Ardan di hadapannya.
"Pa," sapa Ardan dan Gerald hanya tersenyum. Meninggalkan Ardan dan tak lama sang adik ikut masuk.
"Fan," sapanya.
"Hai, Dan." Arfan menepuk lengan Ardan pelan, tak peduli dengan keberadaan sang kakak.
Lelaki berkulit putih itu mendekati dua putrinya, menciumi putri terkecilnya dengan geram. Berlalu ke kamar mereka setelah mengucapkan terima kasih pada Hazel.
Ardan tertawa getir melihat dua orang itu.
"Apa-apaan ini? Seharian aku menanti mereka dan hanya itu kata yang mereka ucapkan?" tanya Ardan kesal sendiri.
"Kenapa sakit sekali rasanya tidak dianggap begini."
Lelaki itu membanting pintu depan dengan kuat. Kesal setengah mati. Ingin tak peduli, namun nurani mengkhawatirkan saudara sendiri.