For My Family

For My Family
38



Taaakk


Peraduan antara dua buah bola, salah satunya masuk ke dalam lubang yang sedari tadi Ardan targetan. Ia menghela napas dan berjalan ke sisi lain, menargetkan bola kecil kuning yang akan masuk ke dalam lubang selanjutnya.


Tiga bola dalam satu pukulan, bukan hanya soal bisnis. Bahkan saat bermain biliarpun Ardan selalu menyusun straginya agar cepat menyelesaikan pertandingan.


Tetapi kenapa? Sulit sekali ia menyusun stragegi untuk memenangkan hati seorang wanita?


"Kenapa kamu mengajakku main biliar malam-malam begini, Ardan? Apa ada masalah?" tanya Ferdi sembari membetulkan letak kacamatanya.


Mata Ardan tajam menatap bola hitam berangka delapan itu. Bola terakhir yang akan membawanya pada kemenangan pertandingan.


"Hazel, dia mencoba menggodaku untuk menidurinya malam ini," jawab Ardan lemas.


"Apa? Kenapa kamu malah keluar? Bukannya ini yang kamu mau?" tanya Ferdi kaget.


Ardan menggelengkan kepalanya, menyusun kembali bola-bola kecil itu di tengah meja.


"Dia hanya mau hamil secepatnya, lalu meninggalkan seorang anak padaku."


"Apa yang salah? Bukannya kamu memang meminta itu padanya?"


"Tetapi aku tidak mau itu, Ferdi. Aku tahu dia hanya menahannya, dia benar-benar tidak ingin melakukannya padaku. Aku tidak mau begitu, jika kami memang harus bersama, maka bukan hanya aku, dia juga harus menikmatinya."


"Lupakan soal itu, Ardan. Dia tidak akan menikmatinya jika dia tidak jatuh cinta padamu," balas Ferdi sembari merentangkan stik di atas meja.


"Aku tahu. Karena itu aku tidak ingin tinggal di sana. Kalau aku tetap di sampingnya, mungkin aku tidak akan tahan untuk tidak menyentuhnya."


"Sentuh saja dulu, soal cinta biar tumbuh belakangan. Aku tahu kamu tidak sebaik itu, Kawan," goda Ferdi pada lelaki berjaket hitam itu.


"Aku tidak bisa. Aku tidak tega jika melihat matanya berkaca-kaca. Rasanya, dadaku yang sesak saat melihat dia menangis."


"Huwoo ... apa ini, Ardan?" tanya Ferdi mendekati temannya yang sedang duduk di atas meja biliar itu.


"Seharusnya aku sudah curiga saat kamu mendaftarkan pernikahan ke KUA, jika ini hanya perjanjian, kalian bisa menikah agama. Dari awal, kamu memang tidak ingin melepaskannya, bukan?" tanya Ferdi sembari merangkul bahu sahabatnya itu.


"Aku pikir ia akan berontak saat diajak nikah secara hukum. Karena saat dia pergi, dia akan menjadi janda dua kali. Tetapi ternyata dia malah menerimanya begitu mudah, saat ini aku tidak mengerti mengapa. Tetapi aku tidak ingin ia menjadi janda lagi."


"Wo ... Ardan Erlangga, apakah kamu sedang bertekuk di hadapan cinta?" tanya Ferdi meledek.


Ardan tersenyum dan melepaskan rangkulan tangan Ferdi. Kembali menargetkan bola yang ingin ia masukan ke dalam lubang.


"Katakan, apa Sharon adalah wanita yang dipilihkan keluargamu?"


"Mungkin, karena Arfan yang memilihkannya untukku."


"Ardan, kenapa kamu dan Arfan bisa menjadi sedingin ini, Kawan?"


"Aku rasa kamu sudah mengetahuinya lebih awal, Ferdi. Jangan pura-pura, aku dan Arfan juga tidak sebaik kelihatannya. Arfan lebih sering menganggapku lawan dibandingkan kembarannya," jawab Ardan malas.


"Aku tahu, tetapi akhir-akhir ini kalian semakin terlihat tidak akrab. Tidak seperti kalian saat kuliah dan sekolah dulu."


"Arfan memang sudah berbeda karena hal itu, aku sadar itu."


"Hal apa?" tanya Ferdi bingung.


"Jangan sok lupa ingatan kamu, walaupun kalian menyembunyikannya dariku. Tetapi aku tahu, kalau dulu Ferla pernah menyukaiku, bukan?"


"Karena itu juga kamu sering pacaran dengan wanita-wanita itu, kan? Menghancurkan reputasimu dan menjadi playboy sejati."


Ardan tersenyum dan mengelengkan kepalanya. Hanya untuk menjaga perasaan kembarannya itu, ia pernah terjebak dalam lingkaran dunia kelam. Tetapi selama itupula ia hanya mengangap wanita sebagai mainannya saja.


"Lalu, siapa Sharon ini? Kenapa dia bisa menjadi kandidat calon menantu Erlangga?"


"Entahlah, dari yang Ferla katakan. Mereka teman sosialita di mana gitu. Ah ... jangan dibahas, terlalu merepotkan," jawab Ardan ketus.


"Walau dikatakan Sharon tak secantik Hazel, tetapi ia juga tidak buruk, Ardan. Kenapa kamu menolaknya?"


"Aku muak dengan wanita seperti mereka. Saat ditanya ingin apa, jawabnya selalu tas mahal, sepatu, baju, semua hanya untuk fashion mereka saja. Kenapa bisa seperti itu hidup mereka?"


"Lalu saat kamu bertanya pada istrimu itu, dia ingin apa?" tanya Ferdi kembali.


Ardan menumpuhkan stiknya di atas meja, ia memikirkan ucapan Ferdi. Selama ia menikahi Hazel, wanita itu tidak pernah meminta apapun, ataupun mengatakan ingin membeli apapun.


Ardan mengeluarkan ponselnya, mengecek pengeluaran yang dilakukan Hazel pada ATM yang ia berikan.


Tidak ada yang salah, nominal yang kekuar hanya sebatas belanja bahan makanan dan dapur saja.


"Hei Ardan, kamu kenapa?" tanya Ferdi sedikit berteriak.


"Fer, apa Hazel itu wanita?" tanya Ardan bingung.


"Mana aku tahu, kamu yang suaminya. Coba periksa sendiri, apa kamu mau aku yang? Ehem." Ferdi berdehem sembari membetulkan letak kacamatanya.


Ardan mengetuk stik biliar ke kepala lelaki berkacama tipis itu.


"Singkirkan pikiran kotormu itu dari istriku!" ancam Ardan ketus.


"Memang aku memikirkan apa? Aku hanya ingin bilang, haruskah aku yang bertanya padanya?" balas Ferdi tak mau kalah.


Ardan menyunggingkan sebelah bibirnya, ia kembali membidik bola-bola itu.


Ferdi mengeluarkan ponselnya saat merasakan getaran dari benda pipih itu. Ia menghela napas dan meletakan ponsel itu ke atas meja.


"Kenapa? Ponselmu mau aku bidik juga?" tanya Ardan ketus.


"Lihat pesan itu!"


Ardan mengambil ponsel sahabatnya itu, membaca pesan yang masuk ke dalam.


(Malam mas Ferdi, sedang apa ini? Apa mas Ardan sedang bersamamu?)


"Kenapa kamu baca? Tinggal blokir saja."


"Heh, kamu kira berapa banyak mantanmu di dunia ini? Blacklist aku sudah penuh dengan nomor mantanmu semua, tahu!"


Ardan hanya menggelengkan kepala dan kembali membidik bola di depannya.


"Hei, katakan padaku. Apa yang kamu lakukan pada mereka semua?" tanya Ferdi kembali merangkul bahu bidang temannya itu.


"Hanya menemani mereka makan dan belanja, apalagi?"


"Lalu, menemani mereka di atas ranjang juga?"


"Jangan asal bicara! Aku ini bukan lelaki yang selalu memikirkan bawah saja. Akan merepotkan jika aku meniduri mereka," jawab Ardan ketus.


"Kenapa? Kamu selalu menghabiskan nominal besar untuk mereka? Mana mungkin kamu tidak mengambil keuntungan dari mereka, benar tidak?"


"Tidak! Dari awal aku memang hanya bermain-main dengan mereka. Aku tidak berniat memilih salah satu dari mereka untuk menjadi istri, jadi buat apa aku mencari masalah dengan meninggalkan jejak pada mereka."


"Lalu, untuk apa kamu memilih yang cantik dan seksi untuk pacaran denganmu, jika hanya bermain?"


"Heh, bermain juga ada kualitasnya. Kalau tidak cantik dan seksi apa yang menarik untuk dimainkan?"


"Benarkah? Kenapa aku ragu jika kamu memang masih suci, Ardan."


Ardan tersenyum dan memukul Ferdi dengan stik biliar di tangannya.


"Sial, sini kupotong lidahmu itu," umpat Ardan kesal.


Ferdi tertawa, menggelengkan kepalanya. Temannya ini memang terkadang di luar dugaan. Tidak semua keburukannya yang terkuak adalah kebenarannya.


"Fer."


"Hmm."


"Apa wanita seperti Hazel itu tidak membutuhkan lelaki ya?"


"Maksudnya?"


"Dia itu tangguh, kuat, dia tidak manja dan juga tidak suka mencari perhatian orang. Saat berada di dekatnya bahkan ia tidak tersenyum saat digoda ataupun diajak bercanda. Kadang aku bertanya, apa aku sekejam itu di matanya? Karena dalam pandangannya terhadapku, hanya ada amarah dan kebencian saja."


Ferdi menghela napas dan membetulkan letak kacamatanya. Berjalan mendekati Ardan.


"Dia itu Ibu dari seorang putra, Ardan. Pasti mendekatinya juga berbeda dari wanita yang biasa kamu kencani."


"Maksudnya?"


"Bahkan cinta juga bisa buat otak orang pintar tak bekerja sedikitpun. Apa kamu benar-benar Ardan?" ledek Ferdi.


"Katakan yang jelas, jangan suka mengada-mengada."


"Begini, saat kamu bermain pool lima belas bola, dan kamu ingin memasukan bola delapan? Apa kamu bisa memasukannya duluan agar kamu menang?"


Ardan menggelengkan kepalanya, ia semakin bingung dengan ucapan sahabatnya itu.


"Jika kamu langsung membidik bola delapan, maka bukannya menang kamu malah akan mati duluan. Bagaimana jika kamu ingin membidiknya untuk menang?"


"Habiskan dulu bola yang lainnya," jawab Ardan langsung.


"Nah, begitu juga untuk mendekati Hazel. Dekati dulu putranya, maka kamu akan mendapatkan ibunya."


Ardan melirik tajam ke arah Ferdi, kenapa ia bisa tidak berpikir seperti itu selama ini?


Padahal ia dan Surya tinggal di rumah yang sama. Tetapi ia bahkan tidak pernah menyapa Surya selama ini.


Ardan menganggukan kepalanya, ia mulai paham bagaimana agar Hazel luluh padanya.


"Tetapi itu bukan jalan satu-satunya juga, masih ada jalan yang lebih cepat."


"Caranya?"


"Sentuh dia lebih dulu, sudah kubilang cinta bisa hadir belakangan. Wanita jika sudah ketagihan, maka dia akan terus mencarimu, Ardan."


Ardan menajamkan tatapan matanya, benarkah ada cara yang seperti ini atau Ferdi sedang mengerjainya lagi.


"Bohong!" tuding Ardan ketus.


"Percaya atau tidak, tetapi kenapa perjodohan itu sering berakhir cinta? Karena mereka bicara soal ranjang dulu baru bicara cintanya."


"Kamu bicara omong kosong denganku?"


"Terserah kalau tidak percaya, pikirkanlah, Ardan. Banyak wanita yang tidak ingin pergi setelah diperlakukan buruk, itu karena apa? Kalau bukan karena ia telah merasakan hangatnya dekapan di atas ranjang." Ferdi menyilangkan kedua tangannya, memainkan alis matanya.


Ardan memainkan stik di tangannya, ia mulai memikirkan ucapan Ferdi. Walau sebenarnya ia tidak percaya, tetapi kenapa ia juga tidak ragu.


Sama halnya dengan aib keluarga Erlangga sebelumnya, yang lebih dulu mendapatkan cucu dibandingkan menantu.


Bahkan Ferla yang terjebak cinta saudara saja bisa berubah setelah menikah dengan adiknya itu.


Ardan mengelus dagunya, memutar bola mata sembari memikirkan ucapan Ferdi. Benarkah ada cara yang seperti ini?


"Bahasa ranjang itu menakjubkan, Kawan. Bahkan cinta tanpa restu saja bisa luluh setelah hasilnya keluar lebih dulu," goda Ferdi kembali.


Lelaki berkacamata tipis itu mengangguk pelan saat Ardan melihat ke arahnya, perlahan ia berbalik dan berjalan meninggalkan Ardan. Berusaha untuk tidak tertawa saat Ardan bisa termakan hasutannya.


Tak menyangka bahwa reputasi buruk Ardan selama ini hanyalah sebuah kamuflase.


'Ardan, aku tak pernah menyangka bahwa kamu memang tidak profesional, saat bicara soal ranjang,' ledek Ferdi dalam hati.