For My Family

For My Family
170



"Mas, aku mau ketemu Kak Ferdi," kata gadis itu pada salah satu penjaga yang berdiri di depan perusahaan.


"Maksudnya, Pak Ferdi?" tanya lelaki berbadan kekar itu meyakini sekali lagi.


"Iya, aku sudah ada janji."


"Maaf, Dek, tapi Pak Ferdi sedang berada di luar."


Bibir gadis itu menggulum, lalu kepalanya tertunduk. Ia ingin berbalik, sebelah punggungnya menabrak bahu milik gadis yang lainnya.


"Astagfirullah," lirih Nigar kaget.


"Eh, maaf, maaf, Kak." Gadis belia itu memundur.


Tinggi badan yang sedikit berbeda membuat badan Sasy memundur ketika tanpa sengaja badan mereka berbenturan.


"Maaf, kamu baik-baik saja?" tanya Nigar meraih pergelangan tangan Sasy.


"Iya, gak apa, Kak."


"Syukurlah."


Nigar tersenyum lembut, sementara Sasy hanya terdiam. Memandangi wajah cantik itu, sangat lembut.


"Kalo gitu saya permisi," ucap Nigar ingin masuk.


"Eh, tunggu, Kak." Tahan Sasy.


"Ya?"


"Boleh gak aku masuk? Aku mau ketemu Pak Ardan."


"Pak Ardan?" tanya Nigar lagi.


Gadis itu hanya mengangguk dengan cepat, jika menemui Direkturnya sangat sulit, mungkin menemui bawahannya sedikit lebih mudah. Pikirnya.


"Hem, ayo masuk. Aku akan membawamu ke ruangan Pak Ardan." Gadis berhijab itu tersenyum lembut, ia berjalan lebih dulu sementara Sasy hanya mengintilinya dari belakang.


Di belakang sini ia memerhatikan badan gadis keturunan Turki tersebut. Lalu melihat ke tubuhnya sendiri.


Tinggi Nigar semampai, dengan berat badan ideal, mungkin. Bahkan saat tubuhnya tertutup sangat sempurna saja, tubuh itu masih terlihat sangat indah.


Sasy menghela napas, menundukkan pandangan.


"Kenapa badanku tak seperti dia, Ya Allah? Udah cantik, tinggi lagi," gumamnya sendiri.


Nigar menarik kursinya, lantas ia mempersilakan Sasy untuk duduk.


"Kamu duduk di sini dulu, biar saya menemui Pak Ardan."


"Baik, Kak," jawab Sasy menurut.


Nigar hanya tersenyum.


"Hem, Kak."


"Ya?"


"Terima kasih."


Satu tangan Nigar menyentuh pipi Sasy, tersenyum dan pergi mengetuk pintu ruangan Ardan. Baru akan mau membuka, ponselnya berdering dengan keras.


Melihat nama yang tertera dengan segera ia mengangkatnya.


"Assalamualaikum, Pak."


"Waalaikum salam. Kamu di kantor, Nigar?" Lembut suara sang Direktur itu bertanya.


"Ya. Ada apa?"


"Tolong carikan data kontrak bersama Pak Tedy di bawah meja kerja saya. Minta bantuan Pak Galang untuk memeriksanya, lalu bisakah kamu antarkan ke sini?"


"Oh, bisa. InsyaAllah, ke mana?"


"Star kafe. Tolong cepat."


"Baik, Pak."


"Assalamualaikum."


"Em, Pak," panggil Nigar sebelum Ferdi sempat memutuskan panggilannya.


"Ya, kenapa?"


"Apa, Pak Ardan bersama Anda?"


"Ya. Dia di sini."


"Bisa sampaikan padanya ada seorang gadis belia mencarinya."


"Belia? Siapa?"


"Entahlah, saya tidak bertanya namanya."


"Baiklah, kamu suruh saja belia itu menunggu di ruangan saya. Selesai rapat kami akan menemuinya."


"Hem, baik." Gadis itu langsung menutup teleponnya, berjalan ke arah Sasy.


Mengajak Sasy menuju ruangan Direktur, tidak menaruh curiga. Bahkan Nigar tidak penasaran mengapa Ferdi meminta gadis itu menunggu di ruangannya.


Setelah mengambil berkas yang Ferdi minta, Nigar kembali menemui Sasy yang terduduk seraya menatapi seisi ruangan.


"Dek, saya masih ada kerjaan. Kamu diminta untuk menunggu di sini. Saya akan minta Mas Joko untuk membawakan minum untukmu, kamu mau minum apa?" tanya Nigar lembut.


"Apa saja, Kak."


Gadis bermata indah itu tersenyum, ia mengangguk pelan. "Baiklah, tunggu saja di sini. Saya permisi dulu. Nyaman, ya."


Sasy hanya mengangguk, sorot matanya mengikuti tubuh Nigar yang berlalu. Lalu hilang setelah derit pintu beradu.


Gadis belia itu mengehela napas, "Cantik, Ya Allah. Lemah lembut dan sangat sempurna, kalo aku bisa kayak Kakak itu apa Kak Ferdi mau menikahi aku?" tanya Sasy bergumam.


"Ah, tapi gak mungkin. Buktinya Kakak itu kerja di sini dan belum menikahi Kak Ferdi."


Perhatian gadis itu teralih saat sebuah pesan masuk ke dalam gawainya.


(Kamu berada di kantorku?) Seketika senyumnya terbit begitu saja. Cepat gerakannya membalas pesan Ferdi.


(Ya, Kak. Kakak di mana? Apa lama?)


(Tidak lama. Tunggulah dan jangan mengusili apa pun. Atau aku akan marah padamu!)


Gadis itu mengangguk, padahal tidak ada siapa pun di situ, menarik napas pelan. Lalu pandangannya teralih pada bentangan kaca di ruangan Ferdi. Menatap langit berhiasakan mega putih seraya menanti.


***


Gadis berhijab itu menyerahkan lembar kontraknya. Menunggu Ferdi memeriksanya, lantas lelaki berkacamata itu berkata.


"Terima kasih, kamu boleh kembali."


Nigar tersenyum, baru akan berbalik Ferdi kembali memanggilnya.


"Apa belia yang kamu bilang itu masih menunggu?"


"Ya. Menunggu di ruangan Anda."


"Baiklah, terima kasih."


Nigar hanya mengangguk, berjalan ke arah luar kafe, sampai di pintu ia berselisihan dengan Ardan dan Arfi yang akan masuk.


"Hei, Sayangku. Kamu kenapa di sini?"


Satu tangan Ardan menumbuk perut Arfi. "Yang kamu panggil sayang itu siapa?" tanya Ardan ketus.


"Dia itu adik iparku, jangan kau godai," sambung Ardan seraya merangkul bahu Arfi.


"Biarkan saja, yang penting dia bukan istrimu." Arfi mencium Nigar lewat udara.


Gadis itu terkekeh dan Ardan semakin menarik badan Arfi untuk masuk ke dalam kafe.


"Em, Nigar pulanglah. Yena akan diimunisasi, tolong temani Hazel, sekalian bawa terapi Surya."


"Baik, Pak."


"Kalo begitu aku antar dia pulang dulu." Arfi melepaskan rangkulan tangan Ardan.


"Ish, dasar Bocah ini. Kenapa ganjen sekali? Kembali ke sini, kita masih ada diskusi."


"Kalian sajalah, aku mau kencan dulu."


"Ayo, Sayang." Ajak Arfi membentangkan tangannya.


Nigar hanya terkekeh, ia menggeleng pelan.


"Aku bisa pulang sendiri, Arfi."


"Aku yang tidak bisa membiarkanmu pulang sendiri, Sayangku."


Kedua alis tebal itu bertaut. Menatapi wajah Arfi sedikit bingung.


"Takut jika kamu akan pergi lagi, dan aku bisa gila jika kehilanganmu lagi."


Satu tangan Ardan menoyor kepala Arfi.


"Geli sekali aku mendengarnya. Cepatlah pulang sana, dan kembali ke sini!"


"Ardan! Bisa gak, kau jangan menganggu suasana romantis di antara kami?"


Arfi merangkul bahu gadis itu dan Nigar melengos.


"Jangan kebiasaan menyentuhku, Arfi."


"Harus dibiasakan mulai sekarang."


"Kenapa gitu?"


"Karena aku akan menjadi suamimu."


Nigar kembali terkekeh, kali ini lebih geli sampai jajaran giginya terlihat semua.


Bungsu Erlangga itu terdiam, setiap kali senyum itu terlepas, dia selalu terpukau. Entah bagaimana, namun pesona Nigar masih membiusnya.


"Geli ih, Arfi ngomongnya gombal."


"Belum juga di apa-apain udah geli, gimana lagi kalo udah--"


"Arfi!" teriak Nigar, wajahnya memerah. Semu menghiasi dua belah pipi putihnya.


"Ciyee ... Nigar mikir yang aneh-aneh, ya? Memang aku mau bilang apa?"


Gadis itu gelagapan, "en-enggak, kok. Kan, aku cuma manggil nama Arfi."


"Jujur deh, Nigar mikir apa sih? Arfi pengin tau, nih."


"Mikir apa? Mikir mau pulang, kok," jawab Nigar semakin kelabakan.


"Ciye ... Nigar boong, nih. Pasti Nigar memikirkan ehem, ehem sama Arfi, kan, jujur, deh."


Gadis itu tergagap, ia bingung mau menjawab apa. Lalu kedua tangan itu tertangkup di wajah. Kedua kakinya menghentak, kesal dan malu.


Ia melepaskan tas dan memukul bahu Arfi dengan tas miliknya.


"Arfi, ih. Nigar gak ada mikiri apa pun, Arfi nakal!" ketusnya memukuli Arfi dengan tasnya.


Arfi terkekeh, sesekali ia menangkap tas yang Nigar layangkan. Sekuat tenaga gadis itu menarik dan memukulnya lagi.


"Kalo Nigar gak mikir yang aneh-aneh kenapa mukanya merah? Ayo?"


"Karena panas, loh, Arfi ih." Semakin geram gadis itu memukuli badan Arfi. Lelaki itu malah semakin terbahak.


"Bohong dosa, loh, Nigar. Apalagi Nigar udah mikirin yang iya-iya. Tapi kalo langsung iya-iya sama Arfi gak apa-apa."


"Arfi!" teriak Nigar semakin malu.


Arfi semakin senang, tawanya pecah sampai badan itu terbungkuk karenanya.


Gadis itu semakin kencang memukuli badan Arfi. Lalu lelaki itu tersadar dan berkata.


"Eh, tunggu dulu. Di tas kamu gak ada mushaf?"


"Innalillahi, MasyaAllah. Kan, Arfi, sih." Gadis itu membuka tasnya lalu mengambil mushaf itu di dalamnya.


"Kok Arfi lagi?" tanyanya.


"Abisnya Arfi gangguin mulu, ih." Gadis itu menciun mushaf berwarna hijau tua tersebut dan meletakan di dada.


"Mushaf terus yang dicium? Arfinya, kapan?"


"Gak ada!"


"Tapi Nigar udah mikiri ciuman sama Arfi, loh."


"Kapan?"


"Barusan!"


"Gak ada Arfi, ih." Wajah itu semakin memerah, bukan lagi tersipu, kini berhiaskan semu karena malu dan juga menahan amarah.


Kedua jemarinya menarik kulit-kulit perut Arfi. Dia sudah sangat geram dan lelaki berambut pirang itu hanya tertawa. Terbahak-bahak, lantas kedua tangannya mencengkeram kedua pergelangan tangan Nigar.


Gadis itu menjerit, sesekali ikut terkekeh saat Arfi menarik kedua tangannya. Sedikit memaksa, Arfi membawa tubuh gadis itu ke area parkiran.


Setiap kali mereka asyik bercanda berdua, maka mereka melupakan tempat dan suasana.


Sekeras apa hati itu memungkiri, cinta yang lebih duluh tersulam telah menjadi bagian yang menghangatkan.


Mata dan kata bisa berdusta, tetapi rasa dan nyaman hanyalah pada dia. Sebuah nama yang menempati relung di dalam sukma.


Dari balik kaca Ferdi memandangi mereka berdua. Senyum Nigar, gaya dan cara dia menolak Arfi. Siapa pun yang melihat, pasti akan tahu jika masih ada cinta di antara mereka.


Pria berkacamata itu menunduk, menarik napas, satu buah tangan mencengkeram bahu kekar miliknya.


Ferdi mendongak, melihat Ardan yang berdiri di sebelahnya.


"Ikhlas, Ferdi."


Lelaki berkacamata itu hanya tersenyum lembut.


"Aku telah lama mengikhlaskannya."


"Oh, ya?"


"Ya."


"Kapan?"


"Semenjak adikmu ingin menikungnya di sepertiga malam. Aku mengatakan padanya, beribadahlah karena Lillah, bukan cinta."


"Lalu?"


"Dan dia mendapatkan cintanya kembali."


"Lalu kamu?"


Mata Ferdi memaling, lalu dia hanya tersenyum simpul.


"Entahlah." Pria itu membuang pandangan ke arah luar. Menatapi langit yang sama dengan belia itu pandang di tempat lain.


'Hanya ingin menemui dia yang menungguku. Segera!'


💐💐💐


Sini rapat merapat aku mau kasih visual 4 orang yg suka ubek2 perasaan kalian.


Di mulai dari si songong yang gak pernah dewasa.



Siapa lagi kalo bukan anak kesayangan Erlangga, udah gak usah pada meleleh, gantengnya B aja kok 😂😂😂


Banget ... Banget ganteng maksudnya.



Si keturunan Turki. Kesian dia digodain muluk 😂😂😂



Ini si belia usil, gak usah dibandingi cantiknya sama Nigar, beda garis wajah dan beda warga negara. Tetap cantik pada porsinya, tapi kalo ini sama Author ya jauh dong cantik author dikit, kalo dia banyak 😂😂😂



Kalo ini si bapak Uwwu, cus aku pindah haluan sama Om-om aja ah


yang ini punyaku, dikaretin 2 biar gak ketuker sama kelopak bunga.


udah ye kan, udah, yg nanyain visual