For My Family

For My Family
117



"Aku melarangmu menjalankan mobil ini, Arfi!" teriak Khadijah ketus.


Tangan Arfi yang ingin menarik tuas terhenti. Lelaki itu menatap Khadijah yang tengah gemetaran duduk di sebelahnya.


Wajah pias itu terlihat menyedihkan, ketakutan.


"Buka pintunya! Buka pintunya, Arfi!" teriak Khadijah ketakutan.


Arfi mencoba mendekati Khadijah, gadis itu menggeleng dengan linangan air mata melintasi wajah.


"Hei, tenanglah. Aku tak akan manyakitimu," ucap Arfi mencoba meraih kepala Khadijah.


Gadis itu menggeleng, punggung belakang ia rapatkan di pintu mobil.


"Jangan, jangan menyentuhku! Jangan sentuh aku!" teriak gadis itu kalut.


Gadis itu menutupi kedua telinganya. Saat seperti ini dalam bayangannya lelaki itu bukan lagi Arfi.


Melainkan lelaki-lelaki yang tengah tertawa setelah mengecap manisnya mahkota gadis yang terluka oleh nafsunya dunia.


"Jangan, kumohon jangan. Jangan sentuh aku lagi!" teriak Khadijah kencang.


Gadis itu terisak, ia memejamkan kedua matanya. Menangis sesenggukan, dengan gelengan kepala ketakutan.


"Jangan sentuh aku. Jangan sakiti tubuhku. Kumohon lepaskan aku, lepaskan aku."


Arfi mengenggam jemarinya yang hampir menyentuh kepala gadis itu. Perlahan ia menarik tubuhnya menjauh.


Ada yang sakit, terkoyak di dalam sini ketika melihat gadis yang dicintainya itu begitu ketakutan.


Bukan melindungi, dia bahkan membuat trauma gadis itu kembali menyakiti mentalnya.


"Khadijah, hei. Bukalah matamu dan lihat ini aku," ucap Arfi lembut.


Gadis itu menggeleng dengan kedua tangan yang masih menutupi kedua telinganya.


"Jangan, jangan dekati aku. Jangan, jangan jamah tubuhku. Aku jijik, aku jijik melihat kalian!"


"Khadijah, tenanglah. Maafkan aku." Arfi membuka kunci mobilnya. Menurunkan kaca mobil agar udara bisa masuk ke dalam.


Perlahan tangkupan tangan gadis itu turun, matanya terbuka setelah menyadari ada cahaya yang masuk ke dalam ruang gelap itu.


Binar jernih itu menatap ke arah luar jendela yang terbuka di belakang Arfi. Genangan yang melapisi netra itu terus luruh.


Lalu, pandangan itu teralih pada lelaki tampan yang ada di depannya.


"Arfi, kamu di sini?" tanyanya serak.


"Ya aku di sini, Khadijah."


Gadis itu menyeka wajahnya, mencoba melupakan kenangan pahit itu.


"Mereka di sini, Arfi. Mereka ada di sini. Tangan-tangan itu ingin menyentuhku. Aku jijik, tangan itu telah menjamahku." Khadijah meremas kedua tangannya. Sesenggukan dengan khayalan yang kembali ia hidupkan.


"Ssstttt ... mereka sudah pergi, Khadijah. Mereka sudah tiada." Arfi menarik kepala gadis itu dan memeluknya erat.


Hal yang tak pernah gadis itu lakukan. Karena selama ini dia selalu menjaga dirinya agar tak tersentuh. Entah itu untuk menjaga dirinya, pun menghilangan trauma dalam masa lalunya.


"Mereka di sini, Arfi. Mereka menjamahku, aku jijik. Aku jijik diriku."


"Mereka sudah pergi, Sayangku. Mereka sudah mendapatkan balasan itu. Aku juga jijik mengingat mereka telah sangat melukaimu."


"Aku benci, Arfi. Aku jijik mengingat tubuhku yang kotor ini. Aku ... aku." Gadis itu terdiam, hanya isak tangisnya yang kian mengencang.


Perih, rintihan itu sangat menyakiti. Terlebih mengingat bagaimana dia yang telah meragukan kejujuran gadis ini dan memilih pergi.


Merutukki kebodohan diri sendiri, bisakah kesempatan itu kembali?


Arfi menguatkan dekapannya yang memeluk kepala berbalut hijab itu. Ragu, ia mencium puncak kepala itu.


Sadar bahwa Khadijah tak akan menyukai itu saat ia sadar nanti. Niatnya hanya ingin menenangkannya. Bukan nafsu untuk kembali melukainya.


"Aku jijik diriku ini. Aku jijik menyentuhnya."


"Kamu berarti, Khadijah. Kamu berharga, Sayangku," balas Arfi lembut.


Kepala itu menggeleng, ingatannya terus larut dalam kenangan pahit tersebut. Sesenggukkan sampai membuat tubuh semampai itu tak berhenti bergetar.


Di seberang sini, ada tegukan saliva yang terasa kian memahit. Mata di balik lensa itu menatap dengan sengit.


Lalu, tangannya menaikan kaca mobil untuk menyembunyikan diri.


Ferdi menjatuhkan kepalanya di atas jok mobil. Melepaskan kacamatanya dengan dua jari yang menekan pangkal hidung mancungnya.


Ada yang sakit, hatinya terhunjam sebuah rasa yang berada pada posisi yang salah.


Lelaki yang sudah seperti adiknya sendiri. Sakitnya, bahkan dia menyadari apa yang lelaki itu perjuangkan selama ini.


Mencari kepingan hati yang telah pergi. Dan berusaha mengumpulkan sisa kenangan yang tertinggal. Agar kisah itu kembali terulang.


"Tuhan ... mengapa aku harus terjebak dalam permainan ini?"


...***...


Ardan membelokkan mobilnya di sebuah villa besar di tepi kota. Langkah besarnya berjalan menyusuri halaman besar villa bernuansa Eropa itu.


Tanpa salam, lelaki beralis tebal itu memasuki villa dan menuju ke lantai dua. Mendobrak pintu kamar berbahan jati tersebut.


"Sialan!"


Bugh ....


Satu kepalan tangan menghantam wajah tampan kembarannya itu.


Gadis yang ada di sebelahnya berpindah, melihat Ardan yang kembali siap meluncurkan serangan.


Bugh ....


Kembali satu kepalan menghantam wajah Arfan. Ardan mencengkeram kerah kemeja Arfan. Melayangkan tumbukkan di wajah dan juga dada.


Sampai sebuah tangan mencoba meleraikan perkelahian itu. Sang gadis langsung mendekati Arfan. Melihat wajah kekasihnya yang sudah dihiasi lebam dan darah.


"Hei, Gadis," panggil Ardan pada gadis berdress ketat itu.


Nana melirik, manatap Ardan yang masih dipeluk oleh satpam villa.


"Jangan mau jadi wanita simpanan yang hanya dibutuhkan saat diperlukan. Minta dia menikahimu!" ketus Ardan mencoba melepaskan pelukan sang satpam.


Tangan kekar itu kembali meraih kerah kemeja Arfan. Matanya menatap tajam dan sinis.


"Apa yang aku lakukan tak sebanding dengan apa yang kau lakukan pada istri dan anakku. Twins. Bagaimana bisa kau sekejam itu? Wanita itu mengandung anakku, status dia sama dengan tiga anakmu, Bangs*t!"


Bugh ....


Kini kepalan itu telak mendarat di ulu hati. Arfan terbatuk dengan muntahan darah dari dalam mulutnya.


Sementara Ardan kembali dipeluk oleh lelaki yang lebih tua.


Sengit iris itu memandangnya penuh kebencian. Arfan hanya diam, kali ini ia menyadari apa yang salah.


"Sama seperti anakmu yang kuanggap anakku juga. Dia itu keponakanmu, hei Bajing*n."


Arfan terdiam. Ulahnya telah membahayakan dua nyawa. Tak pernah berpikir sejauh itu. Ia hanya mau Hazel merasakan rasa sakit seperti apa yang dia pendam selama ini.


Mencintai seseorang yang bahkan masih menyebutkan nama orang lain dalam tidurnya.


Pelan punggung tangan itu menghapus sisa darah di sudut bibirnya.


Perlahan ia berdiri dan melayangkan sebuah tumbukkan ke wajah Ardan.


Sial! Ardan menghindar dan kepalan itu malah menghajar satpam yang sedang memeluk badan Ardan.


Lelaki paruh baya itu limbung, jatuh di atas marmer kilap villa milik Erlangga.


Ardan tersenyum sinis, pelan kepala itu menggeleng.


"Sadarlah, Arfan. Kau selalu salah sasaran!"


Bugh ....


Kali ini kepalan itu mampu membuat badan tegap Arfan terjatuh ke atas lantai. Ardan melihat ruas jemarinya yang ikut berhiaskan bercak darah.


Lelaki itu mengendurkan dasinya, melilitkan ruas jemarinya. Kemudian berjongkok di sebelah tubuh yang tengah terkulai itu.


"Anda baik-baik saja, Pak?" tanya Ardan sembari membangunkan tubuh tua itu.


Terlihat pecahan dari hidungnya mengeluarkan darah.


"Maaf, saya melibatkan Anda." Sigap tangan kekar itu memapah tubuh sang satpam.


Berjalan menuju arah luar. Kembali kepala itu menoleh, melihat Arfan yang masih terbaring dengan napas yang sedikit tersengal.


"Sadarkah berapa banyak orang yang tak berdosa ikut terlibat ke dalam peperangan ini?" tanya Ardan ketus.


"Ayo kita selesaikan. Tolong, berhentilah menyakiti mereka yang tak tau apa pun tentang luka di antara kita." Ardan tersenyum sinis dan menggelengkan kepalanya.


"Peperangan ini butuh akhir, Twins."