For My Family

For My Family
225



Ardan tersenyum lebar saat melihat tubuh kekar lelaki blasteran itu hadir di depan pintu.


"Dokter Pedro, silakan masuk," ucapnya ramah.


Lelaki bermata cokelat itu mengangguk, sedikit tercengang saat melihat rumah mewah itu dari dalam. Bukan hanya sangat indah dari luar, tetapi juga sangat elegan di dalamnya.


"Bi, mama di mana?" tanya Ardan pada salah satu pembantu di sana.


"Sepertinya di taman bunga persik, Mas."


"Tolong buatin minum dan antar ke taman ya, Bi. Terima kasih," kata Ardan kembali mendekati dokter muda itu.


"Mau ketemu Surya dulu atau mama?"


"Nyonya Erlangga saja."


"Ayo ikut!"


Pedro mengangguk, mengikuti langkah Ardan berjalan ke arah taman bunga tempat biasa sang Bunda menghabiskan waktunya.


Semilir angin yang berembus menerbangkan kelopak-kelopak bunga di sana. Bersamaan dengan harum semerbak bunga tercium.


"Wanginya lembut, sepertinya ini bisa jadi aroma terapi alami."


Ardan hanya tersenyum, berjalan mendekati sang mama yang bersantai di tengah taman menikmati secangkir teh.


"Ma," panggil Ardan dan wanita paruh baya itu menoleh.


Tersenyum lembut sembari meletakan gelas tehnya ke atas meja.


"Aku mau ngenalin seseorang."


Mata tua itu beralih menatap lelaki yang berada di belakang punggung putranya. Asing, wajah itu sama sekali tidak pernah ia temui dulu.


"Siapa?" tanya Aulia dingin.


"Dia Pedro." Ardan menoleh sekilas. "Temannya Arsy."


Bibir keriput itu langsung mengembang saat mendengar nama sang putri.


"Assalamualaikum, Tante. Saya Pedrosa da Villa, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan sama Tante. Boleh saya minta waktu Tante sebentar?"


"Waalaikum salam. Mau nanya apa?"


"Banyak hal, tentang Arsy."


Mata tua itu langsung melebar, semangat ia meminta Pedro untuk duduk di sebelahnya. Saat Pedro menatap ke arah Ardan, sulung Erlangga itu mengangguk.


Lelaki berdarah Spanyol itu menarik napas, mengeluarkan selembar catatan. Memerhatikan raut wajah Aulia lamat-lamat.


Tak ingin mengganggu, lelaki berbadan tegap itu menjauh. Mengawasi dari pinggir taman.


"Pedro, kali ini aku banyak menaruh harapan padamu," lirih Ardan berjalan menjauh.


Lekat, sepasang netra bewarna cokelat itu memerhatikan ekspresi wajah Aulia. Memerhatikan gerak badannya dan juga tatapan pada matanya.


"Tante."


"Ya."


"Lihatlah mata saya, saya ingin bercerita sedikit tentang Arsy yang saya kenal."


Wanita paruh baya itu mengikuti, menatap mata Pedro dan lelaki itu tersenyum lembut. Tak lama, Aulia ikut tersenyum dengan sebuah genangan kaca yang melapisi netra.


Entah apa yang terjadi, namun dalam bening mata lelaki berdarah Spanyol itu, Aulia menemukan bayangan sang putri berada di sana. Mempengaruhi imajinasi Aulia sedikit demi sedikit.


"Arsy ... satu-satunya putri Erlangga, bukan?" tanya Pedro mulai membuka luka dan Aulia mengangguk.


"Bukan hanya putri, tetapi dia jantung di rumah ini. Tawanya, suaranya, tangisnya, apa pun yang dia kerjakan, akan mempengaruhi suasana di dalam rumah ini, Nak."


"Lanjutkan, Tante."


Sejenak Aulia menarik napas, menunduk dan terdiam. Lalu, mata tua itu kembali menatap mata Pedro. Seperti terhipnotis, bibir keriput itu menceritakan banyak hal tentang putri semata wayang di rumahnya.


Ekspresinya selalu berubah-ubah setiap kali dia menceritakan kenangan lama. Akan menangis saat menceritakan luka dan akan tertawa saat mengingat kepolosan sang anak.


Seperti tanpa beban, ibu dari tiga putra itu menceritakan setiap rinci kejadian tanpa ada yang terlewatkan. Sementara sang dokter hanya mendengarkan, sesekali tersenyum, mengetuk lembut punggung tangan tua itu saat Aulia sudah terlalu dalam masuk ke dalam kesedihannya.


Di sudut sini, kakak beradik itu selalu mengawasi. Memerhatikan sang bunda dari jauh.


"Selama ini Mama tidak pernah tenang saat ditanya oleh dokter, Kak. Tak peduli setenar dan sebagus apa dokter yang didatangkan, Mama selalu menolak dengan kasar. Aku terkejut, melihat Mama bisa setenang itu berbagi cerita dengannya."


Ardan tersenyum tipis, tidak menjawab. Hanya memerhatikan gerakan Pedro. Seperti tak melakukan apa-apa, tetapi mengapa pengaruh yang didatangkan mampu membuat Aulia sangat tenang menceritakan beban?


"Tidak heran juga, jika dia saja bisa sadar apa yang berbeda dari Nigar hanya dengan sekali melihat. Tak mustahil jika dia mampu menenangkan mama pada perjumpaan pertama."


Ardan menoleh, melihat ke arah adiknya dengan sedikit bingung.


"Maksudnya?"


"Intuisi dia sebagai dokter memang sangat tajam. Kurasa kali ini mama menemukan penolongnya."


Ardan tertawa getir. "Kenapa aku cemburu saat kau memuji dia?"


Arfi mendesis, "sudahlah. Kau itu, apa pernah mau mengaku kalah?"


Arfi memukul lembut satu bahu Ardan, langsung berbalik memasuki rumah mewah itu. Ardan mengenadahkan wajah, menghela napas panjang. Sedikit lega, walau dia masih khawatir akan efek melumpuhkan ingatan yang akan Pedro lakukan.


"Maafin aku, Ma. Bukan aku mau menyingkirkan Arsy dari ingatan mama. Aku hanya ingin mama tidak lagi tersiksa. Maafin aku, aku harus melakukan ini."


...***...


"Rumah kami sangat berwarna, Nak. Tidak sesepi saat ini. Hangat, karena Arsy bagaikan mentari yang selalu mencairkan segala konflik di antara kakak-kakaknya selama ini. Sampai saat ini gema suaranya masih menjadi kehangatan yang tidak terganti di dalam sini," kata Aulia seraya memegang dada kirinya.


"Bayangan cerianya masih sering berlari-lari di koridor rumah. Kadang Tante rindu sikap usil dia yang menganggu kakak-kakaknya. Rindu saat semuanya masih serekat dulu. Entah kenapa, yang terasa kini hanyalah hampa."


Pedro terdiam, memerhatikan ekspresi Aulia lamat-lamat.


"Tante," panggil Pedro lembut. "Jika Tante mengatakan itu pada saya, bisakah saya menganggap Tante sadar akan satu hal."


"Hem?" Aulia mengerutkan dahinya.


"Sudah sangat sore, Tante. Tante istirahatlah, lain kali saya akan ke sini untuk mendengarkan cerita Tante lagi. Boleh?"


Seketika senyum Aulia mengembang dengan sangat lebar. "Benarkah kamu masih mau mendengarkannya, Nak?"


"Ya, Tante."


"Kalau gitu Tante tunggu. Akan selalu Tante tunggu kamu ke sini lagi, ya."


Pedro mengangguk, satu tangannya meraih kain yang ada di atas sandaran bangku dan menaruhnya ke atas bahu Aulia. Lembut gerakan itu membantu Aulia bangkit, dua putranya menghampiri, Ardan langsung mengambil alih tubuh Aulia.


"Sudah sangat sore, Ma. Kita masuk dan istirahat, ya."


Tatapan mata itu masih memerhatikan wajah Pedro. Satu tangan keriput itu terangkat, meraih jemari Pedro.


"Terima kasih, Nak," katanya tulus.


Pedro hanya mengangguk, membiarkan Ardan membawa Aulia pergi lebih dulu.


"Dokter, ayo ikut saya. Biar saya antar ke kamar agar Anda bisa istirahat. Kata Kak Ardan, setelah makan malam baru kita bicarakan."


"Terima kasih."


Pedro mengikuti langkah Arfi, berjalan ke arah yang berbeda. Menuju ke sudut rumah Erlangga, di mana ada sebuah elevator tabung di sana.


Lelaki berdarah Spanyol itu menggelengkan kepalanya, sempat terhenti ketika melihat arsitektur rumah bangsawan ini. Terlihat tak terlalu mencolok dari luar, tetapi banyak hal yang menakjubkan ditemukan di dalamnya.


"Elevator ini berada di luar, tapi tidak tampak dari depan."


Arfi hanya tersenyum. "Memang sedikit disembunyikan, hanya digunakan untuk menjamu tamu."


"Tapi pemandangannya sangat indah," balas Pedro seraya memerhatikan sekeliling halaman rumah Erlangga dari atas tabung kaca itu.


"Bagaimana perkembangan istri Anda, Pak?"


Lelaki berambut pirang itu terdiam, meneguk salivanya getir.


"Sedikit ada perubahan. Dia mulai mau menyentuh duluan."


Pedro mengangguk pelan. "Bersabarlah, Pak. Yakinlah bahwa dia bisa melewati itu. Bukan hal yang mudah untuk keluar dari trauma yang menyakiti mentalnya."


"Ya. Aku sadar itu."


"Tak perlu terburu-buru, lakukan saja secara perlahan. Biarkan dia terbiasa dan nyaman oleh Anda. Nanti, akan ada saatnya trauma itu akan membuka jalannya."


"Terima kasih, Dokter."


Pedro hanya mengangguk, mengikuti langkah Arfi yang memandunya menuju kamar tamu. Membuka daun pintu kamar untuk mempersilakan dokter muda itu masuk.


"Jika ada yang Anda butuhkan, panggil saja salah satu pengurus rumah di sini. Nyaman, ya, Dokter." Lelaki berambut pirang itu tersenyum, meninggalkan sang tamu menuju anak tangga.


Pedro menarik napas, menyingkap kain gorden kamar. Sejauh matanya memandang, yang terlihat adalah taman luas di bawah sana.


"Rumah yang sangat mewah dan menakjubkan. Siapa yang bisa menyangka jika penghuninya banyak menanggung luka."


...***...


"Maaf, aku tidak bisa melumpuhkan ingatan Nyonya Erlangga."


Seraut wajah garang itu terlihat sendu. Walau sudah menyiapkan hati untuk menerima keadaan ini, mengapa rasanya masih sangat sakit saat harapan tak sesuai kenyataan.


"Separah itukah trauma mama?" lirih Ardan tertunduk.


"Aku tidak bisa melumpuhkannya bukan karena itu, Ardan."


"Lalu?"


"Karena Nyonya Erlangga tidak membutuhkan itu."


Seketika alis tebal itu bertaut. "Maksudmu."


"Sejauh yang aku lihat dari ucapannya, gestur tubuh, perubahan suasana hati, ekspresi wajahnya. Nyonya Erlangga tidak butuh pelumpuhan ingatan."


"Tapi mama sama sekali tidak sadar, Pedro. Imajinasinya sudah sangat dalam. Bahkan dia mengira Hazel adalah Arsy."


Sepasang mata Pedro beralih menatap Hazel yang bercerita bersama Nigar. Tertawa lepas, sesekali menggoda sang adik seraya membereskan peralatan makan malam.


"Hei, Tuan! Matamu! Itu istriku!" ketus Ardan tak suka.


Pedro tertawa, dia menggeleng seraya tertunduk.


"Tapi yang aku lihat Nyonya Erlangga sadar. Sadar bahwa putrinya sudah pergi."


"Kalau dia sadar dia tidak akan begitu. Hampir delapan tahun, dia bahkan tidak pernah keluar dari bayangan putrinya. Kadang menangis, tertawa sendiri. Berjam-jam duduk sendirian menikmati kehampaan di taman peninggalan putrinya. Di mananya yang sadar?"


"Ardan, jika kukatakan itu hanyalah pemicu awal yang menyebabkan. Apa kau percaya?"


"Hem?" tanya Ardan tak paham.


"Selama dia bercerita tentang putrinya, dia tidak pernah sekalipun menyebutkan Arsy masih di sini. Dia selalu mengatakan bayangan Arsy. Tentang keceriaan Arsy yang tertinggal dalam hati dan ingatannya. Itu artinya dia sadar, Ardan."


"Jadi, sikap mama selama ini apa? Delapan tahun Pedro, bukan waktu yang sebentar. Kalau memang dia sadar, mungkinkah dia sengaja bersikap seperti ini? Buat apa?"


Pedro menggeleng. "Bukan itu maksudku, Ardan. Kehilangan putrinya, mungkin hanya penyebab awal depresi yang dialami, seharusnya tidak akan separah ini jika dia mendapatkan penanganan atau pengobatan lebih dini.


"Bukan tidak pernah kami meminta dokter datang ke rumah ini, Pedro. Bukan hanya kau, bahkan Tuan Erlangga pernah mendatangkan dari luar negara."


"Bukan hanya tentang pengobatan atau terapi yang dilakukan saja, Ardan. Tetapi juga tentang kepedulian dan perhatian. Dia seorang ibu, kehilangan putrinya pasti akan menimbulkan lubang di dalam hatinya. Dia sendirian, menanggung sedih, juga perih dan sayangnya saat itu terjadi dia mengalami hal yang mendorongnya untuk terjun lebih jauh ke dalam rasa trauma kehilangan orang yang disayangi."


"Kehilangan belum tentu hanya tentang kematian, Ardan. Yang aku tangkap dari ucapannya, dia bukan hanya kehilangan putrinya. Namun, dia juga kehilangan putra-putranya, itu yang membuat keadaannya semakin parah."


Ardan tercekat, kedua tangannya yang saling mengepal teremat kuat. Mulai paham arah pembicaraan Pedro.


"Aku tidak tau apa yang terjadi pada keluarga kamu. Sepanjang dia bercerita, yang dirindukan bukan hanya putrinya. Namun, juga putranya. Kehangatan sebuah rumah, kasih sayang anak-anaknya dan masa lalu bahagianya."


Lelaki berbadan tegap itu hanya terdiam. Mulai membuka kenangan tentang luka yang selama ini disamarkan. Memang banyak hal yang menghilang setelah kepergian Arsy, bukan hanya tentang nyawa yang pergi. Namun, juga sebuah keluarga yang mengalami keretakan yang menggerus hati.


"Ardan, benar memang Nyonya Erlangga merasa kehilangan. Namun, dia juga merasa sangat kesepian."