For My Family

For My Family
147



Tajam mata elang itu memerhatikan gadis yang ada di depannya. Berbicara lancar memberikan laporan penjualan.


Dalam pandangan Ardan, dia melihat banyak yang berbeda dari gadis berhijab itu.


Tidak seperti Kakaknya yang tegas dan dingin. Gadis itu lebih kalem dan takut menyakiti hati. Walau itu, mampu membuat dirinya sendiri kebingungan dan terluka oleh keadaan.


Lelaki berbadan tegap itu menghela napas, lantas ia menutup laporan yang ada di tangan.


"Nigar."


"Ya, Pak."


Tajam tatapan mata itu membuat sang gadis tertunduk.


"Sesulit itukah memilih antara Ferdi dan Arfi?"


Gadis itu mendongak, sekilas mata mereka bertaut. Sang gadis langsung memaling, menghindari kontak mata dengan Kakak iparnya.


"Jujurlah pada hatimu. Siapa yang paling nyaman buatmu. Jangan terikat oleh kata kasihan dan tidak tega."


Gadis itu menelan saliva. Getir, ia tersenyum kecut.


"Saat ini kita tidak berbicara layaknya atasan dan bawahan. Tapi aku berbicara padamu sebagai Kakak. Bagaimanakah perasaanmu saat ini?"


Gadis itu bergeming, kedua tangannya saling meremat. Perlahan ia menggigit bibir bawah.


Ardan mendesah, ia bangkit dan berdiri berhadapan dengan gadis berbalut gamis berwarna coral itu.


"Dengarkan aku, memang di dalam agama kita harus memilih yang paling baik agamanya dan akhlaknya. Seharusnya kamu lebih paham dariku, bisa saja saat ini Arfi tidak baik di matamu. Ke depannya? Siapa yang akan tau?" tanya Ardan lirih.


Lelaki berjas hitam itu menyilangkan tangan di depan dada, menatapi wajah cantik itu lamat-lamat.


"Kau, masih mencintai dia bukan?"


Pertanyaan itu membuat Nigar semakin menunduk. Terdiam, sampai satu lolosan mengalir, membasahi pipi putih kemerahan itu.


Tidak butuh jawaban, Ardan paham bagaimana melihat tingkah mereka berdua.


Walau Nigar sering menghindari Arfi saat berada di rumah. Namun, selalu ada senyum yang menghiasi wajah gadis itu saat mereka berdua bertatap wajah.


Atau dia yang berusaha ketus di depan Arfi. Lalu tertawa melihat ekspresi Arfi yang tersiksa.


Selama ini, Ardan tidak pernah melihat tawa itu selama apa Ferdi menghiburnya.


Setiap kita bisa berpura-pura benci atau tidak peduli. Namun, bahasa tubuh dan ungkapan hati yang tidak disadari melalui tatapan pun perhatian. Akan menunjukkan, bahwa hati itu masih terpaut akan satu perasaan. Cinta.


"Nigar, di dalam dunia ini tidak semua yang terbaik adalah yang tepat untukmu. Kadang Dia mendatangkan yang baik hanya untuk sebuah ujian. Bukan pendamping kehidupan."


Gadis itu terisak, pelan. Ia berusaha meredam tangisan. Satu tangannya menyeka sudut dagu. Rasanya semakin sesak, tidak seharusnya dia membiarkan kisah ini melebar ke mana-mana.


Bahkan sampai lelaki arogan ini ikut menceramahinya.


"Bisakah saya tidak memilih keduanya, Pak? Agar tidak ada yang terluka karena saya."


Ardan menggeleng. "Bukan begitu caranya. Jika seperti itu kau hanya akan semakin menyakiti keduanya."


"Terus saya harus bagaimana?"


"Pilihlah salah satunya. Tega, tidak tega, kamu harus bisa menentukannya. Karena semakin lama, kamu hanya akan menyakiti mereka."


Gadis itu mengangkat wajahnya, lantas mata bulat itu menatap wajah sang atasan. Detik kemudian dia memalingkannya.


"Bagaimana bisa saya menyakiti Pak Ferdi?"


"Apa itu artinya? Kamu memilih Arfi?"


Gadis itu langsung menoleh, memandangi wajah sangar itu dalam-dalam.


Tidak sadar, bahwa ucapannya menjadi pilihan.


***


"Masuk!" Perintah Ferdi saat mendengar pintu ruangannya terketuk.


Sebuah kepala menyembul dari balik sana. Lelaki beralis tebal itu tersenyum, ramah.


"Ardan, tumben sekali kau mengetuk pintu sebelum masuk?"


Lelaki itu tersenyum, berjalan menghampiri sang sahabat yang masih fokus pada layar datarnya.


"Aku dengar kontrak kemarin sudah ditandatangani?"


Lelaki berkacamata itu mengangguk, satu tangannya membuka laci. Lalu melemparkan sebuah map ke ujung meja.


"Itu kontrak kerja samanya. Kau semakin tidak profesional, Kawan!" ketusnya geram.


Lelaki itu hanya tersenyum, sadar jika dia memang sering meninggalkan pertemuan dengan mitra di luar jam kerja.


Pelan jari-jari kekar itu membalik lembaran kontrak. Membaca dengan seksama isi di dalamnya.


"Oh, aku lupa bilang. Ada undangan seminar dari salah satu kampus swasta kota. Kau bisa luangkan waktu siang ini? Salah satu donatur di sana, kau harus bisa menariknya untuk kerja sama."


Gerakan tangan lelaki itu berhenti, dia melirik sinis ke arah Ardan.


"Undangan itu untukku atau untukmu?" tanyanya tanpa basi-basi.


Ardan menyeringai, ia menutup map dan meletakan map di atas meja.


"Kutraktir makan di kafe mahal?" tawar Ardan, mencoba menawar harga dengan sahabatnya itu.


"Aku sibuk," jawabnya ketus.


"Ah, aku ada meeting dengan mitra baru," balas Ferdi sibuk dengan laptopnya.


Ardan mengacak rambutnya, kesal. "Baiklah!"


Lelaki itu melipat kedua tangannya di atas meja. Lalu badan tegap itu condong ke depan.


"Biaya kuliah Ferni, gratis selama satu semester."


Bibir lelaki berkacamata itu melengkung, ia mengubah posisi duduknya berhadapan dengan Ardan.


"Ah, aku baru ingat. Jika hari ini aku gak ada jadwal apa pun. Boleh, lah aku akan menggantikanmu, Kawan."


Satu bibir Ardan menyungging sinis.


"Dasar matre lelaki ini!" umpatnya geram sendiri.


Ferdi menarik jasnya di atas sandaran kursi, lantas ia tersenyum seraya meninggalkan ruangan.


"Ingat Ardan, biaya kuliah Ferni. Bukan Fresy, oke. Ferni!" tekannya lagi.


Lelaki beralis tebal itu terdiam, memutar bola mata seraya mengingat dua adik permpuan sahabatnya itu.


"Tunggu dulu. Ferni bukankah yang kuliah di kedokteran?" tanyanya bingung sendiri.


Detik kemudian lelaki itu tersadar, ia berdecak kesal.


"Sialan lelaki itu. Apa dia benar-benar ingin memerasku! Matre!" sungutnya kesal.


Sementara lelaki berkacamata tipis itu hanya tertawa, menggelengkan kepalanya keluar dari gedung perusahaan.


"Astaga Ardan! Ternyata sampai saat ini kau masih tidak bisa membedakan dua adikku itu."


Lelaki berkacamata itu menarik tuas pintu mobilnya. Tertahan oleh tangan kekar seseorang.


Ferdi berbalik, melihat Arfi berdiri di belakangnya dengan wajah serius.


"Bisa kita bicara, Kak?" tanyanya datar.


Senyum lelaki itu memudar, ia menaikan letak kacamata, lantas mengangguk pasrah.


***


Satu tangan Arfi memutari bibir gelas kopinya. Beberapa kali matanya melirik Ferdi yang ada di depannya.


Lelaki berkacamata itu membuang pandangannya ke luar jendela.


Memerhatikan dedaunan yang gugur dan terempas angin berembus. Jauh, terpisah dari pohon yang menjadi tempat mereka bergantung selama ini.


Entah kenapa? Mungkin, harapannya juga akan pupus bersama dedaunan yang gugur.


"Kak."


Lelaki berkacamata itu menoleh, lalu satu tangannya menarik gelas kopi. Menyesapnya pelan.


"Kau tau filosofi kopi, Arfi?" tanyanya tersenyum lembut.


Lelaki berambut pirang itu menunduk. Senyum itu, ada kekecewaan di balik teduh wajah sendunya.


"Jika dia terlalu lama di diamkan, maka dia akan dingin dengan sisa pahit yang tertinggal. Jika dia diminum selagi panas, maka dia akan cepat habis dengan rasa panas yang membakar."


"Kak," panggil Arfi lagi.


"Kau harus memilih waktu yang tepat agar kopi ini bisa disesap tanpa melukaimu," sambungnya tidak mempedulikan panggilan Arfi.


Bungsu Erlangga itu menatap tajam. Dia tahu bahwa saat ini Ferdi sedang mengalihkan suasana.


"Arfi, kopi adalah--"


"Aku tidak rela melepaskan Khadijah!"


Pekat iris di balik lensa itu menatap. Wajahnya datar, dengan setumpuk ekspresi yang sulit dimaknai.


"Aku tidak ikhlas melepaskan Khadijah. Entah itu untukmu atau untuk orang lain, Kak."


"Lalu?" tanya Ferdi dingin.


Lelaki berambut pirang itu meneguk saliva. Berusaha untuk menatap wajah Ferdi, walau dia tidak tega.


"Tidak peduli pada jawaban istikharah yang Khadijah lakukan. Aku akan memastikan bahwa Khadijah hanya akan menikahiku."


Lelaki berwajah manis itu tersenyum. Satu tangannya mengangkat gelas, menyesap kopi itu perlahan.


"Kau bukan Tuhan. Hanya karena kau Erlangga bukan berarti kau bisa mendapatkan apa pun yang kau inginkan, Arfi."


"Aku tidak peduli. Apa pun caranya, akan kubuat Khadijah menjadi milikku."


"Jangan terlalu berambisi. Itu tidak akan baik untukmu dan dia, Arfi."


Arfi menatapi wajah itu lamat-lamat. Walau Ferdi terlihat tenang, terkadang otaknya bisa sangat licik merencanakan banyak hal.


"Lepaskan Khadijah, Kak. Aku memohon padamu sebagai adik."


Ferdi menghela napasnya, satu jarinya memainkan gelas kopi. Lelaki itu tersenyum seraya berkata.


"Jika aku tidak mau?"


Arfi tersenyum sinis.


"Akan kurebut dia disepertiga malam!"