
Termenung, lelaki bermata tajam itu memandangi gelas kopinya. Memutar pelan seraya memikirkan masa depan.
Mungkin memang sudah saatnya dia mengalah, lebih memikirkan kebahagiaan kedua belah pihak keluarganya dibandingkan ego yang selama ini dia pertahankan.
Ardan menarik napas, melihat sang adik yang tengah asyik menggoda istrinya di dapur.
Bibir tipis itu ikut melengkung, melihat kebahagiaan Arfi yang perlahan tampak nyata menghampiri lelaki manja itu.
Perlahan rumah yang menghampa, kini mulai menghadirkan warna. Kebahagiaan sederhana yang diciptakan masing-masing. Akankah bisa berdampak pada suasana hati sang bunda?
Tergesa Gerald menuruni anak tangga, berjalan keluar tanpa menoleh ke arah anggota keluarga lainnya. Akhir-akhir ini, lelaki tua itu terlihat semakin sibuk saja.
Jarang berinteraksi dengan cucunya, bahkan saat pagi pun jarang meluangkan waktu untuk sarapan.
"Arfan, kenapa kamu ke sini?" tanya Gerald saat berselisihan dengan sang anak di depan pintu.
"Em, Ardan yang memintaku datang pagi ini."
"Ada apa? Apa Ardan mengetahuinya?"
"Aku rasa tidak. Jangan khawatir, Pa."
Gerald menarik napas, mengangguk pelan. "Rahasiakan ini darinya, jangan sampai dia menemukan titik lemah kita."
Arfan hanya mengangguk, memerhatikan wajah tua itu yang semakin memucat. Kurang istirahat dan kurang mengonsumsi nutrisi.
"Apa Papa sudah makan?"
"Apa semua masih bisa kita kendalikan?" tanya Gerald kembali. Pandangan mata sang anak tertunduk.
"Akan aku usahakan."
"Seret Arfi ke perusahaan. Anak itu juga harus ikut mencari jalan keluarnya."
Arfan menarik napas. "Aku tau, Pa. Nanti akan aku bicarakan padanya lagi."
"Salah Papa yang terlalu memanjakannya, bahkan saat genting begini dia tidak mau menurut sedikit saja," sesal Gerald.
"Sudahlah, Pa. Bagaimana juga Arfi memiliki pilihannya sendiri."
Gerald menghela napas panjang, mengangguk pelan, "Papa tunggu kamu di ruang rapat."
"Segera datang." Membiarkan Gerald meninggalkannya lebih dulu, sepasang mata itu memandangi punggung tua sang papa yang berjalan semakin jauh. Sendu, tak tega membiarkan sang ayah kembali terseret dalam kesusahan yang melelahkan tubuh tuanya.
Arfan mengusap wajah kasar, lalu menghampiri sang kakak yang sedang duduk termenung di ruang tengah.
"Ardan," panggilnya dan si sulung itu menoleh.
"Ada apa? Aku masih ada rapat bersama papa pagi ini."
Ardan menarik napas, menegakkan badannya menyandar pada kursi seraya memandangi wajah kembarannya.
"Aku ... butuh kerja samamu."
Sebelah alis Arfan menaik, tidak mengerti dengan ucapan Ardan.
"Pindahlah sementara ke rumah ini, Arfan. Aku butuh hadirmu, untuk kembali menghangatkan suasana rumah ini."
"Maksudnya? Aku tak mengerti."
Ardan mengusap wajahnya. "Kemarin aku meminta seorang teman untuk memeriksa keadaan mama. Walau sulit menerima ucapannya, tetapi apa yang dia katakan benar adanya."
"Memang apa yang dia katakan?"
"Mama butuh kita semua untuk penyembuhannya. Mama butuh kita untuk mengembalikan kesadarannya, mama butuh kita untuk menghilangkam traumanya. Untuk itu aku meminta kerja samamu."
"Aku masih belum mengerti."
"Arfan, mama begitu bukan hanya karena dia kehilangan Arsy. Namun, mama juga kehilangan seluruh anaknya. Ingatkah kamu apa yang terjadi pada keluarga kita semenjak Arsy tiada? Kita terpecah, kita terbelah, kita saling membenci dan membangun pertahan sendiri-sendiri. Saling berperang, saling menghancurkan. Pernahkah terpikirkan, bahwa korbannya adalah mama?"
Lelaki berkulit putih itu terdiam, semenjak menikah memang perhatiannya lebih tertuju pada keluarga kecilnya dan rasa bencinya terhadap Ardan.
Jarang datang mengunjungi sang bunda, terlebih saat keadaan Aulia semakin memburuk. Hanya datang seminggu sekali, itu pun lebih sering Ferla yang menyapa wanita yang telah melahirkannya itu.
"Kita terus berperang, menyusun siasat untuk membuktikan siapa yang paling hebat. Pernahkah kita berpikir apa yang mama rasakan saat dia terus-terusan melihat kita yang pernah berada dalam satu kandungan, terus saling menyakiti. Entah untuk apa? Aku pun tidak tau kenapa kita harus saling membenci?"
"Kita berperang, tapi yang terkena imbasnya mama. Kita menghilang, yang menanggung hampanya mama. Kita saling membenci, yang tersakiti juga mama. Tanpa kita sadari, yang mendorong mama semakin dalam masuk ke traumanya, adalah kita. Anak-anaknya."
Lelaki berkulit putih itu tertunduk, memikirkan segala ucapan Ardan.
Dia masih tinggal di dalam kota yang sama. Memang, kapan terakhir kali dia memberikan perhatian kepada sang Bunda?
Ketiga putranya tidak ada yang peduli. Bahkan si bungsu itu lebih banyak menghabiskan waktunya pada dunianya sendiri. Hanya sebatas menyanyangi, tetapi tidak pernah menunjukkan bukti pada kepedulian yang diberi.
"Mama butuh kehangatan yang mencairkan segala kehampaan dalam hatinya. Mama merindukan rumah yang selalu ceria saat Arsy masih di sisi kita. Arfan, mengalahlah pada egomu. Karena mama tak lagi butuh ketangguhanmu ataupun ketangguhanku. Mama hanya butuh baktimu, bakti kita, untuk mengembalikan rumah kita sehangat seperti sebelumnya."
"Aku mengerti, nanti akan aku bicarakan pada Ferla untuk pindah ke sini."
Lelaki itu melirik jam di tangannya, bangkit dengan merapihkan jasnya.
"Nanti kukabari, ada hal yang harus aku kerjakan saat ini. Aku pergi dulu."
Ardan hanya mengangguk pasrah, entah mau atau tidak sang kembaran bekerja sama. Karena respons Arfan masih sangat dingin sama seperti selama ini.
"Arfi!" panggilnya dan lelaki yang tengah menggoda istrinya di sana menoleh.
"Ikut aku ke kantor pusat!" perintahnya datar.
Bungsu Erlangga itu membanting piring yang ada di genggamannya ke atas pantry.
"Sorry, Kak. Tapi perusahaanku lebih butuh perhatianku." Berhenti menggoda Nigar, lelaki itu menarik jasnya dan berjalan keluar.
"Arfi!" panggil Arfan dan lelaki itu terus berjalan seraya melambaikan tangan.
Arfan mendesis geram, bungsu itu sangat keras kepala dengan keinginannya.
Sementara Ardan hanya memerhatikan ekspresi Arfan. Seperti ada yang disembunyikan, entah apa?
...***...
Duaarr ....
Gadis berhijab itu terlompat, hampir melemparkan Yena yang ada di dalam dekapannya saat mendengar suara letusan balon.
"Arfi!" teriaknya kesal. "Aku hampir ngelempar Yena! Ya Allah, bagaimana kalau Yena jatuh tadi?" kesalnya setengah mati, sedangkan Arfi malah terkekeh geli.
"Ish, Arfi becandanya bahaya tau gak? Kalo Yena jatuh tadi gimana? Kadang Arfi gak mikir, ih."
"Maaf. Emang kalo Yena kenapa-napa bisa sembuh dengan kata maaf?" ketusnya.
"Iya, loh, iya, Sayang. Kalo Yena kenapa-napa ya tinggal kita ganti saja. Orang buat Yena enak, kok."
Kali ini berganti Nigar yang terkekeh, menyubit kulit perut lelaki itu geram.
"Iya kalo kita bisa gantinya secantik Yena. Kalo gak gimana?"
"Ya, pasti lebih cantik, dong. Secara Papanya lebih keren dari Ardan," kata Arfi seraya mengacak rambutnya.
Nigar tertawa, satu tangannya kembali menarik kulit perut Arfi. Lelaki itu meraih jemari Nigar, mengecup punggung tangannya, lalu kepala gadis itu jatuh ke dada sang suami. Mengusap-usap wajahnya ke dalam dada bidang itu, manja.
Arfi mengusap puncak kepala sang istri lembut. "Kok, berapa hari ini kamu jadi manja sekali? Apa kamu masih berniat membujuk aku agar mengizinkanmu bekerja?"
"Ish, apa salahnya kalau aku manja sama suami sendiri?" tanya Nigar seraya membalas genggaman tangan Arfi.
"Gak salah, sih. Cuma aku gemes aja liat kamu begini." Bibir ranum itu memanyun, memandangi wajah Arfi dengan mata bening miliknya.
Arfi menyubit kedua pipi gembil itu seraya memainkan kedua ujung hidung mereka.
"Matamu itu, Nigar," kata Arfi gemas sendiri.
"Kenapa mata aku?"
"Mirip Yena, sangat indah dan aku selalu terjatuh dalam pesonanya."
Bibir ranum itu melebar, tersipu malu dengan semu kemerahan yang mulai timbul di pipi putihnya. Kembali menjatuhkan kepalanya di dada Arfi.
"Nigar."
"Hmm."
"Gimana kalo kita buat Yena juga?" goda Arfi berbisik di telinga berbalut hijab itu.
Nigar menoleh seraya berkata, "ayo."
"Hah?" tanya Arfi terkejut. Beberapa kali matanya mengerjap dengan cepat. Mengapa respons sang istri jadi sangat cepat.
"Kok, hah? Bukannya Arfi mau itu. Ayo masuk, aku antar Yena dulu."
Arfi tersenyum getir, menggaruk kulit kepala. "Serius?" tanya Arfi bingung.
Baru ingin menjawab, Gerald berjalan menghampiri mereka seraya berkata.
"Arfi, ikut Papa ke ruang baca!"
Malas, lelaki itu mengacak rambutnya.
"Arfi!" bentak Gerald dan mau tidak mau lelaki itu mengikuti perintah sang Papa.
Meninggalkan taman menuju ruang baca yang berada di sebelah kamar dia dan Nigar.
"Kalau Papa mau membicarakan hal itu lagi, aku katakan dengan jelas. Aku tidak mau!" sungut Arfi memasuki ruang pribadi sang papa tanpa menutup daun pintu yang dia buka lebar.
"Arfi mengertilah! Papa kali ini hanya bisa mengandalkanmu."
Bungsu Erlangga itu tertawa getir. "Mengandalkan atau mengorbankan?" tanya Arfi ketus.
"Arfi, saat ini perusahaan kita berada dalam ambang bahaya. Tidak bisakah kamu dewasa dan membantu Papa? Kali ini saja Arfi, mengertilah," pinta Gerald dan Arfi menggeleng.
"Apa yang harus aku mengerti, Pa? Ha?"
"Bantu Papa, Nak. Kasian Kakakmu dia hampir gila mencari jalan keluarnya. Jika semua rahasia bisnis kita keluar, maka perusahaan itu tidak akan bertahan, Nak."
"Aku akan membantu mencari jalan keluarnya, Pa! Aku pun sedang berusaha!"
"Kamu pikir kita memiliki banyak waktu lagi? Kita terdesak, Arfi!"
"Aku tau! Aku akan mencoba segala cara untuk mengeluarkan perusahaan kita dari posisi ini, Pa. Tapi tidak dengan cara menikahi Ayla."
"Lalu bagaimana? Apa kau memiliki rencana? Kau bahkan tidak mau menginjakkan kaki ke kantor pusat! Lalu bagaimana kau akan memecahkan masalahnya, Arfi!"
Bungsu Erlangga itu terdiam, mengacak rambutnya kasar. Frustrasi.
"Papa tidak memintamu untuk menceraikan istrimu. Ayla pun tak keberatan dengan statusmu. Papa hanya memintamu untuk menikahi Ayla secara negara, Arfi."
"Dan membiarkan istriku menjadi madunya dia? Ha? Pa, Nigarlah yang pertama kali kunikahi dan satu-satunya gadis yang kupilih atas nama Tuhan. Aku tidak akan menduakannya dengan alasan apa pun!"
"Lalu, apa kau akan membiarkan perusahaan hancur? Begitu?"
"Ayla tidak waras, Pa! Dia terlalu memaksa walau dia tau aku sudah menikah."
"Dia hanya mencintaimu, Arfi. Dan seharusnya memang dialah yang kamu nikahi!"
"Lalu, apa Papa pikir aku peduli?"
"Peduli atau tidak peduli. Kamu harus melakukan ini, demi keluarga kita, perusahaan kita, Arfi."
"Pa! Apa Papa waras? Ha? Poligami tidak semudah itu, sampai kapanpun aku tidak akan melakukan itu. Aku tidak mampu bersikap adil dan yang lebih penting, aku lebih tidak mampu menyakiti perasaan istriku!" bentak Arfi dan Gerald hanya terdiam.
Menarik napas, karena pada dasarnya dia memang tidak sanggup memaksa terlalu keras anak kesayangannya itu.
"Arfi, jika perusahaan colaps, apa kamu pikir kamu masih bisa membahagiakan dia? Apa kamu tega membiarkan dia hidup susah?"
Bungsu Erlangga itu terdiam. Memandangi wajah Gerald tajam.
"Jika kamu tidak memiliki apa-apa, bagaimana kamu akan membuat dia bahagia?"
"Bahagia bukan hanya sebatas materi, Pa."
"Papa tau, tapi kehidupan berjalan membutuhkan uang. Sedikit banyaknya, uang akan mempengaruhi keharmonisan rumah tangga kalian, Nak."
Arfi tertunduk, menarik napas kasar. Ia usap wajah itu dan berbalik. Matanya langsung melebar saat melihat Nigar berada di depan pintu ruangan.
Entah sejak kapan gadis itu berada di sana, pias raut wajahnya menunjukkan bahwa ia telah mendengarkan segalanya.
Gadis itu mengembangkan sebuah senyuman, sangat lebar sampai kedua mata indahnya menyipit, menghantarkan sebuah bulir saat kelopak matanya berkedip.
Tergesa Arfi mendakatinya. "Nigar, jangan takut, jangan sedih, Sayang. Aku tidak akan menduakanmu, percayalah."
Kedua tangan itu terangkat, mengusap pundak depan Arfi dengan sangat lembut.
"Aku baik-baik saja, Arfi. Bantulah Papamu, InsyaAllah aku ikhlas menjadi madumu."