For My Family

For My Family
166



(Kak, kita jadi kencan sore ini, kan? Aku tunggu Kakak di halte biasa, oke.)


Ferdi menarik napasnya saat membaca pesan yang dikirimkan sang gadis.


Ia meletakan ponsel dengan sedikit membanting, lantas membuka kacamata seraya memijat pangkal hidung.


"Ya Allah, kenapa harus Engkau kirimkan Kelopak Sakura itu padaku?" keluh Ferdi.


Dia menarik napas, menyandarkan pundak pada kursi.


"Sasy, setelah ini apalagi? Semalaman aku gak bisa tidur karena harus meredam hasrat."


Perlahan mata itu terpejam. Pusing, bahkan memikirkan akan bertemu lagi dengan gadis belia itu sudah membuat jantungnya berdegup kencang.


Entah sejak kapan, kini memikirkan wajahnya pun mampu membuat Ferdi grogi.


Derit suara pintu membuat mata itu kembali terbuka. Ferdi membenarkan letak duduknya, memerhatikan Ardan yang berjalan mendekati dia.


Wajah garang itu terlihat padam, ia meletakan berkas yang  diambil kemarin. Menjatuhkan ke atas meja.


"Ada beberapa point yang menurut aku harus diubah."


"Oh, ya?"


Lelaki itu membalik lembaran kontraknya. Memperlihatkan ke pada sang sahabat beberapa point yang harus diubah menurutnya.


Tanpa sengaja mata tajam itu melirik ke dalam ponsel. Perhatiannya teralih, membaca pesan yang masuk. Lantas bibir tipis itu terkembang ke arah Ferdi.


Lelaki berkacamata itu belum menyadari tatapan sang kawan. Ia masih asyik memeriksa beberapa point dari isi kontrak.


"Ferdi."


"Hem."


"Aku bertengkar dengan adikku, lantas inikah balasanmu?" Badan yang awalnya membungkuk itu perlahan tegak. Dengan silangan kedua tangan di dada.


Satu alis Ferdi terangkat, menatap Ardan dengan sedikit bingung.


"Aku dan Arfi bertengkar untukmu. Bagaimana bisa kau mengkhianatiku?"


"Maksudnya?"


"Kencan, ya?" Satu tangan Ardan mengelus dagu.


Secepatnya lelaki itu menarik ponselnya dan menyimpan di saku jas.


"Kau ... tidak sopan!" Sedikit gugup Ferdi mengucapkan itu.


"Hei, Pedofilia. Aku sungguh heran dengan seleramu. Saat aku dan lelaki dewasa lainnya suka sama gadis seksi dan dewasa. Mengapa kau bisa suka sama gadis belia, yang bahkan dadanya saja belum tumbuh."


"Sialan!" rutuk Ferdi geram.


"Ah ... aku tau!" Ardan menjentikkan tangannya dan kembali membungkuk.


Merangkul bahu Ferdi dan menyajajarkan wajah mereka.


"Kau, parah, Kawan."


Mata Ferdi menajam, jika melihat gelagat Ardan. Pasti pikirannya mulai mengacau.


"Kau suka yang belum tumbuh, lalu kau yang menumbuhkannya dengan pupuk alami, kan."


Ferdi mendesis geram. Ia melepaskan rangkulan Ardan. Seketika wajahnya memerah, padam. Ditambah mengingat kejadian semalam.


"Sialan! Apa kau pikir itu buah."


"Memang buah. Hahaha."


Gelak tawa Ardan pecah, sementara wajah Ferdi semakin memerah. Punya teman seperti Ardan, memang ujian yang amat parah.


"Sudahlah, aku ingin bekerja. Keluar sana!"


"Ah, apa kau akan browsing bagaimana cara membesarkannya?"


"Ardan!" bentak Ferdi tak suka.


Ardan terbahak. "Tak usah browsing. Sini biar kuajari."


Satu tangan Ardan meraih dada Ferdi lalu merematnya.


"Ardan!" teriak Ferdi beringsut mundur. Wajahnya semakin memadam. Kesal dan juga marah.


Sementara lelaki itu semakin senang menggoda. Dulu dia yang digoda habis-habisan saat bermalam dengan Hazel. Kali ini ada kesempatan untuk membalas. Ia mendekati Ferdi, lantas pemuda itu bangkit dan berlari.


Tak ingin kehilangan kesempatan untuk menggoda, lelaki itu mengejar langkah sang Direktur.


Seperti tidak peduli pada para bawahan. Dua lelaki dewasa itu saling kejar-kejaran di koridor kantor.


Sesekali gelak tawa Ardan pecah, sementara Ferdi semakin mengencangkan langkahnya. Decit suara sepatu saling bersambut, seakan tak peduli wibawa mereka akan jatuh.


"Menjauhlah, kubilang menjauh!" teriak Ferdi di ujung pintu.


"Ayolah. Biar kuajarkan, Kawan. Kau itu masih terlalu murni, butuh noda untuk bisa bekerja. Hahaha." Tawa Ardan semakin kencang, terlebih saat wajah Ferdi semakin memadam.


Kedua tangan Ferdi tersilang di depan dada. Semakin dekat langkah Ardan, semakin ia beringsut ke arah luar.


"Ardan! Menjauhlah!" teriak Ferdi geli.


Ardan terbahak, sungguh sangat lucu menggoda Ferdi yang seperti ini.


Sementara para karyawan hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat mereka berdua. Bukan hal yang aneh jika dua atasan itu bercanda berlebihan. Bahkan jika Ardan tidak menikah, mereka sering dikira sepasang kekasih yang saling mencintai.


Gelak tawa Ardan semakin pecah, saat ia berusaha menarik tangan Ferdi yang menutupi dadanya.


"Jangan sentuh aku, Mas! Aku jijik! Aku geli!" teriak Ferdi dibuat-buat.


Satu tangan Ardan melilit batang leher lelaki itu. Lalu gelak tawa mereka pecah, saling menggoda, sudah hal yang sangat biasa bagi mereka berdua.


***


Lelaki berkacamata itu memarkirkan mobilnya di parkiran pusat toko. Berjanji di halte bus, nyatanya gadis belia itu sudah pergi entah ke mana.


Pria dewasa itu membuka jasnya, menggelung lengan kemejanya sebatas siku, dan melepaskan dasi. Kemeja putih yang rapih dengan bagian ujung masuk ke dalam celana. Kini dikeluarkan, membiarkan kaus dalam yang sama berwarna putih telihat dari kancing kemeja yang terbuka.


Rambut hitam legam yang tersisir rapih, ia acak agar terlihat sedikit berantakan.


"Bagaimana juga, dia masih umur belasan tahun. Walau belum menikah, aku tak igin dikatakan memiliki Sugar Baby ataupun Pedofilia."


Lelaki itu turun, mata menyisir ke area pertokoan. Melihat gadis dengan jeans putih dan jumper biru muda di sana sedang mengganggu seekor anjing peliharaan.


Gadis itu berdiri dengan tangan yang mengacak di pinggang. Satu kakinya menyentak, mengganggu anjing berbulu oranye yang diikat pada tiang lampu jalanan. Entah kemana sang Tuan.


Satu kakinya menyentak, mengganggu anjing jenis Shiba inu di bawah tiang lampu.


Awalnya anjing itu tak terlalu peduli, kian lama, melihat Sasy yang terus menantang dengan suara yang dibuat-buat mengerihkan. Anjing itu menggonggong sekali.


Sasy beringsut, satu tangannya menekan dada. Kaget.


Bukannya takut, ia malah semakin mendekat, kedua kakinya menghentak dengan balasan menggonggong layaknya anjing.


Shiba Inu itu mulai terpancing, berlari ke arah Sasy, namun lehernya masih terikat dengan kuat.


Gadis itu mengejek, semakin menggonggong tak jelas, meledek sang Anjing.


Dari seberang sini Ferdi menggelengkan kepala. Bencana apa sampai dia harus berhadapan dengan gadis usil seperti itu.


Badan Sasy membungkuk, dengan dua tangan yang ia bentuk seperti cakar. Lalu mengaum-ngaum dan mendekat.


Saat anjing itu akan berlari, dia menjauh. Mendekat lagi, dan saat hewan itu akan mengejar ia mundur lagi.


Seperti itu terus, sesekali bibirnya terkekeh, senang sekali bisa mengusili segalanya.


Sampai hewan itu terus bergerak tak karuan. Ingin sekali mencengkeram si gadis usil yang mengganggunya sedari tadi.


Pergerakan lasak anjing itu membuahkan hasil. Ikatannya terlepas, seketika mata Sasy melebar. Anjing itu menggonggong, dan gadis itu ....


"Huwaaa ... Mama!" teriaknya sambil berlari menjauh.


Tawa Ferdi pecah, geli setengah mati melihat ulah usil Sasy yang mendapatkan balasan langsung.


Kaki pendek itu dipaksa berlari, bibirnya terus meracau memanggil sang mama. Kepalanya menoleh ke arah belakang, saat anjing itu semakin dekat. Dia berlari semakin kencang.


Ferdi terpingkal-pingkal, sampai bulir itu menghiasi sudut matanya. Saat sang gadis semakin dekat dengan ujung trotoar.


Lelaki itu segera menyeberang, dalam keadaan kalut, gadis itu lalai memerhatikan keselamatan.


Kepalanya terus menoleh ke arah belakang, jantungnya berdegup tak karuan. Sampai badan itu menabrak dada seseorang.


Sasy menoleh, ia langsung melompat ke arah Ferdi. Dengan kedua tangan yang melilit pundak dan kedua kaki melingkari pinggang Ferdi.


"Kak Ferdi,  ada anjing ... ada anjing!" adunya ngos-ngosan.


Satu tangan Ferdi menahan tubuh mungil yang menempel di badannya. Satu lagi menoyor dahi Sasy dengan kuat.


"Usil banget, sih? Emang gak bisa diam?" tanya Ferdi geram.


Gadis itu masih menoleh ke arah belakang. Saat Shiba Inu itu muncul dari arah gang toko. Ia menjerit ketakutan. Memeluk bahu Ferdi dan lilitan kakinya pada pinggang Ferdi semakin kuat.


"Kak Ferdi ayo lari!" teriaknya kalut.


Ferdi terkekeh, ia menurunkan paksa badan Sasy dan membalik bahu mungil itu, berhadapan dengan Shiba Inu yang tengah berlari ke arah mereka.


"Ah ... ah ... Kak Ferdi! Aku akan mati, akan mati!" teriaknya ketakutan saat anjing itu semakin mendekat seraya memainkan ekornya.


Ferdi terkekeh, ia menggelengkan kepalanya, lalu berjongkok. Tangannya menjentik-jentik memanggil anjing tersebut.


"Kak Ferdi, aku akan mati!" teriaknya beringsut ke belakang punggung Ferdi.


"Hei, kibasan ekor anjing arti persahabatan. Jika kibasan ekor kucing itu artinya peperangan."


Anjing itu semakin mendekat, larinya mulai melambat. Perlahan Sasy bangkit, ia melihat ke arah anjing tersebut.


Anjing itu kembali menggonggong, mata Ferdi melebar. Sepertinya anjing itu sudah sangat dendam.


"Huwaaa ... Kak Ferdi! Kak Ferdi!" teriaknya ketakutan.


Perlahan lari anjing itu semakin kencang. Ferdi ikut kelabakan, ia meraih jemari Sasy dan menariknya, berlari kencang menyusuri trotoar area pertokoan.


Jemari keduanya bertautan, erat. Mata gadis itu memerhatikan jemarinya yang bertaut, perlahan senyumnya terukir dengan lebar.


Tidak lagi memerhatikan depan, matanya terus melihat genggaman tangan Ferdi yang semakin erat.


Wajah itu berhiaskan semu, sesekali ia melihat ke arah Ferdi. Kemeja putih yang tidak terkancing itu mengibas ke belakang.


Sesekali kepala Ferdi menoleh, rambut yang acak-acakkan itu membuat wajahnya semakin menawan.


"Cepatlah, Sasy. Kenapa kaki itu pendek sekali?" rutuk Ferdi sedikit geram.


Badan tegap itu menepi pada dinding toko. Menarik badan Sasy yang berlari kelewatan, lantas kedua tangannya memeluk pundak belia itu sangat erat.


Deru napasnya tertarik sangat kencang, dadanya naik-turun tak beraturan. Kepala itu tertumpuh pada dinding toko, walau bukan perokok, umurnya sudah cukup dewasa untuk lari-larian.


Gadis belia itu menempelkan telinganya di dada sang lelaki. Detak jantung Ferdi yang menggebu menjadi hiburan. Ia senang, terlebih dengan dekapan tangan Ferdi yang begitu erat.


Beberapa lama mereka terdiam, Ferdi menghela napasnya berulang-ulang. Lalu dia tersadar dan menarik bahu Sasy untuk menjauh.


Dua jarinya menyentik dahi Sasy.


"Nakal sekali!" sungutnya.


Gadis itu hanya menggulum senyum, mengusap dahinya yang sedikit sakit.


"Tapi seru, kan, Kak?"


"Seru apanya? Lihat bajuku basah." Lelaki itu melepaskan kemejanya, kaus putih dalaman Ferdi sangat ketat.


Tidak pernah terlihat selama ini jika lengan lelaki itu berotot dan tegap. Terikut oleh hobi Ardan yang suka gym, dulu pun dia sering mendatangi tempat itu.


Gadis itu menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Namun jari-jarinya terbuka, mata bundar itu melebar dengan bibir yang semakin terkembang.


"Kenapa?" tanya Ferdi sedikit ketus.


"Kak Ferdi, Anda perfectly."


Ferdi tersenyum sinis, ia mengibaskan kemeja putihnya. Saat kibasan pertama, ia beringsut mundur saat melihat Shiba Inu itu di sana.


Gonggonggannya membuat Sasy melompat, memeluk bahu Ferdi dan kembali melilitkan kedua kakinya di pinggang Ferdi.


Lelaki itu tertawa, melihat anjing berbulu oranye itu menjulurkan lidah dengan kibasan ekornya menatap Ferdi.


"Huwaaa ... Kak Ferdi, ayo lari! Lari ...."


Ferdi hanya terpingkal, menaikan badan belia itu yang sempat melorot.


"Hei turunlah, kau seperti bayi saja," ledek Ferdi mendekatkan badannya pada si hewan.


Pelukan Sasy makin erat, kepalanya terbenam di bahu Ferdi. Deru napas hangat milik belia itu menyapu kulit lehernya.


Ferdi bergidik, merinding tak karuan. Baru dia sadari, bahwa tubuh belia itu menempel erat pada badannya, bukan hanya dada namun juga ....


Seketika, teguk saliva itu lebih berat dari sebelumnya.