
Ferla menganggukkan kepalanya, memandang Hazel yang terus tertawa bersama Aulia.
'Kau beruntung, Hazel. Dicintai oleh lelaki sebaik Ardan,' batin Ferla beralih menatap Ardan yang berada di sebelahnya.
"Kau sangat mencintainya? Dia beruntung, bisa meluluhkan kau yang seperti ini."
Ardan menggeleng dan tertunduk. Tersenyum lembut seraya mengusap kepala.
"Aku yang beruntung menemukan dia di antara milyaran manusia lainnya. Dia yang bijak dan sangat pintar memahami, ke ujung dunia pun aku cari, mungkin tidak akan menemukan pengganti."
Wanita berambut hitam itu menggulum bibir. Ikut berbalik seraya menatapi wajah Ardan.
"Semoga pernikahan kalian selalu bahagia, Ardan."
Pria berwajah garang itu melirik sekilas. Tajam dan nyalang. Seketika dahi Ferla mengerut.
"Mengapa kau menatapku begitu?" tanya Ferla ngeri.
"Apakah itu kata-kata yang tulus? Atau kau yang cemburu?"
Ferla tertawa getir, ia menggeleng dan memukul lengan Ardan geram.
"Hei, aku ini iparmu. Sudah hampir delapan tahun menikahi adikmu. Apa kau pikir aku sudi mencintaimu lagi?"
Ardan terbahak dan menyenggol bahu Ferla lembut.
"Yang benar?" goda Ardan dan gadis itu berdecak sebal.
"Tentu saja benar."
"Tapi aku tidak yakin. Karena pesona yang kupunya, sangatlah menggoda," kata Ardan seraya mengacak rambutnya di depan Ferla.
Wanita itu tertawa miris, setelah sekian lama ternyata sifatnya masih belum berubah. Suka menggoda siapa saja.
Ferla menggeleng dengan silangan tangan di depan dadanya.
"Hei, kau sudah menikah. Berhentilah menggoda wanita."
"Siapa yang menggoda wanita?"
"Tentu saja kau!"
"Aku sedang menggoda pria. Siapa yang mengatakan kalau kau itu wanita?" tanya Ardan dan wajah Ferla memerah seketika.
"Sialan kau, Ardan!" Ibu tiga anak itu menghujani Ardan dengan kepalan tangannya.
"Aku ini wanita. Kalau bukan wanita mana mungkin tiga kepala lahir dari rahimku!" sungut Ferla memukuli Ardan, sedangkan lelaki tegap itu hanya tertawa seraya menyilangkan tangan di depan dada.
Tidak menghindar atau membalas. Hanya terkekeh menerima setiap pukulan tangan wanita tersebut.
Sementara di bawah sini ada tangan yang mengepal. Geram, melihat sang istri bercanda bersama iparnya di sana.
Bagaimana bisa sang istri bercanda sangat akrabnya dengan sang kakak, sedangkan bersama dia selalu diam dan kaku?
Arfan merutuk geram, amarahnya semakin berkobar. Terlebih melihat sang istri yang bisa tertawa begitu lepas bersama kembarannya.
"Sialan kau, Ardan!"
***
Sepasang tangan memeluk tubuh semampai itu dari belakang. Memberikan setangkai mawar merah ke hadapan sang istri.
Nigar menoleh, sebuah kecupan mendarat di bingkai ranumnya.
"Kapan Arfi pulang?" tanyanya seraya menarik tangkai mawar yang digenggam Arfi.
"Menurutmu kapan?" Lelaki itu kembali mengecup bibir Nigar sekilas. Mencoba membiasakan gadis itu oleh sentuhan.
Kelopak mawar yang Nigar pegang diketukkan ke wajah sang lelaki. Tersenyum seraya berjalan ke arah buffet. Meletakan tangkai itu dalam vas mungil di depan cermin.
Lalu, sepasang mata indah itu memandangi pantulan sang suami dari kaca cermin. Sedang membuka jasnya dan mengendurkan dasi.
"Mau aku siapkan air mandi?" tanya Nigar memandangi pantulan badan sang suami dari cermin di depannya.
"Tidak perlu. Selama ini aku selalu mandi pakai air dingin. Walau manja, tapi badanku cukup sehat, Sayang." Seringai nakal tercetak di wajah tampan itu.
Melepaskan kemeja seraya berjalan mendekati Nigar.
"Tapi jika kamu mau aku tidak kedinginan. Bagaimana jika kita mandi bersama?" bisik Arfi lembut di telinga berbalut hijab tersebut.
Wajah putih itu memerah, pelan ia menggigit bibir bawah dan menunduk dalam. Sepasang tangan kekar itu membalik tubuh sang gadis.
Mendongakkan wajah Nigar yang terus bersemu merah. Terlebih saat sepasang mata sayu itu terus memandangi wajahnya.
"Nigar."
"Ya."
"Ayo," goda Arfi menahan tawa. Wajah itu, terlihat semakin merah. Seperti menahan tangis dan kedua tangan Nigar menangkup menutupi wajah.
Arfi ingin tertawa, berusaha sekuat tenaga untuk menahannya. Pelan ia mencoba membuka tangkupan tangan sang istri.
Mengurung badan Nigar di dalam dekapan tubuh itu. Kedua tangannya tertumpuh pada tepi buffet. Perlahan tubuh tegapnya menunduk, menyamakan wajah dengan gadisnya.
Nigar menarik tubuhnya kebelakang. "Arfi ... itu. Itu ...." Beberapa kali kelopak matanya mengerjap. Ingin menolak takut akan dosa, tidak menolak, tetapi dia masih tidak bisa.
Tawa Arfi pecah, satu tangannya mengacak puncak kepala. Gadis polos ini walau sudah menikah masih tetap sama saja tingkahnya.
Malu-malu dan sering kali tergagap saat posisinya tersudut.
"Sudahlah, aku hanya bercanda. Kenapa wajahmu seperti mau nangis begitu?"
Seketika sepasang mata indah itu menatap ke arah wajah. Pipinya semakin memerah, bukan lagi bersemu, tetapi menahan amarah.
"Arfi jangan bercanda begitu, ish." Pukulnya di lengan lelaki itu. Sementara sang suami masih terkekeh seraya menggelengkan kepala.
Tidak habis pikir, kapan tingkah polos gadis itu bisa berubah sedikit lebih menggoda, walau tidak akan agresif, setidaknya sedikit lebih berani untuk menantang.
"Sudahlah, aku mau mandi. Kamu bersiap-siaplah."
"Bersiap? Memang kita mau ke mana?" tanya Nigar penasaran.
"Kencan."
***
Restoran mewah bernuansa Eropa dengan suasana romantis yang mendominan di dalamnya menjadi pilihan bungsu Erlangga itu untuk menghabiskan waktu berdua.
Bukan hal yang aneh, lelaki berambut pirang itu memang sangat suka memanjakan dengan kemewahan.
Sepanjang makan malam, gadis berhijab itu hanya diam. Tidak terlalu berselera, terlebih saat beberapa gadis kelas atas menyapa mereka. Arfi lebih tepatnya, karena dalam dunia ini. Dia hanyalah bagian asing yang tertarik ke dalamnya.
Merasa risi saat pipi sang suami masih dicium oleh wanita selain dia.
"Arfi," panggil seorang gadis lainnya dan Nigar membuang wajah.
Entah sudah berapa kali suaminya dipanggil dan kali ini dia memilih bangkit. Berjalan ke arah balkon.
Sesak, saat menahan rasa cemburu karena kehidupan masa lalu sang suami.
"Hai, Ayla." Dingin menjawab, sepasang mata sayu itu memerhatikan tubuh istrinya keluar ke arah balkon restoran.
"Apa kabar?" Saat wanita itu ingin mencium pipinya, Arfi menghindar.
"Maaf, aku sudah menikah," katanya seraya memperlihatkan cincin pada jarinya.
Tak acuh pada gadis seksi yang ada di depannya, Arfi bangkit dan menghampiri Nigar.
Mengurung tubuh semampai itu dengan kedua tangan ia letakan di atas punggung tangan Nigar yang sedang menumpuh di pagar balkon. Mencengkeram besi pagar dengan perasaan geram.
"Sayang, kamu marah?" tanya Arfi meletakan dagunya di atas puncak kepala sang gadis.
"Jagalah dirimu. Walaupun kamu lelaki, pantaskah kamu dicium wanita lain di depan istrimu? Aku tidak peduli bagaimana masa lalumu. Tapi, bisakah kamu hargai statusku saat ini?"
Arfi meraih jemari Nigar, mencium lembut. "Maaf, Sayang. Aku akan menjaga diri lain kali. Maaf merusak suasana malam ini."
Nigar hanya terdiam, matanya memandangi padat ibu kota dari atas restoran tempat mereka makan malam.
"Aku ingin pulang." Gadis itu langsung pergi, meninggalkan Arfi yang terus memandangi kepergiannya.
Di dalam mobil wajah itu masih terus ia buang ke arah jalanan. Memerhatikan jalanan padat ibu kota. Pendar lampu kendaraan menjadi penghibur tersendiri, saat hati memanas karena rasa cemburu yang menguasai.
"Kamu masih marah, Nigar?"
Gadis itu menoleh, melihat wajah Arfi yang terfokus pada jalanan.
"Tidak," katanya kembali membuang wajah ke arah jalan.
"Jika aku mengatakan tidak pernah berhubungan dengan gadis-gadis itu lebih dari sekadar teman, apa kamu percaya?"
"Teman kelabing?" tanya Nigar dan lelaki itu hanya menelan salivanya getir.
"Arfi, aku tidak tahu apa yang membuatmu bisa mengejarku dua tahun lalu. Kembali mengejarku dua tahun setelahnya dan nekat menikahi begitu saja. Apa pun alasan itu, bisakah kamu dewasa sedikit? Bagaimana jika aku yang dicium orang lain?"
Seketika lelaki itu menginjak pedal rem. Menatap wajah Nigar nyalang.
"Maksudnya?"
"Pernikahan itu antara dua manusia, Arfi. Apa yang kamu lakukan di luar akan berimbas pada apa yang kamu tinggalkan di rumah. Jika kamu sebagai suami masih menggoda, jangan salahkan kalau ada lelaki yang menggoda istrimu."
Arfi tertawa sinis, ia menggelengkan kepala pasrah.
"Jadi kamu berharap bahwa akan ada pria yang menggodamu, begitu?" tanya Arfi tidak suka.
"Aku tidak pernah berharap seperti itu. Aku hanya mengingatkanmu, jagalah pandanganmu agar istrimu terhindar dari mata jahat. Jagalah dirimu agar istrimu tetap terjaga."
Arfi tersenyum miring dan melirik ke arah luar.
"Hem, kalau kamu tergoda itu artinya kamu yang tidak becus menjaga harga diri," lirih Arfi dan sayangnya perkataan itu terdengar oleh Nigar.
Gadis itu tertunduk, perkataan Arfi menyakiti hatinya. Bukan tentang dirinya yang tak becus menjaga harga diri sebagai istri. Melainkan dia yang sudah tidak lagi memiliki arti berharga di dalam diri.
Pahit gadis itu menelan salivanya. Masih tertunduk seraya berkata. "Aku mengerti."
Bungsu Erlangga itu tersadar, ia mengusap wajah kasar. Lantas meraih kedua jemari milik Nigar.
"Sayang, sayang aku tidak bermaksud menyakiti hatimu. Maafkan aku, ya," ucap Arfi kelabakan.
Nigar hanya mengangguk, tidak menjawab dan kepalanya terus tertunduk.
"Percayalah, aku tidak bermaksud menyinggungmu, Nigar."
Bibir gadis itu tersenyum, menoleh seraya melepaskan genggaman tangan Arfi.
"Aku tau. Bisakah kita pulang? Aku lelah."
Arfi hanya diam, menarik napas dan perlahan menjalankan mobilnya kembali pulang.
Terkadang, niat awal untuk membuat senang. Namun, malah pulang dengan hasil yang mengecewakan. Jika tahu dari awal akan begini, lebih baik tidak usah kencan.
Lelaki bermata sayu itu mengacak rambut, frustrasi. Usahanya untuk mendekati, lagi dan lagi berakhir seperti.
Arfi langsung memeluk tubuh sang istri saat memasuki kamar. Mendekapnya seerat mungkin.
"Arfi, aku sesak." Bukannya melepaskan, dekapan tangan kekarnya malah semakin mengencang.
"Maaf, Nigar. Maafin aku, kumohon jangan diamkan aku. Aku bingung, aku kalut, aku tidak tahu harus berbuat apa saat kamu tidak lagi bicara."
"Jika kamu terus mendekap seperti ini. Sebentar lagi aku tidak bernyawa."
Mengalah, Arfi melepaskan dekapannya. Beralih menangkupkan kedua tangan di pipi sang istri. Menatap kedua binar jernih itu lekat dan dalam.
"Nigar, bukankah kamu bilang bahwa pernikahan itu adalah tentang dua manusia. Itu artinya juga tentang dua perasaan, bukan? Tapi jika kamu terus bersikap seperti ini, apakah kita bisa disebut pasangan?"
"Maksudmu?"
"Dari dulu, kamu selalu tertutup tentang apa pun itu. Mau senang atau sedih, kamu tidak pernah mengatakan apa pun itu. Menurutmu, bisakah pernikahan berjalan seperti itu?"
Pendar bundar itu meredup, memikirkan ucapan Arfi.
"Tidak bisa, kan? Lalu, selama ini apa yang sudah kamu lakukan? Pernahkah kamu mengatakan apa yang kamu rasakan?"
Kedua tangan lentik itu meraih jemari Arfi yang ada di pipinya. Melepaskan tangkupan tangan sang suami. Lalu, tubuh itu terduduk di tepi ranjang.
Lelaki berbadan tegap itu berlutut, mencoba menatap wajah sang istri yang terlihat semakin sendu.
"Aku tau, aku salah. Aku berjanji untuk memperbaikinya. Tapi aku juga mau kamu pun memperbaikinya, Nigar. Kepribadianmu yang tertutup, hatimu yang terlalu lembut, kamu yang seperti ini, terus membuatku bingung. Aku tidak bisa memahamimu, hanya bisa menebak-nebak, apa yang kamu rasakan dan kamu simpan. Sampai kapan? Hubungan kita terus berjalan seperti ini? Kita sama-sama saling mencintai, tetapi kita selalu berada berseberangan hati. Kumohon Nigar, jangan terus seperti ini," kata Arfi lembut.
"Banyak hal yang sudah kita lalui, luka, duka dan juga keretakan hati kita. Kita memang sudah menikah, tapi bukan berarti hubungan kita berhenti di sini. Pernikahan bukanlah ending bahagia, Nigar. Pernikahan adalah awal dari jenjang yang lebih berat. Banyak hal baru yang harus dipahami." Lelaki itu menarik napas, menyugar beberapa helai rambutnya yang jatuh kedepan.
"Karena di pernikahan, banyak hal-hal baru yang akan kita temukan. Perbedaan, persamaan, segala hal yang tidak diketahui sebelumnya, akan terlihat. Aku akan berusaha untuk mempelajarinya, tapi aku butuh kamu. Belajar bersamamu."
Lelaki itu kembali meraih sebelah pipi putih sang istri.
"Kita butuh penyesuaian diri. Bukan lagi menyimpan sendiri-sendiri."