For My Family

For My Family
214



Lembut jari-jari mungil itu mengolesi salap ke wajah garang sang suami. Meracau di pagi buta, mau tidak mau Ardan hanya mengangguk mendengarkannya.


"Mas!" sungut Hazel dan Ardan membuka matanya.


"Dengar, gak, sih apa yang aku bilang?" tanya Hazel kesal, terlebih saat melihat raut wajah Ardan yang sangat santai memangku dirinya.


"Dengar, Sayang."


"Makanya, jadi orang itu jangan sok kuat. Apa-apa main pukul. Kapan sih, Mas itu gak lukai tubuh sendiri?" racau Hazel dan Ardan hanya mengangguk. Tangannya semakin menarik pinggang Hazel agar lebih merapat.


"Kalau udah gini, sakit, kan? Merengek, manja, maunya diciumi mulu!" sungut Hazel semakin kesal. Terlebih, saat tangan sang suami terus bergerak nakal di tubuhnya.


"Mas!" pekik Hazel dan Ardan terkekeh.


"Iya, loh, Hazel. Ya MasyaAllah. Itu tenggorokkan gak sakit apa bawel melulu? Dari pada cerewet, cium aja lagi, sini." Tunjuk Ardan di sudut bibirnya.


Jari-jari lentik itu membelai rambut hitam legam milik Ardan. Lalu, beralih pada setiap inci patrian wajah sang suami.


"Apa semuanya baik-baik saja, Mas?" tanya Hazel melembut.


"Sangat baik."


"Kalau begitu, kapan kita akan pulang? Surya juga butuh terapinya."


Pandangan tajam itu menunduk, perlahan kepalanya menggeleng pelan.


"Belum tau. Papa ... belum ada bilang apa pun padaku."


Satu tangan Hazel menarik dagu Ardan, mengecup sekilas, lalu tubuh mungil itu bangkit dari atas pangkuan.


"Aku siapin sarapan, sebelum Yena bangun, jagain dia dulu, ya." Gadis bermata madu itu langsung keluar dari kamar, sedangkan Ardan hanya menarik napas.


Bingung, seandainya mereka pindah ke ibu kota, akankah Gerald mau menerima Surya?


...***...


Senyum terkembang dari bingkai ranum gadis keturunan Turki tersebut. Menghampiri Arfi yang tengah mematut diri di depan cermin, lalu tangan lentik itu mengambil alih pekerjaan suami yang sedang melilitkan dasi.


"Arfi, aku izin keluar boleh, gak?"


"Mau ke mana?"


"Mau beli beberapa perlengkapan, sekalian ke rumah ayah."


Lelaki bermata sayu itu hanya menatap wajah Nigar.


"Biar aku antar aja."


"Eh, tapi Arfi, kan, harus ke kantor?"


"Biar Kak Ardan aja."


Lelaki itu kembali membuka dasi dan jasnya, lebih memilih memakai kaus ketat dan jaket sebagai luarannya.


"Arfi, apa tidak apa-apa?"


"Memang siapa yang mau melarangnya?"


Bungsu Erlangga itu langsung turun ke bawah, menuju meja makan di mana hanya waktu ini sajalah keluarga Erlangga akan berkumpul.


Menarik salah satu kursi dan mulai melahap makanan yang disiapkan. Walau berada di tengah-tengah keluarga. Namun, meraka masih tetap sibuk pada urusan masing-masing.


Terlebih Gerald yang terus sibuk pada bayi Ardan, bahkan dia tidak peduli pada bisnisnya saat bermain bersama bayi kecil itu.


Arfi mengaduh saat sebuah tangan menepuk kepalanya dari belakang.


"Kenapa kau santai sekali? Apa kau tidak ke kantor?" tanya Ardan menarik kursi di sebelah si bungsu.


"Aku mau mengunjungi mertua. Kakak ganti, kan aku saja."


Ardan tertawa sinis, dia mengetuk kepala Arfi geram.


"Aku mau pulang ke kota! Tak sempat mengurus perusahaanmu."


Mendengar ucapan Ardan, Gerald mengalihkan perhatiannya.


"Kenapa pulang?" tanyanya bingung.


"Tentu saja! Lagian ngapain aku di sini?" tanya Ardan dan Gerald memandangi Yena yang tengah bermain di dalam pangkuan, mengemut ujung kakinya sendiri.


"Lalu, bagaimana dengan bayi ini?"


"Bagaimana apanya? Tentu saja kubawa pulang."


Tidak terlalu peduli pada air wajah Gerald yang berubah. Ardan malah asyik dengan sarapannya. Sementara sang papa mulai gundah, seperti tidak rela melepaskan cucu terkecilnya.


"Opa ... Opa ....!" Riak suara dua putri kecil Arfan berlari menuruni anak tangga.


Mendekati sang kakek, dan mengajaknya untuk membawa mereka keluar dari rumah itu. Berjalan-jalan pagi, seperti yang dijanjikan semalam.


Seketika suasana sepi dan kaku di rumah Erlangga menjadi riuh. Jeritan-jeritan suara kecil yang bersahutan. Celoteh-celoteh menggemaskan itu menjadi hiburan.


Tak tahan dengan tarikan dua cucu perempuan yang lainnya. Gerald bangkit, berjalan ke arah dapur dan menyerahkan Yena ke sang Bunda.


"Em, Pak. Jika Anda mau membawanya, bawa saja keluar. Dia sudah kenyang dan nyaman, selain merengek ingin tidur, dia akan baik-baik saja."


Gerald memandangi wajah Ardan yang masih sibuk dengan sarapannya, berbicara dengan Arfi seperti biasa.


Hazel tersenyum dan menggeleng pelan.


"Mas Ardan selalu perhatian sama anak-anaknya. Jangankan yang darah dagingnya, bahkan yang bukan anak dia saja, dia selalu perhatian."


"Em, baguslah." Tanpa memandang Hazel, lelaki tua itu membawa Yena keluar.


Terkadang kekuatan sebuah darah itu menakjubkan. Bahkan Gerald yang sangat keras, bisa luluh dengan tawa dari darah kecilnya. Mau berbicara dengan menantu yang selama ini ditentangnya.


Sementara Arfan terus memerhatikan sang istri yang sibuk menyuapi putranya. Berbeda dengan istri Ardan dan Arfi. Ferla memang sedikit lebih tak acuh oleh penampilannya.


Masih berantakan dengan rambut yang digelung asal. Bukan tanpa alasan, karena pagi harinya selalu habis dengan mengurus anak-anak mereka.


"Ferla," panggil Arfan dan wanita itu menoleh. Seperti biasa, hubungan mereka akan kembali membaik tanpa ada kata maaf atau bujukan dari sang suami.


"Titipkan dulu anak-anak di rumah Papa. Kamu pulanglah bersamaku ke rumah."


"Kenapa?" tanya Ferla bingung.


"Pulang saja."


"Tidak bisa. Beyazid akan rewel tanpa aku."


"Ferla!" tekan Arfan dan gadis itu hanya memutar bola mata malas.


"Terserah," jawabnya mengalah.


Di depan mereka, Ardan dan Arfi hanya menonton dua orang di sana. Benar-benar kaku, tidak seperti pasangan. Saat mata Arfan menatap mereka, kedua saudara itu membuang wajahnya, bersiul-siul tak jelas.


"Kalian ...." Belum sempat Arfan berucap, Arfi tiba-tiba bangkit seraya berkata.


"Aku pergi dulu, mau bulan madu di rumah mertua. Ayo, Sayang." Tarik Arfi di lengan Nigar yang baru saja turun.


"Ah, Hazel. Bantu aku siapkan jas, Sayang. Aku mau ke kantor Arfi."


Ardan langsung naik dan meninggalkan sang kembaran di sana. Sementara, Arfan sudah geram setengah mati. Jelas-jelas mereka berdua sedang mengejek dirinya.


"Cih, bocah-bocah ini," desis Arfan geram.


...***...


Dari depan kaca etalase, Arfi memandangi sang istri yang sedang berbicara dengan salah satu SPG produk kecantikan. Memilih beberapa produk kecantikan yang akan dia beli.


Tak lama, gadis itu berpindah. Mencari produk yang lainnya dan semakin menjauh dari suami yang menunggunya di depan.


"Arfi, ketemu lagi," sapa seorang wanita dan Arfi hanya menoleh.


"Pagi, Ayla."


"Ngapain pagi-pagi di sini?" Gadis itu merentangkan tangannya, mendekat ingin mencium, dan Arfi malah menghindar. Sekilas, aroma parfume si gadis tercium sangat pekat.


Arfi menarik napas, menjauh perlahan.


"Maaf, Ayla. Sudah kukatakan, aku sudah menikah." Lagi-lagi lelaki bermata sayu itu memperlihatkan cincin di jarinya.


"Terus kalau udah nikah harus sekaku ini, ya?" tanya gadis berambut gelombang itu seraya menyilangkan tangan di depan dada.


"Bukan kaku. Aku hanya menjaga diri, demi istriku."


Gadis dengan bibir berwarna merah menyala itu tertawa. Menggeleng, melihat perubahan sikap Arfi. Lalu, perhatian teralih pada Nigar yang masih berbicara dengan salah satu SPG di sana.


"Karena dia?" tunjuk gadis berpakain ketat itu. Arfi tak menjawab, karena pertanyaan itu memang tak butuh jawaban.


"Arfi, Arfi. Aku heran aja sama kamu. Kenapa setelah kenal gadis itu dua tahun lalu, tingkahmu semakin gak asyik. Selalu terfokus sama dia. Emang apa bagusnya?"


"Berhentilah membandingkan, karena setiap orang berbeda," kata Arfi malas. Badan itu berbalik, membelakangi Ayla dan itu membuat sang gadis semakin membara.


Kesal, Ayla membalikkan badan Arfi. Menatap wajah itu lekat dan dalam.


Plaaak


Satu tamparan mendarat di wajah tampan itu. Arfi hanya diam, sedangkan Nigar terpaku melihat suaminya ditampar wanita lain.


"Dua tahun lalu, tiba-tiba kamu membatalkam perjodohan kita. Aku tidak pernah lelah, aku terus mencoba mendekatimu. Tapi kenapa? Hanya gadis seperti itu yang kamu pilih?" tanya gadis itu getir.


"Kamu itu adalah calon suamiku, Arfi! Karena alasan kau yang tidak ingin menikah muda, kau membatalkan perjodohan kita? Lalu sekarang apa? Mengapa yang kau nikahi dia?"


Lagi dan lagi, lelaki itu hanya diam. Membuang pandangan, dan alis tebalnya bertaut saat menyadari sang istri tengah memerhatikan.


Arfi langsung mendekati Nigar, tersenyum lembut seraya mengelus puncak kepalanya.


"Sudah selesai, Sayang?" tanyanya lembut.


Nigar hanya mengangguk, matanya masih terfokus oleh gadis yang bersama dengan suaminya tadi.


Bingkai ranumnya terkembang, tersenyum ramah. Namun, gadis di sana memiringkan bibirnya. Menyibak rambut bergelombangnya, seraya memutar badan.


Nigar menarik napas, melihat Arfi yang terus memandangi dirinya.


"Wallahi, aku tidak pernah berhubungan dengannya," kata Arfi saat sepasang mata indah itu menatapnya.


Tahukah rasanya? Saat memiliki lelaki yang banyak diingini wanita lainnya?


Sesak, ingin marah. Namun, entah pada siapa.