
Ferdi melepaskan senyumnya, pahit memang. Saat cinta yang kamu harapkan akan berlabuh, nyatanya sandaran itu masih belum berlaku.
Rapuh. Namun, berusaha untuk tetap tegar. Lelaki itu berusaha untuk tenang, walau hatinya kini redam. Seperti terajam ribuan pedang.
"Apa kamu sangat mengingikan dia? Maksudku, ingin sekali bisa bersama dengan dia?"
Khadijah menggelengkan kepalanya, jari lentiknya mulai meraih gelas kopi. Menyesapnya dengan pelan. Nikmat, aroma dan rasa yang pas dari late yang ia pesan.
"Tak bisa dijelaskan. Yang pasti saya ingin agar kami bisa berkumpul bersama. Rindu ini sudah tak tertahan, entahlah. Semoga Allah memberikan aku kesempatan agar bisa bersama dengannya lagi." Bibir ranum itu mengembang, tatapannya kosong ke dalam gelas kopi.
Ada luka yang berusaha ia buka, sakit, bukan. Lebih tepatnya ada rindu yang membawa luka saat ini.
"Dia ... begitu berhargakah?" tanya Ferdi lagi. Walau sakit, dia masih sangat penasaran, seperti apa lelaki yang bisa dirindui wanita sesempurna Khadijah.
"Sangat. Bahkan jika seluruh dunia memberikan hartanya, saya hanya ingin dia. Tempat saya bermanja, dan tempat saya berteduh dari segala rasa. Dia sangat sabar, bahkan dia tidak pernah memarahi saya. Takdir kejam, memisahkan saya dan dia. Dia meninggalkan saya, padahal saya masih menunggunya. Tetapi, dia tidak pernah menemui saya lagi, walau sudah bertahun-tahun lamanya. Entah karena dia sudah lupa? Entahlah." Khadijah menggelengkan kepalanya.
Tanpa sadar, bulu lentik gadis itu telah basah. Meluruhkan sebuah asa yang telah lama punah. Ada luka yang tak perlu ungkapan untuk menunjukkannya. Cukup dengan sebuah tatapan dan raut wajah yang sangat pias.
Setiap orang punya lukanya masing-masing. Punya ceritanya sendiri, dan juga jalan penyelesaiannya yang berbeda. Tak perlu membandingkan lukamu dan lukanya.
Pasti akan beda sakitnya dan juga perihnya. Sebab manusianya beda, hatinya beda dan ketahanannya beda. Kamu menganggap lukamu yang paling dalam? Yakinkah itu?
Jika kamu berada di posisinya, belum tentu kamu akan baik-baik saja seperti dia. Bukan dia lemah, cara dia bertahan adalah dengan mengalah, entah itu pada takdir atau pada nasib buruknya.
Apa pun itu, jalanmu dan jalannya berbeda. Ceritamu dan ceritanya berbeda. Jangan samakan dan jangan bandingkan, karena tak akan ada perbedaan yang sama dan tak ada perbandingan yang serupa.
Mereka, mungkin terlihat lemah. Namun, belum tentu kamu sanggup melewatinya saat ada di posisi mereka. Jangan terlalu sombong, karena yang namanya ujian tidak melihat kamu yang angkuh, tetapi melihat kamu yang tangguh.
***
Nara menutupi wajahnya di tepi ranjang, terduduk di atas lantai. Sesenggukkan dalam, kali ini benar-benar dalam.
Apa yang telah dia lakukan semalam? Dia tidak sadar telah merelakan kehormatannya dengan lelaki yang tak ia kenal dengan dekat.
Sedang, manik berwarna cokelat itu terus menatap lekat. Di atas ranjang, Pedro terduduk lemas. Terkejut saat ia bangun sudah berada di ranjang bersama Nara.
Seluruh kejadiannya ia ingat, tidak dalam pengaruh alkohol. Namun kenapa? Ia bisa begitu konyol.
Merenggut kevirginan seorang gadis, ia mengusap wajahnya kasar. Tak mengerti bagaimana lagi menjelaskannya.
"Aku akan menikahimu, Nara."
"Bastard!" teriak Nara menaikan wajahnya.
"Kamu sengaja, kan, Dokter. Kamu sengaja menjebakku seperti ini?!" Nara menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan diri yang hina ini. Mengapa imannya begitu lemah dihadapan godaan pria.
"Seharusnya aku curiga! Aku harusnya waspada dari pertama kali kamu menciumku di depan Pak Ardan dan Pak Ferdi. Bastard!" maki Nara lagi.
Pedro hanya diam, memandangi Nara yang duduk di lantai kamarnya, menutupi tubuh dengan selimut tebal miliknya.
Tak bisa membela diri, hanya bisa menerima semua hinaan dan caci maki. Dia memang bajing*n, dia memang pecundang. Tak tahu setan apa yang menggodanya, sampai ia bisa kehilangan kendali seperti ini.
"Katakan sesuatu! Katakan sesuatu, Dokter!" teriak Nara geram.
"Makilah aku, cemoohi aku. Apa yang ingin kamu luapkan, kamu ingin memukul atau membunuhku, silakan. Setelah itu, menikahlah denganku."
"Mimpi!" teriak Nara beringsut mundur.
"Jangan terlalu bajing*n, Dokter. Setelah meniduriku kamu masih ingin memberikan janji palsu padaku?"
"Nara, percayalah. Aku tidak bermaksud merenggut kesucianmu, hanya saja--"
"Hanya apa? Ha? Kamu juga ada adik perempuan, kan, Dokter. Bagaimana jika adikmu juga mengalami hal sepertiku? Ha?" tanya Nara ketus.
Pedro berkali-kali mengacak rambutnya, tak tahan lagi. Ia turun dari ranjang dan mendekati Nara.
Secepatnya gadis itu bangkit, menyudutkan badan ke tembok.
"Kumohon jangan dekati aku! Bajing*n, mundurlah!" teriak Nara lantang.
Pedro mundur beberapa langkah, berdiri di dekat pintu seraya memandangi tubuh berbalut selimut itu.
Ada rasa sesal yang tak bisa ia jelaskan. Tentu, dia tak ada niat untuk meniduri gadis itu. Tetapi kenapa? Sepertinya Takdir terus membelengu mereka berdua?
Gadis itu tak berhenti menangis dengan mulut yang mercau tak jelas. Merutukki kebodohannya yang bisa terjatuh ke dalam rayuan si lelaki blasteran itu.
Nyatanya, lelaki itu tak pernah merayu. Memang dianya saja yang tak kuat menahan diri.
"Nara, aku ingin bertanggung jawab. Ayo kita menikah!" ajak Pedro lembut.
"Bodoh! Nara kau hina! Sungguh hina!" Nara menjedutkan kepala belakangnya ke tembok.
Secepat kilat, Pedro berlari, menahan kepala Nara dengan telapak tangannya.
Mata berlapiskan embun itu memandangi wajah Pedro. Tenang, tanpa ada ekspresi. Kembali bibir wanita itu terkekeh.
"Bajing*n! Kau sungguh bajing*n, Dokter. Tentu saja, hanya bajing*n yang pantas untuk perempuan hina sepertiku. Hahaha."
Pedro berjongkok, menghela napas dengan sangat berat.
"Nara, aku memang bajing*n. Tetapi kamu bukan gadis hina. Kamu itu gadis terhormat, hanya aku saja yang terlalu bajing*n, merebut kehormatanmu itu. Untuk sebuah maaf, aku tidak akan mengharapkannya, tapi izinkan aku bertanggung jawab, Nara. Bagaimana juga aku telah menyentuhmu."
"Mimpi!" teriak Nara ketus. Gadis itu menolak dada bidang Pedro. Seketika lelaki itu terjatuh, duduk di atas lantai.
Nara membuka lemari Pedro, mengeluarkan beberapa baju milik lelaki itu dan segera berlalu ke kamar mandi.
Lelaki blasteran itu hanya terdiam, bergeming untuk beberapa waktu Terus terang ia juga terkejut, mengapa ia bisa begiti pengecut? Meniduri wanita yang lemah itu.
Pedro menghela napas, mengacak rambutnya dan menjambaknya kesal.
Suara dari pintu mengalihkan pandangannya, Nara keluar dengan jaket dan celana miliknya yang kebesaran. Berlari keluar dari kamar, namun, tertahan oleh tangan Pedro yang menarik lengannya.
"Aku antar pulang," tahan Pedro lembut.
Gadis itu melepaskan cengkeramaan tangan Pedro dengan kasar.
"Jangan sentuh aku!" teriak Nara ketus.
"Beraninya kamu meyentuhku setelah melukaiku, bajing*n!"
Pedro hanya diam, pandangannya tertunduk ke bawah. Ia menerima segala kemarahan gadis itu dengan lapang dada. Tahu dan cukup sadar akan kesalahannya.
"Aku bersumpah! Mengenalmu adalah hal yang paling aku rutukki sepanjang hidup ini. Mulai sekarang! Menjauhlah dariku, bajing*n!"
"Nara, biar aku antar. Bagaimana bisa kamu pulang dengan pakaian seperti itu?" tahan Pedro lagi.
"Lebih baik aku pulang dengan pakaian seperti ini dibandingkan di sini bersama iblis sepertimu, Dokter!"
"Tapi, bagaimana jika ada seseorang yang berniat jahat saat melihatmu begini?"
"Penjahatnya itu kamu! Yang jahat itu kamu, bajing*n. Pengecut, pecundang!" teriak Nara lagi.
"Ya! Aku penjahat itu, aku pecundang itu, aku pengecut itu. Karena itu, biarkan bajing*n ini bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan! Aku hanya mau bertanggung jawab, Nara. Aku hanya ingin menikahimu yang sudah tersentuh!" teriak Pedro kesal.
Plaaak
Sebuah tamparan mendarat di pipi lelaki itu. Buliran yang terus luruh kini semakin deras melintasi wajah.
"Kamu yang merusakku, Dokter. Kamu yang menyentuhku! Itu kamu!" teriak Nara melengos ke luar dari pintu.
Berlari, menembus jalanan pagi yang belum banyak orang berwara-wiri. Punggung tangan terus mengusap pipi, membasuh wajah yang tak akan pernah kering lagi.
Ia berhenti, membungkuk seraya mengambil napas yang hampir saja terhenti. Entah apa lagi yang akan terjadi setelah ini? Bahkan memikirkannya saja membuat ia jijik.
Gadis itu kembali berlari, membelah jalanan raya. Langkah kecilnya dibuat sekencangnya, ingin segera bersembunyi dari dunia.
Menyembunyikan diri yang teramat hina dan juga kotor ini.
Nara membuka pintu kontrakannya dengan sedikit tergesa. Ia langsung berlari ke kamar mandi dan mengguyur badannya dengan air.
Bukan satu atau dua gayung, namun, hampir menghabiskan seluruh air di dalam bak penampungan. Badannya menggigil, gemetaran karena hawa dingin yang menembus kulit.
Gadis itu melepaskan pakaiannya, melihat jejak noda pada dirinya. Kembali ia menangis, menyesali mengapa ia bisa begitu bodoh.
Memaki, merutukki, diri yang terlanjur ternoda tak akan bersih lagi. Kulit putihnya berhiaskan bercak merah, jejak-jejak bibir lelaki blasteran itu yang menikmati setiap jengkalnya semalaman.
Ia bergidik, geli, jijik dan ... entah. Ia kembali mengambil gayung, menghidupkan keran air dan mengguyur badannya yang telah menggigil kedinginan.
Menghabiskan banyak air, akan tetapi mengapa? Ia masih merasa sangat kotor. Bukan kulitnya, namun jiwanya. Yang telah melakukan dosa zina.
Betapa hinanya dia, betapa murahannya dia. Sebagai gadis, dia telah kehilangan mahkotanya, kepercayaannya dan juga harga dirinya. Lantas, apa lagi yang bisa ia banggakan?
Nara meringsut, menyudutkan badan di sudut kamar mandi. Menggigil dan juga menangis pilu. Tergugu, badan putihnya memucat, wajah cantiknya membengkak karena terlalu banyak menangis.
"Tuhan," lirihnya pedih. "Masihkah aku ini hambamu? Hamba yang penuh noda kehinaan, aku berdosa, aku hina. Allah ... aku menyerah."