
Ardan membuka pintu garasi rumah Erlangga. Berjajar lima mobil sport dan mobil mewah dengan harga yang tidak murah. Beberapa merek yang sama dengan yang pernah Hazel lihat kemarin. Dan satu mobil berbodi besar yang mengingatkan Hazel dengan keluarganya dulu.
"Everest," lirih Hazel sembari memandangi mobil hitam legam berbodi besar itu.
"Kamu suka yang itu?"
Hazel mengalihkan matanya dan memandang ke arah Ardan. Ia menggelengkan kepalanya pelan.
"Ini semua mobil punya kamu?"
"Dulu."
"Kenapa warnanya hitam semua?"
"Warna hitam itu keren, sama kayak pemiliknya," ucap Ardan sembari membuka pintu mobil sport Mclaren miliknya.
Sementara mata Hazel masih memandangi mobil berbadan besar itu. Jari-jarinya menyentuh badan mobil itu dengan lembut.
Ardan yang sudah masuk ke dalam mobil sport itu menatapi Hazel dari kaca spion. Ia turun dan menutup pintu mobil Mclaren itu kembali.
"Mau naik yang itu? Agak ribet kalau dipakai akhir pekan. Bodinya besar buat sedikit ribet membelah jalanan ibu kota."
"Hem, aku hanya ingat. Dulu ayah juga punya mobil dengan merek ini. Karena kami bukan orang kota. Punya mobil seperti ini pasti buat heboh sekampung. Setiap Minggu, aku dan teman-teman sering di antar ayah naik mobil ini." Hazel menghapus sudut matanya, tersenyum lembut melihat Ardan.
"Jadi mau nostalgia lagi?"
Hazel menggelengkan kepalanya, ia meraih lengan kekar Ardan berjalan keluar dari garasi rumah Erlangga.
"Kita mau pacaran kan, Mas."
"Hmm."
"Aku sering lihat orang pacaran itu sering jalan-jalan naik motor, Mas. Kita naik motor aja ya."
"Hem, motor Arfi lama gak dipakai, coba aku tanya dia dulu masih--"
Hazel menggoyangkan lengan Ardan, melirik ke arah motor matic yang terparkir di depan pos satpam rumah Erlangga.
Ardan memgalihkan pandangan, dahinya berkerut seketika saat mengerti tatapan Hazel.
Ia menoleh ke arah Hazel, wanita itu tersenyum lembut. Meggoyangkan lengan Ardan manja.
"Motor itu terlalu pendek, Hazel. Dengan tinggi badanku yang seperti ini, aku gak nyaman naik itu."
"Lalu? Motor sport begitu. Mas pikir aku nyaman dengan keadaan hamil begini?"
"Kalau begitu naik mobil saja"
Hazel menggulum bibir bawahnya, menggoyangkan tangan Ardan dengan manja.
Lelaki berbadan kekar itu menghela napas, tertunduk lesu sembari mengusap kasar rambutnya.
"Jangan pasang wajah seperti itu. Egoku akan kalah dengan paras itu," lirih Ardan pelan.
Ardan mengambil jemari tangan Hazel dan menciumnya lembut.
"Ini panas. Bagaimana jika kulit putihmu menjadi eksotis sepertiku?"
"Terus Mas gak suka aku lagi, gitu?"
"Enggak."
"Baguslah!"
Ardan terkekeh, ia berjalan mendekati pos satpam itu. Meminjam motor matic milik lelaki tua di balik pos penjagaan. Ia menyerahkan beberapa lembar uang dan sebuah kunci mobil ke hadapan lelaki itu.
"Mas, ini?" tanya lelaki tua dengan nama Bagio tertulis di seragamnya.
"Kita tukaran, saya bawa motor punya Bapak dan Bapak nanti pulang bawa mobil saya."
"Eh, mana bisa begitu, Mas. Nanti kalau ketahuan Tuan Besar, bisa dimarahi saya. Ini uang juga gak perlu, kalau Mas mau pakai motor, pakai saja. Nanti saya pulang mah gampang," jawab lelaki berambut setengah putih itu lembut.
Ardan tersenyum dan mendorong lembaran uang itu ke depan si Bapak, beserta kunci mobil Mercy miliknya.
"Shift kerja Bapak akan berakhir, kan? Ambil uang ini dan bawalah keluarga Bapak jalan-jalan saat akhir minggu seperti ini. Anggap saja rezeki anak dan keluarga Bapak." Ardan meninggalkan dua benda itu di hadapan si Bapak.
Lelaki tua itu masih bergeming, memandangi punggung berbalut jaket levis itu menghidupkan motor miliknya.
Bibir keriput itu tersenyum sesaat setelah Ardan keluar dari pagar rumah. Ia melihat dua benda itu dengan mata berbinar. Lelaki itu, tidak pernah menutup tangan atas kesusahan orang. Anggota Erlangga yang paling perhatian terhadap sekitar.
***
Hazel memasukan popcorn ke dalam bibir mungilnya. Mata bulatnya memandang dengan lekat ke dalam layar besar yang ada di hadapannya. Wajah dan badannya ikut menegang saat adegan pembunuhan di film itu terputar.
Wanita itu memegangi perutnya yang mual karena terlalu asyik menonton film dengan aksi pembunuhan.
"Masih mual?" tanya Ardan dengan membawa teh manis hangat ke arah Hazel.
"Mas sih! Sudah tahu aku hamil. Kenapa ngajakin nonton film action?" gerutunya kesal.
Ardan menyilangkan kedua tangan di dada, melirik ke arah Hazel sinis.
"Tapi ada yang menikmati, tuh!" ketus Ardan tidak mau kalah.
Hazel menyunggingkan sebelah bibirnya, menyeruput teh hangat di dalam genggaman.
"Masih mau nonton gak?"
Cepat kepala Hazel mengangguk.
"Tapi kali ini biar aku yang pilih filmnya."
"Baiklah," jawab Ardan mengalah.
.
.
Mata sayu lelaki itu terbelalak lebar saat melihat poster besar yang ada di depan mata. Ia memalingkan wajah ke arah Hazel yang menampilkan ekspresi semanis mugkin.
"Ya, Mas," bujuk Hazel lembut.
"No!"
"Masss." Hazel menggoyangkan lengan Ardan manja.
"Enggak, Hazel!" tekan Ardan ketus. "Aku ini lelaki berumur 33 tahun. Kamu ngajakin aku nonton ini? Mau taruh di mana mukaku?"
"Tapi aku mau nonton ini, Mas."
Hazel mengurucutkan bibirnya, perlahan pandangannya tertunduk ke bawah. Cekalan tangannya di lengan Ardan melemah.
"Ya sudah. Kita pulang saja yuk!" ajak Hazel lemas.
Ardan menghela napas berat, ia mengusap wajah kasar. Kali ini ia benar-benar lemah.
'Dasar wanita, andalannya selalu merajuk dan ngajakin pulang,' batin Ardan menggerutu kesal.
"Hazel, kumohon nonton film yang lain saja ya. Masa lelaki seumuranku nonton Disney, mana Barbie lagi. Astaga! Aku harus bagaimana?" tanya Ardan miris.
"Ya sudah. Mas belikan vcd Disney saja, nanti aku nonton di rumah," jawab Hazel menundukan pandangannya.
"Bener ingin nonton ini?"
Hazel mengangguk.
"Memang gak mau nonton yang lain?"
"Aku gak pernah nonton di bioskop, Mas. Pingin lihat Barbie di layar gede," pinta Hazel manja.
Ardan memandangi wajah Hazel dengan tatapan miris. Berkali-kali menghela napas dengan sangat berat.
'Mirisnya nasib istriku ini. Lebih miris lagi aku yang gak bisa nolak.'
Ardan menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia memandang poster berwarna pink itu dengan lekat. 'Kenapa harus ada film ini, sih? Sialan!' umpat Ardan dalam hati.
"Ayo," ajak Ardan lemah.
Seketika senyuman manis merekah di bibir mungil wanita itu. Ia menarik lengan Ardan masuk ke dalam.
Sedang, Ardan berkali-kali menghela napas. Mengacak rambut yang seketika terasa sangat gatal. 'Sialan emang! Lagi-lagi egoku kalah dengan senyuman itu,' batin Ardan kesal setengah mati.
***
Kini, di sini lelaki itu berada. Di bibir hamparan hijau taman kota. Dengan menyandarkan bokong di jok motor, ia menyilangkan tangan di depan dada.
Setelah menonton beberapa film dan bermain di mall. Ia memilih taman di pusat kota untuk menghabiskan waktu di penghujung sore. Menikmati suasana yang telah lama tidak ia rasakan, tempat muda-mudi biasa berkumpul di saat senja.
Beberapa kelompok bernyanyi sembari memetik senar gitar bersama teman sepermainan. Ada yang hanya duduk sendirian, ataupun duduk bersama pasangan sekadar menikmati penghujung Minggu di ibu kota.
Mata sayu itu teralih pada wanita berbalut drees kuning dengan motif bunga. Jaket jeans biru menutupi sebagian badan kecilnya. Berjalan dengan sekantung gorengan dan dua plastik es teh manis, ditambah satu cup es krim cokelat yang sedang ia makan.
Tangan kecil itu terulur, menyerahkan kantungan itu ke Ardan. Setelah menggantung plastik berwarna putih itu di salah satu setang motor, Ardan memutar badan Hazel yang berdiri di hadapannya. Mendekap erat tubuh mungil itu dari belakang, pantat tertumpu di jok motor yang tercagak miring.
"Bagaimana?" tanya Ardan sembari meletakan dagu di atas pucuk kepala wanitanya.
"Apanya?" tanya Hazel kembali, gigi putihnya menggigit ujung sendok es krim.
"Kencan. Bagaimana rasanya?"
"Menyenangkan."
"Kamu suka?"
"Ehm," jawab Hazel memasukan es krim ke dalam mulutnya, lalu ia menggigit ujung sendok itu kembali.
Ardan mencebik kesal, ia mengambil sendok itu dengan sedikit kasar.
"Bukan anak kecil, kenapa suka sekali menggigit sendok es krim?" tanyanya sedikit ketus.
Hazel membalikan badannya, merebut sendok itu dengan paksa.
"Yang kugigit sendok. Bukan, Mas, kenapa heboh sekali?"
Ardan hanya menggeleng, ia mengambil es teh manis dan meneguknya melalui sedotan. Mata sayunya menatap binar oranye di ujung sana.
"Lihat." Ardan kembali memutar badan Hazel. Binar mata berwarna madu itu langsung melebar, melihat warna jingga menghiasi langit ibu kota.
Hal yang ditunggu oleh setiap pengunjung taman hari ini. Menikmati sinar jingga di penghujung senja. Menyaksikan dengan mata, perubahan warna biru menjadi hitam dengan jingga di antara keduanya.
"Cantik ya, Mas."
"Tapi gak secantik kamu, Sayang," bisik Ardan lembut di telinga Hazel.
Seketika wanita itu tersenyum, menggigit bibir bawah pelan. Perlahan, rona merah menghiasi pipi putihnya. Ada desiran yang terasa hangat memasuki rongga dada saat mendengar Ardan memanggilnya, Sayang.
Sementara, Ardan menautkan kedua alis tebalnya ketika melihat wanita yang ada di dekapannya berdiri dengan lasak. Sesekali wajahnya tertunduk dengan senyum yang menghiasi wajah.
Melihat ulah Hazel, Ardan memutar badan wanita itu. Melihat dengan jelas rona yang tergambar di wajah istrinya itu.
"Kamu kenapa?" tanya Ardan bingung.
Hazel menggeleng, wajahnya tertunduk dengan jari tangan memilin ujung jaket.
"Kenapa?" goda Ardan tak tahan.
"Ck ... gak apa-apa!" balas Hazel jutek.
"Kenapa, Sayang?" tanya Ardan berbisik, namun menegaskan panggilan Sayang.
Hazel menutupi wajah dengan kedua tangan, ia menyembunyikan wajah ke dada bidang Ardan. Tak bisa dipungkiri, jantungnya berdebar kuat saat Ardan memanggilnya selembut itu.
"Kamu malu gara-gara aku panggil, Sayang?"
"Em ... Maaass." Jawaban manja itu mampu membuat Ardan terbahak. Ia mengambil ujung bahu Hazel, melihat rona wajah yang semakin memerah.
"Memang kenapa bisa semalu itu? Apa gak pernah ada lelaki yang memanggilmu Sayang sebelumnya?"
Hazel tersenyum, ia menggelengkan kepala dan kembali meyembunyikan wajah di dada bidang suaminya itu.
"Bagaimana dengan Iqbal?"
"Hanya dalam chat atau pesan."
Senyum di wajah Ardan memudar, ia mendekap badan Hazel erat. Memejamkan kelopak mata dengan tegukan saliva yang terasa pahit.
'Aku tidak tahu harus berucap apa? Bagaimana bisa kamu sebahagia itu hanya karena sebuah panggilan sayang dariku? Sesederhana itukah kebahagiaanmu?' batin Ardan miris.
Tangannya mulai menyentuh pucuk kepala Hazel. Mengelusnya lembut.
"Sayang," bisik Ardan lagi.
Jari lentik itu mencubit dada kekar Ardan. Lelaki itu terbahak, tetapi hati tersayat.
'Bagaimana mungkin? Saat gadis yang lebih muda darimu saja sudah terbiasa mengumbar kata cinta. Kamu bisa tersipu dengan hanya panggilan Sayang? Hazelku, haruskah aku bahagia atau bersedih melihat kepolosanmu? Sungguh aku mengasihi kelam masa lalumu itu, Hazelku.'