For My Family

For My Family
133



Nigar memerhatikan setiap gerakan Hazel yang tengah memakaikan baju pada bayi kecilnya. Cekatan, seperti sudah terlatih merawat bayi itu.


Perlahan bibir ranum itu mengembang, jarinya meraih genggaman kecil ponakannya tersebut.


Mata berwarna madu itu melirik. Memandang wajah cantik adiknya.


"Nigar."


"Ya."


Hazel menghela napas, ia mengangkat bayinya, lalu meletakan di atas pangkuan.


"Kamu ... mencintai Arfi, bukan?"


Pandangan itu menunduk, tak mampu menjawab.


"Kalo kamu memang mencintainya, kenapa kamu tidak memperjuangkannya saat aku melarangmu?" tanya Hazel lembut.


"Dulu saja dia menyerah mempertahankanku karena dilarang oleh keluarganya. Bukan, dia menyerah padaku karena aku tidak lagi perawan. Kenapa sekarang aku harus berjuang untuknya?"


Hazel mendesah, satu tangannya meraih jemari Nigar.


"Jika memang kamu mencintainya, tidak ada salahnya memberikan kesempatan untuk dia memperbaikinya."


Nigar tersenyum getir, ia membuka tangannya. Membalas genggaman tangan Hazel.


"Kamu punya alasan kenapa melarangku untuk menikahinya, bukan? Kenapa sekarang kamu malah mendukung dia, Hazel?"


"Aku hanya berpikir, Arfi belum cukup dewasa untuk menghadapi masalah. Aku takut dia tidak sanggup melindungimu mengingat keluarganya yang sangat rumit. Tapi, jika memang kamu dan Arfi sama-sama mencinta. Mungkin walau kalian banyak mengalami penderitaan, itu juga yang membuat kalian bahagia, bukan?"


Nigar tersenyum, tak menjawab. Lebih memilih diam, karena memang tak butuh alasan untuk meninggalkan.


"Tapi aku sudah menerima Pak Ferdi, aku ... tidak tega meyakiti hatinya, Hazel."


Gadis beriris madu itu hanya tersenyum, kepalanya menoleh saat mendengar ketukan pintu.


Sigap gadis berhijab itu membukanya, melihat Ardan yang ada di balik pintu, sudah rapih dengan jas yang membalut tubuhnya.


"Kalian sudah sarapan?" tanya Ardan lembut.


Nigar membuka lebar pintunya, lelaki bermata elang itu langsung menangkap bocah kecil yang berlari ke arahnya.


"Anak Papa. Kau sudah makan?" tanya Ardan seraya menggendong Surya di salah satu lengannya.


Surya menggeleng, dengan tangan mungil yang ia lilitkan di leher Ardan.


"Tante, tolong siapkan bubur Surya," pinta Ardan seraya memberikan sekantung plastik ke tangan Nigar.


Gadis itu menerimanya dengan tersenyum, membawa pemberian Ardan ke dapur.


Seperti lupa akan masalahnya, lelaki berumur kepala tiga itu riang tertawa, bermain bersama putra Hazel tersebut.


Bahkan dia melupakan, bahwa nama belakang Surya, persis dengan nama Letnan Kolonel yang ia bahas dengan Arfi tadi pagi.


"Mas," panggil Hazel lembut.


Mata elang itu berpaling, melihat sang istri yang mendekat dengan baki di tangannya.


"Makan dulu, Surya biar mandi dulu."


Lelaki itu mengangguk, melepaskan sang putra kembali ke tangan Hazel.


Dari luar pintu kamar mandi, Nigar memerhatikan Hazel memandikan putranya. Sesekali tawanya pecah, saat cipratan air membasahi wajahnya.


Tidak ada rasa kesal, walau Nigar sadar. Hazel tengah lelah karena Yena yang sering terbangun dan menangis semalaman.


"Hazel."


"Hem."


"Ayah Regan pernah bilang padaku, jika kamu menikahi salah satu anggota tentara."


Gerakan Hazel terhenti sejenak, perlahan ia meneguk salivanya berat. Mengingat itu, entah kenapa dia masih terluka.


"Benar, aku memang menikahi Iqbal Sandyka. Tentara perbatasan yang menyelamatkanku kala itu."


"Lalu, kenapa kamu bisa menjadi istrinya Pak Ardan?"


Hazel menarik handuk di pintu, lantas membungkus tubuh Surya dengan handuk itu.


"Sersan itu, meninggal di sana setelah menikahi aku, Nigar. Dan dia, menitipkan anak ganteng ini sebagai kenangannya." Hazel menciumi pipi gembil itu, geram.


"Jadi, dia bukan anak Pak Ardan?" tanya Nigar kaget.


Hazel menggeleng, bibirnya terkembang dengan sangat lebar. Memperlihatkan dua lesung dalam di pipinya.


Sementara mata gadis berhijab itu teralih ke arah luar. Melihat Ardan yang sedang sarapan seraya bermain dengan Yena.


Jika Ardan bisa menerima segala kekurangan Hazel. Mengapa? Adiknya tidak bisa bersikap sama?


Bahkan lelaki itu, terlihat sangat tulus menyanyangi Surya yang bukan darah dagingnya.


Sekilas, ucapan Ferdi kala itu terngiang di telinganya.


'Karena aku ... mencintai dirinya. Dan juga, akan mencintai bagian dari dirinya. Mau itu kesalahannya atau kesalahan orang lain yang melukainya. Aku ingin dia, bagian dirinya, dan apa pun tentangnya.'


Tak peduli apa pun itu, karena cinta, tak pernah memandang siapa kamu dan masa lalumu. Hanya ada kamu, senyummu dan bahagiamu.


***


Arfi melirik jam tangan yang melingkari pergelangan kirinya. Matanya menyisir, melihat jalanan sepi.


Menanti, menunggu gadis belia yang ia rugikan semalam tadi. Terduduk di halte, dengan kedua siku yang tertumpuh di atas dengkul.


Menyesap rokok, dengan sesekali mengembuskan asapnya ke atas.


Sebuah busway berhenti tepat di depan Arfi. Gadis belia dengan jeans putih dan kaus pink turun dari dalam kendaraan itu.


Dengan ransel mungil dan rambut kuncir kuda. Gadis bertubuh mungil itu menghampiri Arfi.


Berdiri di hadapan Arfi, mata bulatnya menelisik penampilan lelaki tersebut.


Sementara lelaki itu hanya acuh, memerhatikan wajah muda itu sekilas. Lalu, menunduk dan menghempaskan rokok di sela jari.


"Jadi kamu yang semalam aku rugikan?"


Gadis itu mengangguk, kedua jemarinya erat mengenggam tali ransel.


"Nama Om, siapa?" tanyanya lembut.


Dahi Arfi mengernyit. "Tunggu dulu, yang kamu panggil Om itu aku?" tanya Arfi bingung.


Gadis belia itu mengangguk. Membentuk senyum getir di wajah tampan lelaki berumur 28 tahun itu.


"Oh Lord. Masih keren begini, dipanggil, Om?" gumam Arfi.


"Om, nama Om siapa?" tanya gadis itu mengulangi.


"Arfi. Arfi Erlangga," jawab lelaki yang tengah menumpuhkan kedua sikunya di atas paha itu.


Sebuah tangan terulur ke depan wajah Arfi. Lelaki itu melirik, memandang wajah belia yang ada di hadapannya.


"Sasy. Sasy Andhara Sandyka."


Arfi memanyunkan bibirnya, meraih uluran tangan itu. Lalu kembali acuh.


"Om sudah menikah?" tanya gadis kecil itu lagi.


"Belum."


"Kalo begitu, Om mau ganti rugi dengan cara apa?"


Arfi menghela napasnya, ia meraih dompetnya dan mengeluarkan sebuah kartu tanpa limit dari dalamnya.


"Ambil ini, pakai sepuasmu. Sampai kamu merasa senang dan tidak mempermasalahkan lagi kejadian semalam. Hem." Arfi menyelipkan kartu itu di antara sela jarinya.


Matanya memandangi wajah belia itu, angkuh, dengan apa yang dia miliki.


Sasy menarik kartu itu, membuat bibir Arfi terkembang lebar.


"Baiklah, kalo begitu--"


Plaaak


Satu tamparan menghentikan ucapan Arfi. Gadis itu menjatuhkan kartu itu, lalu menginjaknya kasar.


"Apa Om pikir aku ini wanita bayaran? Om sudah menciumku, lalu membayarku, begitu?" tanya belia itu membara.


Pendar mata bulat itu memandang penuh kebencian. Kornea indah itu, dilapisi kaca bening.


"Aku bukan gadis bayaran, Om!"


Gadis itu membalikan badannya, langkahnya menuju ke arah jalan. Cekatan tangan Arfi mencekal lengan gadis tersebut, saat mata menyadari ada kendaraan yang mendekat.


Menarik tubuh mungilnya kembali ke dalam halte.


"Maaf," lirih Arfi seraya membungkuk, menyejajarkan wajahnya dengan wajah gadis belia itu.


Mata bulat itu memandangi wajah Arfi lamat-lamat. Harum tubuh yang sangat maskulin, dengan tatapan mata yang begitu tajam. Hidung mancung dengan batang tegas yang menawan dan juga rahang kokoh dengan dagu yang terbelah, sempurna dengan bibir bawah yang agak tebal dan sedikit memerah. Tampan.


Tanpa sadar bibir gadis itu terkembang, terpesona oleh raut wajah menawan lelaki dewasa yang ada di hadapan.


Menciptakan desiran rasa yang tidak pernah singgah selama ini.


"Katakan, kamu mau aku bagaimana untuk menebusnya? Bukannya aku sudah merusak gaunmu?"


Sasy mengangguk, Arfi menghela napas, lantas badan kekar itu menegak kembali.


"Kamu mau aku mengganti gaunmu?" tanya Arfi lagi.


"Dibandingkan itu boleh gak kalo aku minta yang lain, Om?"


"Kamu mau apa? Katakan saja, akan kubelikan semuanya."


"Aku gak butuh barang, Om."


"Lalu?" tanya Arfi memandang gadis belia itu.


"Bagaimana kalo Om jadi pacar aku saja?"