For My Family

For My Family
40



Ardan membuka lemari es dan mengambil sebuah jeruk lemon. Mengiris tipis dan memasukan ke dalam air dingin miliknya.


"Anda sedang apa, Pak?" tanya Hazel yang baru datang dari belakang.


"Mengambil air," jawab Ardan sembari membereskan sisa pekerjaannya.


Hazel memalingkan matanya, melihat gelas air Ardan dengan dua irisan tipis jeruk lemon di dalamnya. Pantas saja, selama ini lemari esnya tidak ada bahan makanan tetapi selalu ada jeruk lemon.


Ternyata lelaki posesif ini suka mengonsumsi minuman asam.


"Masih pagi, anda belum ada sarapan tetapi sudah minum air asam. Tidak takut lambung anda bermasalah?"


Ardan melirik ke arah Hazel sekilas, berjalan menjauh sembari menggoyangkan air dalam gelasnya.


"Saya sudah mengomsumsi ini dari sepuluh tahun lalu dan masih baik-baik saja."


"Hem, anda mau sarapan apa?"


"Tidak perlu, kamu buat untuk kamu dan Surya saja. Saya tidak terbiasa makan sepagi ini," jawab Ardan sembari menarik kursi di depan pantry.


Hazel tersenyum lembut dan mengeluarkan beberapa roti tawar, mengoleskan mentega sebelum dimasukan ke dalam pemanggang.


"Bagaimana anda bisa memimpin perusahaan tanpa sarapan? Sarapan itu bagus untuk menambah konsentrasi saat bekerja."


"Benarkah?" tanya Ardan tak percaya. "Bagaimana saya bisa mendapatkan pernyataan seperti ini dari seseorang yang bahkan jarang sekali makan?"


Hazel kembali tersenyum, ia mengambil dua lembar roti yang baru selesai di panggang dan meletakannya di depan Ardan. Ditambah segelas susu untuk menemani sarapan lelaki angkuh itu.


Ardan memandangi punggung badan Hazel yang kembali sibuk pada masakannya.


"Hazel kamu melupakan sesuatu?"


"Ehm, apa?" tanya Hazel berbalik ke arah Ardan.


"Saya tidak minum susu," ucap Ardan mengambil piring roti itu dan berjalan meninggalkan Hazel sendiri di dapur.


Hazel menyentuh sudut dahinya, bagaimana ia bisa lupa kalau lelaki dewasa itu pernah mengatakan apa yang harus ia ingat sebelumnya.


Hazel menginggit ujung jarinya, padahal ada hal yang ingin dia bahas pagi ini dengan Ardan. Tetapi sepertinya suasana hati lelaki itu telah memburuk lebih dulu karena ulah dia.


Hazel menghela napas dan mulai memasukan semangkuk ketan ke dalam rebusan air yang telah ia didihkan tadi.


"Hazel kamu lagi apa?"


"Ah." Tanpa sengaja tangannya tersentuh badan panas panci itu. Suara mbok Darmi membuat ia terkejut.


"Kamu ini, makanya kalau lagi masak jangan melamun. Sana obati lukamu dulu, biar Mbok yang masak sarapan Surya," ucap mbok Darmi mengambil alih masakan Hazel.


Hazel meniup lembut jari tangannya yang terasa panas. Ia melihat ke arah pintu kamar Ardan, perlahan ia berjalan ke kamar itu dan mengetuknya perlahan.


"Masuk!" jawaban langsung dari dalam.


Hazel membuka perlahan pintu itu dan tersenyum kikuk.


"Ada apa?" tanya Ardan yang sudah bertelanjang dada dan hanya menggunakan handuk melilit pinggangnya.


"Saya mau ambil salap luka bakar, Pak."


"Masuklah, ambil sendiri," perintah Ardan dingin.


Hazel mengangguk dan berjalan ke sebelah ranjang Ardan. Membuka laci nakas, tangannya terhenti saat melihat sebuah kalung dalam kotak kaca. Baru ingin menyentuhnya, tetapi suara bariton lelaki itu lebih dulu mengejutkannya.


"Ada?" tanya Ardan mengejutkan wanita itu.


Hazel langsung membuka laci yang kedua dan mengeluarkan salap itu dari dalam.


"Ada."


"Tanganmu terluka?"


"Sedikit," jawab Hazel lembut.


Ardan menghela napas dan berjalan ke arah Hazel, menarik jari Hazel untuk memastikan lukanya.


"Sarapan, agar konsentrasi memasakmu meningkat," ledek Ardan ketus.


Ardan menarik salap itu dan memoles lembut di jari mungil wanita itu. Setelah selesai, ia memberikan selembar roti yang dipanggang Hazel tadi.


"Makanlah, hati-hati saat memasak di dapur. Kulit wanita itu sangat berharga," ucap Ardan dingin.


Hazel mengambil roti yang di sodorkan Ardan, melihatnya dengan lekat. Lelaki itu beranjak pergi setelah memberikan roti, berjalan ke arah kamar mandi.


"Hem, Pak."


"Kenapa?"


"Maaf, saya lupa kalau anda tidak suka susu," ucap Hazel lembut.


Ardan tersenyum lembut, melirik sekilas ke arah Hazel yang berdiri di belakangnya.


"Saya suka susu, tetapi bukan susu yang seperti itu."


"Hah? Maksudnya?" tanya Hazel bingung.


Ardan mengangkupkan tangannya di depan bibir, menahan agar ia tidak tertawa.


"Lupakanlah, saya harus mandi, ini sudah siang. Apa kamu mau membantu saya mandi?" tanya Ardan menggoda.


"Hah? Eh, em itu, apa saya harus?" tanya Hazel kembali.


Ardan terkekeh dan membalikan badannya, sebenarnya wanita ini kenapa? Terkadang ia terlihat sangat pintar dan tangguh, tetapi juga terlihat sangat polos dan mudah digoda.


"Masuklah, kamu harus menggosok punggung saya," perintah Ardan menahan tawa.


"Hah, anda serius? Tapi saya juga harus mandi untuk berangkat kerja," jawab Hazel ragu.


"Kalau begitu mandi saja bersama, bagaimana?"


"Jangan!" sanggah Hazel ketus.


"Kenapa? Bukannya akan lebih cepat kalau kita bisa saling membantu menggosok badan?"


"Saya rasa itu akan semakin lama," jawab Hazel cepat.


Ardan mengerutkan dahinya, ia berjalan mendekati Hazel. Perlahan wanita itu memundurkan langkahnya, sampai kakinya menyentuh bibir ranjang. Tertahan oleh tempat tidur besar itu.


Ardan tersenyum nakal dan semakin mendekatkan badannya ke Hazel. Perlahan ia menundukan wajahnya, menyamai wajah wanita muda itu.


"Memang kenapa bisa lama? Apa yang akan kita lakuin di dalam sana, hm?" tanya Ardan lembut. Alisnya naik turun dengan cepat.


"Hmm ... hmm." Hazel memutar bola matanya, berusaha keluar dari suasana ini.


"Pak," panggil Hazel takut.


"Hm."


"Itu, apa saya boleh bertanya?"


"Katakan!"


"Apa anda meminta Dokter Pedro untuk datang ke sini?" tanya Hazel lembut.


Ardan menjauhkan badannya dari wanita itu. Perlahan ia duduk di atas ranjang beralaskan sprai putih itu.


"Benar," jawab Ardan malas.


"Tapi untuk apa?" tanya Hazel kembali.


"Saya rasa, akan lebih nyaman kalau Surya bisa terapi tanpa harus menunggu lama. Saya hanya ingin Surya bisa lebih nyaman saat menjalani pengobatannya, itu saja."


"Tetapi saya rasa itu tidak perlu, Pak. Selama ini Surya sudah terbiasa mengantre lama, selain itu dia juga bisa berinteraksi dan bertukar informasi dengan pasien lainnya."


"Kenapa? Apa kamu pikir saya ingin mendekati anakmu hanya untuk mendapatkam dirimu?"tanya Ardan ketus.


"Em bukan ... bukan," jawab Hazel cepat. Ia ikut duduk di sebelah Ardan.


"Saya hanya tidak ingin merepotkan anda, terlebih lagi membuat anda harus mengeluarkan banyak uang untuk kami."


Ardan menghela napas, perlahan tangan kekarnya menyentuh pucuk kepala wanita itu.


"Saya merasa senang jika kamu bisa terus merepotkan saya." Ardan terdiam.


'Tunggu dulu, apa ini? Kenapa aku bisa berkata seperti ini? Apa ... ini yang pernah dikatakan Ferla dulu? Aku akan sangat senang saat direpotkan oleh wanita?'


"Pak," panggil Hazel sambil menyentuh lembut tangan Ardan.


"Eh iya, kenapa?" tanya Ardan kembali pada wanita di sebelahnya ini.


"Bisa tangan anda pindah? Tangan anda sangat berat," ucap Hazel lirih.


Ardan menarik tangannya dari pucuk kepala Hazel, cepat.


"Maaf, ada sesuatu yang mengganggu pikiran saya."


"Hem, kalau begitu saya tidak akan menganggu anda lebih lama lagi. Permisi."


"Tunggu!" Tahan Ardan cepat.


"Iya."


"Siapkan kemeja saya sebelum keluar, saya tidak sempat memilih lagi." Ardan bangkit dengan cepat dan menutup pintu kamar mandi dengan sedikit membanting.


Merasakan debaran jantungnya yang mulai memompa dengan cepat. Ia meletakan tangan di atas dada, ada apa ini? Perasaan ini belum pernah ia rasakan selama ini.


"Apa ini benar-benar jatuh cinta? Bukan sekadar ingin memiliki dan memainkannya saja? Kenapa bisa begini?" tanya Ardan bingung sendiri.


Sedang Hazel masih terduduk di bibir ranjang, ia mencoba mengingat perkataan Ardan dengan jelas. Takut kalau sampai membuat lelaki angkuh itu tersinggung lagi.


Perlahan ia berjalan, membuka lemari besar yang berada di ujung kamar. Matanya membulat lebar, melihat deretan kemeja Ardan yang begitu banyak dengan berbagai warna.


"Dia bilang saat itu tidak suka pakai kemeja apa ya?" Hazel menggaruk kulit kepalanya yang tak gatal.


Perlahan ia menggingit ujung jarinya, mencoba mengingat ucapan lelaki itu kembali.


Tangan Hazel terulur, mengambil kemeja dengan warna cokelat muda. Melihat warna kamarnya yang senada, pasti lelaki itu suka dengan warna-warna soft seperti ini.


Hazel mengeluarkan setelan jas berwarna senada dengan kemeja itu dan meletakanya di atas ranjang. Keluar tanpa menunggu si pemilik kamar selesai dengan ritualnya.


Ardan menghela napas saat melihat warna kemeja yang terletak di atas kasurnya. Ia meraih setelan jas itu dan menggeleng pelan.


"Aku sudah menduga, apapun tentangku, secepatnya ia ingin lupa," lirih Ardan sedikit kecewa.


Ardan turun dengan gelas kosong dan piring bekas roti tadi. Meletakannya di pantry, segera keluar tanpa melirik ke arah Hazel dan Surya.


"Aku lupa," lirih Hazel saat melihat lelaki itu turun dengan balutan kemeja hitam di badan kekarnya.


"Lupa apa?" tanya mbok Darmi bingung.


"Mbok aku berangkat ya." Hazel menarik tas tanpa mencium Surya yang sedang memakan buburnya.


Terburu mengejar langkah besar lelaki itu.


"Hazel, tunggu." Ucapan dari bibir wanita gempal itu tidak lagi mampu menghentikan langkah Hazel.


Untuk pertama kalinya, ia lebih memilih mengejar Ardan dibandingkan mencium dahi Surya. Biasa, ia tidak akan pernah lupa mengecup dahi anak semata wayangnya itu.


"Tunggu!" Hazel merentangkan kedua tangannya di depan mobil Ardan.


Ardan menurunkan kaca mobilnya, mengeluarkan sedikit kepalanya.


"Ada apa?"


"Bisa saya menumpang?" tanya Hazel lembut.


"Hem, naiklah!"


Hazel mengangguk dan membuka pintu depan mobil. Melihat wajah Ardan yang terlihat begitu dingin.


Entah kenapa saat ini ia peduli pada suasana hati lelaki ini. Padahal sebelumnya ia sama sekali tidak mau ambil pusing dengan apapun yang dikerjakan lelaki ini.


"Kenapa anda memakai kemeja hitam? Seperti mau kepemakaman saja?" tanya Hazel membuka suara.


Pagi ini, ia sudah dua kali membuat suasana hati lelaki ini buruk. Melupakan ucapannya dan memilih warna yang salah.


"Iya, saya memang mau kepemakaman. Mengubur hati yang lebih dulu mati sebelum berperang," jawab Ardan ketus.


"Hah? Maksudnya?" tanya Hazel bingung.


Ardan langsung menginjak pedal remnya dengan cepat. Ia mendecak kesal saat melihat sebuah mobil silver terparkir di bibir jalan.


"Sial!" rutuk Ardan geram sendiri, sembari memukul setir dengan keras.


Ia memijit lembut pangkal hidungnya, pusing dengan pemandangan yang ada di depannya. Apa yang harus dia lakukan dengan Hazel yang ada di sebelahnya saat ini?


Sesaat Ardan terdiam, dadanya terlihat naik turun dengan cepat, menahan buruan napas yang semakin kencang.


"Ada apa, Pak?" tanya Hazel bingung saat melihat Ardan begitu.


"Itu," tunjuk Ardan tepat ke mobil silver yang berjarak lima meter di depannya.


"Gerald Erlangga."