For My Family

For My Family
204



Hazel menyeduh segelas teh, tidak seperti kemarin. Pagi ini Aulia telah keluar kamar pagi-pagi sekali. Seperti biasa, dia akan bersantai di bawah taman pohon persik kesukaan sang putri.


Rasa kesepian dan kehilangan sang anak, sedikit berkurang saat dia menghabiskan waktu di sana. Walau bayangan dan harum tubuhnya memudar, setidaknya taman itu tetaplah mengingatkan segala kenangan yang tertinggal.


"Sayang," panggil Ardan seraya memperlihatkan sebuah dasi ke hadapan sang istri yang berdiri di balik pantry.


Bibir mungil Hazel memanyun, lalu tersenyum simpul seraya menggeleng. Berjalan mendekati Ardan.


"Dasar manja," katanya seraya menarik dasi itu dari tangan sang suami.


"Menunduk sedikit," pinta Hazel.


"Gak mau."


"Mas ...."


Ardan tertawa renyah, badan tegap itu membungkuk. Memandangi wajah sang istri dari jarak yang sangat dekat.


"Kamu sangat cantik, Sayang," godanya seraya mengedipkan sebelah mata.


"Aku pikir Mas gak ngantor."


"Kenapa? Pingin bulan madu, ya?" tanya Ardan memainkan alis matanya. Lantas matanya mendelik tiba-tiba saat dasi itu Hazel tarik sampai mencekik.


"Kamu mau aku mati, Sayang?" tanya Ardan sesaat setelah dasi itu melonggar.


Hazel hanya terkekeh, sang suami kembali membungkuk, dan kali ini ia sibuk mengecupi wajah sang istri yang tenga terfokus memakaikan dasi di lehernya.


"Mas, berhenti! Ini bukan di rumah kita." Kepala itu mencoba menghindar, gerah oleh kelakuan Ardan.


"Siapa bilang? Ini rumah kita, kok. Aku besar di rumah ini. Jadi ini juga rumah kita. Benar gak, Bi Indri?" tanya Ardan seraya mengerlingkan matanya ke sang asisten yang berjalan di belakang Hazel.


Sementara yang digoda hanya tertawa renyah. Menyusun piring-piring sarapan keluarga sang Tuan.


"Terserah Mas Ardan saja. Yang penting Mas Ardan bahagia, Bibi juga bahagia."


"Tuh, Bi Indri aja gak masalah. Kenapa kamu masalah?" tanya Ardan menggoda sang istri.


Hazel menggeleng pelan, kembali sibuk dengan teko teh yang sedang ia seduh.


"Mas, aku mau tememi Mama ngeteh dan sarapan, ya. Mas sarapan sendiri bisa, kan?"


Ardan hanya mengangguk, baru saja mengangkat baki. Nigar turun dengan menggendong Yena yang menangis kejer. Gadis keturunan Turki itu kembali meletakan baki di atas pantry.


Mengambil sang bayi yang ada di dekapan sang adik.


"Anak Bunda kenapa? Kenapa, Sayang?"


"Dicubit Tante Nigar, Bunda," jawab Ardan ngasal dan sang adik ipar hanya tertawa.


"Mas aku ke taman dulu, ya." Sedikit kesusahan Hazel mengambil baki itu kembali, Bi Indri datang dan berkata.


"Biar saya saja yang bawa, Nona."


"Em, terima kasih, Bi. Kalo Bibi manggil Mas Ardan, berarti boleh manggil saya Hazel saja."


"Maaf, gak berani, Nona." Wanita paruh baya itu langsung berjalan keluar, mengantarkan teh ke taman bunga persik dan Hazel hanya mengintili dari belakang.


Dari kejauhan Aulia tersenyum melihat Hazel yang menghampirinya. Wanita tua itu langsung menatap bayi yang berada di dekapan Hazel.


Wajahnya terbenam ke dalam dada sang Bunda. Mencari asi di sana.


"Siapa ini?" tanya Aulia ingin meraih Yena. Namun Hazel menghindarinya, sedikit banyaknya dia masih sangat takut dengan sikap Aulia yang sering berubah tiba-tiba.


"Arsy?" Mata tua itu menatap nanar.


"Maaf, Ma. Dia haus, aku berikan asi dulu, ya." Gadis itu duduk di kursi yang berseberangan dengan sang mertua. Memberikan asi dan mata itu terus melirik ke arah Aulia.


Sepasang mata tua Aulia terus menatapi wajah Yena. Perlahan genangan kaca melapisi netra. Lesung di pipi pucat sang bayi terlihat saat dia mengisap asinya.


"Arsy, bahkan putrimu memiliki lesung yang sama. Mama ingin bermain dengannya, boleh?" tanya Aulia beralih ke arah wajah.


Kosong tatapan mata Aulia kini mulai berubah, berpendar akan sebuah harapan, walau masih samar terlihat.


Ragu-ragu gadis itu mengangguk, selesai memberikan asi, gemetar dia memberikan Yena ke pangkuan sang mertua.


Bibir keriputnya tersenyum, mengajak Yena berbicara dan beberapa kali tawanya pecah saat Yena membalas ucapannya dengan ocehan khas bayi.


Hazel ikut tersenyum, perlahan rasa takut dan cemasnya berkurang. Melihat Aulia yang sadar bahwa ditangannya adalah seorang bayi yang bernyawa, tak mungkin dia akan menyakiti.


"Arsy," panggilnya menoleh ke arah Hazel.


"Terima kasih." Alis gadis itu bertaut.


"Sudah melahirkan Arsy kecil ke dunia ini. Terima kasih."


Hazel hanya mengangguk, pikirannya mulai tak tenang. Bagaimana jika Yena ditahan oleh keluarga Erlangga. Sekilas bayang-bayang tentang keburukan keluarga Erlangga bermain di dalam angan.


Sampai teriakan Aulia menyadarkannya. Yena mengompoli sang nenek dan Aulia malah terkekeh.


"Arsy kecil nakal. Pagi-pagi Oma sudah dipipisi."


Hazel ikut tertawa. "Iya, dia baru bangun dan belum pakai pampers. Maaf, ya, Ma."


"Gak masalah," jawab Aulia seraya membukakan celana sang bayi. Jika melihatnya yang seperti ini, Aulia sama sekali tidak terlihat sedang depresi.


"Arsy," panggil Aulia dan Hazel tersadar. "Cepat ambilkan celana, anak perempuan malu kalau sampai dilihat orang."


"Biar aku bawa Yena dan pakaikan pampers dulu, Ma."


"Ambil saja pampernya sana. Mama masih ingin bermain bersama dia."


"Tapi---" ucapan itu terhenti saat Aulia menoleh ke arahnya.


Saat dia berjalan semakin jauh, dan sang anak mulai hilang dari pandangan, Hazel berlari ke dalam rumah. Melewati Gerald yang baru akan keluar dari pintu.


Melihat sang menantu yang berlari, Gerald sedikit bingung. Tak terlalu peduli, ia menghampiri sang istri. Langkah tua itu terhenti saat melihat Aulia yang tampak sehat.


Tertawa dan bermain-main dengan sang cucu. Terdiam beberapa saat, memandangi sang istri yang sangat bahagia. Tawa yang telah lama tidak terdengar, kini kembali nyata.


Bibir keriput di sini ikut tersenyum. Melihat sang kekasih yang kembali, setelah selama bertahun-tahun tenggelam bersama kenangan.


Ada perasaan rindu yang teramat dalam. Rindu kewarasan Aulia, rindu belaian dan juga ungkapan yang selama puluhan tahun selalu terdengar. Rindu pada sang istri yang telah lama pergi, dan pagi ini cerianya kembali.


Tanpa sadar sudut mata tuanya terhiaskan kaca. Cepat-cepat ia seka saat Hazel berjalan melewati. Membawa pampers dan celana bersih. Telaten memakaikan ke sang bayi dan lagi, suara tawa sang istri pecah.


Menyadari kehadiran Gerald, ibu dua anak itu menoleh. Berjalan menghampiri Gerald dan berkata.


"Duduklah di sana, Pak. Saya titip Yena sebentar. Mau sarapan dan mengurus Mas Ardan." Tertunduk gadis itu berjalan melewati Gerald. Meninggalkan sang mertua di sana.


Perlahan Gerald mendekati, lalu duduk di sebelah Aulia dan kali ini sang istri menatap tanpa kekosongan pada sorotnya.


"Gerald lihat. Dia cucu kita, cucu pertama dari putri kita," kata Aulia seraya memperlihatkan Yena.


Gerald hanya memgangguk, memandangi Yena dan sang istri bergantian.


Asyik bermain berdua, Aulia terus mengoceh menyambut ocehan Yena. Tertawa riang dan ada perasaan yang mulai menghangat. Dingin suasana yang tercipta, perlahan mencair dengan kehadiran sebuah nyawa.


Lekat iris tua itu menatap wajah sang istri. Lalu satu tangannya merengkuh bahu Aulia. Kepala itu mendekat, lantas berbisik pelan.


"Lawanlah bayangan itu, Aulia. Aku mohon, karena ada Yena yang akan menggantikan rasa yang pernah hilang di antara kita."


Selesai Gerald mengatakan itu, Aulia menoleh. Memandangi wajah sang suami dalam hening.


"Gerald."


"Ya."


"Kamu ingin menggendongnya?"


Lelaki tua itu hanya mengangguk, lalu Aulia memberikan sang bayi ke tangan sang suami.


Ada yang berdesir, dadanya menghangat dan sepasang mata tua itu tak bisa lepas memandangi wajah sang bayi.


Yena berteriak, seolah memanggil sang Kakek yang tengah terpatri memandangi dirinya. Lelaki tua itu tersadar dan memangku sang bayi, tangan-tangan mungil milik Yena mulai menarik kaki-kakinya untuk diemut.


Satu tangan Gerald menahan, menarik kaki Yena dan seketika wajah putih itu memerah. Ingin menangis dan terseduh-seduh. Gerald kelabakan, ia kembali memberikan kaki mungil itu untuk diemut.


Seketika Yena kembali diam, bermain kakinya sendiri. Sekali lagi Gerald menarik kaki Yena untuk menggoda dan sang bayi kembali mengeluarkan ekspresi yang sama.


Gerald terkekeh, melihat wajah putih cucunya memadam. Merah dan kembali putih saat bisa mengemut kakinya.


Gerald terus mengulanginya, memainkan warna wajah sang cucu dan itu cukup lucu. Sampai membuat ia terbahak-bahak.


Ada bibir yang ikut tersenyum dari ujung sini. Sengaja Hazel meninggalkan Yena di sana untuk bermain bersama sang kakek dan nenek.


Karena seharusnya seperti inilah pemandangan yang normal. Masa-masa tua dengan ketenangan dan juga hiburan di ujung usia.


Hazel berbalik, berniat meninggalkan Yena di sana. Sedikit terkejut saat melihat Ardan di belakangnya.


"Mas."


"Sayang, aku berangkat ke kantor Arfi, ya. Kamu berani, kan, di rumah?"


Hazel hanya mengangguk, satu tangan Ardan meraih pinggang ramping sang istri. Baru akan mecium bingkai mungil itu, suara tawa Gerald mengalihkan perhatian Ardan.


"Kenapa Yena ada padanya?" tanya Ardan tak suka.


Lelaki itu melepaskan dekapan tangannya dan ingin menghampiri sang papa. Tertahan, saat Hazel menarik satu lengan kekarnya.


"Jangan, Mas. Biarkan Papamu bermain dengan Yena."


"Enggak, Hazel. Bagaimana kalau dia menyakiti anak kita?"


"Mas, dia papamu. Tidak mungkin dia menyakiti putrimu. Darah dagingmu yang berarti darahnya juga."


Ardan menggeleng. "Kamu gak ngerti, Gerald itu bagaimana?"


"Mas berhentilah seperti ini."


"Hazel---" Ucapan itu terhenti saat tawa Gerald kembali pecah.


Hazel memeluk tubuh Ardan dari belakang. Mencoba menahan agar Ardan tak merusak suasana di sana.


"Coba ingat, Sayang. Kapan terakhir kali Papamu pernah tertawa selepas itu?"


Ardan terdiam, mencoba mengingat. Sayangnya dia tidak lagi mengingat. Entah kapan Gerald pernah tertawa tanpa dusta. Karena selama ini dalam dunia Gerald yang ada hanya sandiwara.


Gadis itu melepaskan pelukannya, berjalan ke depan Ardan seraya memandangi wajah tampan sang suami.


"Mas, saat ini semua sudah berbeda. Itulah pemandangan normal pada setiap orangtua yang sudah mulai senja. Bukan lagi pertentangan tentang bisnis dan harta."


Ardan menilik wajah Hazel. Hanya bisa diam karena dia pun mulai merasakan hal yang sama. Hangat, ketika melihat Gerald bisa tertawa selepas itu. Seperti tanpa beban, mungkin karena sang istri ikut tertawa bersamanya di sana.


"Mas, kapan? Kapan Mas mau melepaskan segalanya dan memaafkan mereka? Tidak lelahkah? Tidak sakitkah? Melihat keluarga kalian terus terpecah?"


"Tapi, Hazel---"


"Mas, cukup! Mengalahlah demi kebahagiaan kita semua. Tak ada salahnya mengaku kalah pada orangtua."


Gadis itu merapat, mengelus dada Ardan dengan lembut.


"Karena pada dasarnya, kekalahan orangtua adalah saat melihat anak-anaknya hancur dan lerai."