
Ferdi menggenggam kedua tangannya, tatapan mata itu menilik ke arah wajah sang calon mertua. Gelisah dengan banjiran peluh pada pelipisnya.
"Saya tau ini kedengaran sangat kurang ajar, maafkan saya jika keinginan saya kali ini melukai hati Anda, Sasy dan keluarga."
Lelaki itu meneguk salivanya berat, iris dibalik kacamata itu menatap ke arah Sasy yang berdiri di antara sekat ruangan dan kamarnya.
"Saya mohon pengertian Anda, Pak. Saya meminta waktu untuk memundurkan pernikahan bukan karena saya ingin mempermainkan putri Anda. Wallahi, saya tidak pernah berniat seperti itu."
Ferdi menarik napasnya, pada akhirnya membantu Ardan menjadi pilihannya. Bukan karena pernikahannya tidak penting, melainkan ini juga berimbas pada pekerjaan dan masa depan mereka.
"Ada masalah yang sangat genting di perusahaan pusat tempat saya bekerja, saya harus ke luar pulau untuk waktu yang mungkin cukup lama. Demi karier saya, masa depan pekerjaan saya, bukan karena saya tak mau hidup susah, tapi bagaimana jalan saya ke depannya akan berpengaruh juga pada masa depan Sasy."
Lelaki berwajah teduh itu tertunduk, merasa bersalah atas permintaannya.
"Saya tak ingin membuat putri Anda susah, karena saya meminta dia pada Anda bukan untuk saya jadikan seseorang yang mendampingi saat saya susah. Saya memintanya pada Anda untuk saya jadikan dia wanita saya, yang saya tak ingin dia menderita karena telah memilih saya."
Irfan menarik napasnya, tak heran Ferdi mampu menjadi Direktur saat di usia muda. Ucapannya begitu meyakinkan dengan kesederhanaan yang dia tampilkan.
"Haruskah saya percaya kata-katamu, Ferdi?"
Seketika pandangan Ferdi menatap ke arah Irfan.
"Terus terang saya kagum saat melihatmu sudah menjadi Direktur di usia yang sangat muda, tapi mendengar semua ucapan kamu membuat saya juga sedikit meragu. Benarkah kamu berkata jujur tentang hatimu atau hanya sebuah alasan untuk meninggalkan?"
Senyum getir tercetak dari raut wajah tenangnya, dia sempat tertunduk saat mendengarkan ucapan Irfan, detik selanjutnya menatap Sasy yang masih berdiri di ambang pintu kamarnya. Memandangi dirinya tanpa ekspresi apa pun.
"Saya tak punya apa pun untuk meyakinkan Anda dan keluarga, Pak. Jika sebagai lelaki ucapan saya sudah tidak bisa dipegang lagi, apa lagi yang saya punya?"
Sudut bibir Irfan tertarik tipis, benar-benar lelaki yang satu ini. Segala ucapannya sangat sulit untuk diragukan, terlebih dengan kepasrahan yang dia tunjukkan. Selain menimbulkan iba, di setiap kalimatnya juga menciptakan keyakinan yang sangat kuat.
Entah harus bangga atau curiga, saat anak gadisnya mendapatkan suami sepertinya? Dilihat dari dekat Ferdi memang menampilkan segala kebaikan, tetapi jika diperhatikan lebih dalam. Lelaki itu menyembunyikan taring yang sangat tajam.
Irfan menarik napasnya, jika bermain siasat mungkin dirinya adalah pemenangnya, tetapi saat mengatur strategi perang, sepertinya Ferdi lebih memahami alur yang membuat lawan kewalahan.
"Saya kembalikan ini pada Sasy, jika dia mengizinkan kamu pergi saya akan ikuti. Namun, jika tidak. Kalian bahas bagaimana baiknya."
Setelah mengucapkan itu Irfan bangkit, meninggalkan Ferdi sendiri di ruang tengah.
Lelaki itu berkali-kali menghela napas, tentu saja tidak bisa lega. Karena sedikit banyaknya Irfan pasti telah kecewa atas sikapnya.
Setelah Irfan berlalu, berganti gadis itu yang mendekati sang calon suami, Sasy hanya berdiri di depan Ferdi. Memandangi wajah lelaki berkacamata itu dengan tatapan yang entah.
"Kita duduk di taman belakang aja, ya, Kak. Aku butuh udara."
Tanpa menunggu, gadis itu meninggalkan Ferdi, lelaki itu hanya bisa bangkit dan mengikuti langkah gadis belia tersebut.
Baru saja sampai di taman belakang, deringan ponselnya menahan langkah itu untuk terus maju. Secepatnya Ferdi menggeser layar dan meletakannya di telinga. Melanjutkan langkah dan duduk bersebelahan dengan gadisnya.
"Fer, bagaimana keputusanmu? Maaf tapi aku tidak bisa menunggu lebih lama."
Ferdi melirik ke arah Sasy sekilas, lantas dia menarik napas.
"Aku masih membicarakan ini pada keluarga Sasy, Dan. Tunggulah beberapa jam lagi, aku akan mengabarimu segera."
Lelaki beralis tebal di seberang sini menarik napas, merasa bersalah karena masalahnya telah menimbulkan masalah baru bagi sahabat dekatnya itu.
"Fer, maafkan aku," sesal Ardan lemah. "Aku tak pernah menjadi sahabat yang baik untukmu, aku selalu saja memutuskan kebahagiaanmu."
"Stop! Aku tak menerima mellow dramamu, Dan."
"Aku serius! Aku minta maaf."
Ferdi hanya menarik napasnya, lantas dia jatuhkan kepala di atas pundak Sasy. Gadis itu terkejut, dia menoleh, menatap wajah kekasihnya yang tengah memejamkan mata seraya menempelkan ponsel di telinga. Sedikit banyaknya dia mendengar apa yang Ardan katakan.
"Ini bukan hanya tentang perusahaanmu, Ardan. Tapi juga tentang persahabatan kita, tentang karierku di masa depan dan tentang kehidupan pernikahanku nantinya. Jelas aku tidak bisa menutup mata, karena masa depan Sasy kupertaruhkan bersama perusahaanmu."
"Aku bisa mengumuman kebebasan Green Kosmetik bersamaan dengan Ruby Jewelry nantinya. Perusahaan itu tidak akan kenapa-kenapa, Fer."
"Lalu? Apa aku harus menutup mata atas kehancuran keluarga sahabatku, begitu? Bukan cuma ada kau, Ardan. Arfan juga sahabatku dan Arfi sudah kuanggap adikku. Kalian juga bagian keluargaku meski kita hanya bertemu karena takdir."
Seulas senyum terbit dari wajah Ardan, dia meneguk saliva dengan mata yang menatap langit.
"Apapun keputusanmu, kumohon jangan pernah korbankan lagi kebahagiaanmu, Ferdi. Karena jika itu terjadi lagi, entah bagaimana aku harus menghadapimu."
Ferdi hanya tersenyum mendengar ucapan sahabatnya itu, lantas menutup panggilannya dengan tarikan napas yang sangat berat.
Jujur meninggalkan Sasy sangat sulit, tetapi kehilangan sahabat seperti Ardan jauh lebih pahit. Mungkin dia bisa mencari pasangan yang lain jika kali ini dia gagal, tetapi di mana dia bisa menemukan sahabat seperti lelaki Erlangga lagi?
Ferdi menggeleng di atas bahu Sasy, lantas lelaki itu mengangkat kepala untuk melihat wajah sang belia.
Gadis belia itu tertunduk, dia meremat kedua tangannya dengan sangat kuat. Tertunduk dalam, dia telah mendengar tentang ujian sebelum pernikahan, tetapi jika ujiannya harus berjauhan, sanggupkah dia melewatinya?
"Sasy," panggil Ferdi lembut.
Gadis itu mendongak, lantas sebuah bulir menetes saat matanya berkedip. Ferdi melemah, dia tarik kepala sang belia ke dalam dekapan, mencoba mengelus lembut belakang kepala Sasy sekadar untuk menenangkannya.
"Aku akan menyelesaikan ini dengan cepat, demi masa depan kita, Sayang. Berikan aku waktu untuk menyelesaikan masalah ini."
Kedua tangan mungil itu mengelus dada Ferdi, detik selanjutnya dia menggenggam sisi kemeja yang Ferdi kenakan dengan kuat. Terseduh pelan, lalu terisak-isak sampai menyengal pernapasan.
Ferdi hanya diam, merengkuh tubuh mungil itu dengan erat.
"Kenapa harus sesedih ini? Aku bukan ingin membatalkan pernikahan, hanya menundanya sedikit saja."
"Lalu bagaimana jika Kak Ferdi bertemu wanita lain di sana?"
Ferdi tersenyum simpul, kepalanya menggeleng pelan.
"Kau meragukan kesetiaanku?"
Gadis belia itu semakin terseduh, kali ini dia menangis tergugu. Pundak mungilnya bergetar karena lepasan tangisannya.
"Aku bukan meragukan kesetiaan Kakak. Aku hanya tidak percaya pada wanita di luar sana."
Ferdi menarik napasnya, dia melepaskan pelukan itu dan menangkupkan tangan di pipi gembil gadis belianya.
"Aku bukan lagi anak remaja yang sedang mencari cinta, Sasy. Umurku tak lagi belia yang bisa bermain-main pada kata-kata yang kuucapkan pada ayahmu. Aku bukan lagi lelaki yang menatap gadis-gadis di luar sana menggunakan nafsu lelaki. Aku sudah tidak lagi berada di fase itu."
Kedua ibu jari itu membelai lembut pipi gembil Sasy. Menghapus sisa jejak air mata pada wajah.
"Mataku sudah tak menatap lagi pada wanita-wanita yang menggoda, tetapi sudah menatap pada masa depan itu harus bagaimana. Aku bukan lelaki yang suka bermain dan bermanja pada wanita. Aku bukan lelaki yang seperti itu."
"Sudah kukatakan, aku percaya pada Kak Ferdi. Tapi aku nggak percaya pada perempuan di sekeliling Kak Ferdi."
Seulas senyum kembali menghiasi wajah teduh lelaki itu.
"Dengan keyakinan apa kamu bisa beranggapan aku akan tergoda? Kamu yang paling tahu bagaimana susahnya meluluhkan hatiku, bukan?"
Seketika semu merah menghiasi sang belia, dia menundukkan pandangan dengan rona merah pada kedua belah pipinya.
"Bagaimana jika aku yang tak percaya pada lelaki di sekitarmu?"
Sasy langsung menatap Ferdi.
"Maksudnya?"
"Sasy, setiap ujian itu akan datang pada kita. Jika ada godaan yang datang padaku, maka itu juga akan datang padamu. Bagaimana jika saat aku jauh nanti, ada lelaki yang lebih muda datang menawarkan segalanya padamu dan itu lebih dari yang aku berikan padamu?"
"Jika Kak Ferdi mampu setia, mengapa aku tidak? Aku jauh lebih mencintai Kak Ferdi."
Lelaki berwajah teduh itu menggeleng dengan mata yang terpejam.
"Aku butuh kata yang akan meyakinkanku, bukan hanya sekadar kata cintamu."
Bibir belia itu memanyun, bola matanya memutar. Dia bingung bagaimana cara untuk meyakinkan Ferdi.
"Tapi aku bener-bener akan setia, Kak. Aku bisa berjanji padamu soal itu."
"Sasy, Dengar! Masalah kali ini tidak semudah yang terlihat. Aku membutuhkan banyak waktu untuk menyelesaikannya, selama itu, bagaimana jika banyak pria yang akan mendekatimu."
"Apa Kak Ferdi takut kehilangan aku?"
"Tentu saja!" jawab Ferdi spontan. "Aku pernah kehilangan sekali, aku tidak ingin kehilangan lagi."
Senyum Sasy berderai saat mendapatkan jawaban itu.
"Kalau begitu tolong hubungi aku setiap harinya, tidak perlu lama, satu pesan saja asalkan Kakak ingat ada aku yang menunggu Kakak di sini, itu sudah cukup membuatku setia."
"Kamu yakin hanya itu?"
Sasy mengangguk dengan cepat. "Ya. Tak peduli sesibuk apa nantinya, kirimkan aku pesan singkat. Setidaknya di sini aku tau, bahwa Kak Ferdi masih membutuhkan kabarku."
"Baiklah, aku berjanji untuk itu. Tapi, sanggupkah kamu berjanji untuk setia sampai aku kembali? Mungkin ini bisa lebih lama daripada yang kamu bayangkan."
Sasy menarik pundak lelaki itu, memeluknya dengan erat. Hidung mungilnya menghirup sisi bahu Ferdi.
"Ambillah sebanyak apapun waktuku yang dibutuhkan untuk menunggu dirimu. Aku mampu, karena di sini aku akan menjagamu dalam doaku. Aku akan melangitkan namamu, yang menjadi milikku takkan pernah memiliki cara untuk meninggalkanku."