
Ardan menarik ponselnya yang berdering dengan keras, dia geser layar saat mengetahui siapa yang memanggil di tengah indah lelapnya.
Lelaki berwajah garang itu mengusap wajah, memijat pangkal hidung untuk mengembalikan kesadaran.
"Hai, Baby," katanya saat melihat wajah Surya yang ada di dalam gawainya.
"Sedang apa kamu?" tanya Ardan lagi.
Bocah kecil itu hanya diam, bundar matanya menatap Ardan polos. Lelaki itu gemas, dia remat sisi bantal yang menjadi sasaran kegemasannya. Pagi-pagi sudah buat rindu saja.
"Apa Surya merindukan Papa?"
Lama sekali bocah itu terdiam, lantas dia mengangguk untuk merespons. Ardan terkekeh, dia ubah posisi tidur menjadi telungkup, menyamankan tubuhnya.
"Surya maini ponsel bunda, ya? Adek Yena mana?"
Bocah itu terdiam, tidak pada percakapan langsung. Dia seperti butuh jeda untuk mencerna ucapan Ardan.
Bocah yang terduduk di atas kasur itu turun, lari menuju box tempat Yena tertidur. Karena tempat yang tinggi, dia mencoba memanjat kursi yang ada di sebelah box Yena.
Saat ingin memperlihatkan Yena pada sang papa, bocah itu malah nyungsep ke dalam box. Tawa Ardan pecah saat menyadari layar ponsel yang terarah pada entah dengan suara benturan, lalu tangisan Surya dan Yena pecah.
"Astaga! Apa yang kalian lakukan?" Kini suara lembut dan manja itu terdengar.
Ardan menumpuhkan kepalanya pada telapak tangan, memberikan jeda sampai Hazel menyadari kalau putranya sudah pintar melakukan panggilan untuk papanya.
"Surya jangan manjat-manjat, Nak. Nanti kalo Adek Yena terluka gimana?"
Hazel tarik pinggang Surya yang terjatuh dalam box, lantas mengambil bayi cantiknya yang ikut menangis kejer.
"Apa ... Apa," kata Surya saat menyadari kalau ponselnya tertinggal di box adiknya.
"Papa nggak ada di sini, Nak. Surya kangen, ya?" tanya Hazel seraya mengusap pipi gembil putranya yang basah.
"Apa ... Apa," ulangnya.
"Nanti, ya. Papa sekarang lagi tidur."
"Aku di sini, Hazel."
Seketika gadis bermata madu itu terpaku, dia mencari sumber suara.
"Aku di box Yena," kata Ardan terkekeh.
Gadis itu cepat-cepat membalik-balik kain di sana, mencari benda pipih tersebut. Senyum langsung melengkung saat binar bundarnya bisa menatap wajah sang suami di seberang sana.
"Ya ampun, Mas. Maaf, ya. Surya ganggu waktu tidur Mas, ya? Mas pasti tidur pagi lagi, kan?"
"Tidak masalah."
Hazel menghela napasnya, dia melihat ke arah Surya yang meminta ponsel itu dari genggaman Bundanya.
"Kenapa Mas nelpon sepagi ini?" tanya Hazel seraya berjongkok, memberikan wajah pada putranya untuk bicara pada lelaki di seberang sana.
"Surya yang menelponku."
"Eh, masa?" tanya Hazel terkejut.
"Putramu anak yang pintar, Sayang. Keterbatasan takkan pernah melunturkan itu semua."
Hazel tatap wajah polos Surya, kini matanya mengembunkan kaca-kaca. Dia tarik tubuh mungil itu untuk di dekap. Menciumi puncak kepala Surya berulang-ulang.
Di seberang sini ada seulas senyum yang terukir melihat tiga orang di sana tengah masuk dalam harunya.
"Jangan tinggalkan Mas di sini," kata Ardan menggoda.
Punggung tangan kecil itu mengusap wajah, dia kembali menatap ke layar ponsel.
"Aku senang sekali, Mas. Setelah bertahun-tahun akhirnya perkembangan Surya terlihat normal."
"Percayalah, aku jauh lebih bahagia, Sayang. Aku kesal saat tidak bisa memeluk kalian saat bahagia seperti ini."
Hazel terkekeh, dia kecup pipi Surya gemas.
"Oh, ya. Mas."
"Hm?"
"Kenapa Mas ngirimi aku satu set perhiasan seperti itu? Apa itu tidak terlalu mahal?"
Dua alis tebal itu sempat menyatu, lantas dia tersadar.
"Oh, itu aku tidak membelinya."
"Lalu?"
"Itu hadiah dari klien kami di sini."
Mata bundar itu menatap tajam. "Hem, apa itu dari seorang wanita?"
"Tentu saja," sahut Ardan memanasi.
"Kenapa hanya satu set saja? Seharusnya kalau Mas mau mempeloroti satu toko lah."
Tawa Ardan pecah, kadang sisi Hazel yang seperti ini membuat dia semakin gemas saja.
"Habisnya baru dapat satu set udah ketahuan aku punya anak dua, gimana, dong."
"Ish, Mas nggak pinter mainnya, sih."
Ardan kembali terkekeh. "Lihatlah saat aku pulang nanti. Kugigit kamu, Sayang."
"Bagaimana kabar mama di sana?"
"Aku rasa sedikit membaik, Mas. Dokter Pedro sedang bersama mama saat ini."
"Hem, baguslah! Aku membayar mahal untuk itu semua."
"Aku yakin bahwa semua yang Mas lakukan akan berbuah manis. Kami menantikan kamu pulang, Sayang."
"Aku akan menyelesaikannya dengan cepat, Nazha. Bersabarlah."
"Em, aku ada kabar bahagia, Mas."
"Apa?"
"Kamu akan menjadi paman lagi, Nigar tengah hamil," kata Hazel antusias.
Sementara wajah Ardan hanya datar saja, dia sudah mendengar sebelumnya.
"Mas, kok, kayak biasa aja, sih? Kayak nggak senang, gitu?"
"Aku senang. Cuma aku juga sudah tau."
"Eh?" Berganti malah Hazel yang terkejut. "Kok, Mas bisa tau?"
"Iya, sebelum ke sini Arfi sudah mengatakannya padaku."
Seketika bibir Hazel memanyun, maksudnya ingin memberi kejutan. Malah dia yang terkejut.
"Hem, Mas nggak asyik. Pura-pura kaget, kek."
Ardan terkekeh, berbicara dengan orang rumah malah membuat dia rindu dengan mereka. Ingin cepat pulang rasanya.
"Ya sudah. Kamu baik-baik di sana, ya. Aku matikan dulu."
Hazel memgangguk, sebelum panggilan terputus dia meminta anak-anak untuk mencium papanya secara virtual.
Lelaki beralis tebal itu kembali menjatuhkan kepalanya saat panggilan berakhir. Dia tatap langit-langit kamar dengan lekat.
Sudah siang, tapi karena mereka tertidur sebelum subuh suasana kamar masih senyap, perbedaan waktu dua jam dari ibu kota saat Hazel mengira di tempat Ardan masih terlalu pagi, padahal di sini matahari telah menampakkan kehangatannya.
Baru akan terpejam lagi saat ponselnya kembali berdering. Ardan menghela napas, benar-benar mereka itu. Apakah tidak bisa membiarkan dia istirahat sebentar saja?
"Ardan!" pekik seseorang kesal dari seberang sana.
"Benar-benar kau ini!"
"Ada apa, Twins? Sepagi ini sudah membentak orang?" tanya Ardan seraya memijat pangkal hidung.
"Bagaimana bisa kau mengatakan supaya aku tidak membuat perusahaan ini kolaps? Kau sendiri yang membuat aku terpojok."
"Maksudnya?"
"Posisi untuk istri Arfi saja masih kosong, sekarang kau membebaskan Kinara saat kontraknya masih berjalan dan tanpa penalti?"
"Ini semua demi mama," jelas Ardan tenang.
Sementara sang kembaran sudah kebakaran dan semakin memanas.
"Lalu di mana kucari gantinya, hah?"
"Minta pada HRD untuk membuat iklan lowongan. Akan banyak pelamar yang datang," kata Ardan tanpa beban.
"Kalau itu aku juga tau!"
"Lalu, kenapa masih bertanya padaku?"
"Kau mau mengganti tenaga kerja profesional dengan yang masih amatiran? Yang benar saja? Kau tau anak-anak di divisi promosi adalah ujung tombak perusahaan ini!"
Ardan menjauhkan ponselnya saat Arfan mulai meracau tak jelas. Dia loudspeaker panggilan itu dan kembali merebahkan badan di kasur.
Mendengar ada kekacauan sepagi ini, Ferdi yang terlelap di sebelah Ardan membuka matanya. Melihat ponsel di atas nakas yang masih aktif dalam panggilan, sementara sang tuan sudah kembali tertidur di sebelahnya.
"Ardan! Kau mendengarkan?" tanya Arfan.
Ferdi raih ponsel itu dan mematikan loudspeakernya.
"Percuma kau meracau, Fan. Orangnya udah kembali tidur."
Arfan naik pitam, benar-benar kembarannya yang satu ini.
"Damn!" umpatnya dan seketika panggilan terputus.
Evan yang dari semalam belum tertidur melangkah mendekati Ferdi.
"Semuanya sudah siap, Fer. Aku sudah mendaftarkan Nola pada beberapa kompetisi. Hari ini aku akan kembali ke ibu kota untuk mengurus visa kalian berdua. Kita akan ke Singapura untuk kompetisi perdananya."
Ardan yang awalnya memejamkan mata, kini tengah memperhatikan Evan yang terduduk di tepi ranjang.
"Kita tidak bisa menunda, kalau gerakan kita tidak cepat. Maka semua rencana kita akan terbaca. Kalian siap?"
"Siapkan saja apa yang diperlukan," sahut Ardan kembali tidur.
Ferdi hanya mengangkat kedua tangannya ke atas. Menandakan dia sudah pasrah mau ke mana saja. Toh, mereka sudah tercebur bertiga.
"Kalau begitu aku akan bersiap-siap. Besok aku akan kembali dan kuserahkan berkas-berkas Nola pada kalian berdua."
Ferdi hanya mengangguk, kini dia tau mengapa Ardan ingin mengganti Firma hukum lama dengan Firma hukum milik Evan.
Cara kerja Evan cepat dan bringas, itu sesuai dengan karakter dan keinginan Ardan. Sepertinya, Ardan semakin kuat saja saat menemukan pasangan yang bisa melengkapi kekuatannya.