For My Family

For My Family
164



Sepasang tangan menerobos di antara kedua lengan Ardan. Memeluk erat dengan wajah yang ia benamkan di punggung terbalut kemeja putih itu.


Lelaki beralis tebal itu menoleh, melihat kekasihnya memeluk dengan erat.


"Ada apa, Sayang? Kenapa Mas pulang-pulang marah?" lirih pertanyaan itu membuat Ardan menghela napas.


Lelaki itu berbalik, seketika dekapan tangan Hazel terlepas. Bingkai mungil itu tersenyum, satu tangannya membelai rahang tegas milik Ardan.


Segala egonya runtuh, lembut usapan tangan sang istri bagai embun yang menetes pada gersangnya amarah yang bergejolak.


"Mas mau mandi? Biar aku siapkan air hangat dan setelah itu aku bawakan makanan ke atas, ya."


Ardan tersenyum tipis, ia meraih jemari lentik yang membelai rahangnya. Mencium telapak tangan itu lembut.


"Terima kasih, Hazel. Aku mandi air biasa saja, hanya butuh istirahat. Jangan cemas, aku baik-baik saja." Lelaki itu menarik kepala sang istri dan mengecup dahinya.


Berjalan menuju kamar mereka, wanita itu hanya terdiam. Memandangi tubuh tegap Ardan sampai hilang di balik pintu.


Si sulung itu terkadang tidak dapat dipahami apa yang ingin dia lakukan. Selalu menanggungnya sendiri, tidak peduli walau benci dan maki yang diterimanya.


Di bawah kucuran air yang mengalir mata elang itu terpejam. Terbayang bagaimana si bungsu itu selalu manja tentang apa pun. Keras kepala dan dia sebagai kakak selalu tidak ingin melihat adiknya kesusahan.


Wajah kesal itu, memerah dan ingin mengeluarkan semua amarah. Masih tertahan oleh logika dan kewarasan. Mungkin. Karena berulang kali Arfi membentaknya hanya karena masalah Nigar. Relungnya terluka, tidak tahu mengapa, sakit saat dia yang dibela, terkadang hanya bisa melihat segalanya dari sisi amarah.


Lelaki itu menghela napas berkali-kali. Mendongakkan wajahnya agar air dari shower tidak hanya membasuh lelahnya, juga air mata yang dia sembunyikan dari wajah dunia. Biarlah hanya dia yang menanggung luka, walau sebenarnya sikapnya pun menggerus luka baru di hati adiknya.


Lelaki itu keluar dengan handuk putih yang terlilit di pinggangnya. Melihat sang istri yang tengah berdiri di depan lemari menyiapkan bajunya.


Ia usap rambut basahnya, lantas berjalan mendekati Hazel. Bibir dingin itu langsung mendarat di tengkuk sang istri.


"Hazel."


Gadis itu tersenyum, satu tangannya menarik handuk di lemari. Ia berbalik, menyeka wajah Ardan yang masih setengah basah.


Senyumnya terkulum, manis. Dengan lembut ia usap wajah dan dada lelaki itu sampai kering. Lalu mendudukan Ardan di tepi ranjang, kedua tangannya mengusap kepala lelaki itu.


Ada perasaan tenang, seketika seluruh gundahnya menghilang. Tangan kekar itu menarik pinggang Hazel. Mendudukan wanitanya di atas satu pahanya.


Membenamkan wajah pada dada Hazel dengan helaan napas berat yang diperdengarkan. Lelah dengan segala masalah yang mendera. Kedua tangan kurus itu masih mengusap rambut Ardan sampai kering.


"Terima kasih, Sayang," lirih Ardan mengeratkan dekapannya di pinggang Hazel.


"Istirahatlah, Mas. Kamu butuh istirahat untuk menenangkan segalanya."


"Arfi marah padaku."


"Tenanglah, dia akan kembali baik setelah amarahnya reda."


"Tak akan reda, karena aku membuatnya terluka."


"Hubungan darah tidak akan serapuh itu, Sayang. Dia akan baik-baik saja. Hanya butuh waktu untuk menenangkan segalanya."


Lelaki itu mengusap-usap wajahnya di dada Hazel. Kedua tangannya semakin erat mendekap pinggang sang istri.


"Aku ingin anak-anak kita tidak akan terbelah seperti aku, Hazel. Aku tidak ingin melihat Yena dan Surya saling menyakiti, apa pun alasannya."


Hazel menarik kepala Ardan, menyatukan hidung mancung itu sampai bersentuhan dengan hidungnya.


"InsyaAllah aku akan mendidiknya, Mas. Tapi aku juga butuh bantuan Mas."


Ardan tersenyum, satu tangannya menarik kepala sang wanita dan mengecup dahinya.


"Aku akan lebih memerhatikan mereka, Sayang. InsyaAllah."


Kedua tangan Hazel tertangkup di pipi Ardan. Lembut ibu jarinya mengusap pipi lelaki itu.


"Ada apa, Mas? Mas gak mau cerita?"


Lelaki itu mendesah pelan, menautkan kedua dahi mereka. Mencium ujung hidung Hazel sekilas. Lalu bibirnya tersenyum simpul.


"Aku baik-baik saja, Sayang."


***


Iris di balik lensa itu memerhatikan gerakan bibir sang belia yang tengah menikmati bakso miliknya.


Dari sederet nama kafe yang Ferdi sebutkan untuk dinner mereka. Gadis belia itu lebih memilih makan di pinggir jalan.


Sebenarnya bukan hal yang aneh, dulu dia dan si Kembar Erlangga pun sering melakukannya. Saat masih di sekolah, dan beberapa tahun belakangan ini. Mereka melupakan kebersamaan itu.


Perlahan setiap waktu yang habis bersama Sasy selalu mengingatkannya akan masa-masa dulu.


Kesederhanaannya, tingkah dan juga segala kelakuannya. Selalu membawa kenangannya melambung, menembus batas waktu. Angan yang telah berlalu, dan masa membawa hal itu menjadi sesuatu yang merindu.


"Sasy," panggil Ferdi lembut. Gadis itu menoleh.


Gadis belia itu mengaduh, bibirnya memanyun dengan usapan di dahinya.


"Kak Ferdi sakit," adunya manja.


"Kamu tidak tau betapa kalutnya aku?" tanya Ferdi ketus.


"Apa kamu pikir bagus bermain-main di sana? Bagaimana jika kamu jatuh? Bagus kalo langsung mati, kalo setengah mati gimana?" ketus Ferdi sedikit geram.


Apa pun yang bersangkutan dengan Sasy. Segala sikap tenangnya berubah. Kadang panik, kadang takut, rindu dan segalanya mengabu perlahan.


Gadis itu memberengut, satu tangannya memainkan sendok makan.


"Maaf," sesalnya lemah.


"Berhentilah nakal seperti itu, Sasy. Pikirkan orangtuamu. Orang-orang yang menyanyangimu."


Belia itu tersenyum, dia mendekatkan wajahnya ke arah Ferdi yang ada di sebelahnya.


"Apa Kakak termasuk orang yang menyayangiku?" tanyanya sedikit genit.


Mata Ferdi memaling, tidak sanggup menatap belia itu.


"Kak."


"Tidak!"


Wajah ceria itu kembali pias, pelan ia tarik tubuhnya menjauh. Ferdi melirik, semburat kekecewaan tergambar dengan sangat jelas. Lelaki itu menghela napas.


"Ya!" jawabnya sedikit keras, dan senyum terkulum dari bibir belia itu.


Ferdi membuang pandangannya, dadanya menghangat. Senyuman belia itu seperti mampu mengangkat segala beban yang mengganjal.


Lelaki itu menaikan bingkai kacamatanya. Lantas ia kembali menyuap makanan ke dalam mulut.


Mata teralih pada lembaran kertas yang terselip di antara halaman buku milik gadis itu.


Baru akan menyentuh, mendadak gadis itu menariknya. Menyembunyikan di balik badan mungilnya. Satu alis mata Ferdi menaik.


"Apa itu?"


"Bukan apa-apa?" Wajah gadis itu memerah. Ia menggeleng dengan cepat.


"Berikan padaku."


"Bukan apa-apa, Kak."


"Sasy!"


Gadis itu bersikeras. Kedua jemarinya meremat kertas quiznya. Berharap Ferdi tidak akan melihatnya.


Lelaki itu mengehela napas, ia mencoba meraih kertas itu. Sasy menghindar, berusaha menyembunyikannya di balik badan.


Lelaki itu menggeser duduknya, lebih dekat dan kedua tangannya mencoba meraih kertas itu.


"Coba berikan padaku, aku hanya ingin lihat."


Sasy menggeleng, ia mundurkab badan sampai batas ujung bangku.


"Sasy."


Gadis itu masih berikeras, meremat-remat kerts itu agar tangan Ferdi tidak mampu meraih.


Tanpa sadar wajah Ferdi semakin mendekat saat badan itu semakin condong ke depan. Penasaran dengan hal yang gadis itu sembunyikan di belakang tubuhnya.


"Sasy berikan padaku!" perintah Ferdi mencoba meraih kertas di belakang tubuh mungil itu, kedua tangannya mencoba mencari-cari.


Sasy mengelak, membuat lelaki itu kesusahan menjangkaunya. Wajahnya semakin dekat, dekat, dan hanya tersisa satu embusan napas saja.


Mata bulat Sasy melebar, beberapa kali matanya berkedip dengan sangat cepat. Baru kali ini dia melihat wajah Ferdi dalam jarak yang sangat dekat.


Beberapa helaian terjatuh ke dahi karena pergerakan kepala lelaki itu yang ingin melihat kertas quiz yang disembunyikannya.


Mata Sasy semakin berbinar, ditambah debaran jantung yang semakin tak karuan. Hangat deru napas Ferdi menyentuh kulitnya wajahnya. Membuat hangat mengaliri aliran darahnya.


Dadanya kempang kempis, perlahan ia menelan saliva dengan berat. Bahkan aroma gel rambut yang lelaki itu gunakan tercium samar.


Saat wajah Ferdi berpindah dari kiri ke kanan, gadis itu mengecup bibir Ferdi. Sesaat, dan sangat cepat.


Mata Ferdi melebar, dalam ia memandangi Sasy yang hanya berjarak satu embusan napas dengan wajahnya.


Sangat berani, belia itu larut dalam emosi dan ambisi. Itu membangkitkan kuncup yang sempat layu, dan ingin segera bersemu agar musim semi mampu menyeruakan semerbak keharuman akan sebuah cinta yang bermekaran setelah gugur panjang yang tak kunjung usai.