
Beberapa kali kelopak mata gadis itu berkedip dengan cepat. Menatap wajah Ferdi yang tengah memandangi wajahnya.
"Kak? Itu, maksudnya gimana?" tanya Sasy bingung.
Ferdi menarik napasnya, lalu jas yang ia pakaikan ke bahu Sasy dinaikan. Menutupi seluruh kepala belia tersebut sampai wajahnya tenggelam di dalamnya.
Perlahan wajah Ferdi mendekat, mencium bingkai pada wajah sang belia.
Mata Sasy terpejam, menikmati sentuhan lembut bibir pria yang selama ini selalu dikejarnya. Jantungnya bergemeruh, bukan hanya karena sapuan deru napas yang menerpa kulit wajah.
Melainkan gerakan Ferdi yang memulai tanpa dipancing seperti biasa.
Lembut lelaki itu meleraikannya, menangkupkan tangan di kedua pipi sang belia.
"Aku memang ingin memutuskan hubungan ini. Namun, bukan untuk meninggalkanmu. Melainkan memulai kehidupan baru bersamamu."
Bibir belia itu terkulum, malu-malu ia menundukkan pandangan. Ingin menjerit sekuat tenaga, namun ia masih berusaha waras pada logikanya.
"Kenapa tiba-tiba, Kak?" tanyanya tersipu malu.
"Sudah kukatakan, aku bukan lagi lelaki remaja yang bermain-main dengan cinta. Jika memang cinta, lebih baik diikat dalam hubungan yang sah."
"Um," jawabnya malu, sepasang mata itu melirik, lalu jari-jarinya menarik sisi jas yang masih melindungi kepalanya. Berusaha menyembunyikan rona, namun wajah itu semakin memerah.
"Kamu ... siap?" tanya Ferdi sedikit ragu.
"Siap! Siap! Tentu saja aku siap," jawab Sasy menyeringai.
"Siap apanya?"
"Siap ... siap, ya siap jadi istri Kakak gituh," pandangannya kembali tertunduk, dengan gerakan kaki yang memainkan rerumputan.
Masih tidak percaya, ini mimpi atau nyata? Bisa pacaran sama Ferdi saja anugerah yang tidak pernah dibayangkan selama kehidupan berjalan. Apalagi bisa sampai menikah, rasanya seperti dijatuhkan bintang kejora di atas pangkuan.
"Kalo gitu, aku antar kamu pulang. Temukan aku dan ayahmu."
Seketika kepala Sasy mendongak, terdiam sejenak, lalu berkata.
"Ayah gak ada," jawabnya lemas.
"Ayah masih tugas. Kalo gak piket, ayah baru pulang Sabtu nanti," sambungnya memanyun.
Ferdi tersenyum melihat perubahan raut wajah belia itu, pelan ia mencubit pipi gembilnya. Geram, terlebih saat kemerahan menghiasi wajahnya.
"Jangan pasang wajah seperti itu. Aku antar kamu pulang, Sabtu nanti aku akan datang."
Mendengar ucapan Ferdi masih tidak mampu mengubah ekspresi sang belia. Lelaki itu menautkan dua alis matanya.
"Kenapa? Sasy, apa yang kamu pikirkan?" tanya Ferdi seraya mentoel pipi sang belia.
Kedua tangan Sasy melilit lengan kekar di balik kemeja hitam tersebut. Melanjutkan langkah yang sempat terhenti.
"Kak Ferdi, ayah itu anggota tentara."
"Aku tau."
"Kalo ayah nanti gak terima, bagaimana?"
"Bantu doa, InsyaAllah niat baik. Jika Allah anggap baik, pasti akan terlaksana."
Langkah gadis belia itu terhenti, lalu menatapi wajah Ferdi lamat-lamat.
"Kak," panggilnya lesu.
"Ada apa?"
"Kalo nanti ayah gak terima lamaran Kakak. Apa Kakak akan mundur? Apa kita akan putus?"
"Optimis saja. Jangan berandai-andai yang tidak baik."
"Bukan gak optimis, Kak. Tapi kalo menurut sifat ayah, mungkin ayah gak akan terima. Lalu, Kakak?"
Ferdi tersenyum, ia mengambil jemari mungil yang melingkari lengannya, lalu mengenggam erat.
"Aku akan baik-baik saja. Jika memang alasannya kamu yang masih terlalu belia. Aku akan sabar menunggumu sampai lulus kuliah."
Seulas senyum terbit dari wajah sang belia. "Bisa setia?"
"Kamu meragukannya?"
Sasy melepaskan genggaman tangan Ferdi. Menaikan satu jari kelingkingnya. "Janji?"
Lelaki berparas teduh itu hanya tersenyum. Kembali mengenggam dua tangan Sasy dalam tangkupan tangan kekarnya. Sepasang iris hitam itu menatap lekat, lantas ia mencium dua jemari Sasy yang ada di genggaman.
"Janji."
***
Ardan menghentikan langkah di ujung tangga saat melihat kakak beradik itu menyiapkan meja makan untuk sarapan.
Setelah kejadian kala itu, wajah sang ipar tidak pernah terlihat senyum. Tidak banyak bicara dan lebih sering mengurung diri di kamar.
Entah bagaimana menghadapinya, bahkan kabar Arfi menghilang sejak tiga hari dia menginjakkan kaki di Rusia.
Yang di sana seperti bahagia menikmati suguhan dunia. Sedangkan yang ditinggal, bagaikan hidup tanpa nyawa.
Perhatian Nigar teralih saat Ardan mendekat. Gadis itu akan berpaling, namun tercekal oleh tangan Ardan.
"Maaf, tangan Anda, Kak," kata Nigar seraya melihat cekalan tangan Ardan pada pergelangan tangannya.
"Duduklah, sarapan bersama kami."
Gadis itu menarik kursi, tak ada reaksi hanya mengikuti keinginan Ardan.
"Kapan kau akan mulai masuk kerja?"
"Maaf, sepertinya saya ingin resign, Kak."
"Kenapa?"
Gadis berhijab cokelat itu menunduk.
"Jika kau hanya butuh waktu untuk menenangkan diri. Kau tak perlu resign. Itu perusahaanku, bebas saja kapan kau ingin masuk kembali."
"Tapi---"
"Arfi akan kembali, yakinlah itu." Ardan menoleh, tersenyum tipis saat sepasang mata indah tersebut menatapnya.
Sebenarnya lelaki berwajah garang itu juga tidak yakin pada ulah adiknya. Bisa saja jika saat ini dia benar-benar bermain bersama gadis-gadis berambut pirang di sana.
Meningat ulahnya selama ini yang hampir mirip dengan ulahnya sebelum Arsy pergi. Namun, sepertinya Arfi lebih parah.
"Mas, mau teh atau kopi?" tanya Hazel seraya meletakan piring ke hadapan Ardan.
"Susu," jawab Ardan sembari mengedipkan sebelah matanya, menggoda sang istri yang sibuk memasak sekaligus menggendong putri mereka.
"Mas, kan gak suka susu."
"Suka."
"Sejak kapan Mas suka susu?"
"Sejak menikah denganmu," goda Ardan dengan memasukan suapan ke dalam mulutnya. Kembali mengedipkan sebelah mata, dan sang istri hanya memutar bola mata malas.
Gadis berhijab itu tersenyum, ia menoleh ke arah Hazel yang sudah memerah, menahan semu dan juga malu.
Nigar bangkit, menarik Yena dari dekapan Hazel, lalu berkata.
"Yena main sama aku di kamar, ya. Kalian nikmati saja sarapannya."
Langkah gadis berhijab itu berlari menaiki anak tangga. Keberuntungan berada di tangan Hazel, bahkan pernikahan keduanya tampak sangat sempurna.
Setelah punggung sang adik menghilang, Hazel berjalan ke arah dapur. Memberikan segelas susu ke hadapan Ardan.
"Awas saja kalau Mas gak minum. Jangan tidur sama aku nanti malam," ancamnya ketus.
Ardan menelan sisa makanannya berat. Lalu menatap Hazel yang berdiri di sebelahnya dengan silangan tangan di depan dada.
"Sayang, jangan terlalu kejam. Aku hanya menggodamu."
"Minum," perintah Hazel datar.
"Hazel," panggil Ardan kelabakan.
"Mas," tekan Hazel.
Ardan mengacak rambutnya, menatap Hazel nanar. Memasang wajah melas di hadapan sang istri.
"Iya, maaf. Aku hanya bercanda."
Wanita beranak dua itu menghela napas, menarik kursi di sebelah Ardan. Satu jarinya membasuh sudut bibir sang suami yang berminyak.
"Jangan seperti itu di depan Nigar, Mas. Dia ... sedang berusaha baik-baik saja."
"Apa salahnya jika aku menggoda istri sendiri? Dari pada menggoda ibu-ibu pembaca di rumah?"
Sebuah suapan tersodor ke depan bibir Hazel, gadis bermata madu itu membuka mulutnya, mendorong sisa makanan dengan susu yang dia berikan pada Ardan.
"Ya, gak ada salahnya, sih, Mas. Hanya saja ... jangan di depan Nigar, kasihan dia. Dia sedang tidak baik-baik saja."
Ardan hanya memanyunkan bibirnya, memakan kembali sarapan yang dibuat sang istri.
"Kadang dalam hidup ini, kita harus menghadapi fase-fase ini untuk menjadi lebih kuat, Hazel. Kamu tidak harus selalu melindungi, cukup dampingi. Sebenarnya tidak ada luka yang bertujuan untuk membuat kita terjerumus ke dalam derita tanpa jeda. Luka hanyalah awalan, bibit kekuatan yang akan menempah hati dan juga pundak kita untuk lebih tegar menjalani hidup di dunia."
Gadis berlesung pipi itu terdiam, memainkan gelas susu yang ada di genggaman.
"Aku tau, Mas. Tetapi melihat orang yang kita sayangi terluka. Aku tidak bisa bahagia, terlebih jika mengingat apa yang sudah Nigar lewati selama ini. Aku hanya ingin dia terus bahagia, Mas."
Ardan tersenyum, mengusap puncak kepala sang istri geram.
"Kebahagiaan itu akan datang, Sayang. Pasti, kita hanya perlu bersabar. Mungkin Tuhan tengah mengajari Nigar arti ikhlas dan sabar. Aku yakin adikmu cukup kuat untuk itu."
Hazel menarik napas, kali ini pikirannya tidak tenang jika mengingat beban sang adik.
"Aku berpikir, apa aku izinkan saja Nigar untuk kembali ke Turki? Setidaknya, di sana adalah tanah tempat kami berasal?"