
Pang ....
Sekuat tenaga Ardan mengembalikan bola yang datang ke arahnya. Memukul sekuatnya, melampiaskan kekesalan yang kian membara.
"Wo ... wo ... wo," kata Arfi menghindari bola yang mengarah padanya.
Sepasang mata sayu itu memandangi bola yang baru saja melewati tubuhnya. Baru menoleh, bola yang lain datang dan menghantam lengannya.
"Ardan!" teriak Arfi seraya membanting raket tenisnya.
"Kau itu kalau kesal main sendiri saja! Kenapa malah aku yang jadi samsak kekesalanmu?"
"Sorry," sesal Ardan seraya memantulkan bola tenis ke lantai, menangkapnya kembali dan mengulangi beberapa kali.
Lelaki berambut pirang itu meraih raketnya seraya berkata. "Aku tak mau main lagi."
Dia berjalan keluar dari lapangan tenis. Sementara Ardan hanya mengendikkan bahunya. Tak terlalu peduli.
Saat tubuh sang adik sudah keluar, lelaki itu kembali memainkan bolanya. Memukul sekeras-kerasnya.
Decitan suara sepatu dan dentuman suara bola beradu saling bersahutan. Dari luar lapangan Arfi hanya menggelengkan kepala.
Bingung dan juga heran, hal apa yang membuat sang kakak seperti sangat terbebani. Jika hanya soal mama, seharusnya dia bisa sedikit lebih santai seperti sebelumnya.
Arfi menarik napas, meneguk air dalam botol dengan mata yang terus memandangi Ardan. Masih sangat keras menghantam bola-bola yang datang ke arahnya.
Lelaki itu menggeleng pelan, lantas menarik raketnya berjalan keluar dari tempat latihan.
Tajam tatapan elang itu memandang lurus ke depan. Pikirannya mengawan, mengingat kejadian-kejadian yang terjadi selama dia tinggal di rumah besar itu.
Bagaimana ketidaknyamanan Surya, tangisan sang putra, air mata Hazel dan juga air mata mamanya. Lalu, senyum Gerald saat bermain bersama Yena, tawa Aulia dan tanpa sadar kekuatan dia dalam memukul bola semakin besar.
Satu bola memental ke arah wajah, mengenai telak batang hidungnya. Ardan membanting raket dengan kesal, menghapus ujung hidung yang berdarah, perlahan terduduk lemas di atas matras.
Pikirannya terus melayang, mengapa sangat susah hanya sekadar menyatukan keluarga kecilnya dengan keluarga Erlangga?
Mengapa mereka harus serumit ini? Lelaki itu mengacak rambut, mengempaskan keringat yang menempel di rambut dan perlahan terbaring lemas.
Naik turun dada tegap itu menetralkan napas yang ngos-ngosan. Bagaimana lagi caranya untuk menyatukan mereka? Surya dan keluarga Erlangga.
Lelaki berwajah garang itu bangkit dengan malas saat deringan ponselnya terdengar. Menggeser cepat sesaat setelah melihat nama yang tertera di layar.
"Ya. Ada apa?" tanya Ardan tanpa basa-basi.
"Maaf mengganggu, aku hanya ingin bertanya apa kalian masih di ibu kota?"
"Ya."
"Lalu bagaimana keadaan Surya apa dia-dia baik-baik saja?"
Seketika Ardan menarik napas. "Jika kukatakan dia tidak baik-baik saja apa kamu akan datang ke ibu kota?"
Pedro tertawa, "ayolah Ardan, pasienku bukan dia saja."
"Kalau begitu berhentilah berbasa-basi!" bentak Ardan geram.
"Hei, aku hanya bertanya tentang pasienku. Apa ada yang salah?"
"Ya, ya. Aku tak punya waktu berdebat denganmu."
"Baiklah, maaf menganggu waktumu, Pak. Kalo begitu selamat sore."
"Em, Pedro tunggu." Tahan Ardan sebelum panggilan terputus.
Satu tangan kekarnya mengusap kepala.
"Aku dengar ... kau bisa melumpuhkan ingatan seseorang, apa benar?"
Sejenak Pedro terdiam, lalu hela napasnya terdengar. "Ada apa? Ingatan siapa yang ingin kau lumpuhkan, Ardan?"
Lagi-lagi Ardan menarik napas, akankah cara ini berhasil? Sejujurnya dia tidak ingin menghapus bayangan Arsy dalam ingatan sang mama. Namun, jika dengan cara ini Aulia bisa lebih baik keadaannya. Tak ada salahnya membuang bagian menyakitkan itu dalam kenangan masa lalu sang bunda.
"Ardan," panggil Pedro lagi.
"Seseorang ... penderita Prolonged Grief Disorder."
"Trauma pasca kehilangan orang tersayang? Siapa?"
Lelaki itu bungkam, selama ini keadaan Aulia ditutupi dari wajah dunia. Tak ada orang luar yang tau penyakit Aulia kecuali Ferdi.
"Pedro, jangan tersinggung. Tapi apakah kamu bisa menyimpan rahasia ini?"
"Hei Ardan, aku memiliki etika kedokteran. Haram bagi kami membuka identitas seorang pasien."
"Kalau begitu bisakah kau ke ibu kota? Jangan khawatir, aku yang akan menanggung segala kebutuhanmu."
Kali ini berganti sang dokter yang menarik napas. "Akan kucari waktu untuk libur dari rumah sakit. Kamu bisa jelaskan lebih rinci sejauh apa traumanya? Atau mengirimiku berkas-berkas yang bisa membantu menjelaskan keadaanya jika ada. Agar aku bisa menyiapkan segalanya dari sini."
Ardan hanya mendengarkan, entah ini cara yang tepat atau tidak? Entahlah, rahasia semesta, siapa yang bisa menduga?
"Baiklah, aku akan mengirimkan beberapa rekam medis tentang keadaannya."
"Baiklah aku tunggu."
"Pedro."
"Ya."
"Kali ini aku benar-benar berharap padamu, berusahalah sekuatnya karena pasienmu adalah ... Nyonya Erlangga."
Lelaki berjas hitam itu memutar badannya saat melihat salah satu pengacara muda nan seksi itu sedang berdiri di depan lobi.
Mengurungkan niatnya bertemu Arfan dan kembali ke parkiran. Memacu ferrari merahnya kembali ke kediaman Erlangga.
"Kenapa kau kembali?" tanya Gerald saat melihat Arfi berjalan menuju lantai atas.
"Aku gerah di kantor, Pa."
"Arfi! Ada yang ingin Arfan katakan padamu! Kembali ke kantor pusat!"
"Ya ... ya. Aku akan kembali setelah mandi." Tak acuh lelaki itu terus berjalan menaiki anak tangga.
Gerah setiap kali harus bertatapan dengan Ayla.
"Kenapa akhir-akhir ini Ayla terus yang kutemui? Ayla di mall, di kafe, di mini market dan kantor. Setelah ini di mana lagi?" dumel Arfi geram sendiri.
"Kurasa ke neraka pun dia akan ikut."
Sementara di bawah sini Gerald semakin resah, berulang kali matanya menatapi ponselnya yang terus berdering sedari pagi.
Tidak bisa berdiam, akhirnya lelaki tua itu memutuskan untuk kembali kekesibukkannya. Memimpin sebuah perusahaan besar yang tengah memasuki sebuah badai besar.
"Arfi, Papa tak bisa memaksamu. Tapi kali ini, Papa dan perusahaan hanya bisa bergantung padamu."
.
.
Berhari-hari, lelaki tua itu tampak sibuk pada permasalahan perusahaan. Jarang kembali ke rumah dan mulai jarang bermain pada Yena. Sikap dan tingkahnya mulai kembali ke Gerald yang semula.
Dingin, bahkan dia sering keluar saat mendengar tangisan Yena yang menggema. Jangankan lagi bermain bersama, bahkan menyapa saja dia tidak lagi pernah.
Perhatian Ardan teralih saat ponsel di sebelahnya bergetar. Bibir tipisnya melengkung dengan lebar saat mengetahui sang dokter bersedia datang ke ibu kota.
"Bi Indri, tolong siapkan mama. Karena siang ini ada tamu yang akan bertemu dengan mama."
Wanita paruh baya itu hanya mengangguk, sedikit bersiul Ardan mendekati Hazel.
"Ada kabar baik untuk putramu."
"Oh, ya? Apa?"
"Dokter Pedro akan ke sini."
Gadis bermata madu itu tersenyum lebar. "Benar, Mas?"
"He'em."
"Mas yang minta?"
"Memang siapa lagi?"
Seketika gadis mungil itu berhambur ke dalam dekapan Ardan. Mengecup sekilas bibir Ardan seraya berkata, "aku mencintaimu, Mas."
Ardan hanya terkekeh, mengusap lembut puncak kepala sang istri. "Aku lebih mencintaimu."
Mendengar kalimat itu Arfi bersiul seraya melirik Nigar.
"Kalau istriku, kira-kira cinta, gak?"
Nigar tersenyum seraya menyodorkan sepiring buah ke hadapan sang suami.
"Menurut Arfi bagaimana?"
"Enggak!"
"Tebakan Arfi tepat sekali," jawab Nigar seraya menoel ujung hidung Arfi.
Arfi berdecak sebal, menarik pipi Nigar untuk dikecup, gemas. Lalu, sepasang tangan kekar itu mendekap bahu Nigar erat.
"Gak masalah, yang penting aku mencintaimu. Mau kamu cinta atau gak, ya terserah."
"Oh ya?"
"Ya. Karena cintaku, cukup untuk membuatmu selalu nyaman hidup bersama denganku."
Bibir ranum itu mengembang lebar, menatap wajah Arfi lamat.
"Tapi aku juga mencintai Arfi."
"Benarkah? Sejak kapan?"
"Jangan ditanya sejak kapan? Karena sejarahnya akan sangat panjang untuk diceritakan."
"Aku juga mencintaimu, Nigar. Tak perlu kamu tanya seberapa besar, karena cintaku terlalu besar untuk kamu bandingkan."
Gadis cantik itu menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Tersipu malu mendengar ucapan sang suami.
Arfi kembali menarik kepala Nigar, mengecup pipi putih dengan semu kemerahan yang menghiasinya. Dia selalu geram melihat rona yang sering hadir di wajah cantik itu.
"Bukan hanya besar, tetapi juga dalam."
Mata Nigar melebar, baru akan membuka bibir satu jari Arfi menghentikan ucapannya.
"Jangan tanya sedalam apa, karena itu akan sangat dalam sampai bisa membuatmu tenggelam, Baby."