For My Family

For My Family
250



Kedua jemari Ardan saling meremat, tatapannya kosong memandang ke depan. Masih mencerna setiap pengakuan Gerald. Antara percaya dan tidak. Rasanya dia sulit mempercayai bawah Erlangga yang berdiri sekarang benar-benar sesuatu yang papanya bangun dari nol.


Selama ini Gerald selalu mengatakan banyak hal yang dia korbankan untuk mempertahankan perusahaan. Ardan pikir kalau itu hanyalah sebuah alasan saja agar Gerald bisa memaksa anak-anaknya untuk terjun ke dunia bisnis.


Tak pernah terpikirkan bahwa yang selalu Gerald bilang adalah tentang perjuangan ibundanya yang telah rela menukar kehidupannya.


Ardan tertawa getir, dia mengusap wajah itu kasar. Benar-benar tak habis pikir oleh kenyataan yang ada. Ardan pikir selama ini Gerald sangat setia kepada Aulia hanya karena itu adalah sifat dan karakter asli Gerald. Ternyata lelaki itu sangat setia pada wanitanya karena masa sulit yang pernah mereka lewati berdua.


"Mengapa aku bodoh sekali?" tanya Ardan getir seraya terkekeh sendiri. Satu tangan besarnya masih menutupi wajahnya.


"Jika memang perusahaan itu adalah perjuangan mama dan papa. Maka debu dilantainya pun takkan rela kuberikan pada orang lain."


...***...


Ardan melepaskan kancing jasnya saat memasuki ruangan Evan. Lelaki itu menjatuhkan badan di atas sofa, di mana banyak berkas-berkas milik Even berserakan di meja depan sofa.


"Apa ini?" tanya Ardan seraya meraih salah satu berkas di sana.


"Itu hanya beberapa bukti yang aku kumpulan tentang Guard Law Firm."


Senyum sinis tercetak miring di bibir Ardan. Sepertinya dia tak salah memberikan pekerjaan pada temannya tersebut karena Evan adalah seseorang yang loyal dalam melakukan tanggung jawabnya.


"Sepertinya kau benar-benar bekerja keras, Van," sindir Ardan seraya meletakan kembali berkasnya ke atas meja. Tak terlalu peduli karena saat ini pikirannya mulai terbagi.


"Salah mereka sendiri. Siapa suruh mereka meremehkanku? Lihat saja! Akan kubuat mereka bersimpuh memohon ampunku," kata Evan yang masih terfokus pada laptopnya, semakin banyak informasi yang dia korek. Maka semakin banyak pula kecurangan Farhan yang terbuka.


Evan, bukan orang yang mudah puas. Jika sudah mencari bukti, maka dia akan menelusuri sampai hal terkecil. Bahkan jika kuman ditubuh Farhan bisa menjadi sesuatu yang memberatkan, dengan senang hati dia akan mencari hewan tersebut.


"Ternyata kali ini sekutu yang kutarik sangat kejam," ledek Ardan.


Senyum miring tercetak di bibir Evan. "Kau tau dari dulu, kan? Kalau aku paling benci dipandang sebelah mata. Jika mereka tidak bisa memandangku dengan kedua matanya, maka akan kubuat mereka tak bisa memandang selamanya."


Ardan hanya terkekeh dan menggeleng pelan. Sepak terjang Evan di Macau bukan sembarangan. Dia bekerja pada beberapa mafia kelas atas, sudah pasti cara dia untuk bekerja akan lebih bringas dari penegak hukum lainnya.


Terdidik oleh pengalaman dan dibesarkan oleh kegagalan. Kini, Evan menjadi salah satu orang hukum yang sangat ditakutkan di negara penuh dosa itu. Sayang, Guard Law Firm tidak mengetahui semua itu.


"Aku akan pergi ke luar pulau dalam minggu ini untuk memisahkan Ruby Jewelry sesuai keinginan mereka. Kau atur segala berkas yang diperlukan, setalah itu susul aku ke sana."


Evan hanya mengangguk, tangannya masih aktif di atas keyboard laptop tidak terlalu peduli pada perintah Ardan.


"Evan, jangan terlalu kejam, Kawan. Aku takut kau tak berumur panjang," celetuk Ardan saat melihat Evan yang masih fokus pada apa yang dia cari.


Seketika tangan Even menutup laptop dengan kesal. Menatap Ardan nyalang.


"Kau sadar aku melakukan ini semua demi siapa?"


Ardan hanya terbahak.


"Bisa-bisanya kau menyumpahiku segala."  Lelaki itu berjalan ke arah mesin pendingin, mengeluarkan dua kaleng soda, lalu menjatuhkan badan di sebelah Ardan.


"Setelah pemisahan anak perusahaan, apa kau sudah merencanakan hal yang lainnya?" Satu tangan Evan menyerahkan kaleng soda tersebut.


Lelaki beralis tebal itu menarik napasnya, membuka penutup soda miliknya.


"Aku dengar dari Arfan kalau anak perusahaan itu adalah penopang perusahaan kalian. Kau yakin akan mengambil langkah ini, Ardan? Aku yakin aku bisa menekan pihak lawan agar tak membocorkan rahasia perusahaan. Namun penurunan harga saham? Bagaimana kau akan mengatasinya?"


Sulung Erlangga itu tertunduk, dia sudah memikirkan semua kemungkinan terburuknya. Mungkin dia sanggup menyelamatkan sebagian kecil perusahaan Erlangga, tapi untuk mempertahakannya? Itu masih sangat mustahil.


Melihat air wajah Ardan, Evan hanya menghela napas panjang.


"Kali ini aku ingin kau memikirkannya lagi, Ardan. Ingat satu hal, terlalu ambisi untuk menang akan menjatuhkanmu lebih dalam."


...***...


Lelaki berwajah garang itu menyampakkan jas ke atas kasur, lalu tubuh itu ikut limbung di sana. Menutupi dahi menggunakan pergelangan tangan. Pikirannya sangat lelah, terlebih dengan segala kenyataan yang Gerald buka, seketika keyakinan yang dia miliki mulai meragu. Langkahnya untuk melangkah mulai bimbang.


Takut jika langkahnya akan menghancurkan segala kerja keras sang mama. Takut jika perusahaan itu tidak akan bisa bangkit lagi setelah mengalami keterpurukan harga saham.


Hazel yang baru keluar dari kamar mandi langsung mendekat saat mengetahui sang suami sudah pulang. Tidak seperti biasa, kali ini Ardan terlihat semakin lelah.


Wanita itu mendekati sang suami, memindahkan kepala Ardan ke dalam pangkuannya. Lembut jemari lentik itu memijat kepala Ardan penuh kasih sayang.


"Istirahat dulu, nanti aku banguni saat jam makan malam."


Tarikan napas Ardan terdengar berat. Lelaki itu menutupi matanya menggunakan pergelangan tangan.


"Hazel," panggilnya lembut.


"Hem?"


"Jika kamu dihadapkan oleh dua pilihan yang sama beratnya. Apa yang akan kamu lakukan?"


"Maksudnya?" tanya Hazel bingung.


"Lupakanlah," kata Ardan menyerah. Mungkin saat ini Hazel bukanlah lawan bicara yang pas untuknya.


Ponsel yang ada di sebelah Ardan berdering, sedikit malas lelaki itu menurunkan tangannya. Melihat nama sang penelpon. Ia langsung menggeser tombol hijau dan meletakan di salah satu telinga.


"Ya, Fer?"


"Dan, apa aku mengganggu?"


Lelaki beralis tebal itu memijat pangkal hidung. Lantas, ia bangkit dan berjalan ke arab balkon. Mencari jarak agar percakapannya tak terdengar dan membuat sang istri khawatir.


"Ada apa?" tanya Ardan sesaat setelah menutup pintu balkon.


"Aku dengar dari Arfan, katanya kau sudah memutuskan untuk menjadi CEO Erlangga? Apa benar?"


"Hmm," jawabnya malas.


"Apa ada masalah?" Seketika ******* napas Ardan terdengar berat.


"Fer, Erlangga hampir colaps. Guard Law Firm meminta pecah kongsi dengan Ruby Jewelry sebagai bayarannya."


Kini bergantian lelaki berkacamata di seberang sana yang mendesah berat. Pantas saja Ardan mengambil langkah ini tiba-tiba, ternyata keadaan perusahaan besar itu memang sudah sangat parah.


"Lalu? Bukannya kau sudah menyetujuinya?"


Ardan terdiam, jika saja dia lebih awal mengetahui kenyataan yang dibuka Gerald. Mungkin dia tidak akan sembarangan menyetujui.


"Aku ragu, Fer. Saat harga saham anjlok, apakah aku bisa menormalkannya lagi? Ini takkan mudah, karena saat ini sebagian Direksi juga sudah mulai khawatir."


"Ardan, ini seperti bukan kamu. Ardan yang kukenal tidak akan pernah ragu dalam memutuskan langkah dan rencana."


Lelaki itu mengusap wajah kasar, dia juga bingung kenapa saat ini langkahnya malah menjadi gamang. Entah karena kenyataan yang Gerald buka, atau hanya karena lawannya cukup tangguh untuk dia takhlukan.


"Ini pertaruhan besar, Fer. Aku ... takut."


Di seberang sana Ferdi terdiam, selama hidupnya Ardan tak pernah takut dalam mengambil keputusan ataupun melawan. Seperti sebuah firasat akan sebuah kegagalan di masa mendatang. Mereka semua mencemaskan hal yang sama.


"Lalu kau akan bagaimana?"


Ardan menggeleng, menarik napas panjang dengan membungkukkan badannya. Menumpuhkan kedua sikunya di pagar balkon. Sementara mata masih memandang kosong ke arah, entah.


"Entahlah," katanya lemas.


Ferdi terdiam, tidak tega saat melihat sahabat terdekatnya dalam sebuah desakan masalah yang sangat besar. Ingin membantu, tetapi perusahaan dan urusan pribadinya juga tidak bisa menunggu.


Kedua lelaki itu saling menarik napas, sama-sama menghela napas lelah. Lalu, lelaki berkacamata itu mengingat sesuatu.


"Ardan, bukankah Ruby Jewelry adalah perusahaan perhiasan?"


"Ya. Karena itu mereka menginginkannya, selain pendapatannya yang sangat stabil. Anak perusahaan itu memiliki harga saham yang melangit."


Seulas senyum terbit di wajah teduh milik Ferdi. Dia memang bukan orang yang menyeramkan seperti Ardan. Namun, otaknya terkadang bisa berpikir lebih licik dari para Erlangga.


Seperti kata pepatah, semakin tenang air yang mengalir, maka semakin bahaya untuk diselami.


"Aku punya ide," katanya antusias.