
Ardan memasuki kamarnya dengan membanting daun pintu kasar. Ia tarik selimut di atas kasur dan menginjaknya berulang kali.
"Aku benci saat keyakinanku mulai goyah, aku benci saat langkahku mulai gamang. Aku benci mengakui ketakutanku!" bentak Ardan meluapkan emosinya.
Melihat itu Hazel menutupi mata Surya yang tanpa sengaja menyaksikan amarah papa sambungnya tersebut.
"Mbok, tolong bawa Surya dan Yena keluar, ya."
Tak banyak berkata lagi, Mbok Darmi langsung membawa dua anak Hazel keluar dari kamar.
Sementara Ardan masih menendang-nendang selimutnya kasar. Pelan ibu dua anak itu mencoba mendekati Ardan.
"Mas," panggilnya lembut.
"Mas." Sedikit berteriak Hazel mencoba menyadarkan Ardan.
Lelaki itu menoleh, seketika tendangannya berhenti saat menatap wajah Hazel yang ketakutan bercampur kebingungan.
Lelaki itu mengacak rambut hitam legamnya dan keluar ke balkon kamar. Mencoba mengatur napas dan amarahnya.
Perlahan wanita berdarah Turki itu mendekat, menelusupkan kedua tangannya di antara lengan Ardan dan memeluk tubuh kekar itu dari belakang, erat.
"Tenang, Mas. Tenang, Sayangku," katanya mencoba menangkan Ardan.
Lelaki tegap itu hanya menarik napas, kedua tangannya ia tumpuhkan pada pagar.
"Hazel."
"Hmm."
"Aku takut, aku ragu, dan aku bingung dengan apa yang akan aku lakukan nantinya. Jika aku gagal apa jadinya keluarga ini? Apa keluarga ini akan lebih hancur daripada sebelumnya?"
Wanita itu hanya diam, dia tempelkan wajah pada punggung kekar suaminya.
"Bagaimana jika Erlangga benar-benar kolaps? Bagaimana jika langkahku salah? Bagaimana?"
Wanita itu masih terdiam, membiarkan Ardan membuka keluh kesahnya.
"Hazel."
"Hmm?"
"Bagaimana jika pengobatan Surya harus terhenti? Bagaimana jika Arfi jadi miskin? Bagaimana jika keadaan mama semakin memburuk? Bagaimana—"
"Mas," panggilan lembut itu membuat ucapan Ardan terjeda. "Boleh aku bertanya?"
"Apa?"
"Seberapa yakin Mas kalau rencananya akan berhasil?"
"Entahlah, aku tidak tau."
"Lalu, apa hasilnya jika rencana itu berhasil nantinya?"
"Mungkin Erlangga tidak akan kolaps dan Papa tidak harus berpikir keras lagi untuk mempertahankan perusahaan. Karena aku akan menggantikan Papa nantinya."
"Lalu, jika Mas mengambil opsi Pak Gerald, apa hasilnya?"
"Pernikahan kedua Arfi, Erlangga akan dikendalikan David. Entahlah, aku tak ingin memikirkannya."
"Kenapa?" tanya Hazel lembut.
"Karena aku tak ingin itu terjadi. Setelah usaha yang kami lakukan untuk Erlangga, siapa yang ingin perusahaan yang dibesarkan dengan keringat dan darah itu jatuh ke tangan orang lain."
"Kalau begitu berjuanglah pada rencanamu."
"Tapi jika aku gagal, maka Erlangga akan hilang dari dunia bisnis Hazel. Erlangga bisa saja lenyap tanpa sisa."
"Menurutmu, lebih baik melihat Erlangga lenyap atau pindah kendali?"
Ardan terdiam, jelas dia tidak ingin keduanya terjadi. Namun, jika disuruh memilih, dia lebih memilih untuk ....
"Lebih baik lenyap, setidaknya aku tak harus tunduk pada orang lain padahal itu milik kami."
"Kalau begitu bertarunglah sampai akhir, Mas. Berjuanglah sampai Mas tak memiliki keyakinan untuk goyah, teruslah melawan sampai Mas tak memiliki waktu untuk ragu."
"Tapi, Hazel—"
"Mas," panggilnya lembut. "Bukankah kita terdesak? Kita tak punya waktu untuk ragu, kita nggak punya pilihan untuk bimbang. Kita hanya bisa melawan dan terus berjuang, hasil akhirnya mau bagaimana? Itu semua sudah tergantung pada takdir Tuhan. Kita tak selamanya bisa mengenggam apa yang kita miliki saat ini, Mas. Semua punya batas waktu, saat Tuhan ingin mengambilnya, maka kita bisa apa? Kita hanya bisa berjuang, hasilnya serahkan pada Tuhan."
Tajam tatapan mata Ardan menunduk dalam. Mengapa kali ini rasanya dia tidak ingin kehilangan? Bukan karena tidak percaya pada takdir Tuhan. Namun, dia ingin membuktikan bahwa dia mampu menjaga hal yang telah diperjuangkan orang tuanya.
"Saat ini melawan atau tunduk pada keadaan hasilnya akan sama saja, Sayang." Hazel melepaskan depakannya dan memutar badan Ardan. Meraih pipi Ardan dengan kedua tangannya.
"Lebih baik Mas gagal setelah berjuang, daripada Mas menyerah pada keadaan."
Bubir mungil wanita itu mengembang, menampilkan dua lesung dalam pada pipi gembilnya.
"Lakukanlah, Mas. Setidaknya untuk keadaan yang tidak akan pernah kamu sesali nantinya. Lebih baik kita menyesal setelah kita berusaha, daripada kita menyesal karena tidak pernah melakukan apa-apa."
Hazel menjijitkan kedua kakinya, menarik bahu Ardan untuk bisa dia peluk dengan erat.
"Jangan memikirkan bagaimana pengobatan Surya nantinya, karena tak peduli apa pun yang terjadi, kami adalah tempat untukmu pulang. Kami adalah rumah yang takkan pernah meninggalkanmu, Sayang. Berjuanglah demi aku dan anak-anak, berjuanglah demi kita."
"Hazel apa kamu mempercayai apa yang kulakukan kali ini?"
"Tentu saja. Aku selalu percaya pada apapun yang Mas lakukan tanpa pernah meragukannya sedikitpun."
Ardan tersenyum simpul, ia kecup pucuk kepala sang istri. Melirihkan ucapan terima kasih. Karena meski mengalami pertentangan, tetapi masih ada orang yang percaya padanya tanpa menanyakan alasan. Setidaknya, dia harus berjuang demi kepercayaan mereka semua.
...***...
Setelah bertengkar dengan Ardan, lelaki tua itu memilih keluar kamar dan mencari udara untuk menenangkan. Tak berdaya menghadapi keadaan, terlebih jika dia harus melihat wajah polos Aulia. Seketika rasa bersalah semakin besar bersarang di dada.
Perlahan dadanya terasa nyeri, ia keluarkan sebatang rokok dan membakarnya perlahan. Arfan benar, jantungnya sudah mencapai batasan untuk menghadapi segala permasalahan yang ada.
Ketika Gerald ingin menyesap batangan putih itu, gerakannya terhenti saat sentuhan lembut menyentuh punggung tangannya.
Lelaki tua itu menoleh, Hazel tersenyum sendu seraya meletakan gelas teh di meja dekat Gerald.
"Saya tau saya tidak punya hak untuk melarang Anda. Tapi ini terlalu bahaya untuk lelaki seusia Anda, Pak," kata Hazel mencoba menghentikan gerakan Gerald yang ingin mengisap rokoknya.
Lelaki itu tersenyum, tetapi sorot matanya terlihat sedih, ia menggeleng dan menjatuhkan batangan itu.
"Setidaknya saya harus berumur panjang untuk melihat Yena dewasa, ya?"
Hazel tersenyum simpul, ia jatuhkan badan di sebelah Gerald. Kalau dulu dia enggan untuk berdekatan, entah kenapa kini dia ingin mendekati setiap kali melihat sang mertua tengah menyendiri seperti ini.
Seperti melihat sisi suaminya, tapi di dalam diri yang lebih tua. Perasaan dia mengiba, terlebih saat ini hanya ada orang tua dari pihak Ardan yang dia miliki.
Dia ingin menjadi putri sekali lagi, walaupun terkesan tak mungkin, dia ingin mencoba.
"Saya tau ini terdengar lancang, tapi sebelum keadaan mama membaik, saya ingin menjadi lawan bicara Anda, Pak."
Gerald tertawa sinis, kepalanya menggeleng dengan lirikan tajam menatap wajah Hazel.
"Dari mana kamu mendapatkan keberanian itu?" tanya Gerald sinis.
"Entahlah, tapi jika mengingat lelaki yang saya nikahi adalah sosok sekuat Mas Ardan, perlahan saya juga ingin menjadi lebih kuat dari saya yang dulu. Saya ingin belajar menghadapi kenyataan tak peduli seburuk apa itu. Karena lelaki yang saya nikahi Mas Ardan, saya ingin menjadi tempat yang kuat untuk dia pulang."
Gerald terdiam, dia perhatikan wajah itu lamat-lamat. Terkadang, melihat sosok wanita seperti Aulia dan Hazel membuat hatinya bersorak kagum. Wanita-wanita yang mampu menerjang apa pun demi mendampingi lelakinya.
"Pasti Ardan sudah menceritakannya padamu, bukan? Pada akhirnya kami memang dua orang yang tak bisa berdamai lagi. Dia tak mau mengalah sedikitpun."
Hazel sedikit tertawa mendengarnya, benar-benar lucu melihat dua orang ini. Selalu berperang untuk tujuan yang sama, tak ada yang ingin mengalah. Ego dan angkuhnya seorang lelaki yang menginginkan keunggulan dengan cara tempuh yang berlawanan.
"Tapi saya melihat Anda dan Mas Ardan adalah dua orang yang sama dalam tubuh yang berbeda."
Gerald tertawa renyah. "Jangan bercanda, saya dan dia jelas memiliki sudut pandang yang sangat jauh berbeda. Dia terlalu gila."
Hazel tatap wajah tua itu lekat, memang benar. Mereka seperti copyan dari berbeda zaman. Keangkuhannya sama sekali tak ingin mengakui, meski itu anak sendiri.
"Seperti yang Anda katakan, ini hanya berdasarkan sudut pandang saja, bukan? Anda telah membuka sudut pandang sebagai seorang ayah dan saya memahami itu. Namun, sudah saatnya Anda juga membuka sudut pandang Anda di posisi anak, Pak."
"Anak-anak Anda juga memiliki sudut pandang yang mungkin ingin Anda mengerti. Mereka bukan lagi anak kecil yang bisa terus Anda lindungi. Mereka sudah menjadi pemuda-pemuda tangguh yang bisa berdiri di sebelah Anda. Bahkan saya percaya jika mereka sudah mampu berdiri di depan Anda."
"Tak peduli mau sebesar apa mereka, mereka tetaplah anak-anak. Pengalaman mereka belum cukup untuk berdiri di depan saya."
"Kalau begitu biarkan mereka melakukan kesalahan. Biarkan mereka jatuh dan bangkit sendiri. Biarkan mereka berhenti dan berkembang dengan jalan mereka sendiri. Jika Anda ingin melindungi mereka, maka cukup ingatkan mereka saat mereka salah, bangkitkan kepercayaan mereka saat jalannya buntu dan terpuruk. Karena tak peduli seenak apa hidup yang Anda berikan, mereka tetap akan memilih hidup mengandalkan diri sendiri, Pak."
"Kau bisa mengatakan itu karena kau belum melihat anakmu besar dan melawan. Suatu saat kamu akan paham bagaimana rasanya saat anak kita selalu berseberangan jalan."
"Ini bukan lagi tentang pertarungan internal antara Anda dan suami saya. Tapi ini tentang keluarga kita, Mas Ardan tengah berjuang untuk semua yang sedang Anda pertahankan. Dia sedang berusaha untuk semua yang sedang Anda usahakan. Bukan lagi tentang berseberangan langkah, tapi tentang tujuan yang sama. Percayalah, putra Anda hanya membutuhkan itu dari Anda."
"Jadi, kamu melakukan ini semua demi dia? Ingin membujuk saya biar saya membiarkan dia pergi?"
"Bukan demi dia. Demi kita semua, percayalah Anda dan Mas Ardan hanya memiliki perbedaan cara penyelesaian saja, tapi saya yakin jika tujuannya tetap sama. Ini semua untuk keutuhan keluarga kita."
"Dan jika memang terjadi sesuatu pada perusahaan dan memang harus berakhir. Percayalah putra Anda mampu membangunnya kembali dan itu semua adalah hasil didikan dan kerja keras Anda. Bukan hanya karena diri mereka saja."
"Mengapa kau begitu percaya jika Ardan mampu melakukan itu semua? Bagaimana jika dia gagal?"
"Karena dia adalah Mas Ardan, aku percaya bahwa apa yang dia lakukan adalah demi kebaikan. Bukan cuma demi saya ataupun anak-anak kami saja. Tapi Mas Ardan pasti melakukan untuk kita semua."
"Bagaimana jika dia kembali dalam keadaan gagal? Apa kau akan tetap setia?"
Hazel tersenyum dan menghela napas.
"Mau seperti apa dia kembali nantinya, mau hanya tinggal satu kaki ataupun satu tangan. Saya akan membuka tangan dan memeluk dia lebih erat dari siapapun. Karena dia adalah putra sulung Anda, tak peduli bagaimana keadaannya, saya akan tetap menerimanya."
Tak ubah Aulia, Ardan memiliki pendamping yang tak kalah hebatnya dari dia dulu. Melihat ketulusan Hazel membuat sudut bibir keriputnya tertarik. Seperti melihat perjuangannya di masa muda dulu, kehidupan rumah tangga Ardan mirip sekali dengan dirinya. Hanya bedanya, Ardan tak pernah gagal menghadirkan surga untuk keluarga kecil mereka.
"Atas dasar apa kau memiliki kepercayaan sebesar itu? Ardan hanya manusia biasa, tapi kau melukiskannya seakan dia makhluk yang paling sempurna."
"Karena hanya itu yang bisa saya berikan kepada Mas Ardan. Hanya kepercayaan dan keyakinan yang bisa saya berikan untuk lelaki setangguh dia, Pak. Dia memang memiliki banyak kekurangan, kadang sikapnya keras dan sangat sulit diluluhkan. Tapi itu semua membuat saya senang, karena semua itu membuat saya sadar bahwa yang saya nikahi memang hanya manusia biasa."
Gerald terkekeh pelan. "Ternyata kau cinta buta sama dia."
Hazel ikut terkekeh mendengar itu, lantas sepasang mata bundar itu menatap ke arah kamar mereka. Ada Ardan yang tengah menenangkan putra mereka di balkon kamar mereka.
"Bagaimana bisa saya tidak jatuh cinta? Jika lelaki yang Tuhan kirimkan pada saya sosok lelaki seperti dia? Mungkin dia memang menanggung banyak luka, tapi dia tak pernah membiarkan kami terluka. Mungkin dia memang memikirkan hal-hal buruk untuk dirinya, tapi dia selalu memberikan segala yang terbaik untuk kami."
Hazel menatap ke arah Gerald dengan mata yang berembunkan kaca-kaca.
"Bagaimana bisa saya tak memercayai dia? Di saat seluruh dunia mengkhianati saya, dia adalah satu-satunya yang berdiri paling tegak membela saya. Bagaimana bisa Anda tidak memercayai dia? Di saat semua permasalahan terus menumpuk dan terbelit, dia berusaha meleraikannya satu persatu dengan kesabarannya. Bagaimana Anda bisa meragukannya? Di saat semua kebimbangan dia pikul sendirian dan diubah menjadi kekuatan untuk melawan? Bagaimana bisa? Anda terus bertentangan dengan separuh jiwa Anda yang tertanam di dalam jiwa putra Anda, Pak?"