
Kinara memasukan dua box makanan ke dalam paper bag miliknya. Bibirnya terkembang lebar, sengaja menyiapkan puding untuk sahabatnya.
"Dokter," panggil Kinara ketika melihat Pedro sudah rapi dengan kemeja liris putih dan jeans hitam.
Senada dengan rok kembang mini yang Kinara gunakan. Liris dongker dengan dasar putih.
"Ada apa?" tanya Pedro seraya menggulung lengan kemejanya.
"Dokter mau terapi Surya, kan. Aku ikut boleh?"
"Tentu saja."
Kinara tersenyum, tangannya meraih ikat rambut di atas meja. Berniat akan mengikat kuncir kuda. Tetapi tangannya terhenti ketika merasakan sentuhan di pucuk kepala.
Kinara menoleh, melihat Pedro yang ada di belakangnya. Tersenyum dengan jajaran giginya yang sangat menawan.
"Ada apa, Dokter?" tanyanya lembut.
"Itu apa?" tanya Pedro, melihat paper bag di atas meja makan.
"Oh, itu puding buat Mbak Hazel."
Raut wajah tampan itu berubah, merengut menatapi wajah Kinara.
"Setelah menikah ini adalah masakan pertamamu. Apakah suamimu ini tidak lebih penting dari sahabatmu."
Kinara tertawa kecil.
"Maaf, aku pikir Anda tidak terlalu suka makanan seperti ini."
"Tapi tetap saja itu kan masakan pertama istriku."
Gadis berrok kembang itu berjalan ke arah lemari es. Mengeluarkan sebuah cup dan menunjukkannya ke hadapan lelaki berdarah setengah Spanyol itu.
"Tapi yang kubuat pertama kali puding brownies ini." Tunjuk Kinara seraya membuka penutup cup.
"Itu buat siapa lagi?"
"Buat Anda."
Senyum terkulum dari bibir tipis lelaki beriris cokelat itu. Jarinya menarik salah satu sendok dan menikmati makanan berbahan cokelat tersebut.
"Bagaimana rasanya?" tanya Nara penasaran.
"Pas. Manisnya juga pas." Pedro tersenyum semringah, semakin terlihat jajaran giginya yang sangat menawan.
Iris cokelat itu terus menatap wajah Kinara yang sedang memerhatikan gerakan bibirnya.
Satu tangannya menarik selembar tisu. Tangan yang lain menarik kepala Kinara. Lembut, tangan kekar itu mengusap sudut dahi yang berkeringatan.
Kinara terdiam. Mencerna setiap gerakan lembut yang Pedro tunjukkan padanya. Detik kemudian bibir sensual itu mengembang.
Merasakan debaran yang terus muncul setiap kali mereka berdekatan. Ada yang mulai hidup. Detak jantung yang tak lagi berirama dengan semestinya menjadi penanda. Bahwa benih kasih, mulai terpupuk di dalam jiwa.
Pedro menarik cup puding yang Nara pegang. Mendekap tubuh gadis itu dengan erat. Lantas ia mendudukkannya di atas meja makan.
Lelaki itu menumpuhkan kedua tangannya di tepi meja. Mengurung Kinara dalam dekapan tangannya. Perlahan tubuh tegap itu menunduk, menyejajarkan wajah dengan istrinya tersebut.
"Kenapa Anda melihatku begitu, Dokter?"
Pedro tersenyum, pelan satu tangannya merapikan helaian rambut sang gadis. Menyingkap di balik telinga.
"Kamu terlihat cantik saat menggerai rambutmu, Anjani."
Gadis itu menggigit bibir bawahnya, perlahan wajahnya tertunduk. Menyembunyikan seraut wajah kemerahan dengan guratan-guratan indah menghiasinya.
"Bisakah jangan panggil aku Dokter lagi? Dan jangan panggil Anda lagi."
Kinara mendongak, pelan anggukan dia berikan.
"Tetapi jika Dokter adalah panggilan sayang darimu. Aku akan menerimanya dengan senang hati."
Gadis berblouse rajut itu tersenyum. Sedikit menunduk ketika mata lelaki itu terus menatap intens ke wajahnya.
"Bagaimana jika aku tidak jadi ke rumah, Hazel?"
"Eh, kenapa?" tanya Nara kaget.
"Aku ingin menghabiskan waktu berdua denganmu. Jalan, nonton, atau makan, apa pun yang kamu mau. Bagaimana?"
"Tapi pudingnya?" Nara menatapi paper bag yang ada di sebelahnya.
"Aku juga ingin lihat bayi Yena, Dokter," pinta Nara lembut.
Pedro terdiam, memandangi wajah cantik itu dengan dalam. Mengapa? Dia baru sadar jika bibir gadis itu sangat menggoda. Sensual, terlebih saat terlapisi sebuah warna.
"Dokter," panggil Nara lembut.
"Hem."
"Ayo pergi. Aku ingin lihat bayi Yena," pintanya lagi.
"Baiklah. Tetapi ada syaratnya."
"Syarat? Apa?" tanya Nara penasaran.
Pedro memainkan satu jarinya di atas bibir. Gadis itu menggigit bibirnya, lalu wajanya tertutupi oleh kedua telapak tangan.
"Cium aku," bisik Pedro lembut di telinga Nara.
"Em, Dokter!" panggil Nara tertahan.
Pedro tersenyum, perlahan satu tangannya mengelus helaian rambut Nara. Berakhir pada tangkupan di pipi gadis tersebut.
Pelan, Pedro menarik kedua tangan Nara yang menutupi wajah. Bibirnya terkembang dengan lebar.
Mendekat, menghapus jarak di antara keduanya. Perlahan kedua tangan itu merengkuh pundak Nara dengan erat. Bersamaan dengan ******* bibirnya yang terasa semakin nikmat.
Tak memiliki perasaan? Yakinkah pertahananmu tak akan goyah jika sudah di dalam sebuah ikatan?
Bukan lagi sebuah nafsu dunia yang menghanyutkan raga. Melainkan kegiatan yang juga bernilai ibadah.
...***...
Sementara Ferdi masih berperang pada pikirannya. Siapa yang ingin Khadijah tinggalkan? Lalu siapa yang ingin dia temukan?
Jika yang ingin dia tinggalkan adalah Arfi. Lalu yang dicari?
Hening. Kedua lelaki itu masih bergeming. Mencari jawaban atas pertanyaan masing-masing.
Arfi mendesah panjang, tak terasa kalau hari semakin siang. Lelaki itu melirik jam di tangan kirinya. Lalu menatap Ferdi yang ada di sebelahnya.
"Ayo pulang, Kak, ini sudah siang. Kita, bisa bicarakan ini lain kali, bukan?"
Ferdi mengangguk, ia menepuk bahu Arfi pelan.
"Pulanglah. Arfi, bagaimana pun hasil akhirnya nanti. Bagiku, kau tetaplah adikku."
Arfi tersenyum, ia mengangguk pelan. Lantas lelaki berjaket putih itu melangkah menuju mobilnya.
Sekali lagi ia melihat ke arah Ferdi yang masih duduk di kursi taman.
"Sikapmu, Kak. Membuat aku merasa tak berdaya melawan dirimu," lirih Arfi, badan itu menaiki mobil hitam Mclaren milik Ardan. Melaju pelan, kembali ke kediaman sang Kakak.
Ferdi menjatuhkan kepala di kursi taman. Memandang ke langit luas. Pelan tangannya mengusap wajah kasar.
"Karena sainganku itu kamu, Arfi. Bagaimana aku bisa melanjutkan perjuangan ini?"
...***...
Kinara menolak dada Pedro, ketika tangan lelaki itu menyentuh pangkal pahanya. Ia menarik kepala, lantas menundukkan pandangan.
"Maaf aku belum siap, Dokter," ucap Nara bersalah.
Pedro menarik dirinya, menjauhi gadis itu. Perlahan jari tangannya membuka kancing kemeja. Panas, seraya berjalan ke arah kamar.
Kesal. Sebagai suami perasaannya kacau saat menerima penolakan. Tetapi ia juga tidak bisa memaksa. Atau bisa saja gadis itu semakin benci terhadap dirinya.
Kinara meremat tepian meja, matanya menerawang ke bawah. Mengingat kejadian yang baru saja dia alami.
Kenapa dulu dia tidak menolak ketika Pedro menyentuhnya sebelum menikah. Lantas kenapa kali ini dia sadar, dan mampu untuk menolaknya?
Gadis itu turun dari atas meja, melihat bagian bahunya yang sempat terbuka dan meninggalkan jejak ciuman lelaki tersebut.
Kenapa rasanya sedih saat melihat raut wajah itu kecewa atas penolakannya?
Kinara menaikan kerah blousenya, hentakan suara heels itu berjalan menuju pintu kamar sang Dokter.
Ia mengangkat tangannya, ingin mengetuk. Lalu tergenggam kuat sebelum sempat menimbulkan suara.
Gadis itu memaling, mengambil paper bag, lantas keluar dari dalam rumah suaminya.
Memilih meninggalkan Pedro dengan setumpuk rasa kekecewaan, juga kekesalan atas sikapnya.
Langkah itu terhenti di depan sebuah toko perlengkapan bayi. Mata teralih pada satu set baju berwarna pink. Lengkap dengan aksesoris dan sepatunya.
Kinara tersenyum, segera ia masuk ke dalam toko pakaian tersebut. Melihat baju-baju berukuran mungil yang membuatnya gemas sendiri.
Perlahan tangannya meraih perut di balik rajut berwarna coral tersebut. Sudah hampir tiga bulan selepas kejadian itu berlalu. Jika saat ini dia tidak hamil. Bisakah dia memutuskan ikatan itu?
Kinara mendesah panjang, tangannya kembali memilih beberapa pasang pakaian bayi. Cukup lama, karena dia bingung memilih yang paling cantik di antara yang paling imut.
Sampai akhirnya pilihan jatuh pada baju mungil berwarna ungu dan cokelat muda. Bercorak imut dengan beberapa hiasan boneka di bagian pinggangnya.
Kinara memberikannya ke tangan pramuniaga. Matanya masih mencari beberapa pasang yang lainnya.
"Apa kamu gak ingin memakaikannya pada anak kita juga?"
"Hem? Ingin sih, tapi--" Seketika gadis itu menoleh, matanya melebar saat mendapati Pedro sudah ada di sebelahnya.
"Dokter!"
"Ya."
"Kenapa Anda bisa ada di sini?"
"Kenapa kamu meninggalkanku? Bukankah kamu ingin pergi ke rumah Hazel bersama denganku?" tanya Pedro lagi.
Gadis itu menggaruk tengkuk lehernya, tertunduk malu.
"Aku pikir Anda--"
"Marah?" tanya Pedro memotongnya.
Lelaki itu merangkul bahu Nara menuju kasir, mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam saku celananya.
"Gak usah Dokter, biar aku saja." Tahan Nara cepat.
Pedro hanya tersenyum, tak mendengar ucapan Kinara. Ia membayar apa yang telah di pesan gadis itu.
Merengkuh seraya membukakan pintu, menaiki mobil silver miliknya.
"Aku memang sedikit kesal. Tetapi itu bukan sepenuhnya salahmu," ucap Pedro setelah lelaki itu duduk di balik kemudinya.
"Dan untuk itu." Pedro menunjuk bungkusan yang ada di genggaman Nara.
"Aku tau kamu memiliki uangmu sendiri. Tetapi sudah menjadi kewajibanku untuk menafkahimu. Simpan uangmu untuk kelurgamu, dan untuk biaya hidupmu, aku yang akan menanggung sepenuhnya."
Gadis itu tertegun, lekat iris berwarna pekat miliknya menatapi wajah sang suami.
Satu air mata luruh, Kinara memalingkan wajahnya. Menghapus sudut dagu yang berair. Melihat ketulusan Pedro.
Masih bisakah ia mengingkarinya?
***
Malam gaes, sesuai janji abad lalu, malam ini author kece badai pasti berlalu crazy up.
Tapi segini aja, sudah lelah saya. Ingin bermimpi indah dulu ya.
See you buy ... buy.