
"Cukup!" tahan Ardan, ia menghela napas dan menjatuhkan kepala di atas sandaran.
"Saya gak tahan lagi. Kalian, boleh pergi lebih dulu."
Nara menganggukkan kepala, lantas ia bangkit dan berpindah meja.
Dari meja lain, Ferdi terus memandangi sahabatnya itu. Pasti saat ini dia merasa terkhianati, namun, Ferdi juga tak punya pilihan lain.
Walau dia dan Arfan terbilang cukup dekat, dia juga tak berhak ikut campur terlalu dalam. Hanya sebatas tahu tentang gosip, karena Arfan selalu mengelak saat ditanyai kebenarannya.
Perlahan lelaki itu bangkit, mendekati Ardan yang masih berperang pada pikirannya.
Tepukan lembut di bahu Ardan membuat lelaki berjas hitam itu sadar. Matanya menatap lelaki berkacamata itu dengan sinis.
"Kenapa gak pernah cerita apa pun padaku?" tanya Ardan sengit.
"Im so sorry. But ...." Ferdi mengangkat kedua tangannya, menaikan bahu dan menggeleng pelan.
"Kamu tahu aku bukan orang yang suka bercerita tentang gosip. Terlebih itu saudaramu."
Ferdi menarik kursi di sebelah Ardan, mencoba melihat telapak tangan sahabatnya itu.
"Pulanglah lebih dulu. Biar ini menjadi urusanku."
Ardan melirik ke arah tiga gadis yang ada di meja lain. Detik kemudian ia melihat ke arah Ferdi.
"Kita pulang saja dulu. Ini juga sudah waktu pulang kantor, mereka, jangan sampai jadi korban."
Ferdi mengangguk, menyuruh tiga gadis itu untuk pulang lebih dulu. Sementara ia dan Ardan masih terduduk di kursi yang tadi. Sekadar menenangkan pikiran agar tak terbawa sampai ke keluarga.
Namun, sepertinya kali ini tak bisa. Bagaimana juga, Arfan adalah lelaki yang sangat ia sayangi. Bukan hanya sekadar adik, tapi juga sahabat dekat sebelum Ferdi datang.
Sedang, Echa dan Nara jalan bersisian, bercerita beberapa hal yang membuat gelak tawa terdengar. Sampai nada dering ponsel Echa mengharuskan mereka berpisah. Karena gadis itu lebih dulu pulang dengan kekasihnya.
Nara menghela napas, menunggu bis yang akan menjemputnya pulang. Sesekali tangannya menarik tali tas yang menyelempang di bahu.
"Echeem." Seketika pandangan mata Nara berpaling, melihat lelaki dengan kemeja biru muda itu sudah berdiri di sebelahnya, memasukan kedua tangan di saku celana.
Nara hanya memalingkan wajah, berusaha agar tak terlalu peduli pada lelaki itu.
"Kamu belum menyerah juga?" tanya lelaki itu lembut.
"Saya gak bisa menyerah."
"Kenapa?"
"Karena cinta butuh perjuangan!" jawab Nara sedikit kesal.
"Berjuang untuk hati yang salah?" Pedro tersenyum lembut dan menggelengkan kepala.
"Ayolah, Nona. Jangan buang energimu untuk hal yang sia-sia."
Nara menarik napasnya, lantas ia berdiri menatap lelaki itu. Keren, dengan helaian cokelat yang tersisir rapi dan hidung mancung yang begitu tegas. Wajah blasterannya menambah sisi ketampanan tersendiri.
"Ayolah, Dokter. Kenapa anda peduli sekali dengan pribadi saya?" tanya Nara kesal.
"Itu karena--" Pedro menggantungkan kalimatnya. 'Gak mungkin jika aku bilang peduli pada Hazel.'
"Karena apa?" tanya Nara ketus.
"Karena saya peduli sama kamu!"
"Kenapa?" tanyanya lagi.
"Karena ...." Pedro memutar bola matanya.
"Karena anda suka ikut campur masalah orang lain! Saya berhak atas diri saya sendiri dan anda gak berhak melarangnya!" ketus Nara geram.
"Walaupun kamu akan menyakiti teman sendiri?" tanya Pedro balik. "Apa kamu juga tak peduli? Ayolah, kamu masih mudah dan cantik, bisa mendapatkan yang lebih dari suami temanmu sendiri."
"Maksudnya?" tanya Nara bingung.
Di tengah perperangan sengit Nara dan Dokter muda itu, Ardan dan Ferdi mendekat. Mengejar langkah Nara karena masih ada hal yang ingin Ardan korek lebih dalam.
"Kinara." Sontak tangan Ardan menarik pergelangan tangan Nara, memutar badan wanita muda itu.
"Masih ada yang ingin saya tanyakan padamu."
"Eh, masih ada?" tanya Nara bingung.
Ardan mengangguk. "Begini, bisakah kita cari tempat untuk bicara lebih dalam lagi?"
Bibir wanita itu megembang, ia ingin mengangguk sebelum lelaki di belakangnya menarik kedua belah pipinya.
Tanpa ada aba-aba, Pedro mendaratkan bibirnya di atas bibir wanita itu.
Seketika mata Ardan dan Ferdi mendelik. Tak percaya oleh perlakuan Dokter itu, ekstrem sekali.
Ardan dan Ferdi berdehem pelan, mereka saling pandangan. Grogi sendiri.
Sementara gadis itu sudah memadam, menahan gejolak amarah yang tak mampu lagi dia redam.
Plaaak
Sebuah tamparan keras menampar pipi mulus lelaki itu. Nara menarik napasnya, dadanya mulai naik-turun dengan sangat cepat. Kembali satu tamparan mendarat di pipi sebelahnya.
Nara mengusap sudut matanya, ia berbalik, menatap Ferdi di ujung sana. Lantas ia pergi, berlari meninggalkan tiga lelaki yang ada di sana.
Pedro hanya membiarkan gadis itu pergi, berlari menjauh, dan semakin jauh.
Ardan melirik ke arah Pedro, terlihat lelaki itu menyesal. Tergambar dari wajahnya yang begitu sendu.
"Boy, jangan terlalu agresif. Wanita itu didekati pelan-pelan. Jangan aksi sebelum gombalan," ledek Ardan.
Pedro hanya menatap sengit lelaki itu, seharusnya ia bersyukur. Kegilaannya hari ini adalah untuk menyelamatkan pernikahan dia dan Hazel.
"Kalau begitu, berjuanglah. Kami pergi dulu," pamit Ardan sembari merangkul bahu Ferdi.
Pedro menghela napasnya, mengusap wajah dengan kasar.
"Kenapa aku jadi begini?" tanyanya, frustasi.
***
Ardan membuka pintu rumahnya, tak seperti biasa. Rumah bertingkat dua itu terlihat sepi dan sangat gelap.
Lelaki itu berjalan ke dalam, meletakan jas di atas sofa. Langkahnya menaiki anak tangga dengan cepat.
Sembari membuka kancing kemeja di pergelangan tangan, lelaki itu mencari keberadaan kekasihnya.
"Hazel," panggil Ardan lembut. Tangannya meraih kenop pintu kamar, sama gelapnya dengan di lantai bawah.
"Sayang!" Kini suara itu berteriak lebih kencang.
Tak mendapatkan jawaban, Ardan berlalu ke arah kamar mandi. Matanya teralih pada cahaya-cahaya kekuningan di bawah sana.
Bibir tipis itu tertarik, membentuk sebuah lengkuan saat melihat tiga orang itu berada di pinggir kolam. Entah apa yang dikerjakan.
Mengurungkan niat untuk membersihkan diri, Ardan kembali turun seraya menggulung lengan kemeja sampai batas siku.
Saat pintu ke arah kolam terbuka.
Pluuuk
Sebuah letupan party popper, namun, bukan untuk menyambutnya. Melainkan Surya yang memainkannya.
"Huwaa ... Surya, kenapa digigit?" tanya Hazel kesal.
Ardan terkekeh, lantas ia menggelengkan kepalanya. Mendengar suara suaminya, wanita berperut buncit itu memalingkan wajah.
"Mas, kok sudah pulang?" tanya Hazel bingung.
"Kenapa? Gak boleh kalau aku pulang?"
Hazel melihat ke arah kolam, lilin yang dia pasang belum sepenuhnya selesai.
"Bukan begitu--" Ucapan itu terhenti saat sebuah ciuman mendarat di dahinya.
"Apa yang kamu kerjakan?" tanya Ardan memalingkan mata, menyisir seluruh pemandangan di sekitar kolam.
Hazel memanyunkan bibirnya, jarinya meremat pemantik di tangan. Kesal, padahal dia sudah merencanakan kejutan. Namun, Ardan lebih dulu pulang sebelum selesai.
"Kalau begitu, Mbok siapin makanannya dulu." Wanita gempal itu menarik Surya, meninggalkan dua orang itu di tepi kolam.
Setelah wanita paruh baya itu pergi, Ardan kembali melihat wajah Hazel. Masih ditekuk dengan jari yang menekan kuat pemantiknya.
Ardan mengambil pemantik yang ada di tangan Hazel. Menangkupkan kedua belah pipi Hazel.
"Ada apa? Kamu mau buat apa? Hem?" tanya Ardan lembut.
Bibir wanita itu melebar, mewek, dan menangis. Detik kemudian ia memeluk badan Ardan erat.
"Kenapa Mas cepet pulang? Aku belum selesai," ucap Hazel seraya menangis di dada Ardan.
"Memang kamu mau buat apa?" tanya Ardan menahan tawa. Dasar perempuan, hanya karena masalah sepele saja, bisa menangis seperti ini.
"Aku mau rayain anniversary first years pernikahan kita. Mas kenapa cepat kali pulangnya?" Semakin ditanya, semakin kencang pula tangisannya.
Kali ini Ardan tak mampu menahan tawanya, ia terbahak. Tak tahan melihat tingkah lugu istrinya.
"Jadi aku harus bagaimana?" tanya Ardan seraya mengelus lembut kepala istrinya tersebut.
"Jangan pulang cepat-cepat. Tunggu aku selesai. Hiks." Wanita itu masih menangis, semakin kencang saat suaminya terus bertanya.
"Aku kan kangen kamu, Sayang. Aku juga gak tahu kalau kamu lagi hias kolam. Kenapa kamu gak bilang aku dulu?" tanya Ardan menggoda.
Hazel mencubit dada bidang Ardan, melepaskan dekapannya seraya membasuh pipi.
"Kalau aku bilang, itu namanya bukan kejutan!" ucap Hazel kesal.
Ardan ikut menghapus buliran yang melintas di pipi Hazel. Mengecup bibir wanita itu sekilas.
"Kalau begitu aku pergi lagi, dua jam aku balik lagi. Atau ... saat kamu sudah selesai baru telepon aku, bagaimana?" tanya Ardan menggoda.
"Emh." Lentik jemari itu kembali mencubit kulit di balik kemeja. Kesal.
"Biar aku bantu menyiapkannya, ya."
"Gak mau! Ini bukan kejutan."
Ardan tersenyum, jarinya membelai lembut anak rambut yang berantakan milik wanita bermata madu tersebut.
"Sudah banyak kejutan di dalam hidupku semenjak aku mengenalmu, Hazel. Tanpa ada acara kejutan, kamu adalah kejutan itu sendiri. Hadirmu, cintamu, dan segala yang ada di dirimu, setiap harinya menjadi kejutan indah dalam hidupku."
Hazel memanyunkan bibirnya, perlahan wajahnya mulai merona. Ardan si penggoda, selalu bisa menghangatkan suasana.
"Bahkan, saat aku terbangun, dan mata ini mendapatimu ada di sisiku. Itu adalah kejutan yang paling aku syukuri dalam hidup ini."
Hazel menggigit bibir bawahnya, kini kemerahan itu mulai tampak menghiasi wajah putihnya. Di tengah gelapnya malam berhiaskan cahaya kuning yang sedikit remang. Ardan masih mampu menangkap binar kebahagian di wajah istrinya tersebut.
Desahan panjang keluar dari bibir tipis lelaki itu. Tangannya menarik badan Hazel agar bisa ia dekap.
"Malam ini kamu membuat kejutan lagi, Hazel."
"Hem, tapi belum selesai, Mas."
"Bukan, bukan tentang persiapan acaranya. Namun, tentang dirimu yang mampu memikirkan ini, untuk membuatku bahagia."
Bibir di dalam dekapan itu kembali tersenyum dengan lebar, sebenarnya bukan tentang seberapa megah persiapannya. Akan tetapi, tentang seberapa bahagia orang yang akan diberikan dan seberapa banyak dia bisa menghargainya. Dan Ardan, menghargai itu semua dengan sangat istimewa.
"Sumpah, aku tak peduli dengan persiapannya, Hazel. Bagiku, kamu bisa berinisiatif seperti ini saja. Itu cukup membuat aku terkejut, dan ini semua, cukup untuk buat aku senang. Terima kasih, My Wife."
'Dan karena ini juga, sedikit beban ini terasa lebih ringan.'
Hazel meleraikan pelukannya dan tersenyum dengan lebar. Mencetak lesung dalam di kedua pipinya.
"Youre welcome, My Husband."
"Hem, jadi ini masih mau dilanjutin?" tanyanya beralih pada lilin-lilin yang ada di kolam.
"Iya dong, aku sudah memikirkan ini dari tiga hari yang lalu."
"Aku bantu?"
Hazel menganggukkan kepala, lelaki itu mulai bekerja. Menyusun beberapa lilin di atas kolam dan dekorasi di tepinya. Sementara, wanita itu duduk di atas kursi, merentangkan kakinya yang pegal untuk menyiapkan acara malam ini.
Walau tak sesuai harapan, namun, kebahagiannya tak berkurang. Malah lebih nikmat, saat dia mampu menenangkan dan menciptakan suasana kejutan yang lainnya.