
Langkah gadis kecil itu berlari menyuri trotoar jalanan. Sekuatnya ia berlari menuju halte bus.
Badan mungil itu membungkuk, menarik napas dengan memburu kencang. Sekuat apa dia berlari, langkahnya tidak akan mungkin bisa mengejar busway yang telah pergi.
Dia menyerah, lantas duduk di tepi aspal karena lelah.
"Sudah kuduga, kali ini pun quizku akan bernasib parah. Tuhaaaan ... tolonglah hamba ini!" Sasy mengadahkan kedua tangannya ke atas.
Lalu pandangan itu tertunduk ke bawah. Memukul-mukul aspal sampai jemarinya terluka. Geram setengah mati, kenapa hidupnya harus sesulit ini.
Sebuah mobil hitam mengalihkan perhatiannya. Melihat Sasy yang terduduk dengan wajah memberengut, lelaki berkacamata itu melepaskan setbealtnya. Turun dan menghampiri.
Lelaki itu berjongkok, tidak seperti biasa. Sasy tidak kembali ceria ketika melihatnya.
"Sasy, apa yang kamu lakukan?"
Gadis itu menunduk, perlahan pundaknya bergetar. Terisak pelan, dia menarik jas Ferdi dan membenamkan kepalanya di sana.
Ada rasa takut yang menyambangi hatinya. Dia takut akan gambar-gambarnya yang akan dihancurkan, mengingat quiz yang tertinggal adalah mata kuliah yang paling berpengaruh untuk nilainya.
Ferdi menghela napas, dia membelai lembut kepala itu. Matanya teralih pada kemeja yang berhiaskan bercak darah.
Lelaki itu meraih tangan Sasy, mengeluarkan sebuah sapu angan dan melilitkannya. Lalu tangan itu menarik bahu mungil Sasy.
Mencoba menatap wajah yang tengah terseduh itu.
"Dengar Sasy, kamu boleh kesal pada apa pun. Tapi jangan sakiti tubuhmu, dia tidak berhak atas apa pun itu."
Gadis belia itu semakin memeluk. Erat.
"Aku takut Kak Ferdi, kelas akan segera dimulai. Quiz akan berjalan, bagaimana aku bisa selamat kalo gak ikut quiz? Mama akan marah, ayah akan murka."
Lelaki berkacamata itu mendesah, satu tangannya meraih kepala belia itu.
Ada yang mendesir di dalam hati. Melihat keluhannya ada yang ikut terbebani. Hatinya tidak tenang melihat belia itu kesusahan.
"Ayo ikut aku, akan kukatakan pada Dosenmu kalau kamu kurang sehat dan telat karenanya."
Gadis itu melepaskan dekapannya, pendar binar bundar itu menatap Ferdi. Satu bulir jatuh saat matanya berkedip.
"Jangan menangis hanya karena hal-hal seperti ini. Kuatlah, karena dunia tidak berubah lemah hanya karena sebuah air mata."
Ia usap air mata di wajah hingga mengering, mengangkat tubuh mungil itu dan menuntunnya ke dalam mobil.
Sebelum ke kampus, lelaki itu sempat membeli beberapa obat di apotek.
Telaten tangannya membersihkan beberapa goresan pada telapak tangan belia itu. Helaian rambutnya terjatuh menutupi sudut kacamatanya ketika kepalanya tertunduk.
Mengembus goresan-goresan itu pelan. Tangan Sasy sedikit bergetar ketika setetes obat merah mengenai lukanya.
"Tahanlah sedikit, perihnya akan hilang dengan cepat," katanya pelan.
Gadis itu mendesis, lalu matanya memandang Ferdi, dalam dan lekat. Tidak bisa berpaling, walau hanya sedetik.
Desiran itu mulai nyata terasa, dadanya menghangat saat mata menatap seraut wajah. Manis dan juga sangat lembut, tidak pernah ia menemukan pria selembut Ferdi sebelumnya.
Terlebih para-para pria berseragam di camp tentara. Jangankan bersikap lembut, bahkan suaranya menggelegar memecahkan gendang telinga.
Sesekali Ferdi menggulum bibirnya, membasahi bibir yang kering karena grogi dipandangi sang belia.
Bibir putih pucat itu sedikit memerah, mulut yang tidak pernah menghisap tembakau itu masih alami sekali.
Debaran jantung Sasy semakin menggebu, melihat bibir lelaki itu. Perlahan bibirnya teresenyum simpul. Ingin merekam wajah manis itu di dalam ingatan.
Satu keringat mengaliri pelipis mata Ferdi. Teguk salivanya memberat, kerongkongannya kering, tidak tahu mengapa bisa grogi seperti ini saat dipandangi Sasy.
Sasy mendekat, Ferdi menarik kepalanya dan memandangi gadis itu.
"Mau apa kamu?" tanyanya berusaha tenang.
Gadis itu tersenyum, tangan yang lainnya menarik tisu di atas dashboard.
"Hanya mau menghapus keringat Kakak." Gadis itu semakin mendekat, wajahnya condong ke arah wajah.
Beberapa kali kelopak di balik kaca itu berkedip. Menarik kepala agar desah napas Sasy tidak menerpa kulitnya.
"Sudah, ayo masuk atau kamu beneran akan terlambat."
Lelaki itu langsung membuka pintu mobil. Dia menarik napas yang sempat terganjal. Entah karena apa?
Dadanya naik turun dengan cepat, tersengal-sengal mengingat kejadian di mobil tadi. Kepalanya menggeleng, mengusir bayangan wajah Sasy dari pikirannya.
Dari dalam mobil Sasy tersenyum simpul. Ternyata lelaki seperti Ferdi hanya butuh pendekatan yang lebih ekstrem untuk menakhlukkannya. Pikirannya mulai melayang, liar. Benar kata Arfi, gadis kecil itu adalah rubah licik dalam tubuh belia.
Gadis itu terlihat kesusahan ingin memakai tas ransel mungilnya. Terhenti saat Ferdi menariknya.
"Biar kubawakan." Lelaki itu melengos, berjalan lebih dulu. Meninggalkan Sasy yang sudah mengaduk-aduk hati dan perasaannya.
"Kak Ferdi ... Kak Ferdi," panggil Sasy mengintili.
Lelaki itu tak acuh, dia memakai satu tali ransel di pundaknya.
"Kak Ferdi ... Kak Ferdi," panggilnya lagi.
Langkah tegap itu semakin cepat, ingin segera mengakhiri pertemuannya sebelum dia menjadi semakin tidak terkendali akan sebuah hati.
"Kak Ferdi ... Kak Ferdi." Langkah kecil itu semakin cepat mengintili. Sedikit berlari mengejar langkah tegap Ferdi.
Lelaki itu memutar bola mata, lalu ia berbalik. Sebuah kepala terbenam di dadanya. Sasy terdiam, menikmati lagi aroma maskulin yang memabukkan. Membuat ia semakin menggilai pria dewasa itu.
Ferdi mendesah, ia menarik bahu Sasy dan menjauhkannya. Ada yang bergemuruh di dalam dada, dan dia ... takut Sasy mengetahuinya.
"Ada apa?" tanya Ferdi sedikit kesal.
"Kak Ferdi mau ke mana?"
"Tentu saja mengantarmu ke kelas."
Lelaki itu memejamkan mata, merutuk dalam hati. Kenapa dia menjadi orang bodoh seperti ini?
Sadarkah jika sebuah rasa telah menyentuh nadi. Maka kepintaran bisa lebur bersama desiran hati yang membaur di dalam diri. Rasa itu tidak membutuhkan logika, karena dia sebuah emosional yang mengalir di dalam darah.
Wajah Ferdi memerah, antara malu dan juga semu.
"Ayo ikuti aku." Gadis kecil itu melangkah, berjalan di depannya.
Lelaki berumur 33 tahun itu hanya mengikuti, memerhatikan punggung kecil itu berjalan dengan agak lambat.
Perlahan bibir tipis itu tersenyum lembut. Memerhatikan leher jenjangnya berhiaskan anak rambut yang lumayan tebal. Rambut yang agak berantakan dan keluar dari ikatan kucir kudanya menambah kemenawan raut belianya.
'Sial! Siapa aku ini? Kenapa bisa seperti ini?' rutuk Ferdi dalam hati.
'Sadarlah, dia hanya Sasy. Bukan Arsy,' batinnya lagi.
Langkah kecil itu terhenti di depan sebuah pintu. Sasy mengambil ransel mungilnya, lantas ia menghela napas saat melihat tidak ada dosen di sana. Suasana kelas pun masih berisik.
"Hah ... untunglah dosennya tidak ada. Kak Ferdi terima kasih."
Ferdi hanya mengangguk, ia berbalik dan ingin pergi. Tidak ingin jika hati terpaut lebih dalam lagi. Langkah harus ia ambil, dan itu berusaha untuk tidak peduli.
Nyatanya, saat cinta telah menyapa, maka segalanya akan berubah. Di dalam mobil ia memandangi obat-obatan yang dibeli untuk belia itu.
Ingin memberikannya, takut terlalu peduli. Ingin membawa pergi, bagaimana jika luka itu berdenyut lagi?
Ferdi mengacak rambut, frustrasi. Dia tidak ingin terjebak dalam rasa ini. Hatinya masih terpatri akan sebuah nama yang tidak akan mati meski raga telah pergi.
Takut akan cinta yang hanya sebagai pengganti dan pada akhirnya hanya menyakiti.
Perasaan wanita itu sangat lembut, ia takut untuk menyakiti, dan takut akan ada yang pergi lagi.
Lelaki itu berdiam, memandangi lalu lalang mahasiswi yang berlalu baru datang. Dari ujung koridor gadis belia itu tengah berlari.
Ferdi mengamati, semakin lama semakin mendekati. Lalu gadis itu terjatuh saat tiga belia lainnya mencegat dirinya.
Dari dalam sini Ferdi hanya mengamati. Berusaha tak acuh walau hati mulai terenyuh. Ia palingkan wajah mencoba menghidupkan mesin mobil. Sulit memang jika ideologi mulai bertentangan dengan hati.
Sekali lagi dia menoleh, tangan yang terluka digenggam oleh satu belia. Sasy meronta, sayang lengan kecilnya kalah.
Wajah Sasy memerah, sakit mungkin saat luka yang berdarah harus tersakiti lebih parah. Lelaki itu geram, ia turun dengan napas yang tersengal.
Seketika sikap tenangnya menghilang. Tidak tahu mengapa.
Satu jemarinya menarik jemari belia bernama Merisa. Mengenggamnya lebih erat dari yang dia genggam di tangan Sasy. Gadis belia itu merintih, bingung dengan tingkah Ferdi.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Merisa mencoba melepaskan tangan Ferdi.
"Apa yang coba kamu lakukan dengannya?" tanya Ferdi ketus.
Gadis belia itu tersenyum, ia berlari dan mendekap tubuh Ferdi.
Degup jantung Ferdi terdengar riuh, bergemuruh. Sesaat amarah menguasi segalanya. Dia mendesah, perlahan genggamannya merenggang dan belia itu pergi dengan sedikit keheranan.
"Tuhan ... mengapa aku mulai menggila?" lirihnya seraya mengusap wajah kasar.
Setelah bertahun-tahun bersikap tenang. Kenapa kini amarahnya sangat mudah terbakar. Lelaki itu tersadar, Sasy masih memeluknya dengan erat.
Perlahan ia menarik badan gadis itu, menangkupkan tangan di wajah.
"Sasy, katakan padaku, apa mereka sering mengganggumu?"
Gadis itu tersenyum, dua tangannya masih melilit pinggang Ferdi. Mendongak dengan bibir yang sedikit mengerucut karena pipi tertahan tangan Ferdi.
"Jika ada yang mengganggumu katakan padaku. Siapa pun itu, aku akan selalu membelamu."
Senyum terkulum dari bibir belia itu.
"Kak Ferdi."
"Hem."
"Jawab aku dengan jujur."
"Apa?"
"Kenapa Kak Ferdi sangat pedulu padaku?" tanyanya manja.
Kedua tangan Ferdi yang tertangkup di pipi Sasy ia mainkan. Bibir mengerucut belia itu membuat tawanya pecah.
"Kak Ferdi," panggil Sasy sedikit geram.
"Hem."
"Jawab aku!"
"Karena kamu mengingatkan aku pada adikku."
"Benarkah?"
"Ya."
"Apa itu kejujuran?"
"Aku tidak pernah berbohong."
"Kalo gitu jawab aku lagi."
"Hem."
"Apa Kak Ferdi mencintaiku?"
Seketika tangan Ferdi yang memainkan pipi Sasy berhenti. Mengapa dia bisa begitu senang saat bisa bermain dengan belia itu?
Pertanyaan itu membuat hati kembali mendesir, ada yang mulai tumbuh. Aromanya belum tercium, tetapi kuncup bunga telah tumbuh subur.