For My Family

For My Family
101



Mata elang lelaki itu menatap tajam ke arah istrinya yang sudah jauh menjelajahi mimpi. Perlahan bibirnya mengembang, tak pernah terbayangkan bahwa wanita yang akan mendampinginya adalah sosok yang seperti Hazel.


Cantik, mantan-mantannya bahkan banyak yang lebih cantik. Namun, entah kenapa wajah wanita ini begitu menarik. Ada keteduhan dari sorot lensa berwarna madu miliknya.


Ada kebahagiaan yang berdesir memenuhi relung di dalam dada saat seulas senyum terkembang dari bibirnya.


Sempurna, kata sederhana yang mencerminkan diri wanitanya.


Perlahan mata terpejam itu mengerjap, detik kemudian bulu lentik itu mengembang. Kelopak matanya terbuka, ada binar jernih yang memandang penuh cinta.


"Kenapa bangun?" tanya Ardan saat wanita itu memandangnya.


"Mas, kok, belum tidur?" tanyanya balik.


Ardan tersenyum dan mengelus dahi Hazel lembut. "Yang ditanya malah nanya balik."


"Mas gak nyaman, ya?" tanya Hazel lagi.


Ardan menggeleng.


"Kalau Mas gak nyaman pulang aja. Temeni Surya, aku bisa kok. Sayang kamu Mas, pasti seharian ini lelah, kan?"


"Lelah juga ada kamu yang siap menghilangkan penatku." Jari kekar itu mengelus pipi.


"Mas, jangan paksain diri. Istirahatlah, kamu seharian bekerja, lalu langsung ke sini. Makan kamu, pakaian kamu, lihat. Kamu gak terurus, Mas."


"Istriku sedang sakit, pastilah aku tidak terawat. Kan yang merawat masih harus dirawat. Apa kamu rela jika ada wanita lain yang mengurus aku? Hem?" tanya Ardan seraya memainkan kedua alis matanya.


Hazel mencebik kesal, ia menjauhkan jari Ardan dari wajahnya.


"Serius, Mas. Istirahatlah, jangan terus pikiri aku."


"Iya. Aku akan istirahat setelah kamu tidur," balas Ardan mengalah.


"Enggak! Aku mau lihat kamu istirahat lebih dulu." Hazel memanjangkan bibirnya. "Berbaringlah di sana, aku mau lihat Mas lebih dulu tidur," perintah Hazel ketus.


Ardan melirik ke arah sofa yang dimaksud oleh wanitanya itu. Ia menghela napas dan mengangguk pelan. Setelah mencium dahi Hazel, lelaki berkemeja marun itu membaringkan badan di atas sofa yang tak terlalu besar. Terlebih untuk badan setinggi dia.


Matanya kembali melirik, bibir tipis itu tersenyum saat mendapati mata istrinya sedang memperhatikannya.


Lelaki itu memiringkan badannya, mendekap badan seraya memandangi wanita yang tengah terbaring di atas ranjang pasien.


"Tidurlah, bangunkan aku saat azan subuh nanti." Mata sayu itu terpejam, dengan helaan napas yang begitu panjang.


Hening, perlahan dada bidang itu terlihat naik-turun dengan teratur. Menandakan pemilik badan itu telah memasuki alam mimpinya.


Wanita itu ikut memejamkan matanya, pikirannya bercabang. Tak tenang, terlebih saat lelaki itu tak berada di dekapan.


Ia kembali membuka mata, memiringkan badan agar bisa menatap wajah tenang itu tertidur pulas.


Lelah jelas tergambar di wajah tampannya. Entah berapa banyak beban yang saat ini ia pikul di pundak itu. Tak pernah bercerita, lebih memilih diam agar sebuah persaan tetap tenang dan baik-baik saja.


Pelan, mata berwarna madu itu mulai sayup. Bukannya terpejam ia malah memilih turun dari ranjangnya dan mendekati suaminya itu.


Bersimpuh, memandangi wajah lelaki berkulit sawo matang itu dengan lekat. Wajahnya mendekat, kembali mengecup sudut bibir yang terluka.


"Mas," panggilnya lirih.


Tak ada jawaban, rasa lelah lebih dulu membuat lelaki itu bergelut bersama mimpi.


"Mas," panggilnya lagi. Kini sebuah kecupan ikut membantu membangunkan lelaki itu.


Ardan mulai tersadar, ia mendesah panjang seraya memutar badan. Berbaring terlentang dengan tangan menutupi dahi.


"Mas ... bangun!" Tangan Hazel mulai menggoyangkan lengan lelaki itu.


"Hem, kenapa?" tanya Ardan tanpa membuka mata.


"Aku gak bisa tidur," adu Hazel manja.


"Terus?" Lagi, lelaki itu bertanya tanpa membuka mata.


"Peluk aku, biar aku bisa tidur."


Ardan memiringkan badannya dengan tangan yang memeluk badan gadis itu. Tetap matanya masih enggan untuk terbuka.


"Ish ... bukan di sini." Hazel menghempaskan tangan Ardan.


"Lalu?" Serak suara itu kembali bertanya.


Ardan membenamkan wajahnya ke dalam sofa. Terdiam beberapa detik agar kesadarannya kembali sempurna.


Lelaki itu mulai bangkit dan mengangkat tubuh yang semakin membulat itu ke arah ranjang. Membungkukkan badan setelah meletakan sang istri di atas kasur. Memeluk seraya berdiri di sebelah bangsal.


"Bukan begini, Mas."


"Lalu bagaimana, Hazel?" tanya Ardan mulai kesal.


"Naiklah ke kasur."


Ardan menggeleng. "Nanti kamu gak leluasa tidurnya."


"Naik!" perintah Hazel ketus.


Ardan mendesah panjang, ia membuka kemejanya dan mulai naik ke atas ranjang.


Bibir mungil itu tersenyum tipis, mengambil lengan kiri Ardan dan merentangkannya. Tidur seraya membenamkan wajah di bawah ketiak sang suami.


"Aku belum mandi loh, Hazel. Gak jijik ngusap-ngusap di ketiak gitu?"


"Enggak." Hazel meletakan tangannya di atas perut Ardan. "Kalau aku selama ini hidup dari hasil keringatmu, Mas. Kenapa aku harus jijik cium bau keringatmu?"


Ardan tersenyum, satu tangannya mengambil jemari Hazel yang ada di perutnya. Menggenggam erat.


"Jorok kamu sekarang, ya," ledek Ardan.


"Bukan hanya saat kamu harum saja, kamu bau aku juga mau menempelimu, Mas. Bukan hanya saat kamu senang, saat kamu lelah, jengah, penat atau apa pun itu. Aku akan selalu dan akan terus mendekatimu, Mas."


"Karena aku ada, bukan hanya untuk bahagiamu. Tapi, juga untuk lelahmu, Suami Posesifku."


Ardan menggulum senyumnya. "Hazel jangan menggodaku. Apa kamu ingin malam ini ranjang kita berdecit?"


Jari lentik itu menarik kulit perut Ardan. "Aku baru selesai pendarahan, loh, Mas."


Ardan terkekeh. "Aku tau, aku hanya bercanda. Tidurlah, kalau masih belum tidur juga, bisa jadi bercandaku itu nyata."


Hazel mencebik kesal, ia memukul perut Ardan dan tidur memunggungi lelaki itu. Kesal.


Ardan menggeleng pelan, tangannya mengusap kepala gadis itu lembut. Ikut memiringkan badan dengan tangan yang memeluk bahu mungil itu erat.


"Aku mencintaimu, Hazelku," bisik Ardan.


***


Ferdi mengetuk meja Echa, seketika gadis itu berdiri. Tertunduk, mencoba menghindari tatapan mata di balik lensa.


"Apa Nara belum ada kabar?" tanya Ferdi ketus.


Gadis berbadan sintal itu menggeleng pasrah. Lelaki berumur 33 tahun itu mengusap wajah. Detik kemudian ia mengacak rambutnya yang tersisir rapi. Frustrasi.


Bingung dengan ulah karyawatinya itu, sedangkan yang mengurus cuti juga tak tahu ke mana gadis itu pergi.


Ada mata yang memandang iba di belakangnya. Sejauh yang ia kenal, lelaki dewasa itu adalah orang yang tenang. Entah kenapa? keteduhan dan ketenangan itu menghilang di raut manisnya.


Kini hanya ada kegundahan, kebimbangan dan juga kecemasan yang begitu kentara. Tidak hanya terlihat dari raut wajahnya saja, tapi juga gelagat dan segala ativitasnya yang semakin tak karuan.


Ketika Ferdi berbalik, tanpa sengaja mata mereka bertemu. Gadis berhijab itu tersenyum manis.


Tak ada balasan, netra di balik lensa itu hanya memandang dalam. Jika dulu wajah itu meneduhkan, kini seulas senyum itu menyakitkan. Mengorek sebuah lubang duka pengkhianatan rasa. Lebih tepatnya, asa yang tak bermuara. Karena perasaannya dan perasaan gadis itu, tak mengalir dalam impian yang sama.


"Khadijah," panggilnya lembut.


"Saya, Pak."


"Bisakah kamu cek data di komputer Nara. Kuasai materinya dan gantikan dia presentase untuk rapat dua hari lagi?" tanya Ferdi lirih.


Gadis itu menelan salivanya, mana mungkin dia bisa menggantikan Nara yang sangat mahir dalam bidang itu. Namun, melihat harapan yang semakin memudar dari sorot mata teduh itu. Ada keinginan untuk membantu.


Pelan kepala gadis itu mengangguk, ia juga tahu kemampuannya sebatas mana. Demi melihat cahaya di mata lelaki itu, senyum di bibir tipis itu. Ia akan berusaha sekuat tenaga. Tak peduli mampu atau tidak? Ia ingin berusaha. Setidaknya, ada asa yang bisa ia genggam saat ini.


Tanpa disadari, kepedulian dan perhatiannya kini melebihi seorang bawahan dan atasan.


Ketulusan, apa pun itu. Cinta atau kasih sayang. Asal dia berjalan tanpa ada dusta yang menyertai, sedikit banyaknya bisa mengetuk pintu hati. Karena ketulusan itu tak terlihat oleh mata, tapi tersentuh oleh rasa.


Dan rasa, hanya bisa peka saat ketulusan itu perlahan mulai sirna. Entah itu cinta, rasa, kasih, sayang atau ketulusan seseorang. Ia akan hadir dan menjelma menjadi nyata yang ada, ketika sang Tuan berlalu pergi meninggalkan raga kita.


Percaya atau tidak, kadang cinta butuh jarak agar bisa bersama.