For My Family

For My Family
264



Di dalam mobil yang dikemudikam oleh Ferdi, di kursi belakang Ardan dan Nola masih berdiskusi, beberapa berkas Nola keluarkan. Memperlihatkan hasil desain yang belum pernah dia pasarkan sama sekali.


Sementara, di sebelahnya Ferdi, Evan masih terus sibuk mengotak-atik laptop. Mereka masih sibuk pada urusan masing,-masing. Sampai mobil mewah berwarna merah menyala itu memasuki kawasan pribadi.


Karena yang dikemudikan adalah mobil milik Nona muda kawasan pribadi itu, para penjaga di sana hanya mengangguk tatkala Ferdi mengklakson mereka.


Saat menyadari laju mobil yang lebih lambat, mata tajam milik Ardan berpaling. Melihat kawasan yang sangat hijau dan sejuk.


"Ini di mana?" tanya Ardan bingung.


"Kau tanya saja pada Hime-sama (Tuan Putri) yang ada di sebelahmu."


Nola menggulum senyum, kedua tangannya memeluk bahu Ferdi yang tepat ada di depannya.


"Ternyata kau masih hafal rumahku, Mata Empat," kata Nola mengeratkan dekapannya sampai napas Ferdi menyesak.


"Hentikan, Nola! Atau aku akan mati di sini."


Gadis itu terkekeh, dia kembali duduk di sebelah Ardan. Sedangkan lelaki berwajah garang itu memperhatikan Ferdi dan Nola secara bergantian. Sebenarnya hubungan apa yang pernah mereka jalani di masa lalu?


Sepasang mata Ardan melebar saat melihat bangunan mewah yang berada di tengah kawasan pribadi itu. Jika ada pepatah 'di atas langit masih ada langit' kini Ardan percaya setelah melihat kekayaan orang tua Nola. Dibandingkan keluarga Nola, Erlangga bukanlah apa-apa.


"Ayo masuk!" Terlihat repot, gadis itu membereskan berkas-berkas yang sempat dia buka tadi.


Saat akan masuk ke teras rumah mewah itu, sebelah tangan Nola tercekal. Ferdi melepaskan jasnya dan memakaikannya ke atas bahu Nola.


"Sopanlah sedikit saat akan bertemu ayahmu."


Nola menjatuhkan berkas-berkasnya, menempel pada Ferdi. Bibir itu ingin mencium bibir tipis lelaki tersebut, lebih cepat Ferdi menahannya menggunakan telapak tangan.


"Hentikan, Hime-sama!"


Ardan terbahak, Evan hanya menggeleng pelan melihat ulah Nola yang terus mendapatkan penolakan Ferdi. Benar-benar kacau lelaki berwajah teduh itu, bisa-bisanya dia tahan dengan segala sikap Nola.


"Aku semakin cinta padamu," kata Nola semakin mengeratkan dekapannya.


"Dan aku semakin risih dengan ulahmu." Ferdi melepaskan dekapan gadis itu secara paksa, saat Nola sudah berdiri dengan benar. Ferdi menjentik dahi Nola, kasar.


"Jadilah wanita terhormat! Setidaknya di depan ayahmu."


Gadis itu mengerucutkan bibirnya, membuang wajah, lantas Ardan memberikan berkas-berkas yang tadi sempat Nola jatuhkan. Luar biasa gadis itu memang, bahkan dia mampu membuat seorang Erlangga seperti pelayannya.


Suara derit pintu terbuka, wajah Nola memaling. Saat tau siapa yang membuka pintu, gadis itu berhambur ke dalam pelukan lelaki tua di sana.


"Dady ... aku rindu."


Ferdi menaikan bingkai kacamata, menghela napas melihat ulah Nola yang kadang terlalu random untuk diartikan. Jika dilihat seperti ini, siapa yang percaya jika hubungan anak dan ayah itu tidak baik-baik saja?


"Akhirnya kamu tau juga arah jalan pulang."


"Hem, tentu saja. Aku tau arah pulang saat navigatorku ada di sini."


"Oh, ya?"


"Ya, Dady. Katanya Ferdi akan melamarku?"


"Benarkah?" tanya lelaki yang dipanggil Dady oleh Nola itu.


"Jangan membual, Nola. Selamat pagi, Tuan," sapa pemuda berwajah teduh itu mendekati pria tua yang berada di ambang pintu itu.


Sementara yang disapa menampilkan senyum ramah.


"Kau Ferdi, kan?"


"Benar, Tuan Ahkem Shahrir."


"Kapan kau datang, ayo masuk dan berbicara di dalam."


Ferdi menggulum senyum. "Saya ingin mengenalkan beberapa teman dengan Anda."


"Siapa?"


...***...


Setelah berbasa-basi untuk waktu yang cukup lama, akhirnya Nola memberanikan diri untuk berkata tentang tujuannya pulang kali ini.


"Aku akan melanjutkan mimpiku mencoba menjadi desainer perhiasan."


Ahkem Shahrir, bangsawan asli dari pulau ini, sekaligus pemilik tambang emas yang merupakan warisan turun temurun keluarga mereka, hanya bisa menatap putri semata wayangnya itu.


"Dady tak izinkan!"


"Tapi kenapa?"


"Karena kau adalah satu-satunya pewaris tambang, Nola."


Bibir gadis itu berdecak sebal, selama ini dia keluar dari lingkup yang diciptakan ayahnya agar tak lagi terbelengu oleh aturan keluarga dan menyandang gelar pewaris tunggal.


Sengaja memilih hidup bebas dan dikenal sebagai gadis-gadis salah pergaulan di luar sana. Semua itu dia lakukan agar ayahnya menaruh malu dan melepaskan gelar yang dipaksakan pada Nola selama ini.


"Kecuali jika kau menikahi lelaki yang mampu untuk membantu Dady mengurus pertambangan. Kau bebas ingin berkarier apapun itu."


"Tapi Ferdi tak mau."


Pemuda yang disebut namanya memutar bola matanya malas.


"Makanya anggunlah sedikit, Nola. Kau itu putri bangsawan!"


"Kalau aku anggun juga belum tentu Ferdi menerimaku."


"Bisakah berhenti menyebutkan namaku?" Akhirnya lelaki itu jenuh juga terus dibawa-bawa.


Kejadian lima tahun yang lalu, saat tak sengaja Ferdi menyelematkan Nola yang mengalami keram saat berenang, membuat gadis itu terus menempel padanya.


Ahkem Shahrir bukan tidak tahu, Ferdi adalah kandidat yang paling tepat untuk menjadi calon menantunya. Bukan terlahir dari keluarga bangsawan dan kolongmerat, tetapi memiliki kemampuan yang luar biasa hebat dalam berbisnis. Tentu saja membuat Ahkem Shahrir sangat ingin menjadikannya menantu.


Sebab, latar belakang yang bukan siapa-siapa membuat Ferdi bebas. Tidak terbebani oleh perusahaan atau bisnis keluarganya. Jika menikahi Nola, maka lelaki itu hanya akan fokus pada pertambangan saja. Pikir Ahkem.


"Tuan Ahkem," panggil Ferdi lembut.


Pria tua itu menoleh ke arah Ferdi.


"Ada yang ingin kami bicarakan, kami bukan hanya datang untuk menyapa Anda. Namun, ada hal yang ingin kami sepakati bersama Anda dan Nola."


"Oh, ya? Apa?"


Ferdi melirik ke arah Ardan, putra sulung Erlangga itu sempat berdehem pelan sebelum membuka suara. Bagaimanapun sikapnya saat ini, tak memungkiri bahwa Ahkem tetaplah seorang bangsawan. Memikirkannya saja mampu membuat kerongkongan Ardan mengering.


"Kami, ingin Anda membantu kami untuk membawa Nola menembus pasar Asia."


"Aku tidak mengizinkan!"


"Tolonglah, Dady. Aku ingin sekali membuat brand perhiasan sendiri."


"Lalu? Membiarkan Dadymu sendiri?"


Gadis itu memanyunkan bibir dengan silangan kedua tangan di dada.


"Dengarkan saya dulu, Tuan. Kami akan menawarkan kesepakatan."


Ahkem Shahrir ikut berdehem pelan, dia benarkan letak duduknya, lantas menatap Ardan serius.


"Kami akan membimbing dan membukakan jalan untuk Nola menembus pasar Asia. Erlangga akan menjadi sponsor ekslusif untuk Brand yang akan didirikan putri Anda. Tentu saja, kami tidak akan melepaskan tangan begitu saja. Kami akan membantu Nola sampai membuka perusahaan perhiasannya sendiri."


"Sudah saya katakan! Saya tak setuju dia menjadi desainer perhiasan! Nola adalah pewaris tunggal pertambangan."


"Mengapa Anda berpikir kalau putri Anda tidak mampu mengendalikan keduanya?"


Seketika mata Nola melotot, apa maksud ucapan Ardan?


"Saat putri Anda mampu membangun perusahaannya sendiri. Berarti putri Anda juga mampu meneruskan pertambangan itu tanpa bantuan orang luar."


"Apakah Nola mampu? Kau terlalu memandang tinggi dia, Ardan."


"Tentu saja! Karena memang setinggi itu spesifikasi putri Anda."


"Jangan membual terlalu jauh, saya ayahnya, pastinya saya lebih paham bagaimana dia. Anak ini, dia tidak akan mampu untuk itu semua."


Ardan menggulum senyum, yang awalnya dia duduk seraya menyandarkan badan. Kini kedua sikunya ditumpuhkan pada pangkal paha, lantas mengenggam kedua tangannya di antara jeda kakinya.


"Bagaimana jika kita bertaruh?" Seulas senyum terbit di wajah Ardan.


"Jika Nola mampu menembus pasar Asia dalam tahun ini. Maka Nola mampu melakukan apa yang saya katakan barusan."


"Hem, bagaimana kau bisa begitu yakin? Kau tak pernah bertemu Nola sebelumnya."


"Karena mata saya tak pernah melesat menilai kemampuan seseorang," kata Ardan optimis.


"Lalu, bagaimana jika Nola gagal?"


"Maka penilaian Anda yang benar."


Ahkem Shahrir tersenyum, selama ini dia sering mendengar tentang bagaimana cara kerja Erlangga grup. Perusahaan raksasa itu mampu melahap apa pun yang dikira menjadi ancaman. Dan kali ini apa yang membuat CEO perusahaan itu ingin mengulurkan tangannya?


"Lalu, apa yang kamu inginkan jika pertaruhan kamu yang benar?"


Ardan tersenyum tipis. "Hentikan semua pasokan hasil tambang ke Ruby Jewelry."


"Mengapa? Bukankah itu salah satu anak perusahaan milik kalian?"


"Tentu saja karena alasannya masih dalam lingkup internal."


Ahkem Shahrir tertawa renyah, kini dia tahu mengapa Erlangga bisa sangat ditakuti namanya. Ternyata, seperti ini salah satu putra pemiliknya. Terlihat tenang, namun kekejamannya tak dapat diukur pikiran lawan.


"Bagaimana?" tanya Ardan sekali lagi.


Ahkem Shahrir hanya diam, kehilangan satu perusahaan untuk tempat dia membuang pasokan hasil tambang bukan arti yang besar sebenarnya. Hanya saja, jika memang Ardan ingin menghentikan pasokan hasil tambang, itu artinya dia ingin menghancurkan Ruby Jelwelry dengan perlahan?


"Ruby Jewelry adalah salah satu perusahaan yang mengambil pasokan terbesar. Bagaimana bisa aku kehilangan klien seperti itu?"


"Tentu saja pertambangan Anda tidak akan merugi, saat Nola mampu membuat brand sendiri, maka pasokan yang untuk Ruby Jelwelry bisa Anda berikan pada perusahaan anak Anda. Bukankah itu lebih menguntungkan? Hasil pertambangan Anda bahkan bisa dijual dengan harga fantatis setelah melewati tangan putri Anda."


Lagi-lagi Ahkem terdiam, semengerihkan ini ternyata putra Erlangga. Bisa-bisanya dia menciptakan rencana dengan sekali tembak membunuh banyak burung.


Jika Nola membuka brand sendiri, maka pasokan untuk Ruby Jewelry bisa dihentikan dengan alasan pasokan hasil tambang yang tak mencukupi karena Ahkem telah membuka perusahaan keluarga dan itu takkan mencemari nama Erlangga yang menjadi dalang dari semuanya.


Selain ingin menghancurkan, Ardan juga ingin menyembunyikan nama Erlangga. Bersembunyi pada nama perusahaan baru yang akan dibangun Nola.


"Tentu saja, kami juga tidak akan melepaskan tangan jika perusahaan Nola tidak baik-baik saja nantinya. Kita adalah sekutu, dan Erlangga tak pernah mengkhianati sekutunya lebih dulu." Melihat segurat keraguan di wajah Ahkem Shahrir, membuat Ardan menebak ke mana arah pikiran lelaki tua itu.


Tidak bisa dipungkiri, bahwa sepak terjang Ardan di dalam dunia bisnis ini bukanlah sembarangan. Dia bahkan bisa menebak raut wajah mangsa yang ingin dilahapnya.


Ahkem Shahrir menarik napasnya, dia liat wajah putrinya sekali lagi. Dia ingin melihat putrinya bahagia, haruskah dia melepaskan impian putrinya di tangan lelaki yang penuh trik seperti Ardan?


"Bagaimana?" tanya Ardan sekali lagi, senyum di wajahnya terlihat sinis.


Ahkem Shahrir memandangi tiga lelaki yang ada di depannya secara bergantian. Setelah menemukan Ferdi, lelaki biasa yang menunjukkan ketangkasannya dengan kerja keras dan usaha, kini dia melihat pemuda yang tak kalah bringas, bahkan mungkin lebih mengerikan aslinya. Ardan Erlangga, tentu saja nama itu telah Ahkem kantungi sejak lama, karena selama ini banyak yang mengatakan agar dia tidak menjadi lawan putra Erlangga itu.


Apakah ini yang dinamakan perkembangan zaman?


Bahkan anak-anak muda seperti mereka jauh lebih menyeramkan dibandingkan pebisnis yang berada di zaman sebelumnya.


Ahkem Shahrir tersudut, saat mereka menggunakan putrinya. Dia lemah, sayangnya kelemahan itu tertangkap oleh Ardan sejak pertama kali dia melihat betapa akrabnya Nola dan ayahnya.


"Mengapa? Pemuda-pemuda di zaman kalian itu sangat mengerikan?" tanya Ahkem Shahrir.