For My Family

For My Family
45



Ardan meraih ponselnya yang terus bergetar di atas nakas. Melihat nama penelpon, lalu jarinya cepat menggeser tombol hijau di layar.


"Kamu di mana? Rumah gelap sekali? Kalian lagi di luar?" Rentetan pertanyaan terlontar dari seberang sana.


Ardan memijat pangkal hidungnya, berusaha sadar dari alam bawah sadarnya.


"Aku di rumah, ketiduran. Kenapa?"


"Kenapa? Kenapa kamu bilang? Hei ... kamu lupa anakmu lagi di mana?" Dia bertanya ketus.


"Oh, kamu di mana?"


"Aku di depan rumahmu, cepat turun dan temui anakmu ini!"


"Hem, iya," jawab Ardan pasrah.


Lelaki itu kembali menjatuhkan kepalanya di atas kasur. Memandangai langit-langit kamar rumah. Berusaha sadar sepenuhnya dari alam mimpi.


Ia memalingkan kepala, melihat Hazel yang masih tertidur memunggunginya berbantalkan lengan tangan kekar miliknya, masih dalam keadaan polos tertutup selimut sampai dada.


Perlahan ia menarik tangannya selembut mungkin. Agar wanita itu tidak terbangun dari tidurnya.


Ardan mengumpuli bajunya yang masih tergeletak di bawah, memakainya sebelum turun menemui Ferdi di halaman rumah.


"Wah ... parah! Anak kamu lagi di mana? Bisa-bisanya Bunda sama Papanya kelonan di dalam sana."


Ardan tersenyum simpul, membuka pintu mobil Ferdi, mengangkat tubuh mungil putra Hazel yang berada di dalam dekapan mbok Darmi.


"Bu Darmi, sudah makan?" tanya Ardan saat jalan bersisian dengan wanita gempal itu menuju kamar.


"Sudah," jawabnya lembut.


"Langsung istirahat saja, Hazel sudah tertidur, saya gak tega banguni dia."


"Iya, Pak."


Ardan meletakan Surya di atas kasurnya, lalu beranjak menuju bawah. Menemui temannya yang masih berada di lantai dasar.


"Ini, aku tahu kamu malas keluar saat hujan dan pasti belum makan." Ferdi menyerahkan sebuah kantung ke tangan Ardan.


"Thank's. Mau minum apa?" tanya Ardan sembari membuka lemari esnya.


"Soda."


Ardan mengangguk dan mengeluarkan dua soda dari dalam kulkas. Duduk berseberangan dengan lelaki berkacamata tipis itu.


Seringai nakal terpancar dari wajah lembut lelaki itu, memandangi Ardan yang sedang meminum soda di depannya.


"Apa yang salah denganmu?" tanya Ardan saat melihat seringai di wajah temannya itu.


"Hei ... Ardan. Kamu nakal." Ferdi menusukan jarinya di dada Ardan. Dengan malas lelaki itu menjauhkan jari Ferdi.


"Jangan gila, apa otakmu kena petir di jalan tadi?"


"Wah ... apa petir membawa surga untukmu?" tanya Ferdi kembali.


"Hem, tidak waras!" kata Ardan malas.


Ferdi berjalan mendekati Ardan dan merangkul bahu sahabatnya itu. Matanya tajam memperhatikan tengkuk leher temannya itu.


"Katakan! Kucing garong mana yang mencakar lehermu ini?" tanya Ferdi dengan menyingkap kerah kaus oblong yang Ardan kenakan.


Cepat Ardan mendorong badan Ferdi, menyentuh tengkuk lehernya yang masih meninggalkan bekas percintaannya dengan Hazel tadi.


"Sial! Jangan menggodaku, pergi sana!" usir Ardan ketus.


Gelak tawa Ferdi terdengar memecahkan keheningan suasana di rumah besar itu. Baru kali ini ia melihat wajah Ardan memerah seperti tomat.


"Ardan, kamu sungguh parah, Kawan. Kamu melahap ibunya saat putranya tidak ada di rumah," goda Ferdi senang.


"Bukan urusanmu, pulang sana!"


"Ha ha ha, aku tidak mau pulang. Aku mau menginap malam ini. Aku penasaran, bagaimana suara desahan itu keluar dari bibir Ardan Erlangga."


"Sial! Otakmu benar-benar kesambar petir sepertinya."


"Ah ... Mas Ardan, pelan sedikit, kenapa kamu kasar sekali?" ledek Ferdi sembari menangkupkan tangan di pipi, bergaya kemayu dan terkekeh kuat.


Ardan berlari ke arah Ferdi, merangkul tubuh tegap sahabatnya itu dan menumbuk dadanya berkali-kali.


"Astaga! Kenapa setelah mengeluarkan cairan tenagamu masih sangat kuat? Malah tambah kuat? Ha ha ha," ledek Ferdi makin parah.


"Diamlah! mulutmu ini akan kumasukan bom ke dalamnya!"


"Astaga! Jangan masukan bommu ke dalam mulutku. Masukan saja ke dalam mulut istrimu! Ha ha ha."


"Sialan! Sini kupatahkan lehermu sekarang juga." Ardan mencepit batang leher Ferdi.


Lelaki berkacama itu menjulurkan lidahnya, mengejek temannya itu agar semakin marah. Bercanda di rumah besar itu tanpa peduli walau malam sudah semakin larut.


"Kenapa setelah berperang, kamu semakin bertenaga, Kawan? Apa akan ada perang dunia selanjutnya malam ini?"


"Sialan, diamlah! Atau aku patahkan seluruh tulangmu malam ini," ancam Ardan, yang membuat Ferdi semakin senang menggodanya.


Kekehan dan gelak tawa lolos begitu saja dari mulut keduanya. Sesekali teriakan Ferdi terdengar saat tinjuan mendarat di dadanya. Tak puas, menggoda sahabat dekatnya itu.


Bahkan mereka tak peduli pada manusia lain yang sedang terlelap saat ini.


***


Ardan membuka pintu kamarnya dengan menenteng plastik yang dibawa Ferdi tadi, Hazel sudah duduk di ranjang dengan kaus terusan berwarna putih miliknya.


"Kamu sudah bangun? Apa lapar?" tanya Ardan lembut.


Hazel menganggukan kepalanya, jarinya menyapu anak rambut di ujung dahi.


"Kemarilah! Makan ini."


Dengan menundukan kepala, Hazel berjalan mendekati Ardan yang sedang duduk di sofa. Mengeluarkan dua porsi makanan kesukaan lelaki berkulit sawo matang tersebut.


"Sebentar, aku buatkan teh untukmu."


Cepat tangan wanita itu meraih pergelangan tangan Ardan. Menghentikan langkah lelaki setinggi 188 centimeter itu.


"Tidak perlu repot-repot, Pak. Biar saya saja yang buat."


"Kok Pak lagi?"


"Ehm, jadi panggil apa?"


"Ardan saja."


"Tapi umur kita jaraknya lumayan jauh."


"Kalau begitu, Kak."


"Mas saja, ya."


"Hem, terserah."


Hazel bangkit dengan cepat, berlari menuruni anak tangga. Wajahnya terasa semakin panas saat ia mendengar suara lelaki itu.


Ia kembali dengan dua gelas teh di tangannya, meletakan di atas meja. Detik kemudian ia mengangkat makanannya, makan dengan tertunduk saat mata elang pria itu menatapnya sangat tajam.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Ardan saat melihat wajah Hazel yang terus memerah tanpa sebab.


"Hem," jawab Hazel diiringi anggukan.


"Kenapa wajahmu memerah? Apa kamu sakit?" Ardan menyentuh dahi wanita itu. Semakin membuat wajah wanita itu memerah padam.


Perlahan Ardan mendekatkan bibirnya ke telinga Hazel. Menggigit ujung daun telinga wanita itu.


Sontak Hazel memundurkan duduknya, melihat Ardan dengan tajam menggunakam sudut mata.


"Apa yang anda lakukan?"


"Kamu! Bukan anda."


"Apa kamu malu?" tanya Ardan dengan seringai nakal menghiasi wajah gantengnya.


"Sedikit," jawab Hazel yang masih memegangi telinganya.


"Ini bukan hal yang pertama kali kamu lakukan, kan? Kenapa kamu malu seperti ini?"


"Bukan pertama, tetapi saya ... eh bukan, aku baru pertama kali melakukannya denganmu."


"Memang ada bedanya?" tanya Ardan menggoda.


"Ya ... jelas ada."


"Memang bedanya di mana?" tanya Ardan kembali mendekatkan wajahnya.


"Ih ... jangan mendekat!" teriak Hazel malu.


"Kenapa gak boleh mendekat? Bahkan tadi sore kita sudah bertelanjang berdua."


Hazel menutupi kedua telinganya dan menggeleng. "Jangan dikatakan lagi," ucapnya semakin malu.


Ardan terkekeh, melihat Hazel yang seperti ini rasanya unik sekali. Biasanya dia selalu tangguh dan kuat, ternyata ada sisi yang seperti ini dalam dirinya.


"Baiklah, aku tidak akan menganggumu lagi. Habiskan dan kembali tidur." Ardan mengambil gelas tehnya, berjalan ke meja kerjanya.


Menghidupkan laptop dan kembali sibuk pada pekerjaannya.


Hazel memandangi punggung lelaki itu, ia bahkan tidak menyentuh makanannya sedikitpun.


Setelah menghabiskan makanan, Hazel mengangkat piring kotornya. Melihat sekali lagi ke arah steak yang sama sekali tidak tersentuh tangan suaminya itu.


Hazel memotong daging itu menjadi lebih kecil. Setelahnya ia berjalan mendekati Ardan yang masih fokus pada layar datar.


Gerakan jari kekar itu terhenti saat sepotong daging terarah ke bibirnya. Ia memalingkan pandangan melihat Hazel yang berdiri tepat di sampingnya.


Ia tersenyum dan perlahan membuka mulut. Memakan potongan kecil suapan istrinya tersebut.


"Seberapa lama waktu yang akan terbuang untuk makan?"


"Hem, maksudnya?" tanya Ardan tak mengerti.


"Anda ... kamu selalu bilang, saya, aku malas makan. Tetapi kamu juga sama saja."


Ardan tersenyum dan menggelengkan kepala. Ia menarik tangan Hazel, mendudukan di atas pangkuan.


"Baiklah, suapin sampai selesai. Aku akan makan jika kamu menyuapiku."


Hazel memiringkan bibirnya, rasanya muak sekali saat mendapatkan godaan dari lelaki ini. Tapi anehnya, ia tidak keberatan sama sekali jika lelaki ini bersikap manja.


Ardan menetukan satu jarinya di atas bibir saat suapan terakhir masuk ke dalam mulutnya.


"Minum?" tanya Hazel ketus.


"Bukan."


"Jadi?"


"Cium."


Hazel mencebik kesal, ia bangkit dari atas pangkuan Ardan dengan membawa piring di tangannya. Cepat tangan Ardan menarik pipi wanita itu dan mengecupnya sekilas.


"Amis," ucap Hazel tak suka.


"Kamu bahkan sudah mencium yang lebih amis," balas Ardan menggoda.


Kembali bibir itu mencebik, berjalan menjauh dari lelaki bermata sayu tersebut.


Membawa piring sisa makan ke arah dapur, wanita itu kembali dengan segelas air ditambah potongan lemon. Meletakan dengan lembut di sebelah Ardan.


"Terima kasih," ucap Ardan tanpa melihat ke arah Hazel.


Wanita itu mengangguk, terduduk di bibir ranjang sembari memandangi lelaki berbalut kaus itu bekerja.


"Mas," panggil Hazel lembut.


"Hm."


Detik kemudian Hazel terdiam, ia ragu untuk mengatakannya. Tetapi ia juga mulai tidak nyaman dengan sikap baik Ardan selama ini.


Tak mendapati perkataan lain yang keluar dari bibir wanita itu. Ardan memalingkan pandangannya, melihat Hazel yang melamun dengan menyandarkan kepala di tiang kasur.


"Ada apa?" tanya Ardan lembut.


"Boleh aku tanya sesuatu? Tetapi kamu jangan tersinggung."


"Katakan! Tumben kamu takut aku tersinggung, biasa juga gak peduli?"


"Aku serius!"


"Aku juga."


Hazel menggigit bibir bawahnya pelan, menatap wajah Ardan dengan matanya yang bulat.


"Jujur, apa kamu mendekati Surya karena hanya ingin mendapatkan aku? Aku istri kamu, tidak perlu dekati Surya, aku juga pasti akan mendekati kamu."


Ardan tersenyum lembut dan menggelengkan kepalanya.


"Kenapa pikiranmu selalu buruk tentang aku? Apa aku memang seburuk itu di matamu?"


"Maaf, tapi di awal kamu tidak sepeduli ini pada kami--"


"Aku yang tidak peduli atau kamu yang tidak pernah memperkenalkan kami?" tanya Ardan memutuskan ucapan Hazel.


"Aku tidak menyalahkanmu, karena wajar seorang ibu bertanya seperti itu. Tetapi sebagai seorang istri, coba tanyakan pada hatimu? Seburuk itukah aku untuk menjadi ayah sambung anakmu?"


"Tapi kenapa kamu mau menjadi ayah sambung anakku?"


"Karena--" Ardan memandang lekat ke arah Hazel.


"Aku tahu, pasti ada alasan dari setiap perlakuan. Tapi, bisakah--"


"Aku jatuh cinta padamu."


"Hah?" Hazel terkejut.


Seketika wanita itu menatap ke wajah ganteng lelaki berhidung mancung di depannya.


Tidak ada ekspresi yang menggoda ataupun bercanda. Wajahnya bahkan terlihat lebih serius daripada memimpin sebuah rapat.


"Aku, jatuh cinta, padamu, Hazel!" tekannya sekali lagi.


Hazel tersenyum kaku, jarinya sibuk menggaruk kulit kepala yang tidak gatal.


"Kalau begitu, aku tidur dulu ya," ucap Hazel kaku.


Ardan menganggukan kepalanya, membiarkan wanita itu meninggalkan percakapan begitu saja.


Hazel tidur membelakangi lelaki itu, ia menangkupkan tangan di kedua pipinya yang mulai merona merah.


"Apa dia bilang? Jatuh cinta? Padaku? Yang benar saja?" gumamnya sendiri.


Hazel membenamkan wajahnya di dalam bantal.


'Kenapa jantungku memompa kuat sekali? Tidak ... tidak! Ini tidak mungkin!' teriak Hazel dalam hati.


Ia menggelengkan kepalanya yang masih terbenam di atas bantal. Mencoba mengusir pikirannya yang mulai dipenuhi oleh senyuman dari lelaki berwajah tampan itu.


Sedang, Ardan terkekeh tanpa suara saat melihat tingkah Hazel yang seperti itu. Benar-benar di luar dugaan, jika wanita seperti dia bisa bertingkah aneh layaknya gadis remaja.


"Aku yang jatuh cinta, kenapa dia yang gila?" tanya Ardan lirih.


Ardan menghela napas, melipat kedua tangan dan meletakan di belakang kepala. Memandangi langit-langit kemar sembari tertawa.


"Haaa ... indahnya warna-warni dunia."