For My Family

For My Family
120



Arfi keluar dengan tergesa dari dalam mobil Mclaren hitamnya. Langkahnya cepat mendekati halte bus.


Mencekal lengan tangan Khadijah yang akan menaiki bus.


Gadis itu menoleh, geram ia melepaskan cekalan tangan kekar itu kasar.


Plaakk ....


Wajah Khadijah memerah, dengan sorot penuh amarah memandangi Arfi yang tengah menahannya.


"Jangan selalu menyentuhku, Arfi. Kita bukan mahram!" sengitnya.


Arfi memundurkan langkah, menatap wajah cantik itu sendu. Rindu, ada desiran yang kembali menyayat kalbu setiap kali ia memandangi wajah gadis itu.


Rasa bersalah, rasa penyesalan yang acapkali membuatnya tak berdaya. Ingin menahan, tetapi apa yang pernah hilang tak akan pernah terulang.


"Khadijah, benarkah yang akan menikahimu adalah ... Kak Ferdi?"


Khadijah menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Membuang pandangan ke arah yang entah.


Mencoba tak menatap, seraut wajah yang membuat hatinya goyah.


"Khadijah," panggil Arfi lembut.


Gadis itu tak menoleh, ia masih membuang pandangan ke arah samping.


Pelan, salivanya terteguk dengan berat.


"Khdijah, jawab aku," pinta Arfi lagi.


Gadis itu masih bergeming, mendekap tubuhnya dengan kuat.


"Khadijah jawab aku!" Arfi mengguncangkan badan langsing itu, kesal.


"Iya!" sahut Khadijah ketus. "Yang akan kunikahi adalah Pak Ferdi, kenapa?" tanyanya sinis.


Arfi menundukkan wajahnya, bibir itu tersenyum getir. Miris dan juga sakit.


Mengapa? Harus Ferdi yang menjadi rivalnya.


"Kenapa?" tanya Arfi pahit. "Kenapa harus Kak Ferdi, Khadijah? Kenapa?" teriak Arfi lantang.


"Karena dia adalah lelaki yang bisa menerima segala kekuranganku."


"Apa?" tanya Arfi kaget.


"Ya, dia tau aku pernah diperkosa, Arfi. Dan kamu tau? Dia langsung melamarku tanpa berpikir dua kali. Tanpa!" tekan Khadijah.


Mata bulat itu mendelik, menatap wajah Arfi nyalang. Kenapa? Dia dan Arfi harus dipertemukan kembali?


Mengapa? Lelaki yang dipilihkan untuknya adalah orang terdekat Arfi. Mengapa? Harus ada yang terluka di antara dua hati yang berusaha saling membuka untuk menata kembali.


"Khadijah, aku--"


"Stop!" tahan Khadijah langsung.


"Cukup, Arfi. Aku telah dikhitbah. Haram bagiku untuk menemui lagi. Jadi, kumohon. Jangan cari aku lagi."


Gadis itu langsung berjalan ke arah pintu bus. Sedangkan, lelaki berkaus hitam itu masih tertunduk.


Merasakan remasan yang terasa sangat menyakitkan di segumpal darah dalam diri. Hati.


"Tunggu!" tahan Arfi, lelaki itu menatap punggung berbalut gamis tersebut.


Khadijah menghentikan langkahnya, tak menoleh. Menantikan ucapan yang akan terlontar.


"Benarkah yang kamu cintai Kak Ferdi? Atau ... kamu hanya ingin aku merasa menyesal atas kebodohanku dulu?"


Khadijah tertegun, berat ia menghirup udara yang terasa sesak memasuki rongga dada.


Entahlah, dia pun bingung dengan hatinya. Mengapa? Harus lelaki sepecundang Arfi yang pernah ia cintai sepenuh hati dulu. Dan mungkin, sampai saat ini.


"Khadijah," desak Arfi.


Khadijah menarik napasnya, mencoba meredam rasa sesak di dalam dada.


"Yang kucintai adalah Allah. Dan yang akan menjadi suamiku juga adalah dia yang mencintai makhluk karena Allah. Bukan karena nafsu atau ambisi semata." Gadis itu melirik, terhela napas sebelum melanjutkan langkah.


Sementara Arfi masih terdiam, memandangi bus yang kembali membawa sang gadis mengilang.


Ada yang sakit, kali ini lebih dalam. Karena dia tau kalau saingan cintanya adalah Ferdi. Leleki yang jelas sekali tak akan sebanding dengannya, perbuatan dan juga segala kesederhanaan yang dia jaga.


Tak banyak bertingkah, dan selalu menjalani hidup seadanya. Dan itu, membuat ia semakin serasi berdampingan dengan gadis berhijab itu.


Arfi menghempaskan badannya di kursi halte. Mengacak rambutnya kesal.


Kali ini, perjuangkan atau lepaskan? Karena lelaki itu Ferdi, haruskah dia menyerah?


...***...


"Bagaimana jahitan operasimu, Sayang?" tanya Ardan melirik ke arah Hazel yang tengah menyuapi makanan ke dalam mulut.


"Sudah tertutup sempurna, nanti Mas belikan salapnya, oke. Biar bekasnya memudar."


Ardan hanya menaikan jempolnya, tangannya meraih badan mungil Surya yang tengah asyik memandangi Yena.


Menidurkan badan bocah itu di atas dadanya.


"Sudah malam, ayo tidur!" Tepuk Ardan pelan di bokong kecil putra Hazel tersebut.


Mengikuti gerakan tangan Ardan, Surya membalas tepukan yang sama di pipi lelaki itu. Menciptakan gelak tawa dari dua lelaki yang tengah berbaring saling menimpahi tersebut.


Ardan menepuk bokong itu semakin cepat. Diikuti dua tangan kecil yang menepuk pipi dia semakin geram.


Saling membalas, panjang. Sampai akhirnya tangisan pecah dari mulut bocah itu. Ardan semakin terkekeh, gemas.


"Mas, ih. Kalo gak nangis gak seneng, ya?" tanya Hazel ketus.


"Hahahaha. Aku geram, sebab dia comel sangat." Ardan menarik kulit pipi bocah tersebut, semakin membuat sang punya wajah meronta, menangis membesarkan suara.


Hazel terkekeh, pelan tangannya menarik Surya. Memindahkan kepala bocah itu ke atas pangkuannya. Membelai rambut kekuningan Surya yang perlahan mulai mencokelat.


Entah itu efek fisoterapinya, warna asli rambutnya, atau angelman Syndrome yang diderita sang buah hati mulai membaik.


Ardan mendesah panjang, memandangi tiga orang kesayangannya yang berada di kasur miliknya.


"Ferdi akan ke ibu kota. Sementara Arfi, anak itu entah kapan akan kembali. Sebulan lebih di sini, bahkan dia tak peduli pada perusahaannya."


"Ehm, Ferdi akan ke ibu kota?" tanya Hazel.


"Iya. Katanya dia akan melamar seorang gadis."


"Benarkah? Siapa?"


"Khadijah, gadis yang menggantikanmu di divisi."


"Waow, aku kaget loh, Mas."


Ardan membenarkan letak kepalanya, melipat satu tangannya untuk dijadikan bantal.


"Entahlah anak itu. Kalo aku minta bantuan Arfi buat kelola perusahaan sementara, dia mau gak, ya?"


Hazel mengendikkan bahu, mencoba melihat wajah putranya yang terbenam di atas pangkuan.


"Khadijah, kok aku jadi penasaran, ya, Mas? Wanita seperti apa yang bisa memikat sang Direktur itu."


Ardan menaikan sebelah alis matanya, mengingat wajah gadis berhijab tersebut.


"Dia cantik, Hazel. Punya lekuk badan yang bagus. Aku sempat ingin menampilkan wajahnya di majalah. Tapi Ferdi melarang."


"Loh, kenapa?" tanya Hazel semakin penasaran.


"Dia berhijab. Ferdi bilang dia gak akan nyaman kalo di perhatiin banyak mata. Lagian dia juga lagi ada masalah sama Ayahnya. Jadi gak boleh ketahuan kalo lagi ada di sini."


Hazel memanyunkan bibirnya, pelan kepalanya mengangguk.


"Kalo sama Nara, cantik mana?"


"Bedalah, sama-sama cantik tapi berbeda garis wajah."


Ardan memalingkan badannya, menatapi wajah Hazel lama-lamat.


"Garis wajahnya mirip sepertimu, Sayang. Khas Timur Tengah"


"Benarkah? Tapi, Mas gak pernah bayangin kalo dia itu aku, kan?"


Ardan langsung membalikkan badannya, memunggungi Hazel, memejamkan kedua matanya. Pernah, dia pernah membayangkannya sekali saat pertama kali gadis itu menduduki posisi Hazel.


Bagaimana jika Hazel tahu? Semenjak kasus bersama Nana, gadis itu menjadi lebih pecemburu.


"Mas!" panggil Hazel.


"Hmm."


"Kenapa gak jawab? Atau, jangan--"


"Ya enggaklah, Sayang. Mana mungkin aku berani," sahut Ardan berkelit.


"Awas aja kamu, Mas. Kalo berani--" Ucapan itu tiba-tiba berhenti ketika sebuah ciuman mendarat di bibir mungilnya.


Ardan tersenyum, ia memindahkan Surya dari atas pangakuan sang istri.


"Aku bawa Surya dulu, ya."


Lelaki itu langsung keluar dari kamar tidurnya, membawa sang bocah ke kamarnya sendiri.


"Mati kau, Ardan. Sekarang istrimu sudah sangat garang," gumamnya sendiri.