For My Family

For My Family
106



"B-b-bagaimana bisa? Anda bercanda?" tanya Khadijah tergagap.


"Aku tak pernah seserius ini dalam hidup. Aku serius ingin menikahimu, Khadijah."


Gadis itu kelabakan, ia bingung harus berucap apa. Tangannya meraih gelas jus di sebelahnya, malah jatuh karena tangannya bergetar.


Sebuah sentuhan lembut di atas punggung tangan kiri gadis itu membuat perasaannya sedikit lebih tenang.


Iris cokelat itu menatap punggung tangannya, lalu tertarik saat menyadari Ferdi menyentuh tangannya.


"Tenanglah, aku tak akan memaksamu," ucap Ferdi lembut.


Perlahan gadis itu mendongakkan wajah, melihat seraut wajah manis itu. Ada ketenangan dan juga keteduhan yang berusaha ia sampaikan.


"A-a-Anda bercanda, Pak. Bagaimana Anda bisa menikahi gadis seperti saya? Maksudnya, bukan gadis yang suci."


"Kamu suci, Khadijah."


"Suci dari mana? Saya sudah terjamah, saya penuh noda."


Ferdi menggeleng pelan, ia mendekatkan kursinya ke arah Khadijah.


"Kamu, menjaga diri. Menjaga pandangan dan selalu menjaga kewajiban. Pantaskah kamu dikatakan penuh noda? Sebagai hamba, bukannya semua orang di dunia ini ternoda? Bahkan kesucian bukan diukur perawan atau tidaknya kamu."


"Tapi, Pak. Apa Anda tidak jijik? Apa Anda tidak benci? Bahkan saya saja jijik jika mengingat malam itu."


"Yang membuat aku jijik bukan kamu. Tapi perbuatan mereka yang berani menjamahmu. Yang membuat aku benci juga bukan kamu. Tapi benci saat mengingat ada sekumpulan lelaki bejat seperti mereka pernah singgah dihidupmu, dan meninggalkan luka untukmu."


Ferdi meraih kedua tangan gadis itu, mengenggamnya dengan sangat erat. Seketika wajah itu memerah, antara menahan kesal dan juga marah.


"Sumpah Khadijah, demi Allah. Aku tak peduli kamu itu perawan atau bukan. Gadis atau bukan, bagiku, kamu sesuatu yang sempurna karena baiknya akhlakmu yang terjaga."


Gadis itu menghempaskan tangan Ferdi yang memegang tangannya.


"Maaf, tapi kita tidak boleh bersentuhan, Pak."


Ferdi tersemyum tipis, ia kembali duduk di hadapan Khadijah. Memandangi wajah cantik itu dalam.


Hening. Mata indah itu terus tertunduk, memperjelas bulu lentiknya yang begitu panjang.


"Kenapa?" lirih gadis itu bertanya. "Kenapa tidak Anda lupakan saja saya? Perasaan Anda menjadi beban untuk saya."


Hening, ada remasan yang terasa begitu menyakitkan untuk perasaan lelaki berkacamata itu.


"Saya, apakah pantas untuk cinta Anda?" tanya gadis itu mendonggakkan wajahnya.


"Apanya yang tidak pantas? Sesama manusia, pantaskah kamu membandingkan diri dengan yang lainnya?"


Pertanyaan itu kembali membuat gadis itu terdiam. Jarinya saling meremat dengan sangat kuat.


"Kenapa? Anda sama sekali tidak keberatan dengan masa lalu saya? Apa nanti Anda tidak akan sakit hati mengingat saya yang tidak suci."


"Tidak akan!"


"Alasannya?"


Sejenak Ferdi terdiam, ia menelan salivanya dengan sangat berat. Ada trauma masa lalu yang membuatnya begitu sulit mengungkapkan alasan itu.


"Ada remaja yang bunuh diri karena mengandung benih hasil pemerkosaan, tujuh tahun lalu." Ferdi menghela napas, tatapannya nanar melihat bayangan wajah di meja stainles depannya.


"Umurnya baru 17 tahun, lulus SMA saja belum. Dia ... harapan aku di masa depan." Lensa di balik kaca itu menatap wajah di depannya, ada segurat ekspresi yang terlalu sulit untuk dimaknai.


"Deminya, aku rela meninggalkan ibu kota dan mencari kesuksesan di sini. Demi masa depannya, demi impianya, demi rasa yang dia sematkan dalam hati hanya untukku. Demi semua harapan indahnya tentang hidup di masa depan bersamaku, aku rela melakukan apa pun itu." Ferdi tersenyum, ada kepahitan dari lengkungan bibir itu.


Luka, yang selama ini coba dia samarkan akhirnya kembali jernih dalam ingatan. Ferdi mendesah sangat panjang.


"Entah harus menyalahkan siapa? Kami lalai menjaganya. Dia diperkosa dan memilih mengakhiri hidupnya."


Satu beningan luruh dari mata gadis itu. Ada luka yang sama hadir di masa lalu Ferdi. Saat ini, sanggupkah dia menjadi orang yang selalu mengingatkannya dengan kenangan itu.


"Dia merasa tak pantas karena telah ternoda. Seandainya, dia katakan padaku malam itu. Aku pasti akan bertanggung jawab untuk anak di dalam kandungannya. Tak peduli siapa ayahnya, yang aku pedulikan hanya ibunya. Tak peduli seberapa berat lukanya, aku akan menanggungnya. Tak peduli seberapa kotor dirinya, aku mau membersihkannya. Karena aku ... mencintai dirinya. Dan juga, akan mencintai bagian dari dirinya. Mau itu kesalahannya atau kesalahan orang lain yang melukainya. Aku ingin dia, bagian dirinya, dan apa pun tentangnya."


Air kembali melintasi pipi putih itu, mengapa masih ada yang namanya cinta buta dalam dunia fana ini?


Sejatinya, cinta itu tanpa syarat. Dia tak menuntut kesempurnaan, tapi dia menyempurnakan apa yang kekurangan. Entah itu serpihan hati yang hancur karena luka hidup ini. Entah itu bagian diri yang ditemukan dari tubuh yang berbeda. Namun, siap untuk menanggungnya berdua.


Buta? Bukan, sebab cinta itu bukan mata, melainkan rasa. Dia tidak bisa melihat, tetapi dia bisa merasakan. Entah itu kasih sayang, pun ketulusan. Jika dia mencintaimu tanpa melihat kekuranganmu. Artinya ketulusan itu ada dalam hubungan tersebut.


Akan tetapi, jika dia melihat kekuranganmu dan menginginkan kamu sempurna untuk menjalani. Itu artinya dia bukan tak mencintaimu. Hanya saja, ada ambisi yang menuntutmu agar selalu sempurna untuk tetap dimiliki.


"Lalu, apakah Anda mau menerima saya. Karena Anda mencintai dia?"


Ferdi menggelengkan kepalanya, menegakkan posisi duduknya.


"Bukan. Cintaku padanya tetap akan berada padanya. Tak mungkin diganti dengan orang lain."


"Lalu?" tanya Khadijah lembut.


"Karenamu."


Dahi mulus itu mengerut. "Maksudnya?"


"Aku telah kehilangan sekali karena tragedi ini. Dan aku tak ingin kehilangan untuk kedua kalinya hanya karena kamu bukan gadis lagi. Arsy tetap Arsy, kamu ya kamu. Arsy ada di masa laluku. Dan yang kuinginkan untuk masa depanku itu ... kamu."


***


Ardan membuka pintu rumahnya dengan menenteng satu plastik besar berisi camilan. Meletakan di atas meja depan sofa tempat wanitanya sedang duduk santai. Kali ini, wajahnya ditekuk ketat.


"Aku pulang, Sayang." Ardan sengaja membesarkan suaranya agar dirinya terlihat oleh istrinya itu.


Bukannya menoleh, gadis itu malah menyilangkan kedua tangan di depan dada seraya memunggungi lelaki berjas itu.


Ardan menaikan sebelah alis matanya, pasti ada sesuatu yang membuat wanitanya itu marah.


Lelaki itu melepaskan jas dan dasinya. Menjatuhkan bokong di sebelah Hazel. Tangan kekarnya mulai memeluk tubuh bulat itu, dengan ciuman yang ia daratkan di pipi wanita itu bertubi-tubi.


Wanita itu melepaskan dekapan Ardan, melirik dengan sangat sinis.


"Dasar playboy kamu, Mas," ketus wanita itu dengan silangan tangan di dadanya.


"Kenapa kamu bisa bilang begitu?" tanya Ardan lembut.


"Siapa Emily?" tanyanya ketus.


"Emily?" Ardan memutar bola matanya. "Emily ... Emily?" lirihnya seraya mengingat.


"Siapa?" tanya Ardan bingung.


"Mana aku tau, mantan kamu kali," ketus wanita itu kembali.


"Emily, Emily? Mantan aku?" Lelaki itu kembali mencoba mengingat.


"Iya, mantan kamu yang mirip aku. Jangan-jangan kamu nikahi aku karena mirip dengannya, ya?"


"Hah?" Lelaki itu kembali mengingat. Memutar memorinya agar mengingat wajah-wajah mantannya dulu.


"Seingatku, aku gak pernah punya mantan berwajah Turki. Tapi kalau Eropa banyak."


Wanita itu mencebik kesal, ia mencubit dada bidang itu kuat.


"Ish ... memang playboy kamu, Mas. Genit, nakal!" cerca Hazel kesal.


Ardan terbahak, ia menyandarkan badan di belakang sofa. Tangannya mengusap pucuk kepala wanitanya lembut.


"Lagian dari mana kamu dapat nama Emily itu?"


"Arfi yang bilang, katanya kamu posesif sama Emily. Siapa dia, Mas?" tanya Hazel sembari mengerucutkan bibirnya.


"Oh ... Emily yang itu."


"Siapa? Cantik, gak?" tanya Hazel penasaran.


"Cantik, banget malah." Seketika wajah wanita itu memerah, dengan bibir yang semakin memanjang.


"Beneran?" tanya Hazel kesal.


"Beneran. Cantik, lembut, yang aku suka, kalau lagi main di ranjang, dia. selalu usap-usap manja mukaku."


"Ranjang?" Kini mata berwarna madu itu berlapiskan bening cairan. Tumpah jika sekali saja ia mengedip.


Melihat ekspresi wajah Hazel, membuat Ardan terbahak. Ia menarik pipi wanita itu gemas.


"Haduh ... Sayangku cemburu, ya?"


Hazel memukul tangan Ardan, memunggungi lelaki itu dengan tangan yang menyeka sudut mata.


"Emily itu blacan."


"Blacan?"


"Macan Akar."


"Hem?" Hazel membalikan badannya, lelaki itu mengeluarkan ponselnya. Memperlihatkan sebuah foto.


Jari lentik itu menggeser layar, terlihat beberapa foto suaminya saat muda dengan binatang buas loreng itu.


"Besar banget, Mas. Ini piaraanmu?" tanya Hazel kaget.


"Hem, itu Emily umur lima tahun. Sebelum penangkaran hewan mengambilnya dan mengembalikan ke hutan."


Wanita itu kembali menatap wajah suaminya. "Mas, kamu waras?"


Ardan terkekeh geli mendengar pertanyaan istrinya itu. "Tergantung." Jarinya menarik dagu wanita itu, lalu mengecupnya sekilas.


"Aku akan waras saat menatapmu, dan akan gila jika tidak ada kamu."


Semburat kemerahan mewarnai wajah wanita itu. Ia menjatuhkan kepala di atas dada bidang itu.


"Emily aku temui saat kemping perpisahan SMA dulu. Karena aku gak suka susu, aku selalu buang jatah susu, eh ternyata Emily datang dan minum susu itu. Emily berdua di hutan dulu sama saudaranya, gak tau induknya ke mana."


"Terus kenapa cuma Emily yang kamu bawa pulang, Mas?"


"Aku bawa pulang dua, tapi saudaranya Emily mati. Cuma Emily aja yang hidup. Cuma papa gak pernah izini aku buat piara di rumah. Makanya aku posesif sama dia," jelas Ardan lagi.


"Emh," jawab Hazel. Jari lentiknya bermain di atas dada bidang itu.


"Kenapa? Malu, ya, udah cemburu gak jelas?"


Hazel menegakkan badannya seraya memukul dada bidang itu.


"Ih ... siapa yang cemburu?" jawab Hazel mengelak.


"Kamu," balas Ardan sembari mentoel ujung hidung mungil itu.


"En-enggak! Ih ... pede gila!" Hazel bangkit dan berjalan ke arah dapur.


Sedang lelaki itu mengikutinya, tak berhenti menggoda istrinya itu. Sesekali gelak tawa memenuhi ruang dapur.


Ada bibir yang ikut ditarik, sampai membentuk sebuah lengkugan di atas sini.


Arfi membalikan badannya, menumpuhkan dua siku tangannya di pagar lantai dua. Sesaat ia mendesah panjang, menatapi langit-langit rumah kakaknya ini.


"Khadijah, jika kesalahan itu tak kulakukan. Mungkin kita juga tak kalah bahagia dengan pernikahan Kak Ardan."


Lelaki itu kembali memalingkan wajahnya saat mendengar pekikkan suara Hazel yang sedang digodai oleh suaminya itu.


Menggelengkan kepala dengan senyum yang terluka. Ia kembali menghela napas panjang. Lelah sekali mencari wanita itu selama bertahun-tahun.


"Aku meridukanmu, Masa Laluku."