
Hazel turun dengan mengenakan tasnya, mengambil selembar roti dengan selai di atasnya.
Mata Ardan tajam menatap wanita yang berdiri di sebelah kursinya itu.
"Mau ke mana?" tanya Ardan sinis.
"Kerja."
"Aku tidak mengizinkan."
"Aku tidak peduli."
Hazel meneguk gelas susunya dan berjalan menuju pintu. Langkah besar lelaki itu mengejar Hazel. Mengangkat tubuh mungil itu kembali ke kamar.
Menurunkan Hazel di atas kasur, sebuah tamparan mendarat di pipi Ardan. Dengan mata yang memerah, Hazel menatap sengit pria yang ada di depannya.
"Aku tahu itu perusahaanmu, tetapi aku masih terikat kontrak di sana. Sebelum selesai kontrak, kamu tidak bisa memutuskan pekerjaanku."
"Bagiku tidak sulit. Hanya tinggal membakar surat kontraknya saja. Selesai."
"Seperti inikah wajah aslimu?" tanya Hazel sengit.
"Kenapa? Kamu kecewa?" tanya Ardan ketus.
Hazel menggelengkan kepalanya, ia mendorong dada tegap lelaki itu dan berjalan ke arah pintu.
Belum sempat Hazel keluar dari pintu, tangannya lebih dulu di tarik oleh lelaki itu. Menyudutkan badannya ketembok dan mengurung di dalam dekapan tangan kekarnya.
"Sudah kutakan aku tidak mengizinkanmu bekerja. Aku tidak suka mengulanginya, jadi dengarkan aku, sebelum aku melakukan yang lebih keras padamu."
"Kenapa?" tanya Hazel menantang. "Ingin menyiksaku? Siksa saja. Aku tahu aku pihak kedua, lakukan apapun yang membuatmu puas terhadapku."
Ardan meraih pipi wanita itu dengan satu tanganya. Mencengkeramnya dengan sedikit kuat. Matanya tajam menatap binar berwarna madu milik wanita tersebut.
"Aku tahu kamu tangguh. Tetapi kamu tidak bisa terus menentangku seperti ini."
"Kenapa?"
"Karena aku bisa saja membuat segala ketangguhanmu itu menjadi lumpuh. Sebelum aku melakukan yang lebih keras padamu, menurutlah sedikit. Aku ini masih suamimu. SUAMIMU!" tekan Ardan sedikit keras.
Lelaki itu melepaskan cengkeraman tangannya pada pipi wanita itu. Membuka daun pintu dan menguncinya dari luar.
Ia menghela napas, sebenarnya ia hanya ingin melindunginya saja. Saat ini gosip tentang Hazel masih sangat hangat di kantor. Mereka tidak akan berani pada Ardan, tetapi mereka pasti berani dengan istri Ardan.
Tetapi lagi, cara Ardan untuk melindungi selalu dibalut dengan cara menyakiti. Menyampaikan maksud baik dengan cara yang buruk.
Ardan menuruni anak tangga dengan sedikit berlari, memberikan kunci kamar ke tangan mbok Darmi.
"Bukakan pintunya saat ia ingin makan. Jangan biarkan dia keluar dari pintu, atau aku akan menghukumnya lebih kejam dari ini." Tak menunggu jawaban dari wanita berbadan gempal itu, Ardan langsung keluar dari rumah besarnya, memacu mobilnya membelah jalan raya.
***
"Minum ini," perintah Ardan sembari memberikan tablet yang sama dengan minggu lalu.
"Kenapa? Bukannya satu saja cukup untuk enam bulan?" tanya Hazel sinis.
"Bukannya kamu memuntahkannya kemarin? Aku hanya ingin lebih waspada."
Wanita itu memalingkan wajah, tidak melihat apa yang ada di depan meja.
"Aku bilang, minum!" tekan Ardan sedikit keras.
Perlahan netra itu kembali berhiaskan kaca. Bagaimana lagi, tanpa harus meminum itu, dia tidak akan hamil dengan cara yang seperti ini.
Dikurung seperti tawanan, siapa yang akan tahan?
"Aku tidak mau!"
Ardan mencengkeram pipi wanita itu dan memasukan tablet obat itu ke dalam mulut Hazel. Meminumkan air dengan sedikit memaksa.
Hazel terbatuk, menghempaskan gelas air yang dipaksakan masuk ke dalam mulutnya.
Perlahan tetesan air mulai membanjiri matanya, melihat lelaki berbalut kemeja dongker itu dengan tajam.
"Dasar gila! Tidak waras! Aku menyesali kenapa pernah mengenal lelaki sepertimu?" teriak Hazel keras.
Ardan tersenyum sinis, ia membuka kemeja yang melekat di badannya dan mendekati Hazel.
"Kalau begitu aku akan membuatmu semakin menyesal karena pernah datang ke dalam dekapanku." Ardan menarik bahu Hazel, mendekapnya di bawah tubuh kekar itu.
Sekuat tenaga, Hazel berusaha keluar dari dekapan kuat lelaki itu. Mendorong dada bidangnya dan menampar wajahnya, keras.
"Aku tidak sudi untuk kamu sentuh!" teriaknya lantang.
"Sudi atau tidak, itu terserah padaku."
Kembali tamparan mendarat di pipi lelaki itu.
"Baj*ngan. Aku bersumpah akan membalas semua ini!" teriak Hazel kesal.
"Sebelum kamu balas, biarkan aku membuat dendammu semakin dalam."
Hazel memukuli dada bidang lelaki itu dengan seluruh tenaganya, walaupun ia tahu ini akan sia-sia, tetapi ia masih ingin berusaha.
Karena apa yang lelaki itu inginkan, akan tetap menjadi nyata. Suka atau tidak, bukan atas keinginan hatinya, tetapi atas keinginan manusia berhati dingin yang saat ini berada di atasnya.
.
Punggung polos wanita itu bergetar, menangis semakin dalam saat malam semakin larut. Menangisi kebodohannya yang pernah jatuh cinta pada lelaki yang ada di belakangnya saat ini.
Menangisi kenapa ia pernah percaya begitu saja. Percaya akan semua kebaikan dan juga kelembutannya, pada akhirnya hanya membawa luka yang semakin dalam untuk hatinya.
Sesekali punggung tangan putih itu menghapus sudut pipi, saat air mata tidak mau lagi berhenti.
Kenapa semua harus seperti ini? Ia pikir selama perjanjian itu berjalan, ia akan baik-baik saja. Tetapi semua hanya ilusi belaka, lelaki ini bukanlah manusia. Melainkan iblis tanpa hati yang setiap detik mampu menyakiti.
Hazel menarik bantalnya, membenamkan wajahnya dalam bantal berbalut kain putih itu. Semakin sesak rasanya, semakin dalam sakitnya.
Bukan sakit pada tubuhnya yang dipaksa untuk melayani. Namun sakit yang terasa karena perlakuan kasar lelaki itu menusuk di dalam hati.
Hazel terseduh, tergugu sampai membuat badan mungilnya bergetar di dalam selimut. Tidak peduli malam yang semakin larut, dinginnya malam bahkan tidak mampu membuat perih hatinya membeku.
Sedang, yang di belakang saat ini hanya bisa diam. Ia ingin meraih tubuh wanita itu untuk kembali di dekap, tetapi enggan.
Ia sadar, kebencian dalam hati wanita itu sudah terlampau besar. Hanya dengan cara ini agar ia bisa rela melepaskan, karena cintanya yang terlanjur mendalam. Tidak ada cara selain menyakiti satu sama lain, untuk mengakhiri perasaan yang kian terpupuk subur di dalam hati masing-masing.
***
Hazel memijit pelipis matanya yang terasa denyut beberapa hari terakhir ini. Stres oleh keadaan yang semakin buruk tiga minggu belakangan ini.
Ardan, benar-benar menjadi sangat ganas dan menggerikan. Bahkan sedikit kelembutan tidak ada lagi dalam perlakuannya.
Pandangan Hazel teralih saat Surya melemparkan mainannya ke arah pintu. Perlahan ia bangkit dan meraih mainan itu.
Sebuah sepatu hitam nan mengkilap masuk dari arah luar. Hazel mendongakkan pandangannya, melihat lelaki berjas itu kembali di depan matanya.
Ia menghela napas, mengambil mainan dengan cepat dan menjauh dari lelaki berbadan tegap itu.
Entah sejak kapan, namun mereka menjadi asing satu sama lain.
Tak peduli lagi pada kehadiran wanita itu, Ardan berjalan memasuki rumahnya, melewati Surya yang sedang bermain di ruang tengah.
Jari kecil itu menarik ujung celana Ardan. Secepatnya, Hazel berlari dan menggendong putranya tersebut, menjauhkannya dari lelaki berdarah dingin itu.
"Maaf," ucap Hazel menggendong putranya menjauh.
Tangisan dari Surya mulai terdengar, tangannya terulur, sembari melihat ke arah Ardan. Memohon agar lelaki itu sudi kembali menggendong tubuhnya.
Perlahan sebuah air melintasi pipi lelaki itu, cepat ia menghapus dengan punggung tangan. Rindu, iya, rasa itu ada saat ia melihat ibu dan anak yang semakin hari semakin menjauh darinya.
Mereka masih satu atap, bahkan masih satu ranjang. Namun seperti ada sesuatu yang membuat mereka lebih jauh dari apapun di dunia ini.
"Papa kangen, Surya," lirih Ardan pedih.
Matanya masih memandangi tubuh mungil bocah kecil itu. Semakin menjauh memasuki kamar tidurnya dengan rengekan yang kian membesar.
Hazel meletakan tubuh putranya di atas kasur. Tak peduli pada tangisan putranya itu, ia menutup pintu dengan sedikit membanting.
"Diam, Bunda bilang, diam!" bentak Hazel ketus.
Bocah kecil itu terus menangis, merengek ingin kembali keluar. Hazel kembali menarik badan anaknya, menidurkannya di atas kasur.
"Diam Surya, kenapa kamu nakal sekali?" tanya Hazel kesal.
Sebuah langkah datang mendekati kamar itu, tidak berani membuka, hanya bisa mendengarkan dua orang yang sedang bertengkar di dalam sana.
Mulai gerah dengan rengekan Surya, Hazel kembali menggendong tubuh mungil putranya itu. Mencoba menepuk bokongnya lembut, sekadar menenangkan dan mendiamkan. Takut jika tangisan Surya akan kembali mengusik ketenangan lelaki berwajah garang itu.
Bukannya diam, rengekannya malah semakin besar. Tidak tahan, Ardan meraih kenop pintu, ingin datang untuk mendekap tubuh putranya.
Ia rindu. Rindu jemari kecil itu, rindu comel dan imutnya tingkah bocah kecil itu.
Lagi, niatnya urung karena mengingat hubungannya dan Hazel yang kian memburuk.
Perlahan pegangan tangannya pada kenop terlepas. Ia berbalik, berniat untuk menjauh dari kamar Surya.
"Pa ..., " teriakan dari dalam menghentikan langkahnya.
"Pa-pa-pa-pa!" teriaknya terbata.
Ardan memalingkan wajahnya, bocah itu seperti terasa. Bahwa lelaki dewasa di sini juga sangat merinduinya.
"Apa? Ha? Kamu bilang apa?" Suara teriakan itu kembali terdengar.
"Papa? Yang kamu panggil Papa itu siapa? Dia bukan Papa kamu, dia hanya orang asing, Surya."
Ardan menundukan pandangan, hatinya sakit sekali. Perkataan Hazel benar-benar membuat ia merasa bersalah.
"Bertahun-tahun Bunda mengurusmu. Tetapi kenapa panggilan untuk lelaki itu yang pertama kali keluar dari bibirmu? Lupakan dia! Bunda gak sudi dia menjadi Papamu!"
Langkah besar Ardan berjalan memasuki kamarnya, menutup dan mengunci pintu dengan sedikit tergesa. Ia mengusap wajah dengan kasar.
Perlahan ia terduduk lemas, mengetukan kepalanya ke daun pintu. Menyesali kebodohannya selama ini. Perlahan air yang berusaha ia tahan mulai mengalir melintasi pipi.
"Ardan, apa yang kamu dapatkan dari semua ini? Kamu hanya seorang pecundang yang menyedihkan."