For My Family

For My Family
176



"Pak Ardan," panggil Nara saat melihat atasannya itu memasuki gedung perusahaan.


Gadis berkemaja putih itu tersenyum, satu tangannya menyerahkan selembar undangan berwarna biru-silver.


Satu alis mata Ardan menaik, menerima undangan dengan tulisan nama Kinara dan Pedro di atasnya.


"Saya mau minta cuti, bisa?" tanya gadis itu hati-hati.


Ardan tersenyum simpul, menarik undangan itu dan menatapnya.


"Saya pikir kamu mengundang saya. Ternyata hanya minta cuti saja?"


Kinara menggeleng, dia mengusap perut ratanya yang terasa kram.


"Bukan itu. Saya juga mengundang Anda dan Mbak Hazel untuk datang. Dan juga, Pak Arfi." Gadis itu kembali menyodorkan satu lembar yang lainnya.


Ardan hanya mengangguk, mengambil undangan itu dan berkata.


"Buat surat izinmu dan berikan pada pihak personalia. InsyaAllah saya akan datang. Selamat buat kalian berdua."


Ardan tersenyum dan berjalan menuju ruangannya. Meletakan undangan itu di atas meja.


"Ah, tak kuduga jika sainganku akan menikahi karyawanku. Mengapa drama sekali kisah mereka."


Lelaki itu menarik salah satu map yang ada di sana. Tatapan matanya memaling saat Ferdi memasuki ruangannya.


Lelaki berkacamata itu masuk, terduduk di depan Ardan. Melihat undangan silver itu, dan dia hanya acuh.


"Kau kapan lagi?" sindir Ardan.


Lelaki berkacamata itu mendesis geram. Ia hanya acuh dan ikut membaca sebuah map di sana.


"Berhentilah bertanya hal unfaedah seperti itu, Ardan."


"Aku hanya bertanya. Mengapa kau baper?"


"Aku bukan baper. Hanya saja itu pertanyaan simpel yang sangat susah untuk dijawab."


Ardan terkekeh, ia menutup mapnya dan memandang Ferdi yang ada di depannya.


"Dengar, Ferdi. Saat ini jodohmu telah menyerahkan diri. Tunggu apalagi? Jangan sok jual mahal, kau pun tak seberharga itu, Kawan."


Ferdi berdecak geram, ia menggelengkan kepalanya pelan.


"Kau menyesal, bukan?"


Iris di balik kaca itu menatap ke arah Ardan.


"Maksudnya?" tanyanya tak mengerti.


"Jika kutanya tentang satu kata. Coba jawab dengan jujur."


"Kenapa kau kekanak-kanakan sekali?" Lelaki itu kembali menunduk, membaca map yang ada di dalam genggaman.


"Arsy," kata Ardan lembut.


Gerakan mata lelaki itu terhenti. Ia menarik napas. "Penyesalan."


"Jika waktu terulang?"


"Akan kukatakan aku mencintainya berulang-ulang."


"Jika kesempatan kedua datang."


"Tak akan kulepaskan walaupun dia tidak ingin tinggal."


"Lalu mengapa kau sia-sia, kan?" tanya Ardan, dan Ferdi menatap Ardan tiba-tiba.


"Sasy adalah kesempatan kedua untukmu. Jangan sampai dia meninggalkanmu untuk kedua kalinya."


"Tapi Sasy orang yang berbeda."


"Kesempatan tak ada yang sama."


Lelaki berwajah teduh itu terdiam, hanya menatapi wajah Ardan lamat-lamat.


"Sadarlah Ferdi. Tak ada pengulangan yang sama. Bahkan hubungan yang patah, jika dia mendapatkan kesempatan kedua. Maka semuanya tak lagi sama. Terlebih lagi, untuk masa lalu yang tak lagi ada. Kau beruntung bisa menemukan dia yang serupa, walau tak sama."


"Bagaimana jika aku menyakitinya? Dan dia tau aku hanya mencintai Arsy di dalam dirinya?"


"Tak ada bahagia tanpa rasa sakit yang mendera. Tidak ada tawa tanpa air mata. Siap mencintai, maka siap dipatahi. Siap menyanyangi, maka siap tersakiti. Itu semua terpaket dalam satu."


Ferdi terdiam, dia memandangi undangan bertuliskan nama Arfi di atas meja Ardan.


"Tak perlu kuajari, kau pun tau, Ferdi. Setiap rasa memiliki pasangan yang berlawanan. Tak ada rasa yang berjalan hanya searah. Bagaikan kepingan puzle, apakah dia akan menyatu jika bentuknya sama?"


"Tapi dia masih sangat belia."


"Berhenti mencari sebuah alasan, Ferdi. Jika cinta, dia tak butuh alasan. Karena cinta bukan penjabaran, bukan perkataan, melainkan tindakan dan perbuatan. Jika kau cinta perjuangkan, jika tidak, tinggalkan. Kalau kau tak sanggup, maka jangan terus melawan. Ada saatnya kau menyerah, bukan karena lelah. Namun, karena bahagia itu mulai menyapa."


Lelaki itu tersenyum miring, ia menutup map dan berjalan ke arah pintu.


"Mau ke mana?"


"Terserahku mau ke mana, apa aku harus melapor pada bawahan jika ingin keluar?"


Ardan tersenyum sinis dan menggeleng pelan. "Dasar."


***


Sepasang tangan mungil langsung memeluk Ardan saat pertama kali ia membuka pintu rumah.


Lelaki berwajah sangar itu tersenyum, mengangkat tubuh mungil itu dengan sedikit melambung.


"Hei, kenapa bajumu basah?" tanya Ardan.


"Surya, kenapa lari-lari? Lihat lantainya basah, kan," ucap Mbok Darmi menyusuli Surya yang masih bertelanjang dada.


"Gak apa-apa, Mbok. Gak usah dimarahi, sini baju Surya biar saya pakaikan," pinta Ardan lembut.


"Tapi, Ardan." Lelaki itu mengambil handuk dan juga baju yang ada di tangan Mbok Darmi, membawa bocah kecil itu ke ruang tengah dan melepaskan celana jeans mungil yang masih basah.


Jari-jari kekar itu menyentuh bekas luka operasi sang bocah. Jarinya berjalan mengikuti ruas tulang belakang tersebut.


"Surya, apa ini masih sakit?" tanya Ardan lirih.


Sepasang mata jernih itu menatap Ardan. Lalu ia menggeleng pelan. Ardan tersenyum dan mengacak rambut kecokelatan putra Hazel tersebut.


"Kau memang sama kuatnya seperti Bunda." Lelaki dewasa itu mencium pipi gembil putranya, lalu tangannya mulai memakaikan satu persatu pakaian ke tubuh mungil itu.


"Mas, sudah pulang?"


Tak peduli pada panggilan sang istri, Ardan masih sibuk menyiapkan pakaian sang anak.


"Surya anak kita, jangan selalu repoti Mbok Darmi, Hazel," putus Ardan langsung.


Gadis bermata madu itu mendekati Ardan, duduk di sebelah lelaki itu dan mengambil alih pekerjaan Ardan.


"Biar aku saja." Hazel menarik tubuh Surya, memakaikan bedak pada wajah gemas putra keturunan Turki tersebut.


Ardan hanya diam, memerhatikan gerakan Hazel yang sanggup memangku Yena dan mengurus Surya sekaligus.


"Bukannya kamu yang bilang, aku juga harus andil dalam membesarkan anak-anak?"


Gadis itu tersenyum, melirik sekilas dan tangannya masih cekatan menyisir rambut Surya.


"Memang benar. Tetapi ada waktunya. Bukan saat Mas pulang kerja begini."


"Lalu kapan?"


"Nanti, setelah Mas istirahat dan melepaskan rasa lelah."


"Lalu saat lelah begini? Harusnya aku berbuat apa?"


Ibu dua anak itu menggulum senyum. Selesai mendandani putranya, ia mengecup pipi Ardan.


"Mandilah, akan kusiapkan makan malam untuk Mas."


"Nanti saja. Aku masih ingin bersamamu dan anak-anak di sini." Ardan menaikan badan Surya ke salah satu pahanya.


Tangan itu mengeluarkan undangan dan menyerahkannya ke tangan Hazel.


"Sahabatmu," kata Ardan beralih pada Surya.


Tangan kurus itu meraih undangan yang Ardan berikan. Bibirnya terkembang dengan sangat lebar.


"Akhirnya mereka menikah juga." Sepasang mata itu melirik Ardan. Perlahan dia menggeser duduknya dan melendot di pundak lelaki itu.


"Mas," panggilnya manja.


"Hem."


"Kita beli baju couple keluarga, ya. Aku lihat ada toko baju keluarga yang jual couple bareng anak-anak," pintanya manja.


Ardan melirik, kepalanya menggeleng pelan.


"Terserahmu saja. Asalkan kamu senang."


"Tapi ... Mas pakai batik mau, kan, ya? Ya ... ya ... ya," bujuk Hazel manja.


Ardan terkekeh, ia menggeleng pelan.


"Aku gak pernah pakai batik, Hazel."


"Ih kenapa? Batik itu keren, Mas. Aku jamin Mas makin keren, dan aku makin cinta."


Ardan tertawa, wanita ini sangat jarang membujuk sesuatu atas keinginannya. Walau sudah lama bersama, namun memang dia tidak banyak menuntut apa pun itu.


"As you wish, Honey." Ardan menarik kepala itu dan mencium dahinya lembut.


"Mbok Darmi dan Nigar juga."


Ardan mengangguk. "Ya, Arfi juga."


***


Lelaki berambut pirang itu melepaskan seatbeltnya dan turun dengan cepat. Menyusuli Sasy yang tengah berjalan di trotoar dengan mengangkat kedua tangannya ke atas.


Kepalanya mendongak, memerhatikan wajah belia di dalam selembar foto.


"Nah ... pas sekali." Lelaki itu langsung merangkul bahu sempit milik Sasy.


Gadis kecil itu terkejut, ia melepaskan rangkulan Arfi dengan cepat.


"Jangan rangkul-rangkul deh, Om. Bukan muhrim," ketusnya jutek.


Satu tangan Arfi menoyor kepala belia itu. "Gayamu, sok sekali."


"Ngapain Om ketemu aku lagi?" tanyanya sengit.


"Bantu aku jelaskan pada calon istriku. Bahwa aku tak selera dengan bocah sepertimu."


Sebelah bibir Sasy memiring dia melepaskan ransel dan memukul badan Arfi geram.


"Yang Om bilang bocah itu siapa?" tanya Sasy kesal.


Arfi terbahak dan kembali merangkul bahu gadis itu.


"Bantu aku jelaskan, nanti akan aku berikan apa pun yang kamu mau."


Gadis belia itu melirik, lalu bibirnya terkulum. Arfi kembali menoyor kepala Sasy.


"Ish Rubah Kecil ini, apa lagi yang ada di dalam pikiran kotormu itu?"


Sasy mengangkat foto yang diberikan Ardan. Mata Arfi seketika melebar.


"Ini kan foto adikku. Kamu dapat dari mana?"


"Pak Ardan yang berikan."


"Emh." Lelaki berambut pirang itu hanya mengangguk.


"Aku akan bantu Om. Tapi Om juga harus bantu aku."


"Apa?"


Gadis kecil itu memainkan satu jarinya, meminta Arfi untuk mendekat. Lelaki dewasa itu menunduk, menyejajarkan kepala dengan sang belia.


Terlihat sangat dekat, belia itu membisikkan sesuatu ke telinga Arfi dan lelaki itu hanya mengangguk-angguk pelan.


Sementara ada cengkeraman tangan yang mengeras di seberang sini. Dadanya bergemuruh tak karuan, melihat rangkulan tangan Arfi pada bahu Sasy dan juga posisi yang sangat dekat.


Ferdi menurunkan kaca mobilnya, membiarkan angin masuk untuk menenangkan debaran jantungnya.


Sepasang netra di balik lensa itu masih lamat memandangi. Arfi terkekeh, dua jarinya menjentik dahi si belia dan seketika gadis kecil itu memanyunkan bibirnya.


Bergelut, bercanda dan tawa keduanya pecah di awal senja.


Lelaki berkacamata itu menarik napas, dadanya sesak. Emosinya terbakar dan perlahan kepalan tangannya tergenggam kuat.


"Kenapa? Sainganku harus selalu dia?"


Tak disadari, namun kuncup bunga di dalam hati mulai berduri.