
Sedikit menyeringai, geli dan juga jijik, gadis bermata indah itu melirik ke arah Arfi yang ada di sebelahnya. Lelaki berambut pirang itu hanya tersenyum, melihat ekspresi wajah Nigar yang tidak nyaman, lucu buatnya.
Gadis itu melilitkan tangannya di lengan Arfi, menjatuhkan kepala di atas bahu kekar itu. Sesekali matanya memejam, tidak tahan gadis itu kembali menatap wajah Arfi.
"Arfi geli, ih. Jijik, aku mau muntah rasanya," adunya manja.
Arfi tertawa, "bukannya kamu mau belajar? Gimana kamu bisa memulai kalau kamu gak tau caranya berciuman?" tanya Arfi dan gadis itu memanyun. Memilin ujung tangan kaus sang lelaki.
"Tapi aku geli, itu berlebihan, Arfi. Mana ada orang ciuman sejorok itu."
Arfi terkekeh, hanya menggeleng seraya menyandarkan bahu pada kursi.
"Jadi apa menurutmu ciuman itu hanya menempelkan bibir diatas bibir?" Kepala itu mendekat. "Itu bukan ciuman, Sayang," bisik Arfi dengan sedikit mengembus daun telinga Nigar.
"Jadi gimana? Arfi ajalah yang ajarin. Kan, Arfi lebih berpengalaman."
"Aku juga baru pertama kali menikah."
"Ish, Arfi."
Lelaki itu kembali tertawa, membenarkan letak duduknya. Mengacak puncak kepala Nigar.
"Ya sudah kalau gak mau liat lagi. Matikan saja."
"Aku nonton drama saja, ya."
Arfi hanya menggangguk, menggeser laptopnya ke hadapan Nigar. Gadis itu kembali bersemangat, mencari judul drama yang ingin dia tonton.
"Kamu bukannya sering nonton drama? Kenapa gak tau caranya ciuman?"
Gadis itu menoleh ke sebelah, menyeringai lebar seraya berkata.
"Selalu aku skip."
Arfi menarik wajah itu dan mendaratkan bibirnya di pipi putih Nigar. Geram, mengapa masih ada gadis sepolos ini? Bukannya dia memutar adegan ranjang, hanya memperlihatkan adegan berciuman dan gadis itu sudah tidak tahan.
"Ya sudah, nontonlah. Aku mau turun sebentar cari rokok."
Gadis itu hanya mengangguk, saat Arfi bangkit. Satu tangannya menarik pergelangan tangan Arfi.
"Kalau bisa. Kurangi juga rokoknya. Aku tau Arfi gak setiap hari merokok. Tapi itu juga pengaruh pada kesehatanmu cepat atau lambat."
Lelaki itu hanya mengangguk. "Kalau begitu aku cari permen saja."
Cekalan tangan Nigar terlepas, dia hanya tersenyum dan berpindah duduk ke kursi kerja Arfi.
Sebelum pergi lelaki itu sempat mengacak puncak kepala. Entah kenapa, dirinya akan selalu lemah menghadapi gadis ini.
Menarik jaketnya, lelaki itu turun dari atas kamarnya. Mencari minimarket terdekat, dalam hati merutuk geram, lagi dia harus bertemu dengan gadis itu saat mencari camilan buat sang istri.
"Arfi," sapanya dan lelaki itu menarik napas. Menarik apa saja dari atas rak untuk segera ke kasir.
"Arfi!" panggil Ayla dan langkah tegap Arfi terhenti. Terdiam tanpa menoleh.
"Aku memanggilmu. Tidak bisakah kamu menjawabnya?"
Arfi hanya memutar bola mata malas. Menarik sebatang cokelat di rak sebelah. Ingin melanjutkan langkah, tertahan lagi saat gadis itu kembali memanggil namanya.
"Arfi!" tekannya tidak suka.
"Haruskah sedingin ini sikapmu padaku?" tanya Ayla dan lelaki itu malah melanjutkan langkah.
Geram melihat ketidakpedulian Arfi, gadis itu menarik lengan. Ingin menampar dan kali ini tangannya tertangkap tangan Arfi.
"Cukup, Ayla. Kita hanyalah sebatas partner kerja. Kau hanya salah satu pengacara perusahaan Erlangga. Kita tidak pernah terlibat asrama, jadi berhentilah menganggap dirimu penting buatku." Lelaki itu mengempaskan tangan Ayla.
Selama ini dia diam, bukan berarti menerima setiap perlakuan. Terlalu pecundang jika dia melawan perempuan.
Tanpa membuang waktu lagi, Arfi membayar belanjaannya dan berjalan keluar. Langkahnya kembali terhenti saat sepasang tangan mendekapnya dari belakang.
"Arfi, kumohon jangan pergi."
Arfi menarik napasnya, mencoba melepaskan tangan Ayla, namun pelukan itu sangat erat.
"Aku tak masalah walau kamu sudah menikah. Aku mencintaimu, Arfi. Dari dulu, hatiku terpaut akan dirimu."
"Tapi aku yang bermasalah jika kau terus begini. Ayla, kau cukup cantik untuk bertingkah seperti ini. Jangan rendahkan dirimu dengan bersikap layaknya wanita kekurangan sentuhan."
Lelaki itu memaksakan melepaskan pelukan Ayla. Gadis itu masih bersikeras. Ditambah wajahnya yang dibenamkan di punggung kekar itu.
"Arfi, kumohon jangan sedingin ini. Aku hanya ingin sedikit saja hatimu. Bisakah?"
Lelaki berambut pirang itu terdiam, ia menarik napas. Geram.
"Kutanya padamu. Kapan aku yang tak sedingin ini padamu. Jika dulu sikapku membeku, maka kali ini sikapku tetaplah seperti itu. Aku tak pernah mengharapkan perjodohan itu, Ayla."
"Tapi aku berharap, Arfi!"
Lelaki itu kehilangan kesabaran. Kasar dia melepaskan pelukan gadis itu. Mencengkeram pergelangan tangan mungil itu dan menyeret tubuh Ayla berhadapan dengannya.
"Arfi ...."
"Berhenti di sana!" kata Arfi tanpa menoleh.
"Aku benci saat mengingat harum tubuhmu yang menempel pada bajuku. Karena aku benci, saat istriku harus terluka karenamu. Sebelum aku menilaimu terlalu jauh, kumohon Ayla. Berhentilah merendahkan diri hanya untuk mengemis cinta."
Lelaki itu langsung melesatkan ferrari merahnya. Meninggalkan sejejak luka di hati gadis seksi yang telah disakitinya.
Lentik jemari itu meremat kuat jaket milik Arfi.
Dadanya naik turun dengan cepat, matanya memandang di arah Arfi menghilang.
"Jangan terlalu sombong, Arfi. Jika wanita seperti dia saja bisa mendapatkanmu. Mengapa aku tidak?" Jemari itu semakin meremat kuat. Kali ini masih jaketnya, lain kali dia akan mendekap orangnya.
...***...
Arfi menarik napas saat melihat Nigar yang masih asyik menonton drama dalam laptopnya. Sebelum mendekat, lelaki itu menghirup aroma tubuhnya, takut jika pekat parfume Ayla masih melekat dan akan membuat salah paham pada hubungannya.
Lelaki itu langsung memasuki kamar mandi, mengganti kausnya agar segala sisa keharuman itu memudar.
"Mengapa aku seperti seseorang yang habis selingkuh saja?" decak Arfi seraya menyemprotkan banyak parfume pada tubuhnya. Kembali mengendus tubuhnya, dirasa cukup, baru ia keluar.
Lelaki bermata sayu itu menarik napas, lantas duduk di sebelah Nigar. Gadis itu langsung menoleh saat pekat aroma parfume Arfi tercium olehnya.
"Kenapa tiba-tiba Arfi pakai parfume sepekat ini?"
"Untuk menggodamu," godanya seraya memainkan alis mata.
Gadis itu hanya tersenyum, kembali fokus pada tontonannya.
"Makan ini," tawar Arfi menyerahkan sekantung plastik ke hadapan Nigar.
"Terima kasih." Gadis itu tersenyum, tangannya mencari snack sementara matanya fokus pada film yang ditonton.
Mata Arfi ikut memaling, melihat film yang menyita perhatian sang istri. Drama dengan bahasa yang tidak dia pahami.
"Nigar."
"Hmm."
"Kamu lahir dan besar di sini? Masih ngerti bahasa Turki?"
"Hem." Gadis itu memasukan sepotong cokelat ke dalam mulutnya. "Omer, kan jarang ngomong pake bahasa Indonesia. Kadang kalo ngomong juga suka terbalik-balik. Lagian dia menetap di sana, jadi aku masih sering interaksi pakai bahasa Turki."
Arfi hanya mengangguk, "lalu Hazel?"
"Entahlah, kurasa tidak."
Lelaki itu kembali mengangguk, sepasang matanya terus memerhatikan wajah Nigar. Setiap inci parasnya terukir sangat indah. Bukan tidak pernah menemukan yang lebih cantik dari dia. Namun, entah mengapa pesona gadis berkulit putih itu sangat menarik hatinya.
Lekat Arfi menatapi segala gerakan Nigar. Memandangi bibir ranumnya yang bergerak pelan mengunyah cokelat yang sedang dimakan.
Lentik bulu matanya yang sesekali menutup saat berkedip dan batang hidung yang sangat mancung. Wajah itu lebih kental Timur Tengah ketimbang sang Kakak. Tak jemu memandang, ingin dia rekam setiap kejadian dalam memori. Bagaimana bisa gadis itu selalu membuatnya jatuh hati?
Tak lama sepasang mata indah itu menatap ke sebelah. Ingin memasukan potongan cokelat, terhenti karena tatapan mata Arfi yang begitu lekat.
"Kenapa liati aku begitu?" tanya Nigar dan Arfi tersenyum lembut.
"Kenapa? Emang masih dosa kalau aku memandangi wajah istriku?"
"Bukan gitu. Arfi mandanginya aneh." Gadis itu tersenyum, ingin memasukan cokelatnya, lagi-lagi terhenti karena tatapan Arfi.
"Kenapa, sih?" Sedikit risi, gadis itu menyeringai. "Arfi mau cokelat?" tawarnya dan lelaki itu membuka lebar mulutnya.
Nigar tersenyum, memasukan lebih dulu sepotong cokelat ke dalam mulutnya, lantas mematahkan sepotong lagi untuk menyuapi sang suami.
Arfi hanya memandangi jari lentik yang tersodor ke hadapannya. Lalu tatapan itu teralih ke wajah Nigar.
Secepat kilat Arfi menarik tangan Nigar, mendaratkan bibirnya di atas bingkai ranum itu. Cukup lama menikmati, sampai cokelat yang ada didalam mulut sang istri berpindah.
Arfi tersenyum, mengusap sudut bibir dengan ibu jari seraya berkata. "Manis."
Wajah putih itu bersemu, memalingkan muka dengan menggigit bibir bawah. Tersipu, memerah mengingat pergulatan bibir Arfi.
Satu tangan Arfi mengacak puncak kepala. Geram ketika semu merah terhiaskan di wajah istrinya.
"Sudah malam, jangan nonton lagi. Ayo tidur!"
Gadis itu hanya mengangguk, berjalan menuju kasur dan membiarkan Arfi membereskan meja kerjanya.
Perlahan pandangan mata itu semakin sayu, sedikit lega saat Nigar tidak menyadari kesalahannya. Sebuah kesalahpahaman, lebih tepatnya.
Perlahan dia menghampiri Nigar, melepaskan kaus dan memeluk tubuh sang istri yang lebih dulu berbaring.
Membenamkan wajahnya di bahu, seakan takut jika Ayla menghancurkan hubungan ini. Lelaki itu menarik napas, entah apa? Namun, hatinya mengatakan, ini bukanlah awal yang baik-baik saja.