For My Family

For My Family
68



Hazel terduduk di bibir ranjang dengan gawai di salah satu tangan, satu lagi memegang sebuah apel yang sudah digigit sebagian.


Sesekali bibir mungil itu melebar dan terbahak. Bahagia melihat putranya di seberang sana masih baik-baik saja dan dikelilingi orang-orang yang menyanyanginya.


Panggilan itu terputus saat ia melihat Ardan keluar dari kamar mandi. Mengacak rambut basahnya sembari mengeluarkan satu set pakaian.


"Mas mau ke mana?" tanya Hazel lembut.


"Aku harus ke perusahaan pusat. Kamu berani, kan? Aku tinggal gak apa-apa?"


Bibir mungil itu mengerucut, terus terang dia tidak nyaman berada di rumah ini. Terlebih jika harus berhadapan dengan penghuni lainnya.


Melihat ekspresi wajah Hazel, Ardan mendekati wanita itu. Berlutut untuk bisa melihat raut wajah cemberutnya.


"Jangan takut, Papa ada di kantor bersamaku. Selain karena Mama, aku memang ada urusan genting di perusahaan pusat."


"Mas, bisa gak Mas antar aku ke terminal saja? Aku mau pulang saja, Mas di sini saja gak apa-apa."


Ardan menghela napas, ia bangkit dan menjatuhkan bokong di sebelah Hazel.


"Kamu gak percaya kalau aku sanggup menjagamu?"


"Bukan." Hazel menundukkan pandangannya, "aku hanya kangen Surya."


"Alasan. Baru juga sehari."


Hazel mencekal tangan Ardan lembut, memandangi wajah lelaki itu yang mulai menggarang. Perlahan ia menggoyangkan tangan Ardan dengan manja.


"Enggak! Kali ini kamu nuruti apa kataku, Hazel. Lima jam, kalau naik bus bisa lebih dari itu. Kamu hamil dan mau pulang sendiri? Apa kamu pikir aku mengizinkannya?"


Hazel memanyunkan bibir, melepaskan cekalan tangannya.


"Ngambek juga gak ngaruh. Kali ini aku bilang gak, tetap gak!" Ardan berjalan ke arah cermin besar di sebelah kasurnya. Mengacak rambut hitam legamnya, lalu mengenakan gel sebelum tersisir rapi dan mengkilap.


Sedang, wanita dengan drees putih itu hanya tertunduk lesu. Jari lentiknya memainkan apel yang ada di genggaman.


Ardan menarik buah itu dan membedirikan badan Hazel. Menangkupkan kedua tangannya di pipi putih wanita berdarah Turki tersebut.


"Dengar, Hazel. Gak ada yang berani menyentuhmu di sini. Aku tidak akan membiarkan siapapun melukaimu, percaya padaku."


Hazel mendongakkan kepala, melihat ke dalam binar mata Ardan. Ketulusan terpancar dari mata elang milik lelaki itu.


"Tapi, aku gak nyaman, Mas."


"Aku tahu, tunggulah beberapa hari lagi. Aku akan selesaikan urusan ini dengan cepat."


Hazel menghela napasnya dan mengganguk pelan. Seulas senyuman terkembang di bibir tipis Ardan. Ia mencium dahi Hazel dengan lembut. Lalu, menarik tangan wanita itu keluar dari kamar.


"Arsy," panggil Aulia saat melihat Hazel keluar dari kamar Ardan.


"Mama sudah bilang sama kamu, jangan suka ketiduran di kamar Kakak kamu. Bagaimana juga kamu akan beranjak dewasa."


Hazel melihat ke arah Ardan, ia masih bingung kenapa sampai sekarang Aulia memanggilnya dengan nama Arsy. Sementara, wajahnya dan wajah Arsy jelas sekali berbeda.


"Tidak masalah, Ma. Selamanya Arsy adalah adik aku," jawab Ardan menguatkan genggaman tangannya. Seketika wanita itu menyipitkan mata, kali ini Ardan tidak sadar dengan kekuatan tenaganya.


'Tapi, Hazel adalah istriku, selain di sisiku, lalu dia harus berada di mana?' batinnya kesal.


Aulia tersenyum lembut, ia menangkupkan kedua tangan di pipi Hazel. Menatapi wajah wanita itu dengan lekat. Sesaat ia tesadar ketika memandang bola mata Hazel.


"Kamu siapa?" tanyanya ketus.


Ardan menghela napas berat.


"Tersenyumlah, Hazel. Kembangkan bibirmu," bisik Ardan lembut.


Hazel melirik sekilas ke arah Ardan, walaupun ia bingung. Namun, ia hanya bisa menuruti perintah suaminya. Bibir mungil itu melebar, memperlihatkan jajaran gigi kecilnya, dengan dua lesung dalam di pipi putihnya.


Mata Aulia kembali berkaca-kaca. Ia memegangi kepalanya. Detik kemudian wanita itu pingsan. Cepat tangan Ardan menangkap tubuhnya sebelum ia sempat jatuh ke atas lantai.


"Bi Indri!" panggil Ardan.


"Iya, Mas." Tegopoh-gopoh wanita paruh baya itu mendekati Ardan.


"Mama sudah minum obat?" tanya Ardan sembari menggendong tubuh wanita yang telah melahirkannya itu kembali ke dalam kamar.


"Belum, Mas. Nanti setelah sarapan adalah jadwalnya."


Ardan meletakan tubuh yang semakin melemah itu dengan hati-hati. Menarik selimut sampai menutupi dadanya, jarinya membelai lembut helaian yang mulai memutih tersebut.


Sebuah ciuman mendarat di dahi keriput wanita itu, sebelum keluar Ardan menyeka sudut mata dengan punggung tangan.


"Ada apa, Mas? Apa Mamamu baik-baik saja?"


"Hazel, kamu ikut aku ke kantor saja ya?"


"Hem?" tanya Hazel bingung.


"Mama menderita Prolonged Grief Disorder, aku takut Mama akan menyakitimu dan anak kita kalau dia tahu kamu hamil."


"Aku gak ngerti, Mas."


"Mama mengira kamu itu Arsy, Hazel. Setelah Arsy pergi, Mama terus larut dalam kesedihannya dan berakhir dengan depresi berat ini. Jika dia sadar kamu sedang hamil, apa yang akan dia lakukan?"


"Mas, aku pulang saja, ya."


Ardan menghela napas, ia merangkul bahu Hazel menuruni rumah besar itu. Tidak ada waktu lagi jika harus berbedat seperti ini. Belum lagi menghadapi masalah pekerjaan, masalah di dalam rumah ini pun tak kunjung usai.


Sudah ada dua lelaki lainnya di meja makan, Gerald langsung berdiri saat melihat Ardan dan Hazel turun. Tanpa mengucapkan apa pun, ia langsung keluar dari rumah.


Sementara lelaki yang lebih muda itu masih asyik menyantap nasi goreng di depannya. Sesekali bibirnya bersiul mengikuti irama musik yang ia dengarkan lewat earphone.


Ardan yang melihat itu hanya bisa menggeleng pelan. Kebiasaan adiknya itu masih tidak berubah.


Ardan menggebrak meja berbahan kayu jati itu dengan kuat. Hazel memegangi dadanya, jantungnya seakan terhenti saat mendengar gebrakan tangan suaminya itu.


"Mas, apa-apaan sih? Aku kaget! Untung anak kita gak langsung keluar."


Ardan terkekeh, ia lupa kalau Hazel ada di sebelah.


"Maaf, Hazel. Tapi coba kamu lihat anak itu. Bahkan dia gak dengar, sekeras apa musik yang ia putar?"


Hazel melirik ke arah Arfi, ia menghela napas dan mulai menarik kursi yang ada di ujung meja.


"Kamu mau aku ambilkan sarapan, Mas?"


"Em, nasi dan telur saja."


Peraduan piring dan sendok yang Hazel ambil mengalihkan perhatian Arfi. Lelaki itu melepaskan earphonenya dan mengembangkan sebuah senyuman.


Ardan menarik kursi di sebelah lelaki itu, menjitak pucuk kepala lelaki yang telah rapi dengan jasnya tersebut.


"Dasar band*t, tahu saja kalau ada wanita cantik di sebelahnya," umpat Ardan kesal.


"Hai Kak Ardan, selamat pagi."


"Telat!" ketus Ardan geram. "Ini sudah siang. Kenapa belum berangkat? Pantas saja perusahaanmu kacau, pimpinannya saja kacau."


"Sial! Kak, bisa gak jangan ceramah pagi-pagi begini?"


Tak lagi mendengarkan ucapan lelaki muda itu, Ardan memasukan nasi yang dihidangkan Hazel ke dalam mulutnya.


"Ngomong-ngomong, aku belum kenalan sama iparku ini. Apa Kakak tidak ingin memperkenalkan kami?" tanya Arfi menggoda Ardan.


"Tidak perlu! Urus saja urusanmu sendiri!" ketusnya.


Arfi terbahak, ternyata kali ini Kakaknya yang terkenal senang bermain-main itu telah menemukan kelamahannya.


"Tapi benar juga. Kenapa aku harus berkenalan lagi? Sementara kemarin aku sudah memeluk tubuh mungilnya itu." Arfi merapikan helaian rambutnya, menata gaya agar terlihat lebih keren.


Prffftt ....


Ardan menyemburkan nasi di dalam mulutnya, cepat ia meneguk air di samping piringnya. Mata tajamnya melihat sinis ke arah Arfi.


"Apa maksudmu?" tanyanya menggarang.


"Kulit putih itu, sungguh lembut," goda Arfi lagi.


Ardan melihat ke arah Hazel, wanita itu hanya tersenyum kaku. Jari kecilnya menggaruk kulit kepala yang tidak gatal. Ternyata keposesifan lelaki ini masih belum berubah.


"Apa maksudnya?" tanya Ardan pada Hazel.


"Kemarin aku hampir jatuh saat mengejar langkahmu, Mas. Dan dia--"


"Dan dia jatuh ke dalam pelukanku. Ah ... seperti drama cinta saja. Jika saja itu sedang syuting film, pasti kami sudah terjerat cinta lokasi," goda Arfi memanasi.


"Sialan!" umpat Ardan geram. "Aku tidak peduli kamu itu siapa! Mati kau pagi ini, Arfi!" Ardan mengejar langkah Arfi yang lebih dulu pergi meninggalkan ruang makan.


Menyadari langkah besar Ardan, Arfi berlari, sesekali gelak tawa keluar dari mulut lelaki muda itu. Setidaknya, masih ada sesuatu yang tersisa dari kehancuran itu.


Kebahagiaan yang pernah hilang, memang tidak akan pernah pulang. Apa yang sudah pergi tidak akan pernah kembali. Namun, sesuatu yang lain pasti akan datang menghampiri, entah itu tawa ataupun canda yang baru. Walau tidak bisa menggantikan, setidaknya masih bisa menyembuhkan.


"Ampun! Hanya sedikit, sedikit saja!" teriak Arfi saat tangan kekar kakaknya itu terlilit di batang leher.


"Mau sedikit atau hanya ujung kuku. Bahkan helaian rambutnya yang rontok saja kamu tidak boleh menyentuhnya!" teriak Ardan, kesal.


"Hahahaha!" Arfi melepaskan gelak tawanya. Geli sekali saat melihat Ardan seperti ini.


"Ternyata selain Emily, masih ada yang membuat Kakak meradang begini."


Ardan menjitak beberapa kali pucuk kepala Arfi. Lilitan tangannya terus menguat sampai membuat wajah lelaki muda itu memerah. Kehabisan napas.


"Kak, tahan dua menit lagi. Adikmu ini akan mati." Ardan melepaskan lilitan tangannya, menumbuk perut Arfi.


Lelaki muda itu terbatuk, rambut setengah pirangnya itu telah rusak dibuat oleh tangan kakaknya. Sesekali mereka tertawa, bercanda di teras rumah, melepaskan rindu yang tak pernah terucap namun selalu terasa nyata.


Sebuah mobil berhenti di depan teras, dua lelaki itu memandang ke arah mobil tersebut.


Ardan menghela napas panjang saat melihat siapa pengemudi mobil itu. Seorang wanita dengan perut buncitnya turun, menyapa Ardan dan Arfi dengan sangat ramah.


"Ardan, ternyata kamu pulang, ya?"


Ardan hanya tersenyum. tatapannya masih terfokus pada lelaki berjas navy yang baru turun dari Mercy berwarna biru.


"Hai Twins, apa kabar?" Arfan mengangkat tangannya.


Ardan hanya tersenyum, menyambut tangan Arfan dan mengadu bahu dengan lembut. Salam khas anak muda.


"Mau ke kantor papa, kan? Bareng aku saja," tawar Arfan lembut.


"Gak usah, aku masih hafal jalan."


Arfan tersenyum, ia menarik kepala Ferla dan mendaratkan ciuman di dahi wanita itu. Tanpa berbasa-basi lagi, Arfan kembali berjalan menuju mobilnya.


"Kak Ardan," panggil Arfi saat Ferla masuk ke dalam rumah.


Ardan melirik ke arah Arfi, detik kemudian ia mengacak rambutnya.


"Arfi, tinggallah hari ini di rumah. Aku khawatir kalau Ferla akan menyakitinya."


"Aku juga punya perusahaan yang harus aku pimpin, Kak. It's Monday, Brother."


Ardan menghela napas dan mengusap wajahnya dengan kasar. Kali ini apa yang harus ia lakukan?