
Pandangan mata tajam itu tertunduk. Sekilas mengingat bayangan masa kelam itu. Yang dikatakan Pedro tidak salah. Memang semenjak kematian Arsy rumah ini bagai tak berpenghuni.
Mereka mulai terpecah karena ego masing-masing, lantas mencari kehidupan sendiri-sendiri. Melupakan ada hati yang menanggung dukanya selama ini. Membutuhkan kekuatan untuk tetap bertahan, tetapi luput dari perhatian.
Lalu, kembali mengingat, bahwa Aulia masih baik-baik saja saat Arsy dimakamkan. Bahkan dia masih sadar saat Ferla dan Arfan menikah.
Lelaki itu mengusap wajah, merasa berdosa. Bahwa ada imbas dari segala keegoisan mereka, sayangnya dia terlalu bodoh untuk menyadari lebih dini.
"Kenangan Arsy tidak buruk. Selain menjadi kenangan yang menyakitkan, itu juga semangat yang membangkitkan. Aku tidak bisa melumpuhkannya, Ardan. Karena bagi beliau, kenangan Arsy sangat berharga di dalam hatinya."
Ardan menarik napas, mengangguk perlahan.
"Jadi, apa rencanamu selanjutnya?" tanya Ardan sendu.
"Apa rencanamu selanjutnya?" Bukannya menjawab, Pedro malah kembali bertanya.
Alis Ardan bertaut, mencoba bertanya maksud ucapan lelaki itu dari raut wajahnya. Pedro tersenyum, menyesap pelan teh yang ada di depannya.
Lelaki keturunan Spanyol itu menghela napas, sejenak terdiam. Lalu, dia melanjutkan kata.
"Kadang ini memang terdengar sepele, Ardan. Tetapi penyembuhan dari depresi dan trauma seseorang bukanlah obat-obatan." Pedro melirik sekilas.
"Melainkan kasih sayang."
Terdiam, baru kali ini lelaki berbadan tegap itu merasa tidak berdaya melawan kenyataan.
"Kadang kita tidak menyadari, bahwa penyebab awal, itu juga yang menjadi obat penyelesaian."
"Maksudnya?"
"Sebagian kasus penyebab depresi adalah, kepedulian, perhatian, kasih sayang dan cinta yang tidak pernah didapatkan atau dirasakan. Lalu, mental seseorang akan merasa tertekan, rasa diabaikan dan tidak diacuhkan menjerumuskan dia ke dalam hal-hal negatif yang direalisasikan. Tak banyak yang paham dan sadar, bahwa perhatian sekecil apa pun, itu akan mempengaruhi kesehatan mental seseorang."
"Ardan, terkadang kita tak butuh orang lain untuk memberikan jawaban atas masalah yang kita alami. Namun, kita hanya butuh pendengar agar beban yang ditanggung tidak seberat saat kita sendiri. Kita tidak pernah tau sekuat apa hati seseorang dalam menghadapi berbagai situasi. Lalu, saat kita melihat seseorang kuat dan baik-baik saja dari luar. Belum tentu dia sanggup menahan beban mental. Seperti ibumu, sebagai seorang mama dia akan kuat di depan anak-anaknya, namun sebagai wanita dia tetap butuh perhatian dan punggung untuk berbagi cerita. Sayangnya, saat dia menanggung semuanya, dia juga kehilangan segalanya. Lantas, bagaimana bisa dia menanggung semuanya di dalam pikiran dan hatinya?"
Seketika dada tegap itu sesak, tersengal napasnya saat menyadari betapa tak acuhnya dia pada wanita yang telah melahirkannya itu.
Mereka terlalu sibuk pada luka masing-masing, meluapkan dengan caranya sendiri. Menyakiti dan menanam benci, lantas melupakan bahwa itu adalah pedang yang menghunjam hati dan yang menanggungnya ada Aulia sendiri.
"Menurutmu, apakah mama akan sembuh jika kami kembali bersatu?"
"Selama kita berusaha, tidak ada yang tidak mungkin, Ardan. Namun, penyakit ibumu juga sudah terlanjur dalam dan terlalu lama dibiarkan. Penyembuhannya juga tidak bisa instan. Perlahan, dia akan kembali sadar saat ruang di dalam hatinya kembali terisi."
"Berapa lama?"
Pedro menarik napas panjang. "Jangan dipaksakan, tak perlu terburu-buru karena itu bisa berimbas pada kesehatan mentalnya jadi semakin terganggu. Butuh waktu, Ardan. Saranku, berikan dia perhatian yang lebih besar. Karena yang bisa mengembalikan kesadarannya adalah kalian. Orang-orang yang paling dekat dengannya."
"Lalu, bagaimana dengan imajinasi dia tentang Hazel. Apakah harus dihentikan?"
"Jangan, biarkan dia nyaman dengan keadaan sekitar. Saat ini biarkan perasaannya senang dengan kehadiran Hazel. Nanti aku akan sering melatih ingatannya, karena dalam pandanganku. Dia hanya rindu, dan Hazel mampu membasuh rasa itu. Ardan, tak perlu kujelasakan kurasa kau lebih paham bagaimana keadaan mamamu. Apa yang dia harapkan darimu dan juga adik-adikmu. Kau pasti tau, aku harap. Kamu bisa mengembalikan rasa itu."
Satu tangan Pedro menepuk bahu Ardan. Lelaki tinggi itu bangkit dan merenggangkan badannya.
"Ini sudah malam. Sebelum telanjur larut aku pamit, ya."
"Kau tidak menginap?"
"Istriku sendirian di rumah. Kau juga tau dia sedang hamil, aku mengkhawatirkan dia."
"Baiklah. Nanti akan kutransfer uangmu."
Pedro berdecak sebal, satu tangannya menumbuk dada Ardan pelan.
"Ayolah, aku sudah menganggapmu teman. Tak perlu sesungkan itu. Oh, ya, untuk obat Nyonya Erlangga nanti akan kubuatkan resep baru, obat yang dikonsumsinya saat ini adalah dosis tinggi, aku takut itu akan berpengaruh pada organ tubuhnya."
Ardan hanya mengangguk. Merangkul bahu Pedro.
"Terima kasih, Pedro."
Lelaki berambut cokelat itu membalas rangkulan Ardan.
"Tak perlu sungkan. Akan kubantu penyembuhan mamamu meski aku harus melampaui batas kemampuanku."
"Hei, sudahlah jangan jatuh cinta. Nanti istriku cemburu."
Ardan terkekeh. "Sialan! Aku masih cukup waras, Pedro."
Pedro mengangguk, berjalan keluar dari teras Erlangga. Langkah itu terhenti di anak tangga, lalu menoleh kembali.
"Ardan."
"Hmm."
"Jangan terlalu dipaksakan. Lakukanlah dengan ketulusan. Karena hati lebih mengerti, mana yang dilakukan atas dasar keikhlasan dan mana yang dilakukan hanya demi kebutuhan. Kau bisa membohongi perbuatan, tetapi kau tidak bisa membohongi perasaan. Karena semua yang kau lakukan, akan ternilai dengan ini." Tunjuk Pedro di dekat hatinya.
"Bukan dengan ini," sambungnya seraya mengetuk kepala bagian samping.
"Assalamualaikum."
Lirih lelaki itu menjawab salam Pedro. Memerhatikan punggung badan itu berlalu, lantas menghilang di dalam mobilnya.
Walau terdengar sepele, tetapi apa yang dikatan Pedro benar adanya. Bahwa sesuatu yang bisa mengembalikan kehangatan hanyalah, kasih sayang.
Selama ini ke mana dia dan adik-adiknya pergi? Raga mereka selalu ada. Sayang, perhatian yang dirindukan sang mama tidak lagi ada.
Ardan mengusap kasar wajahnya, menyesali karena terlalu lama membuang waktu untuk saling membenci. Saling menghancurkan darah sendiri dan tak peduli pada rasa sakit yang ditanggung mamanya selama ini.
"Ya Allah, kenapa aku tidak pernah sadar. Bahwa imbas yang paling menyakitkan terus tertumpuk di beban mama. Melukainya dan terus menyakitinya. Maafin Ardan, Ma. Sebagai anak tertua Ardan gagal menjaga kita semua."
***
Lelaki berbadan tegap itu membuka pintu kamar sang putra. Melihat Surya yang tampak lebih nyaman dari sebelumnya.
Entah pengaruh apa yang dibawa Pedro ke dalam rumah ini. Namun, putranya tampak lebih ceria setelah bertemu dokternya itu.
Sepasang tangan menerobos di antara sela lengan Ardan. Mendekap tubuh kekar itu erat dari belakang.
Ardan hanya terdiam, merasakan hangat pelukan tangan sang istri. Lalu, pikirannya mengawan. Kembali memutar percakapannya dengan Pedro tadi.
Bahwa kita bisa saja tidak membutuhkan jawaban atau solusi dari permasalahan yang datang. Namun, kita membutuhkan pundak untuk mendengarkan. Lalu, apa jadinya jika selama ini dia tidak mendapatkan pendengar sebaik Hazel?
Bagaimana bisa dia melupakan kewajibannya untuk menjadi pundak bagi sang bunda.
Teguk salivanya memahit, sebuah lara menetes begitu saja. Ada rasa sesal yang semakin membuncah, ketika dia berusaha sekuat tenaga membahagiakan istrinya. Namun, dia melupakan bahwa ada wanita yang masih menantikan baktinya.
"Hazel."
"Ya, Mas."
"Aku berdosa."
"Hem, maksudnya?"
Ardan bergeming, padangannya mulai memburam. Menjernihkan ingatannya tentang perlakuannya kepada Aulia di masa lampau dan berakhir pada bentakannya beberapa hari yang lalu pada sang mama.
Dadanya terasa sesak, bagai terimpit benda berat. Lelaki itu kesusahan untuk bernapas. Mengingat kesabarannya yang sangat sedikit menghadapi keadaan Aulia. Sama sekali tidak sepadan dengan kesabaran sang mama dalam menghadapi segala tingkah nakalnya selama ini.
Lembut lelaki itu melepaskan dekapan tangan Hazel. Menyapu sudut dagu dan meninggalkan kamar Surya begitu saja.
Pendar netra pekat itu menatap nanar. Seraut wajah tua yang kini kehilangan cahayanya. Kapan terakhir kali dia menyentuh kaki itu? Bersimpuh dan memohon maaf atas segala yang pernah dia lakukan dan menyakiti perasaan.
Entahlah, sudah sangat lama.
Ardan terduduk di tepi ranjang. Memandangi wajah Aulia yang tertidur pulas. Perlahan dia merebahkan badan di sebelah Aulia, merengkuh tubuh tua itu dan menyembunyikan wajah di sebelah kepala sang bunda.
"Ma," lirihnya memanggil.
"Seberapa besar rasa kecewa yang mama benam di dalam hati rapuh itu? Sampai Mama menjadi seperti ini dan sayangnya kami tidak pernah menyadari?" Lelaki itu terdiam, mencoba mengatur napas yang kian sesak mengimpit dada.
"Ma, maukah mama kembali? Berikan Ardan waktu, Ma. Waktu untuk menebus kesalahan Ardan selama ini. Ardan berdosa, sangat berdosa pada mama."
"Ardan mohon, Ma. Kembalilah agar Ardan bisa bersimpuh dan memohon ampunan mama. Karena Ardan takut, takut menjadi anak durhaka yang akan menyeret mama ikut ke dalam siksaan abadi di sana."