
Ardan terdiam, sejenak ia berpikir, lalu memandangi wajah istrinya itu lamat-lamat.
"Hazel--"
"Apa? Mas mau bilang apa?" tanya Hazel lebih dulu.
"Ini tidak seperti yang kamu bayangkan, Sayang. Kamu salah paham."
Wanita itu menggelengkan kepalanya, sementara punggung tangan terus menyeka wajah yang basah.
"Mas mau bilang kalau Mas dijebak, begitu? Mas bisa bilang kalau Adikmu memang sengaja merekam itu dari ponselnya. Yang dia perlihatkan rekaman CCTV, Mas."
"Aku tau, tapi aku bisa jelasin. Ferdi juga tau hal ini."
Hazel tersenyum sinis, pelan kepala itu menggeleng.
"Jangan bawa-bawa orang lain, Mas. Ferdi jelas akan membantumu karena dia sahabatmu."
"Dengarkan aku dulu, Hazel. Dengar!" Ardan menangkupkan pipi Hazel, mata mereka beradu, bertautan dalam. Mencoba menenangkan gadis itu lewat tatapan mata tersebut.
"Bukan Arfan yang menjebakku, tapi aku yang menjebak dia. Demi menyelamatkan perusahaan dari pengakuisisian, aku menggoda Nana agar dia menghancurkan rapat itu, Sayang."
"Kenapa aku harus percaya? Kamu memang penggoda, Mas. Kamu memang playboy."
Ardan mendesah panjang, jarinya mengelus pipi itu dengan lembut.
"Dengarkan aku, Hazel. Ini ide Ferdi, aku sempat menolaknya, tapi--"
"Tapi apa? Karena kamu suka? Ingin memperlihatkan sama semua orang kalau kamu itu bisa mendapatkan siapa saja, iya?"
"Bukan, Hazel," jawab Ardan berusaha tenang.
"Lalu?" tanyanya ketus.
"Hanya itu cara yang kami punya agar rapat berhenti. Kumohon mengertilah, aku mencintaimu, Hazel."
Hazel melepaskan tangkupan tangan Ardan.
"Apa yang harus aku mengerti? Kamu yang player? Kamu yang suka menggoda? Aku harus mengerti kalau kamu seperti itu? Dari pada aku harus menahannya, lebih baik lepaskan saja aku, Mas. Talak aku!"
Ardan mengusap wajahnya dengan kasar, ia bangkit dari atas kasur. Mengepalkan tangannya.
Bugh ....
Satu tumbukan mendarat di tembok rumah sakit. Entah bagaimana menjelaskannya, saat ini perasaannya campur aduk tak karuan.
"Jangan gila, Mas. Aku hanya menyuruhmu melepaskanku. Biar tak ada ikatan yang menahanmu untuk menggoda siapa pun lagi."
Ardan melirik tajam ke arah Hazel. Kali ini ia benar-benar kehabisan kesabaran. Emosi yang ia redam mati-matian sudah tak mampu ia bendung lagi.
"Iya aku memang player! Benar aku memang penggoda! Memang aku ini pria sejuta wanita! Lalu kenapa? Ha?" tanya Ardan tak suka.
"Ya sudah. Ceraikan aku, Mas!"
"Itu gak mungkin, Hazel!"
Bugh ....
Kepalan tangan yang sama menumbuk tembok yang lainnya. Kini ruas jari itu mulai terluka, mengalirkan aliran darah segar di dinding berwarna krem tersebut.
Gadis itu terdiam, berat ia menelan salivanya. Satu air lolos dari iris berwarna madu tersebut.
"Aku memang bajing*an, aku ini memang suka memainkan perempuan. Tapi itu dulu ... dulu! Sebelum Arsy pergi dan membuat aku sadar, bahwa wanita bisa serapuh itu karena rasa!"
Gadis itu memalingkan wajah, menyeka sudut dagu yang terus banjir oleh air mata.
"Lihat aku, Hazel. Lihat!" Ardan mencengkeram pipi wanita itu, mendongakkan wajahnya agar mata mereka kembali bertemu.
"Selamanya, aku tidak akan menceraikanmu dan tidak akan pernah. Mau lari ke ujung dunia sekali pun, aku punya seribu cara untuk mendekapmu lagi. Camkan itu!" Ardan melepaskan cengkeraman tanganya, terlihat tetesan merah itu menjatuhi dress yang Hazel kenakan.
Ardan membalikkan badannya, mengikat jemarinya yang terluka menggunakan dasi. Mencoba menenangkan degup jantung yang terus menggebu. Menyulut amarahnya untuk terus berkobar.
Gadis itu tertunduk, dengan cairan yang terus membanjiri wajahnya.
Kini sakit itu bertambah dengan sikap Ardan yang terlihat asing dan berubah menyeramkan.
"Hal yang paling aku takutkan adalah, kamu yang seperti ini, Mas. Asing, dan sangat berbeda dari suamiku."
Ardan tercekat, ia membalikkan badannya dan melihat Hazel yang sesenggukkan di atas kasur. Tertunduk, dengan cairan yang terus tumpah.
"Hal yang paling aku benci, adalah kamu yang menjadi asing secara tiba-tiba. Dirimu memudar, kamu yang menyanyangiku menghilang," ucap gadis itu lagi.
Ardan menghela napasnya panjang, mengusap wajah itu kasar. Bagaimana sebenarnya menjelaskan ini semua?
Kenapa sulit sekali menghadapi wanita?
Ardan kembali mendekat, baru dua langkah berjalan. Terhenti, karena Dokter Abel lebih dulu masuk.
Tersenyum dan berjalan mendekati Hazel. Cepat gadis itu menghapus pipinya, menyembunyikan seraut wajah kacaunya di depan sang Doker.
"Ada apa, Hazel? Kenapa kamu menangis?" tanya Dokter itu melihat ke arah Ardan.
"Kalian bertengkar?" tanyanya seraya melirik tangan Ardan yang terbalut dasi.
"Tidak, Dokter. Saya menyesal, karena itu saya menangis," jawab Hazel lembut.
"Menyesal?" tanya wanita lagi.
"Emh," jawab Hazel melirik ke arah Ardan dan tersenyum lebar.
"Menyesal karena sudah lalai menjaga putri kami, sampai-sampai dia harus lahir prematur."
Dokter Abel tersenyum lembut, ia mulai sibuk memeriksa bekas operasi wanita itu.
"Jangan dimarahi ya, Pak Ardan. Bukan salah istri Anda, sudah jadi jadwalnya si kecil harus lahir lebih dulu," ucap wanita itu tanpa melihat ke arah Ardan.
Sedang lelaki itu masih memandangi sang istri yang sedang meringis, menahan sakit dari luka operasinya.
Kenapa? Dia bisa bersikap seperti itu di depan orang lain. Jelas wanita itu masih menantangnya, tapi Kenapa? Dia malah menutupi segala kesalahan Ardan?
Dokter Abel tersenyum, ia beralih menatap wajah tampan itu setelah memeriksa Hazel.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanyanya pada Ardan.
Lelaki itu mengangguk, lalu ia mengikuti langkah sang Dokter keluar dari kamar.
"Begini, Pak Ardan. Soal rumah tangga kalian saya gak peduli. Tapi saat ini Hazel baru selesai operasi. Dengan insiden yang dia alami, dan keadaan dia saat ini. Bisa saja dia terkena baby blues karena depresi pasca melahirkan. Untuk itu, sedikit mengalahlah dengannya, emosinya belum stabil dan jangan menambah beban pikirannya lagi."
Ardan terdiam, teringat segala perlakuannya tadi ke pada gadis itu. Menyesal, terlebih melihat kondisinya saat ini.
Dia baru saja selesai berjuang, pantasmah ia bersikap sekasar itu padanya?
"Dia melahirkan prematur dan juga jalan operasi. Saat ini asinya tidak keluar, nanti tebuslah resep saya akan berikan vitamin dan jug rekomendasi susu formula untuk bayi Anda."
Ardan memalingkan pandangannya, melihat Hazel dari kaca pintu ruangan inapnya. Terlihat kesusahan walau hanya sekadar mengambil air saja.
"Pak," panggil wanita itu lembut.
Nanar pandangan mata itu menatap penuh iba. Ardan mengehela napasnya, kasihan sekali gadis itu. Dia yang menanggung imbas peperangan keluarganya, dan kini dia juga menanggung emosi Ardan yang tertantang oleh perlakuan kembarannya.
"Saya mengerti, Dok."
"Baiklah, kalau begitu saya tunggu di ruangan."
Ardan hanya mengangguk, setelah Dokter itu pergi, ia menjatuhkan badan di atas kursi stainlees depan ruang perawatan.
Menghela napas berkali-kali dengan mengucapkan istigfar. Menyesal atas perbuatannya tadi.
Ardan menjatuhkan kepala ke atas sandaran bangku. Mengusap wajah tampan itu kasar.
"Ya Allah ... maafkan aku."
***
"Menikah?" tanya Arfi kaget.
"Ya," jawab gadis itu ketus.
Arfi tersenyum, kepala itu menggeleng dengan cepat.
"Enggak! Jangan berbohong,
Khadijah," balasnya.
"Terserah mau percaya atau enggak, Arfi. Dan aku, tak harus menjelaskan apa pun padamu, karena kita bukanlah apa-apa."
Arfi terdiam, masih mencoba menerima segala ucapan yang gadis itu lontarkan.
"Enggak! Kamu berbohong, kamu berbohong, Khadijah!" tekannya kasar.
"Terserah, Arfi! Terserah apa anggapanmu, aku tak peduli!"
Arfi menggelengkan kepalanya, serasa ada ribuan ton yang mengimpit dadanya tiba-tiba. Sesak, sampai membuat napasnya tersengal.
Sedang gadis itu lebih memilih pergi. Membawa sisa kenangan dan kepingan hati yang pernah terabaikan.
Sakit? Tentu saja. Saat luka yang berusaha kamu sembuhkan sekuat tenaga, nyatanya masih terus berdarah.
Bukan karena dalamnya sakit yang tergores luka. Namun, karena dalamnya sebuah rasa dalam mencinta.
Hukum dunia memang berjalan sesakit itu.
Semakin dalam rasa itu, maka semakin sakit pula yang harus ditanggung badan.
Karena, cinta itu bisa menjadi dua hal yang sangat bertentangan. Di satu sisi dia bisa menjadi kekuatan. Di sisi lain ialah kelemahan.
Saat ini dia tawa, detik kemudian ia duka. Hari ini dia canda, besok dialah luka.
Mengapa bisa?
Karena cinta dan luka adalah sama-sama rasa. Semu yang sangat nyata, dan hukum sebuah kesemuan itu tidaklah pasti. Karena dia tak berbentuk, maka dia bisa menjadi seperti apa yang kamu inginkan dan semenyakitkan yang dia lakukan.