For My Family

For My Family
239



Evan tersenyum sinis, ikut mencondongkan badannya ke arah Ardan yang ada di depannya.


"Jadi kau ingin memanasi aku agar mau ikut bertarung?" tanya Evan sinis.


"Aku hanya mengajakmu bergabung bersama. Tapi kalau kau tidak berani ya apa boleh buat?" ucap Ardan lemas.


"Kau tau apa yang aku pertaruhkan jika mengikuti keinginan gilamu?"


"Tentu saja. Dan aku juga tau jika kau suka pertarungan."


"Jangan memanasiku, karena itu tidak akan berpengaruh."


Ardan tertawa, sepasang mata tajam itu menatapi Evan lekat. Memerhatikan wajah itu lamat-lamat.


"Lalu?" tanya Ardan kembali.


"Tentu saja aku akan ikut. Siapa yang ingin melewatkan pertarungan bersejarah ini."


Ardan menyodorkan tangannya dan berkata. "Selamat bergabung di Erlangga Grup, Teman."


Bukannya menyambut Evan malah memukul uluran tangan sahabatnya itu.


"Jangan terlalu cepat memberikan selamat, akan kutunjukkan kekuatanku. Dan bersiaplah tercengang melihat kehebatanku."


"Haha, jangan terlalu sombong, Kawan."


"Hei, aku ini membesarkan nama di Macau. Jangan sebut aku Evan jika tidak mampu menghadapi ini. Bahkan Bos Mafia saja saling berebut ingin memakai jasaku."


Ardan menyungingkan sebelah bibirnya. "Hih, jijik pula aku lihat anak ini."


"Tak ada pembatalan kerja sama. Jika kau menyesal saat ini itu sudah terlambat, Ardan."


Ardan tertawa, menggelengkan kepala. "Hei, tapi jangan sampai kau melanggar hukum. Ini Erlangga, bukan perkumpulan Mafia."


"I know that. Jadi apa yang harus kita lakukan?"


Ardan hanya tersenyum, memandangi wajah Evan. Lantas mengendikkan bahu.


...***...


Tegap langkah besar itu berjalan memasuki perusahaan. Mengundang seluruh perhatian para karyawan yang ia lewati.


Seluruh mata tertuju pada lelaki itu saat dia membuka pintu ruangan rapat.


"Selamat pagi, maaf saya terlambat." Wajah garang itu tersenyum, duduk di kursi yang biasa ditempati oleh Gerald.


"Maaf, kami terlambat." Diikuti oleh Arfan dan Arfi yang ikut duduk dalam jajaran peserta rapat.


Sejenak suasana hening, seluruh mata tertuju pada anak sulung Gerald tersebut. Terkejut dan juga bingung.


"Di mana Papa kalian? Rapat akan segera kita mulai," kata Farhan menatap Arfan.


Lelaki berkulit sawo matang tersebut tersenyum lembut. Menatapi petinggi-petinggi perusahaan Erlangga.


"Maaf, tapi mulai hari ini aku yang akan mengurus segala permasalahan yang dihadapi Erlangga.


"Apa Presdir baik-baik saja?" tanya Farhan lagi.


"Tentu saja baik."


"Lalu mengapa Anda yang berada di sini?"


"Memang kenapa?" tanya Ardan kembali. Sepasang mata itu menatapi Farhan, membuat lelaki itu menunduk segan.


Sulung Erlangga itu menghela napas, menatap jajaran Dewan Direksi yang tengah menatapnya. Sorot mata mereka menanyakan hal yang sama dengan Farhan.


"Baiklah, saya jelaskan sedikit. Mulai hari ini saya adalah CEO Erlangga Grup dan mulai saat ini sebelum sampai ke Presdir, segala sesuatunya akan melewati saya dulu. Termasuk masalah kerja sama kita, Pak Farhan."


Farhan terdiam, memucat karena kehadiran Ardan kali ini diluar dari rencana mereka.


"Tapi Ardan, bukankah kamu dan Erlangga sudah memutuskan untuk pecah kongsi?" tanya salah satu peserta rapat.


Ardan mengangguk, lantas mata menatapi perwakilan dari firma hukumnya saat ini. Farhan.


"Benar. Presdir sendiri yang mengatakan akan menetapkan CEO baru karena kamu menolak posisi ini?" sambung yang lainnya.


Ardan menarik napas, menyandarkan punggung pada kursi terus menatapi Farhan--perwakilan Guard Law Firm. Sedang yang ditatapi mulai tidak nyaman, jika Ardan yang mengendalikan. Mereka tidak akan bisa mendesak, siapapun dalam Grup ini tahu, bahwa Ardan sangat sulit ditekan.


"Benar. Aku memang menolak posisi ini," jawab Ardan terus menatapi Farhan.


"Tapi dulu. Berbeda hari ini." Ardan tersenyum tipis, lalu tatapannya berpindah ke jajaran yang lain.


"Mulai hari ini. Gerald Erlangga akan menetapkan bahwa CEO selanjutnya adalah saya. Dan untuk masalah ini ... Dewan Direksi tidak perlu khawatir. Karena masalah ini akan saya sendiri yang langsung menanganinya."


Riuh tepuk tangan terdengar pecah dari ruang rapat kali ini. Mau tidak mau Farhan ikut menepuk tangannya, walau hatinya mulai gundah. Apa yang direncanakan bisa saja gagal jika Ardan ikut campur ke dalamnya.


Karena itu mereka berani mengancam untuk pemutusan kontrak kerja sama karena Ardan telah mengundurkan diri. Siapa sangka jika si sulung itu kembali di detik-detik terakhir rencana meraka akan berhasil.


Tajam tatapan mata itu terus memerhatikan gerak-gerik Farhan. Sampai Arfan menyenggol lengannya dan lelaki itu tersadar.


"Baiklah, mari kita mulai rapat perdana minggu ini."


.


.


Nanar netra berwarna madu itu menatapi Gerald yang tengah bermain di halaman depan. Memangku putri kecilnya dan bersama tiga anak Arfan yang lainnya. Tampak sangat bahagia, walau sesekali mata tua itu melihat ke arah gerbang, menantikan para putranya pulang.


Lalu, Hazel menoleh. Melihat putranya yang bermain sendiri di kamar. Mendadak hatinya berdenyut, sakit dan tanpa sadar air mengalir begitu saja dari matanya.


"Surya," panggil Hazel dan putranya menoleh. Tersenyum dengan menampilkan jajaran giginya.


"Surya kesepian, gak? Adek Yena main di bawah, Surya bisanya cuma di kamar sama Bunda dan Nenek Darmi."


Bocah lelaki itu tampak tak peduli, Hazel menarik napas. Menghampiri sang putra dan ikut berjongkok di sebelah anaknya.


Satu tangannya mengelus lembut kepala Surya. Tidak tahu harus bagaimana? Perasaannya kacau, sayangnya Ardan sudah membuat keputusan itu. Walau bisa merubah keputusan sang suami, tetapi dia menyadari bahwa lelaki itu telah memikirkan ini. Pasti.


"Surya, maafin Bunda ya, Nak. Bunda ini selalu gagal menjadi ibu kamu."


Ibu dua anak itu bergeming, memerhatikan gerakan putranya yang sedang bermain, detik selanjutnya menarik kepala Surya ke dalam dekapan.


"Bunda selalu menempatkan kamu dalam keadaan kekurangan, Sayang." Hidung mancung itu dia benamkan di atas kepala Surya. Mencium aroma shampo dari rambut kecokelat tersebut.


"Dari kamu masih di dalam kandungan, kamu udah harus ikut Bunda susah. Bunda melahirkan kamu tanpa ayah di sisi kita, tanpa keluarga, saat kamu masih kecil, sudah harus kehilangan ayah. Kamu menderita angelman sindrom dan Bunda selalu saja tidak mampu memberikan yang terbaik untuk Surya. Maaf Surya, maafin Bunda. Karena terlahir dari rahim Bunda, Surya harus menangung ini semua."


Erat dekapan tangan Hazel membuat putranya itu mendongak. Hazel tersenyum saat sepasang mata polos itu menatapnya. Detik selanjutnya tangan mungil menyentuh wajahnya.


"Unda anis?" tanyanya polos dan Hazel menggeleng. Mengecup puncak kepala putra kesayangannya berkali-kali.


"Maafin Bunda, Nak. Maaf karena Surya menjadi anak Bunda dan Surya harus menangung segalanya." Getir gadis itu menelan salivanya.


"Maaf, maafin Bunda yang selalu tidak berdaya melawan dunia. Sampai Surya selalu menjadi bagian asing di manapun Surya berada." Tangan lentik itu meraih pipi putranya, memandangi wajah polos itu dan mulai terisak.


"Maaf, karena Bunda selemah ini, Sayang. Bunda sayang Surya."


"Papa juga sayang Surya." Sepasang tangan mendekap tubuh yang tengah berjongkok itu dari belakang.


Hazel menoleh, wajah garang itu tersenyum lembut. Menarik wajahnya dan mendaratkan kecupan di atas dahi.


"Surya, bukannya Papa selalu bilang sama Surya buat jagain Bunda. Kenapa Surya biarin Bunda nangis?" tanya Ardan dan bocah kecil itu menatapi Hazel.


Satu tangan kecilnya mengusap mata Hazel. "Unda anis?" tanyanya dan Hazel menggeleng.


"Bunda bohong, padahal Surya udah bisa lihat kalau Bunda nangis, tapi Bunda bohong."


Hazel tersenyum dan mengusap wajahnya. "Bunda gak nangis, Sayang."


"Kan, Bunda bohong lagi."


Hazel menatapi wajah Ardan, lalu kepala itu terbenam ke dalam dada sang suami. Melepaskan segala sesak yang ditahannya. Bagaimana juga, hatinya terluka saat melihat Yena yang bisa diterima, namun putranya masih terasing di dalam sini.


Walau kenyataan itu jelas, tetap ada rasa yang tidak bisa dibohongi. Hatinya, menginginkan keluarga ini menerima Surya bagaimana mereka menerima Yena.


"Unda anis?" tanya bocah kecil itu menatapi Ardan.


"Iya. Bunda nangis karena Surya."


"Mas ...." Cubit Hazel di perut Ardan.


"Bunda nangis karena bahagia memiliki Surya. Dan Papa ingin bilang terima kasih ke Surya."


"Uya?"


Ardan mengangguk, lantas menarik kepala Hazel agar dia bisa menatap wajah istrinya.


"Terima kasih karena kamu sudah hadir di dalam rahim Bunda." Jari-jari kekar itu menghapus air mata yang terus luruh di wajah istrinya.


"Terima kasih karena Surya sudah lahir dari rahim Bunda," sambungnya merapikan helaian rambut Hazel.


"Terima kasih karena Surya mau menanggung segalanya. Papa benar-benar berterima kasih, Surya." Tatapan tajam itu beralih ke arah sang putra.


"Karena Surya ... Papa bisa hadir dan masuk ke dalam hati dan kehidupan Bunda."


Ibu dua anak itu kembali melepaskan tangisannya. Menarik bahu Ardan dan kembali sesenggukkan.


Sementara sang putra hanya terdiam, bingung dengan ucapan Papa dan Bundanya. Mendapati tatapan polos Surya, kedua tangan Ardan membentang.


"Sini, Nak," pintanya dan cepat bocah itu berhambur ke dalam dekapan sang Papa.


"Bunda kenapa nangis terus? Kalau Bunda gak nyaman, kita bakalan pindah ke rumah lainnya," kata Ardan berusaha menenangkan.


Kepala di dalam dekapan itu menggeleng. Susah payah ia menghentikan tangisan.


"Gak usah, Mas. Aku hanya belum terbiasa dengan keadaan ini. Nanti kalau sudah terbiasa aku akan baik-baik saja."


"Tapi aku tidak ingin kamu terbiasa dengan luka, Sayang. Aku tidak ingin kamu menangis dan membuat Surya ikut rewel."


Gadis itu kembali menggeleng.


"Aku baik-baik saja. Susah payah Mas minta Pak Arfan dan Arfi untuk kembali. Kalau kita yang malah pindah, bukannya sama saja?"


Ardan menghela napas, tatapan elang itu beralih ke arah sang putra. Bagaimana caranya agar dia bisa membuat Surya diterima?


"Tapi aku tidak bisa mengorbankan kamu dan Surya, Sayang. Hubungan ini harus adil, aku tidak ingin mengorbankan salah satunya."


Hazel menarik wajah garang itu, memainkan kedua ujung hidung mereka.


"Kami akan bersabar sedikit lagi, Mas. Aku yakin ini hanya masalah waktu, perlahan Papamu juga akan menerima putraku."


Ardan membedirikan tubuh bocah kecil itu. Lantas mengambil jemari kecilnya, mengecup punggung tangan mungil itu.


"Surya, Papa hanya bisa mengucapkan terima kasih."


Ardan tersenyum dan mencubit lembut pipi gembil itu.


"Terima kasih, karena Surya sudah sangat kuat di umur sekecil ini."