For My Family

For My Family
153



Suara denting peraduan benda-benda memaksa lelaki blasteran itu membuka mata. Iris cokelatnya terlihat jernih dan sangat indah saat pias cahaya mentari menembusnya.


Pedro mengusap wajah, menoleh ke sebelah. Sudah kosong dan rapih. Gadis itu memang terbiasa bangun sangat pagi.


Lelaki berdarah Spanyol itu menarik kausnya. Keluar dan menghampiri Nara yang sedang sibuk di meja makan.


"Guten morgen," sapanya seraya menghampiri sang istri.


Dahi mulus itu berkerut, ia tidak paham dengan ucapan sang suami.


"Selamat pagi."


"Pagi."


Pedro menarik kepala gadis itu, seketika harum shampo dari rambut setengah basahnya menyeruak. Pekat, menembus rongga hidung mancung miliknya.


Sebuah kecupan mendarat di dahi gadis itu. Perlahan mata Nara memejam, menikmati sentuhan lembut di dahinya.


"Sudah, ayo sarapan." Lembut, ia menolak dada bidang itu.


Pedro hanya tersenyum, menarik salah satu kursi di sana. Memerhatikan menu sarapan pagi yang selalu berbeda setiap harinya.


Saat gadis itu akan berjalan ke dapur, satu tangannya menarik lengan Nara.


"Ayo, sarapan bersamaku."


"Tunggu sebentar, aku siapkan teh untuk, Kakak."


Pedro menggeleng pelan, lantas ia berdiri dan mendudukkan Nara di kursinya.


"Kalo hanya sekadar teh aku bisa buat sendiri. Sekalian kuhangatkan susu untukmu?"


"Tapi, Kak--" Ucapan itu terhenti ketika Pedro kembali mengecup dahinya. Badan tegap itu membungkuk, menyejajarkan wajah dengan sang istri.


"Memang kamu tidak lelah, dari pagi terus sibuk di dapur. Setelah itu bekerja, pulang bekerja sibuk lagi memasak, sampai terkadang kamu belum mandi sudah menyiapkan makan malam?"


"Kan, aku suka memasak."


Pedro mengamit satu jemari Nara, mengecup lembut telapak tangan itu.


"Jangan terlalu sempurna mengurusiku, Nara. Aku takut tidak akan mampu mengimbangimu."


Jemari yang di genggaman Pedro ia tarik. Lembut tangan itu mengusap rahang sang suami. Bulu-bulu halus yang mulai tumbuh, memberikan sensasi geli tersendiri.


"Sudah menjadi kewajibanku melayanimu, Kak. Aku tidak merasa keberatan."


"Tapi aku tidak ingin kamu kelelahan. Istirahatlah lebih lama saat weekend, atau kita bisa sarapan dan makan malam di luar. Kita masih berdua, Sayang. Kenapa tidak kamu nikmati dulu waktu ini untuk sedikit lebih santai?"


Nara mengangguk pelan, dengan usapan lembut di rambut kecokelatan itu.


"Baiklah. Tetapi selama aku tidak kelelahan Kakak izinkan, kan?"


Lelaki itu tersenyum dan mengangguk pelan.


"Baiklah, biar aku buat teh dan memanaskan susu untukmu. Ini sudah siang, aku takut kamu akan kena omel Ardan nanti."


Lelaki itu berjalan ke arah dapur. Mengeluarkan cangkir teh dan memasukan segelas susu ke dalam mikrowave. Hanya semenjak ada Nara, dapur di rumahnya terlihat terawat.


Karena sebelumnya, jangankan memasak, menginjaknya pun dia enggan. Tidak menguasai pekerjaan apa pun, lebih tepatnya malas melakukannnya.


Dari meja makan, Kinara terus memerhatikan punggung kekar itu. Perlahan bibirnya mengembang dengan sangat lebar.


Walau tidak selembut dan semeneduhkan Ferdi. Setidaknya, dia tidak jauh berbeda dengan lelaki berkacamata itu.


Lelaki tegap itu kembali dengan dua gelas di tangannya, meletakan dengan lembut di sebelah piring Nara.


"Youre milk, Lady."


Nara menggulum senyum, meraih gelas susu itu dan meminumnya seteguk. Matanya melirik, memerhatikan sang suami yang ada di sebelah.


"Dokter."


"Hem."


"Selain bahasa Spanyol dan Inggris, Kakak bisa menguasi bahasa apa lagi?"


Pedro memutar bola matanya, mulutnya terus mengunyah.


"Hanya beberapa bahasa dari negara yang pernah ditinggali dady."


"Hem, misalnya?"


"Prancis, Jerman dan Rusia."


"Waow." Nara menghitung jemari tangannya. "Berarti jika dihitung, Kakak bisa menguasai enam bahasa?"


Pedro menggeleng pelan.


"Yang benar-benar aku kuasai ada sembilan bahasa."


Beberapa kali mata Nara mengedip dengan bibir yang menganga.


"Waow, apa otak Kakak itu masih setara dengan manusia?" tanya Nara kaget.


Pedro tertawa renyah, ia menyelesaikan makannya. Lantas badan tegap itu memutar, berhadapan dengan Nara.


"Bukankah kamu ingin berkeliling dunia? Jika aku tidak bisa menguasai bahasa, bagaimana aku bisa membawamu menyusuri setiap sudut bumi?"


Gadis itu memainkan bibirnya, perlahan kepalanya menunduk dengan semu kemerahan yang mulai tampak menghiasi pipinya.


"Tapi, kan ada tourguide, Kak."


"Kalo masih ada aku. Kenapa harus meminta orang lain melakukannya untukmu? Demimu, Nara. Aku akan menjadi apa pun yang kamu butuhkan."


Gadis itu ingin tersenyum, tetapi berusaha mati-matian untuk menahannya.


"Tersenyum saja kalo mau senyum. Kenapa ditahan?"


Nara mendesis geram. Jari lentiknya menarik kulit perut Pedro.


"Ish, Kakak," ucapnya gemas.


"Iya, kok dicubit, sih?" tanya Pedro.


"Habisnya gombalin terus, sih. Buaya," jawab Nara menahan tawa.


"Tapi kamu suka, kan?"


"Dih ... apa, sih?" Gadis itu semakin tersipu malu, semburat kemeran tidak mampu lagi ditutupi.


Pedro menarik kepala itu, mencium kedua pipi yang tengah bersemu milik Nara. Gadis itu terkejut, satu tangannya memukul dada bidang suaminya.


"Kak, jangan mulai lagi. Aku mau berangkat kerja!" sungut Nara sedikit kesal.


"Aku gemas melihat pipimu yang kemerahan seperti itu, Nara."


Bibir itu memanyun, menarik ujung hidung Pedro. "Nakal!"


"Boleh minta tolong?"


"Apa?"


"Bisakah kemerahan itu hanya tertuju untukku?"


"Maksudnya?"


"Tolong, cintai aku terus seperti hari ini saat kita masih berdua. Tolong mencintaiku lagi saat kita mulai bertiga, cintai aku lagi sampai kita berempat, tetap harus mencintaiku sampai kita berlima, terus dan terus, sampai kita tidak terhingga."


Nara tersenyum, dia mengecup bibir itu sekilas.


"Jika Kakak juga melakukan hal yang sama."


...***...


Hazel menggendong Yena seraya melihat beberapa pasang kupu-kupu yang menghiasi taman depan rumahnya.


"Ini namanya kupu-kupu, Sayang. Kupu-kupu itu berawal dari ulat yang ada di balik daun. Setelah waktunya tiba, dia akan bebas dan menjadi cantik dengan sayap-sayap rapuhnya."


Bibir mungil itu melengkung, ujung hidungnya terbenam di helaian halus bayinya.


Bibir mungil itu mengembang, sampai kedua lesung di pipinya tercetak sangat dalam.


Sekuntum mawar hadir di depan wajah. Hazel menoleh, senyumnya menjadi kian lebar. Satu tangan meraih tangkai bunga itu. Lalu mengetuk kepala Ardan dengan bunga yang diberikan.


"Sok romantis kamu, Mas."


"Memang aku romantis."


"Masa?" tanya Hazel menggoda.


"Hem."


"Kalo udah sok-sokan romantis pasti ada maunya."


Ardan terbahak, ia mencolek lengan putih itu manja. Mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda.


Hazel hanya terkekeh, pelan kepalanya menggeleng.


"Berikan Yena padaku."


"Enggak!"


"Eh, kenapa?"


"Baru pulang, berkeringat. Mandi dulu sana!"


"Gendong bentar deh, bentar aja, ya."


"Enggak!"


"Bener, nih, gak boleh?" tanya Ardan sinis.


"Iya."


"Ya udah. Kalo gitu sekalian gendong Bundanya juga."


Hazel menjerit, seketika tubuhnya melayang di udara. Lantas tangan itu memukul bahu Ardan. Geram.


"Mas ih, kalo aku dan Yena jatuh gimana?" tanya Hazel mendekap Yena dengan sangat erat. Jantungnya berdegup, lemas oleh tingkah Ardan yang sangat tiba-tiba.


"Hahahaha. Percaya saja. Aku tidak akan pernah membiarkanmu dan anak kita kenapa-napa, Sayang."


"Ish ... tapi gak gini juga. Turuni aku!"


"Ogah!"


"Mas!"


Tak peduli pada perintah Hazel, lelaki itu menghujani Hazel dengan ciumannya.


"Mas ih, malu!" teriaknya tidak suka.


"Gak dikasih cium anaknya, cium Bundanya juga gak masalah.


"Hahaha. Itu modusnya Mas doang. Mas ih ... turuni aku! Malu dilihati orang. Di rumah rame, ya Allah."


"Memang kenapa? Sama istri sendiri juga. Kecuali istri tetangga."


Gelak tawa terdengar bersambutan, Hazel terus meronta. Meminta Ardan menurunkannya, sementara lelaki itu semakin gencar menghujani ciuman.


Di atas balkon ada yang terus memerhatikan mereka berdua. Arfi menumpuhkan sebelah sikunya di atas pagar balkon. Badannya memiring, melihat Nigar yang fokus memandangi ke arah bawah.


"Mau juga punya keluarga seperti itu? Ayo kita nikah," ajak Arfi.


Gadis itu melirik, lalu ia membalikkan badannya. Menghadap ke arah dalam.


"Dulu aku kagum sama Pak Ardan, dia sangat cerdas, tegas, pintar dalam mengendalikan suasana dan mengubah segalanya sesuai rencana. Dia nyaris tanpa celah. Lalu aku bertanya, wanita seperti apa yang mampu menarik perhatiannya, membuat dia begitu setia dan sama sekali tidak tergoda dengan banyak wanita-wanita muda yang mengelilinginya."


Arfi meneguk salivanya, kali ini Nigar pasti akan menyerangnya.


"Saat dia tersenyum, tertawa dan menggoda. Mirip sekali denganmu. Garis wajah, sikap angkuh dan arogannya, persis sepertimu. Tetapi kenapa? Kesetiaan dan keikhlasanmu tidak seperti dia?"


Arfi menggaruk kulit kepalanya. Sudah, ini pasti akan berujung pada dirinya yang meninggalkan dulu.


"Padahal Kakakku tidak memiliki pendidikan yang bagus. Bahkan dia janda dengan seorang anak berkebutuhan khusus. Seorang Ardan Erlangga, bisa sangat mencintainya. Lalu kenapa? Arfi Erlangga tidak bisa melakukan hal yang sama?"


"Khadijah, kamu menyindirku? Kalo mau marah, ya, marah saja. Kalo mau maki, ya, maki saja. Tampar, tendang, gulingkan dari atas sini atau apa pun itu yang bisa membuat kamu puas. Tapi setelah itu satu yang harus kamu tau."


Nigar menoleh ke arah Arfi. "Apa?"


"Kamu harus menjadi istriku." Arfi memanyunkan bibirnya, mencium Khadijah lewat udara.


Gadis itu terkekeh, satu tangannya menutupi mulut. Mulus, dengan hena merah menghiasi kulitnya.


Arfi menarik tangan itu lalu mengenggamnya. Mata gadis itu membelalak, ia menghentakkan tangannya, mencoba melepaskan.


Sayangnya genggaman itu sangat kuat, perlahan Arfi meletakan di atas dadanya.


Degupan jantung yang bergemuruh di dalam sana terasa. Dari telapak tangan, perlahan menjalar, menghidupkan desiran yang sama di dada gadis berhijab itu.


Dua jari mencubit dada Arfi sekuatnya.


"Nakal!" ketus Nigar.


Arfi hanya terkekeh. "Rasakanlah, Khadijah. Dari dulu, debaran itu masih sama saat aku menatapmu. Dia akan meredup saat kamu menjauh."


"Gombal!"


"Itu nyata, Khadijah!"


"Aku tidak percaya. Kamu itu lelaki dengan sejuta pesona Arfi. Playboy, kamu itu selalu dikelilingi wanita. Kenapa juga memilih aku yang kuno dan tidak seksi ini?"


"Karena kamu berbeda."


Nigar melirik, melihat wajah Arfi yang sangat serius mengatakan hal itu. Perlahan, kukuh kekuatan yang ia bangun untuk melupakan perasaan cintanya, mulai terkikis.


Luka-luka yang sempat terasa perlahan sembuh dengan hadirnya Arfi di sebelah. Tidak adil rasanya, ketika kita berusaha sekuat tenaga melupakan dia yang menyakiti. Terbasuh hanya dengan satu pengakuan dan kata maaf atas segala kesalahan.


Kadang cinta bisa setidak adil itu memperlakukan. Apa pun yang pernah ada, sakit, luka dan kecewa, tidak peduli sekeras apa mencoba menyerah. Cinta yang melekat akan menjadi obat.


Setidaknya, tetap ada bahagia walau hati pernah terluka.


"Aku benci, kenapa aku harus mengenalmu. Aku benci, kenapa aku harus jatuh cinta padamu dulu. Aku benci, kenapa terus kamu dan kamu yang kutemui di dunia ini?"


Nigar membuang pandangannya. Rasanya perjuangan dia terasa sia-sia.


Mengapa? Rasa itu harus kembali utuh saat raga sudah tidak lagi ingin bertemu.


'Lebih benci lagi kenapa harus kamu yang kucintai hingga saat ini. Benci kenapa setelah melukaiku, aku tidak mampu melupakanmu. Dan sangat benci, setelah mati-matian membuka hati pada orang lain. Nyatanya masih kamu yang bertahta dan tidak akan pernah bisa pindah,' gumam Nigar dalam hati.


"Khadijah," panggil Arfi lembut.


Gadis itu kembali menoleh.


"Kamu ingin tau jawabannya?"


Arfi mendekat, menyeyejarkan wajah dengan gadis berhijab itu. Lamat ia menatapi binar jernih milik Khadijah.


"Karena cinta itu buta, bodoh dan juga gila."


"Sepertimu, gila!"


"Iya aku memang gila. Gila mencintaimu!"


"Arfi hentikan!" teriak Khadijah ingin pergi.


Kedua lengannya tercekal dari belakang. Berdiam beberapa saat, lalu langkah tegap itu mendekat. Menempelkan punggung Khadijah ke dadanya.


Khadijah meronta, mecoba melepaskan cekalan tangan Arfi di lengannya. Cengkereman tangan kekar itu semakin mengerat. Lalu berjalan menurun sampai menyentuh dua jemari Khadijah.


Melipatnya ke depan perut, lantas mengunci tubuh langsing itu di dalam dekapannya.


"Arfi kumohon jangan begini! Berhentilah menyentuhku!"


Tidak peduli, lelaki itu meletekan dagunya di pucuk kepala Khadijah. Gadis itu menarik napas dengan memburu kencang. Antara menahan rasa marah dan juga debaran di dalam dada.


"Tidak akan ada jawaban atas pertanyaan mengapa itu, Khadijah. Karena cinta adalah tentang sebuah rasa. Bukan pembenaran akan logika, Sayang."