For My Family

For My Family
179



"Arfi," panggil Ardan dan lelaki berambut pirang itu hanya diam.


"Arfi," panggil Ardan sekali lagi.


Bungsu Erlangga itu hanya menatap sang Kakak, lantas berpindah melihat ke arah Ferdi yang ada di sebelah Ardan.


"Arfi!" bentak Ardan geram. "Jawab aku!"


"Aku tak bisa, Kak!" teriak Arfi sedikit terkejut.


"Aku tidak bisa mengatakan seluruh siasat Kakak pada mereka, aku tak bisa membiarkan mereka tau langkah-langkah yang Kakak ambil untuk memisahkan perusahaan. Aku tak bisa mengikuti keinginan Kakak! Hanya bertaruh akan langkahmu yang berada di depan mereka. Kau tak tau seperti apa Arfan di sana!" bentak Arfi tak kalah lantang.


"Tapi bagaimana bisa kau melakukan ini?" tanya Ardan geram.


"Aku hanya membantumu melepaskan anak perusahaan lebih cepat, Kak. Aku hanya berniat agar kau tak perlu lagi memutar otak untuk melindungi perusahaan ini dan keluargamu."


Ardan memejamkan matanya, ia menarik napas.


"Kau tau apa yang kau korbankan? Ha? Kau tau apa imbasnya?" tanya Ardan lemas.


Arfi hanya diam, mana mungkin dia tidak tahu apa risikonya jika dia mengkhianati dua belah pihak.


Statusnya sebagai Bungsu Erlangga akan dicabut, dan untuk disebelah Ardan. Dia paham bahwa Ardan tak akan pernah membenci.


"Kau akan kehilangan statusmu, Arfi. Kau akan kehilangan segalanya, seluruh fasilitasmu. Apa kau tak berpikir tentang itu?"


Arfi menelan salivanya, ia hanya terdiam. Lalu mengangguk pelan.


"Sudah kukatakan, berikan saja apa yang Arfan butuhkan. Katakan apa pun yang dia inginkan dari bibirmu. Tak perlu ada yang kau tutupi, karena setelah kau mengatakannya, aku akan merubah alurnya. Apa kau tak percaya bahwa aku bisa selangkah di depan Kakakmu itu?" tanya Ardan.


"Lalu kau akan membenani otakmu itu? Dengan permasalahan ini, terus dan menerus? Ha?" tanya Arfi datar.


"Kau korbankan waktu bersama keluargamu demi melindungi perusahaan? Yena dan Surya membutuhkan perhatianmu, Kak. Kau pun butuh keluargamu untuk bisa tetap waras, bukan? Kau ingin aku melakukan itu? Mau sampai kapan?" tanya Arfi lagi.


"Tapi aku melakukan ini untuk melindungimu, Dek! Aku tak ingin kau meninggalkan keluarga itu. Aku tak ingin statusmu dicabut, Arfi! Siapa yang akan menjaga mama?"


"Aku yang akan menjaga mama, Kakak tak perlu khawatir. Dan untuk status Erlangga. Kurasa aku tak membutuhkannya lagi sekarang."


Ardan tertawa kecut, ia menggelengkan kepalanya. Bagaimana mungkin Arfi tak membutuhkan status Erlangga? Si Bungsu itu manja dan tak pernah dewasa.


Tak pernah berpikir bahwa Arfi akan mengambil langkah ini. Memisahkan perusahaan dengan sangat cepat.


Legalisasi itu memang sah, hanya saja, Arfi tak tahu jika para bawahannya adalah anak buah Gerald yang sesungguhnya.


Lelaki berambut pirang itu meminta orang kepercayaannya datang dengan data legalisasi atas perintahnya. Tanpa dia sadari jika anak buahnya adalah anak buah Gerald.


Bahkan Gerald yang mengantarkan berkas itu langsung.


Ardan menarik napas, pikirannya kacau. Entah harus bagaimana mencari jalannya.


"Arfi, kenapa kau tidak memberi tahu kami dulu jika ingin melegalkan pemisahan ini?" tanya Ferdi lembut.


"Kalo aku beri tahu, pasti Kak Ardan tidak akan setuju."


"Tentu saja!" putus Ardan langsung.


"Kau itu terlalu polos, Arfi. Kau itu tidak pernah tahu bahwa kaki tanganmu adalah orang-orangnya Gerald. Karena itu aku memintamu untuk mengatakan pada Arfan seluruh siasatku. Apa kau tak paham?"


"Tapi Kak Arfan sudah berbeda, Kak. Kita gak tau selicik apa otaknya? Saat aku masih di sana saja dia bisa menaikanmu menjadi CEO, apalagi saat ini kita jauh?"


Ardan mengepalkan tangannya di depan dahi. Menumbuk-numbukkannya ke kepala. Rasanya mau pecah, entahlah. Pikirannya tak tahu lagi harus mencari apa?


Tak salah apa yang dikatakan Arfi, namun langkahnya terlalu terburu-buru.


"Dan yang kutau, sebagian Mitra baru yang Kakak tarik adalah orang-orangnya Kak Arfan."


Ardan terkejut, ia membuka matanya dan menatap Arfi tajam.


"Karena itu ... jika tidak sekarang. Maka di akhir perjuangan perusahaan tetap akan jatuh ke tangan papa. Maaf, Kak. Jika aku melakukan ini di belakang Kakak."


Ardan menatap ke arah Ferdi, lelaki berkacamata itu menghela napasnya. Membentuk selarik senyum pahit di wajah Ardan.


"Baiklah, jika dari awal ini adalah perangkap. Maka biarkan saja mereka menangkapku."


"Maksudnya?" tanya Ferdi bingung.


"Kau, harus berusaha untuk menjalankan perusahaan ini sendiri, Kawan. Arfi, kau bantu Kak Ferdi. Akan aku umumkan pemisahan perusahaan sehari setelah aku menjadi CEO," kata Ardan pasrah.


"Ardan apa kau sudah pikirkan? Keluargamu?" tanya Ferdi.


"Kuyakin mereka akan mampu."


"Tidak, Kak. Bukan ini mauku. Aku sengaja mempercepat pemisahan karena aku tak ingin melihat kebahagiaan keluargamu hancur. Aku akan selesaikan apa yang harus kuselesaikan, tunggulah. Aku akan kembali ke ibu kota."


"Lalu aku harus diam saat melihat adikku jadi gelandangan?" tanya Ardan lagi.


"Itu gak akan terjadi. Aku akan baik-baik saja. Dan Kakak tetaplah di sini, akan kutarik seluruh berkas yang bisa memberatkan perusahaan ini dengan tanganku sendiri."


Ardan tersenyum getir. Ia mengambil berkas legalisasi perusahaan dan memberikannya ke tangan Ferdi.


"Tetaplah di sini dan bantu Ferdi menjalankan perusahaan ini. Aku yang akan menyelesaikan segala."


"Kali ini aku yang ingin menyelesaikan segalanya. Terus terang aku lelah. Lelah harus berpura-pura terus," sahut Arfi ketus.


"Lelah harus bermuka dua selalu. Seakan-akan aku adalah bagian dari mereka, nyatanya aku selalu berada di pihakmu. Aku lelah, kau dan Arfan adalah Kakakku. Gerald itu Papaku. Tapi kenapa aku bagaikan peluru? Bisa menembus dada siapa saja mengikuti siapa pemegang senjatanya?"


Ardan ingin bangkit dari kursinya, namun satu tangan Ferdi menahan bahunya. Lelaki berkacamata itu menggeleng saat sepasang mata tajam Ardan menatap ke arahnya.


"Aku tak pernah dewasa. Itu kan yang selalu kau bilang?" tanya Arfi ketus.


"Kali ini biarkan aku belajar dewasa, dengan cara menyelesaikan apa yang aku mulai, tanpa arahan siapa pun yang inginkan aku mengikuti segala keingan pengendalinya."


Lelaki berambut pirang itu bangkit, berjalan ke arah luar tanpa peduli pada panggilan sang kakak.


"Arfi, kubilang berhenti!" teriak Ardan dan disahut dentuman pintu dari sang adik.


Ardan mengacak rambutnya, ingin dia hantukkan kepala itu rasanya.


Sementara Ferdi masih menahan bahu Ardan. Mereka sama-sama panas, jika dibiarkan. Maka akan lebih buruk hasilnya.


"Kali ini biarkan Arfi belajar dewasa," kata Ferdi lembut.


"Tapi gak gitu, Fer. Dia akan dibuang sama Gerald, dia akan kehilangan statusnya," jawab Ardan keras.


"Hei, Kawan. Tidak ada status anak yang akan terlepas. Selamanya anak tetap akan menjadi anak, Ardan."


Ardan terkekeh miris. Ia menggelengkan kepalanya. Lucu mendengar jawaban Ferdi.


"Kau seperti tidak kenal siapa Gerald."


"Tapi aku merasa bahwa Gerald juga tak akan bisa melepaskan Arfi, dia adalah anak kesayangannya. Bahkan Arfi bisa bebas melakukan apa saja tanpa mendengarkan perintah."


"Iya. Itu jika Arfi tidak membawa pengaruh apa pun pada perusahaan. Kali ini dia memisahkan perusahaan, Ferdi. Kau tau! Bukan hanya statusnya, aku pun khawatir sama nyawanya."


"Hei, Gerald tak sekejam itu Ardan," sahut Ferdi.


"Siapa yang tau? Gerald itu licik. Jika dia tidak bisa membuang Arfi karena putra kesayangannya, dia pasti akan menghukum Arfi dengan cara yang lainnya. Bisa saja, itu lebih berat untuk adikku jalani. Dari pada sekadar kehilangan hak waris."


Tatapan mata elang itu menajam. Bukan hanya Hazel dan anak-anaknya, kini keadaan Arfi lebih dia khawatirkan dibandingkan yang lain.


***


Sebuah mobil mewah berhenti di tepi trotoar. Pandangan mata gadis berhijab yang sedang berjalan itu memaling, melihat ke arah mobil hitam yang terparkir di sana, lantas ia menaiki mobil itu saat seorang membukakan pintu.


Gadis itu tertunduk, meremat kedua jemari tangannya seraya melirihkan basmalah.


"Bagaimana?" tanya seorang lelaki yang duduk bersebelahan dengan Nigar.


Gadis itu hanya diam. Tak sanggup menjawab, lebih tepatnya dia belum sanggup melepaskan harap.


"Apa keputusanmu?" tanya lelaki itu kembali.


Nigar menarik napasnya, memejamkan mata sesaat, lalu pandangan itu ia tolehkan. Memandang lelaki beribawa yang ada di sebelahnya.


"Saya ... akan kembali ke Turki."


Kekehan dari lelaki itu terdengar menyahat hati. Pilu, saat keputusan bertentangan dengan keinginan.


"Bagus, pilihan yang sangat tepat."


"Setelah itu tepati janji Anda."


"Kau tak perlu khawatir, Nona. Aku adalah lelaki berpendidikan, tak akan mengkhianati kesepakatan kita."


Sepasang iris indah itu mengembunkan kaca. Dia menarik napas panjang.


"Baiklah, setelah ini aku akan mengirimkan visa untukmu."


"Tidak perlu. Ayahku masih sanggup membiayai hidupku."


Lelaki itu kembali terkekeh, ia menggelengkan kepalanya. Seakan mengejek.


"Lelaki yang sangat naif, dia mau membiaya kau yang bukan darah dagingnya. Itu dermawan atau kebodohan?"


"Cukup, Pak. Saya sudah mengalah. Tak perlu Anda menghina ayah saya."


Pintu mobil di sebelah Nigar kembali terbuka, gadis itu ingin melangkah. Namun, kepalanya kembali tertoleh ke arah lelaki yang ada di sebelahnya.


"Ada yang masih ingin kau katakan?" tanya lelaki itu saat mendapati tatapan mata Nigar.


"Bisa aku meminta sesuatu?"


"Katakan!"


"Berjanjilah atas nama Tuhan. Bahwa Anda tidak akan melukai Arfi. Dan yang paling penting, jangan usik kehidupan dan juga rumah tangga Kakakku, Pak Gerald."


***


*Jangan terlalu benci gaes, setiap karakter punya caranya sendiri buat melindungi, eeeeakk 😂😂😂