
Ardan menegakkan berdirinya, ia menggelengkan kepala. Matanya kembali mengembun, terluka saat mendengar ucapan istrinya.
"Enggak! Enggak, Hazel. Apa yang kamu katakan?" tanyanya ketus.
Kaki itu melemas, dia hampir limbung jika saja tidak menahannya pada bibir ranjang.
"Perjanjian kita, akan selesai setelah anak ini lahir. Maka ceraikan aku setelah operasi nanti."
"Enggak! Gak ada lagi perjanjian, kamu istriku dan akan seperti itu selamanya."
Tak lagi berdebat, Ardan kembali mendekat ketika Hazel mengejan. Tangannya menghapus peluh yang terus berjatuhan, entah itu dari sudut pelipis, pun dari sudut mata.
Entah apa yang terjadi, Hazel selalu menyimpan lukanya sendiri. Kini, Ardan benci saat gadis itu bersikap seperti ini.
Gadis itu menggigit bibir bawah. Kembali mengeram ketika sakitnya kian melanda parah.
"Sakit, Mas," rintihnya perih.
"Yang mana sakit, Sayang. Tahan sedikit, ya, sedikit lagi." Ardan mengambil jemari Hazel. Terasa cekalannya begitu sangat kuat.
Gadis itu menangis, sesekali badannya bergetar. Perihnya hampir menghabiskan seluruh kekuatannya.
Sampai Dokter Abel kembali, membawa Hazel memasuki ruangan operasi.
Cemas, Ardan mondar-mandir di depan pintu. Sementara dua lelaki itu hanya bisa memandangi lelaki berkemeja putih tersebut tengah diliputi kecemasan.
"Apa yang terjadi? Kenapa Hazel bisa sampai begini?" tanya Ardan cemas.
Arfi terdiam, entah bagaimana mengatakannya. Mungkinkah dia mengutarakan yang sebenarnya?
Ketika berada pada dua kubu dan kamu tak tahu berada pada panji yang mana.
Bukankah itu sangat membingungkan?
"Arfi!" bentak Ardan.
Lelaki itu hanya memalingkan mata.
"Apa yang terjadi?" sengit Ardan.
"Aku gak tau, Kak. Saat aku datang, Hazel sudah terduduk di lantai dengan plasenta yang pecah."
Ardan mendesah panjang, ia menjatuhkan badan di kursi stainless sebelah Arfi. Mengusap wajanya berkali-kali.
"Seharusnya aku tidak membiarkan dia belanja sendiri tadi pagi. Dia baru keluar dari rumah sakit. Bagaimana bisa aku seceroboh ini?" rutuk Ardan, geram.
Lelaki itu mengacak rambutnya, mengusap wajah berkali-kali. Kedua telapak tangannya terbentang menetupi sebagian wajah. Mencoba meredam rasa. Entah itu cemas karena keadaan Hazel, pun karena ucapannya.
Arfi yang melihat itu tak tega, tetapi dia juga bingung harus bersikap bagaimana. Mengatakan sama saja seperti menambah pelik peperangan.
Atau ... bisa saja meluruskan apa yang terbelit selama ini.
"Tapi ... aku melihat Kak Arfan ada di sana."
Seketika Ardan memalingkan pandangannya, tajam, menatap wajah Arfi dalam.
"Apa kamu bilang?" tanya Ardan tak percaya.
"Ya, Hazel adalah imbas peperangan kalian."
Bugh
Kepalan tangan itu menumbuk kursi stainless dengan sangat kuat. Gemelatuk rahangnya terdengar.
"Sialan, kepar*t itu. Dia benar-benar membuatku, muak!"
"Sadar, Kak. Sampai kapan kalian terus seperti ini? Lihatlah akibatnya? Bukan kalian, tapi pada orang-orang yang menyanyangi kalian."
"Dia banci, Arfi. Pecundang! Bisa-bisanya dia menyerang wanita. Di mana otaknya? Ha? Istriku gak bersalah!" teriak Ardan ketus
"Kak, kamu tau peperangan itu akan selalu berimbas pada mereka yang tak berdosa. Mau sampai kapan kalian mengorbankan perasaan orang-orang yang kalian sayang demi ego yang terus bersarang? Sadar, Kak!" tekan Arfi.
Terasa tepukan lembut di bahu lelaki berkemeja itu. Ferdi ikut duduk di sebelah Ardan, merangkul bahu itu erat.
"Apa yang Arfi katakan benar, Ardan. Dulu kamu tak memiliki cela, Arfan kewalahan melawanmu karena dia banyak sekali kelemahannya. Sekarang kelemahanmu sangat terlihat, apa kamu pikir dia akan melepaskannya begitu saja?"
Ardan menghela napasnya, kembali mengusap wajah itu kasar.
"Lantas aku harus bagaimana? Aku juga lelah seperti ini terus. Karena itu aku menghindar, memilih tempat yang tak sama dengannya."
"Menghindar saja tak cukup, Kak. Itu Kakak bukan menyelesaikan, hanya mengulurnya agar terlihat samar."
"Lalu aku harus bagaimana? Ha? Aku sudah mengalah, aku sudah berhenti berdebat dengannya. Lalu mau apa lagi? Dia mau nyawa?"
"Berhenti berdebat tanpa saling berjabat. Bukannya itu hanya omong kosong belaka? Tak ada yang selesai hanya karena Kakak diam."
Ardan bergeming, memang apa yang Arfi katakan tidak salah. Tapi kenapa? Dia tidak ingin mengalah. Terlebih ketika Arfan telah melukai orang yang berharga baginya.
"Berhenti untuk mengedepankan ego, mengalah bukan berarti Kakak kalah. Kadang dalam peperangan kita harus mundur beberapa langkah, agar panji yang kita bawa tidak musnah."
"Benar Ardan. Kadang kita harus mundur agar langkah untuk kemenangan terbuka."
"Sebenarnya kalian mau aku bagaimana? Berhenti berperang atau menyusun taktik untuk menakhlukan?" tanyanya sengit.
Arfi menghela napas, ia menatap Ferdi yang ada di sebelah Ardan. Mereka berdua saling diam, seakan bicara dalam pandangan.
"Kak, mana yang lebih penting? Damai tanpa khawatir akan bom waktu yang kamu pasang dan siap meledak kapan saja. Atau ledakan saat ini, setelah itu kita saling berbenah, menyembuhkan apa yang pernah terluka?"
Lelaki itu kembali terdiam, pandangannya kosong menatapi lantai marmer rumah sakit.
Ardan menegakkan badan dan mendesah panjang. Mengelus kedua ujung dengkulnya dengan telapak tangan.
"Entahlah, aku tidak bisa melakukannya untuk saat ini."
Ferdi tersenyum dan kembali merangkul bahu kekar itu.
"Santai saja. Saat ini, istri dan anakmu dulu jadi prioritasnya. Setelah Hazel membaik, kita cari solusinya sama-sama."
Ardan hanya diam, saat ini bukan hanya masalah Hazel. Namun, pernikahannya juga dipertaruhkan. Entah apa yang Arfan lakukan, sampai Hazel yang begitu tangguh mampu dia luluhkan.
***
Arfi memesan tiga cangkir kopi di mini market dekat rumah sakit. Terlalu malas mengantre di cafetaria rumah sakit, lelaki itu memilih keluar dari perkarangan.
Sejenak ia menarik napas panjang, menyandarkan badan di kursi. Menatapi langit-langit bangunan itu, rasanya lelah sekali.
Entah itu masalah hatinya atau masalah keluarganya. Mengapa? Begitu berat seiring masa yang terus terputar begitu cepat.
Lelaki itu memejamkan mata, sekadar menenangkan hatinya. Sekelibat bayangan wajah indah itu merasuki pikirannya.
Lekukan bibirnya tercipta, tersenyum dalam pejaman mata yang sangat melelahkan.
Detik kemudian ia menggeleng, menegakkan duduk dengan pandangan teralih ke dalam kaca mini market.
Gadis dengan balutan gamis putih lewat, lelaki muda itu kembali tersenyum. Kini tangannya mengacak rambut pirangnya asal.
"Aku sepertinya semakin gila. Bahkan melihat bayangan Khadijah di mana pun mata menatap."
Lelaki itu mengeluarkan sebatang rokok, tangannya merogoh setiap saku, sayang apa yang dia cari tak ada.
Malas, langkah itu kembali ke dalam. Membeli pemantik di meja kasir. Selesai membakar sebatang rokok, lelaki itu berbalik.
Seketika gadis yang sedang megantre di belakang memundurkan langkahnya.
Mata melebar, dengan pegangan tangan yang semakin erat meremat gagang keranjang.
Lelaki itu terpaku, bahkan batangan rokok dari bibirnya terlepas begitu saja.
"Khadijah," lirih lelaki itu kaget.
Beberapa detik, mereka berdua hanya saling diam. Memandang dalam keheningan panjang. Ada rasa yang ingin disampaikan lewat tatapan itu.
Rindu, kasih, sayang dan juga ... luka. Terlihat jelas, karena perlahan iris berwarna cokelat itu mulai mengembunkan lara.
Gadis itu menundukkan pandangan, menghantarkan air mata untuk bebas menjelajahi wajah. Membiarkan bulu mata panjang itu basah.
"Mas tolong ini." Khadijah berpaling, memberikan keranjang berisi belanjaannya ke kasir.
Sedang, Arfi masih terdiam. Ia masih tak percaya, bahwa gadis itu nyata. Atau hanya bayangan rasa yang menjelma sesaat.
"Khadijah," panggilnya lagi.
Gadis itu tak menoleh, tapi beberapa kali tangan mengusap wajah. Basah oleh lolosan air matanya.
Saat gadis itu mengeluarkan uang dari dalam dompet, tangannya ditahan. Arfi menyerahkan selembar kartu pada kasir lalu menyeret gadis itu keluar.
"Lepas!" Gadis itu menghempaskan tangannya kasar.
"Khadijah, ini kamu. Benar kamu, kan?" tanya Arfi meyakinkan lagi.
Gadis itu hanya membuang wajah, tangannya tersilang di depan dada. Seketika, wajah teduh itu berubah angkuh.
Arfi tersenyum dengan sagat lebar, matanya terus memandangi wajah itu lekat.
"Syukurlah, aku akhirnya menemukanmu. Dua tahun, aku mencarimu, kemana kamu selama ini, Khadijah?" Tangan lelaki itu meraih kedua ujung bahu gadis itu. Memutar badannya agar bisa berhadapan wajah.
Plaak ....
Sebuah layangan tangan mendarat di wajah tampan itu.
"Jangan sembarangan menyentuhku, Arfi."
"Maaf," sesal lelaki itu tertunduk.
"Untuk apa?" sengitnya ketus.
Arfi menaikan wajahnya, memandang wajah itu dengan alis yang saling bertautan. Bingung.
"Untuk apa kamu meminta maaf? Untuk tanganmu yang telah menyentuh bahuku? Atau? Hatimu yang meremukkan asaku?"